Sejuta Luka di Tepi Senja

0
53

Pewarta-Indonesia, Angin berhembus sepoi, menerpa daratan membuat gerak nyiur tepi pantai melambai, perahu-perahu nelayan yang tertambat dibibir pantai bergoyang saling beradu badan, diterpa gulungan ombak, kadang terseret lalu tertarik tali yang mengikatnya. Barisan nelayan sibuk silih berganti menarik jaring yang dipasang tadi pagi. Gerakannya teratur dan kompak. Senja terasa indah ketika warna jingga dibarat sana berpadu dengan kelam di sini. Suara camar terdengar ramai berbaur debur obak yang menghantam karang.

Keindahan alam ini tak seindah keadaanku dan Lina saat ini. Minggu kemarin masih terasa indah ,dan memang indah seindah kisah aku dan lina yang seolah akan abadi. Sepanjang hubunganku dengan Lina disinilah tempat kami memadu rindu. Berjuta  resah hilang dalam satu senyum senja di sini. Beratus cerita tertumpah menjadi canda dan berakhir dengan dingin karna seluruh tubuh kami basah oleh air laut.

Namun itu minggu kemarin, bulan kemarin dan tahun kemarin. Saat ini semua berubah Lina bungkam. Sejuta indah menjadi duka,luka dan tangis. Kemarin ia basah oleh air laut, kini oleh air mata. Menyedihkan memang. Namun semua memang harus terjadi karena apapun di dunia ini tidak ada yang abadi.

Senja semakin kelam, sekelam kisah cintaku dan Lina. Keadaan ini serupa musim gugur, yang tak akan menemui musim semi, tinggalah hanya ranting tanpa daun. Dunia seakan kemarau yang hanya meninggalkan haus yang teramat dikrengkongan. Aku menjadi kaku, Lina membeku.

“Aku tahu, engkau pasti membenci, sakit hati dan marah sekali padaku, sebeb cinta yang engkau berikan pada ku aku balas duri tajam di hatimu,” ucapku memecah kebekuan. Lina hanya memandang jauh kelautan, ia seakan tak mendengarkan kata-kataku.

“Aku sadar bahwa cinta memang tak harus memiliki dan aku tak pernah berniat sedikitpun untuk mempermainkan perasaan ini padamu,” lanjutku. Lina masih terpaku, diam tanpa reaksi. Aku tahu perasaanya. Ia ragu pada perasaannya sendiri.

“Aku mencintai kamu Lin.., dan aku sayang padamu. Namun, semua itu hanya abadi di hatiku. Aku tak bisa berikan itu semua secara nyata. Sebab aku akan menjadi milik orang lain,” Lina masih tak bergeming dengan tatap mata yang mulai lembab.

“Aku akui kamu memang cantik, baik. Rasanya tidak ada yang kurang pada dirimu,” lanjutku.

“Apa sebenarnya yang engkau inginkan?” Lina bertanya dengan mata mulai basah, dan tetap menatap jauh ke hamparan laut yang mulai menghitam. Aku hanya mendesah dan menjawab semampuku.

“Aku hanya tidak ingin menyakiti hatimu lebih dalam lagi,” jawabku. Lina tersenyum getir lalu menatapku, matanya semakin basah.

“Sebentar lagi aku akan menikah Lin…” ucapku saat Lina menatapku. Dan aku yakin Lina tak pernah menyangka kata itu keluar dari mulutku. Lina tersenyum, aku bingung.

“Kamu bercanda kan?” ucap Lina sambil memegang telapak tanganku. Ia seakan meratap mengharap jawaban “iya”.

“Aku serius Lin. Aku akan menikah dengan gadis pilihanku, yang pastinya bukan engkau,” jawabku. Lina menatapku tajam, butir bening mengalir berlahan, lalu meremas telapak tanganku dengan perasaan aneh, seakan berjuta kecewa merambat pada setiap nadinya.

“Aku rela, jika itu yang terbaik untukmu.” Hanya kata itu yang dapat Lina ucapkan padaku. “Besar hatikah engkau?Ttuluskah engkau merelakan aku menjadi milik orang lain?” gumam hatiku.

Dan jawaban hatiku mengatakan “TIDAK”. Lina hanya menutupi kelemahannya, ia hanya ingin menyenangkan hatiku. Namun, kata itu sangat menyengat dalam hatiku.

“Kau tidak memohon agar aku meninggalkan gadis yang akan aku nikahi? Tuluskah engkau merelakan aku pergi?” Senyum getir tersungging di sudut bibirnya, hatinya sedang mengutuki aku yang kejam ini. Terlihat dari sorot matanya yang tak lagi lembut.

 

Brengsek, playboy, bajingan,“ itu ucapan hati Lina pastinya, dan entah apalagi yang nanti keluar dari hatinya di saat Lina rebahkan tubuh di ranjang tidurnya. Di saat malam semakin sepi dan hari-hari semakin hilang. Di saat mimpi tak lagi indah, di saat kenangan menjadi hal yang menakutkan.

Di depanku, Lina menangis lalu tersenyum. Aku menatapnya, tanpa perasaan kasihan. Aku bangga, akhirnya aku bisa lepas dari ketidakberdayaanku hidup dalam dua cinta. Tanpa maaf aku ceritakan kisah cinta antara aku dan calon istriku. Lina mendengarkan kisah itu sambil menggigit bibirnya yang tipis dan merah jambu, air matanya terus mengalir dan aku tak peduli.

Aku hanya ingin ungkapkan semua rahasia, keburukan dan ketidak-benaranku padanya. Dan tak ada niat aku ingin mempermainkannya.

“Perasaanku tak bisa aku paksakan untuk tidak mencintai kamu,” ucapku, setelah aku tahu air matanya semakin deras dan nafasmu semakin tersengal.

“Aku hanya mengharapkan, setelah engkau mendengar dan mengetahui, siapa aku sebenarnya engkau semakin sayang padaku.” Lina menatapku lagi. Dengan bibir yang semakin gemetar.

“Namun kejujuranku sangat melukai hatimu. Cintamu berubah menjadi benci padaku, dan engkau bukanlah pecinta sejati, cinta yang engkau miliki hanya cinta sesaat. Cinta yang memaksakan diri untuk memiliki. Sama sekali tidak tulus Lin…” ucapanku membuatnya tersentak. Namun tak dapat berucap.

“Aku muak..! sudah… hentikan ocehanmu!” bentak Lina. Aku tak diam tetap aku lanjutkan kata-kataku.

“Engkau sama sekali tidak tulus mencintai aku Lina, cintamu tidak tumbuh dengan sendirinya. Namun kau mengharpakan sesuatu dariku. Sebenarnya jika engkau mempunyai cinta yang sesungguhnya, kau tak akan merubahnya menjadi sesuatu yang lain di hatimu,” lajutku. Lina tertunduk. Meremas kembali tanganku. Lalu menatapku tajam dