Koran Pagi

0
36

“Perjuangan untuk kota ini tidak akan berakhir kecuali mati.” Itulah niat sebelum ia berangkat bekerja. Ia melangkah pulang, ketika senja menyapa berlahan, langit merah jingga lalu hitam kelam. Gerobak sampah yang telah kosong ditariknya menyusuri jalanan kota yang ramai. Dua kilo lagi ia akan sampai dirumahnya. Ia berhenti sejenak sambil menghisap sebatang rokok di bawah pohon asem yang ada dipinggir jalan.


Matanya yang cekung menatap lalu lalang kendaraan yang tidak pernah ada hentinya. Ia menghisap dalam-dalam asap rokok lalu menghembuskannya ke udara. Puas!, rasa ini yang ia rasakan.


Usianya tidak lagi muda, sifat pantang menyerah tak juga reda. Cintanya dengan kebersihan tetap ia jaga. Pribadinya terbentuk dari sulitnya hidup. Tegar itulah jiwanya. Kembali ia melangkah terseok di sepanjang jalan. Gerobak melaju patuh dibelakangnya. Pukul 07.00 malam ia sampai di depan gang rumahnya. Perasaanya tenang ketika ia sampai di depan pintu rumahnya. Dari balik pintu istrinya keluar, seperti biasa membawakan handuk dan sabun mandi untuknya. Senyum yang menghias dibibir istrinya merupakan obat lelahnya. Ia pun berlalu membawa handuk dan sabun mandi kesebuah sumur umum yang ada di ujung gang.
Ia pulang membawa seember air bersih untuk masak istrinya besok pagi. Istrinya telah menunggu dengan menu makan malam seadanya. Satu piring nasi, sayur bayam dan ikan asin. Syukur tak lupa ia ucapkan pada Yang Maha Pengasih.

Dua perempuan dan tiga laki-laki itulah anaknya. Namun hanya ada dua perempuan anaknya yang ada dirumah kecil itu, dan yang tiga putranya pergi merantau ke negeri seberang. Negeri yang menjanjikan untuk masa depan mereka.

Namun sudah lima tahun mereka pergi tidak ada kabar beritanya. Hal ini yang membuat sedih ia dan istrinya. Di pembaringan ia menatap langit-langit kamar yang usang.

“Bah ?Sampai kapan Abah bekerja ?” tanya istri sambil merebahkan tubuhnya di sampingnya.

 

“Sampai aku mati,” jawabnya. Matanya masih lekat menatap langit-langit kamar yang gelap.

 

“Selama masih ada sampah yang berserakan, selama itu pula aku berjuang kecuali hayat ini berakhir,” lanjutnya.

 

Istrinya terdiam dalam senyum, tangannya diraih dan digengam erat.

 

“Abah tetap gagah seperti dulu ya…, walau zaman berubah tapi Abah tidak berubah. Tetap semangat walau pun hidup kita pas-pasan. Saya bangga dan bahagia menjadi istri Abah,” ucap istrinya di jawab dengan senyum.

 

“Yah… tapi aku gagal tidak bisa mewarisi jiwa ini ke anak-anak. Mereka tumbuh menjadi orang-orang yang matrialistis dan jiwa tulus mengabdi hilang karena tuntutan zaman. Hingga mereka nekad pergi ke Negeri seberang yang tidak akan menjanjikan apa-apa, apa lagi mereka tidak berbekal apa-apa,” ucapnya sedih.

 

“Bah, mereka ingin merubah hidup, mereka laki-laki biarlah mereka berjuang sendiri untuk hidup mereka sendiri, jangan mengharap sesuatu dari mereka abah,”

 

“Tidak Bu, Abah tidak mengharap apa-apa. Abah hanya khawatir terjadi apa-apa dengan mereka. Hukum di negeri itu tanpa ampun, Bu? Jika mereka berbuat salah sedikit saja maka mati hukumannya, itu yang Abah baca dikoran-koran, banyak warga kita yang disiksa dan dihukum gantung di sana hanya karena mereka membela hak mereka.”

 

Ia tindih kedua telapak tangan dengan kepalanya.

 

“Sudahlah Bah, tidak boleh berfikir buruk. Jangan mikir yang aneh-aneh ah. Kita do’akan saja semoga mereka selalu dalam lindungan Allah SWT.”

 

“Iya Bu..” jawabnya.

 

“Ya sudah, tidur sudah larut malam, nanti kesiangan shalat subuhnya,” ucap istrinya sambil memejamkan matanya.

 

Malam semakin larut, mereka terbuai mimpi yang indah. Hening malam menenangkan jiwa-jiwa yang lelah. Hari-harinya penuh dengan kelelahan, namun semangat tetap ia kobarkan. Walau tak ada yang peduli dengan kehidupannya, ia tetap kokoh pada pengabdiannya. Sebuah harga yang tak ternilai oleh apapun yaitu cintanya akan kota ini.

 

Di kota ini hanya ada dia yang suka rela peduli dengan keindahan dan kebersihan. Sebuah bentuk cinta yang ia gambarkan dengan bentuk kepedulian lingkungan. Panas dan hujan bukan alasan untuk menundanya berkarya. Keringat yang mengering, baju yang lusuh gerobak yang berat adalah bukti sebuah perjuangan hidupnya. Jika ia telah tiada siapa penggantinya? Itu yang dikhawatirkan setiap ia melangkah membersihkan got-got yang terpenuhi sampah. Jika tidak ada yang peduli lagi, apa yang akan terjadi dengan kota ini.

 

Azan subuh menggema, ia sudah siap mengahadap yang Maha Mulia. Ia ingin adukan semua resahnya kepadaNya yang Maha Mendengar keluhannya. Setelah shalat subuh, kembali ia melangkah bersama gerobak sampah yang setia mengiringi langkahnya. Bungkusan nasi sudah disiapkan istri tercinta. Bekal itu ia gantungkan di depan gerobaknya.

 

Jalanan masih sepi, sampah-sampah berserakan. Dengan sabar ia kumpulkan lalu dimasukan kedalam gerobaknya. Hingga berkilo-kilo meter ia lalui. Jalan yang telah ia lalui telah bersih. Namun sampah-sampah masih menunggunya di depan langkahnya. Memang selama masih ada manusia sampah tidak akan ada habisnya. Tapi masihkah ada orang-orang seperti ia yang punya jiwa bersih, mengabdi tanpa pamrih?

 

Bertahun-tahun ia lalui tanpa keluh dan kesah. Cintanya telah mengalahkan rintangan didepannya. Pejuang sejati tidak kenal upah, walaupun ia membutuhkan untuk nafkah keluarganya.”Allah maha Adil” pasrahnya. Walaupun hari-hari yang ia lalui payah, namun keluarganya tetap hidup dan bahagia.

 

Kardus-kardus yang bisa ia jual ia pisahkan. Lumayan untuk makan sehari-harinya. Cukup, sebuah rasa itu tujuan hidupnya. Puas, yang selalui disyukurinya.

 

Senja kembali datang, seperti biasa ia menghisap sebatang rokok sambil istirahat dibawah pohon asem pinggir jalan. Matanya menatap lalu lalang kendaraan yang tak ada hentinya. Seperti hidupnya yang tak ada hentinya berjuang untuk keluarga dan kebersihan kota ini. Indah kota ini buah karyanya. Sebuah karya yang tak terlihat namun dapat dirasakan oleh bayak orang. Jasa yang tidak dijualnya, tenaga yang diabdikan tulus demi semuanya. Bersih kota ini adalah cermin bersihnya jiwa-jiwa penduduknya. Itu filsafatnya.

 

Dalam renungannya, tiga putranya hadir mengusik kepuasan yang ia rasakan. Gelisah kini mengusik hati dan pikirannya. Entah kenapa tiba-tiba saja tiga putranya menjadikan ketakutan dan ketidak nyamanan, ia memandang lalu lalang kendaraan. Lekas ia berlalu dari tempat istirahatnya. Ia berhenti di sebuah kios majalah, entah perasaan apa yang membuatnya ingin membeli sebuah koran.

 

Koran yang dibelinya ia taruh di atas tempat tidurnya. Setelah makan malam ia minta dibuatkan kopi oleh istrinya. Sambil minum kopi ia buka Koran yang dibeliya.

 

”Politik, kriminal, pendidikan dan kelaparan. Berita-berita yang membosankan,” gerutunya sambil terus membaca berita yang ia sukai. Ia menemukan berita yang sangat mengejutkannya.

 

”TKI Ilegal di hukum Mati.” Ia mencari berita lengkapnya di halaman berikutnya. Ketegangan dan rasa was-was datang dengan tiba-tiba, menyelimuti pikirannya. Wajah yang kriput itupun mendadak tegang. Ia baca dengan seksama hingga satu kalimat pun tidak terlewatkan.

 

Kembali TKI kita terjerat hukuman mati, mereka adalah tiga bersaudara yang diduga menjadi TKI ilegal. Sebelumnya mereka bekerja di sebuah perkebunan di wilayah Johor selama kurang lebih 5 tahun. Mereka terbukti membunuh mandor perkebunan. Dalam pembelaan sebelumnya salah satu dari mereka mengatakan alasan mengapa mereka membunuh.”Kami membunuhnya karena selama ini kami tidak diberi gaji dan kami diperlakukan seperti budak. Kami disiksa selama 4 tahun hingga kesabaran kami habisItulah alasan mereka. Namun Sesuai hukum yang berlaku, tidak peduli dengan alasan-alasan tersebut. Impian dan harapan merekapun pupus bersama. Inisial mereka tidak disebutkan dalam persidangan. Sebelum eksekusi dijalankan mereka mengajukan pesan untuk orang tua mereka. “ Abah jangan ditangisi anak-anakmu, kami sudah berusaha berjuang demi keluarga kita. Namun Tuhan berkehandak lain. Ingin kami membahagiakan Abah dan Ambu. Kami menyesal telah mengabdikan diri untuk negeri yang tidak mencintai kami. Abah tetap berjuang kan? Demi kota yang kami cintai?” Itulah pesan terakhir mereka yang berhasil direkam oleh reporter wartawan koran ini.

 

Koran di tangannya bergetar, bibirnya bergerak-gerak wajahnya mendadak berubah menjadi pucat pasi dan matanya mulai mengalirkan air yang selama ini ia tahan. Pahitnya hidup dengan tegar ia hadapi, pantang untuknya menangisi hidup ini. Namun kali ini ia benar-benar tidak kuat. Tiga putranya meninggal dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Mayat mereka entah dibuang kemana. Itu yang ia sedihkan, nasib anak yang ia cintai, yang menjadi harapan masa depan kini hilang, menjadi korban zaman.

 

“Bu,…! Anak kita Bu…, mereka telah mati!” jeritnya, mengejutkan istrinya yang sedang mencuci piring di belakang rumah. Istrinya buru-buru berlari dan mengahpirinya dengan perasaan heran.

 

“Bah? Ada apa Bah, ada apa!?” tanya istrinya sambil memegangi tangannya yang kuat meremas-remas koran pagi.

 

“Anak kita sudah meninggal!” ucapnya di sela tangisan. Istrinya belum juga mengerti. Diraihnya koran dari tangan suaminya. Lalu di bacanya.

 

“Anakku……………..! oh Bah, anak kita Bah….oh….ya Allah!” Mereka saling berpeluk dan menangis meratapi kepergian tiga putranya yang telah pergi selamanya.***

Image: luc2day.com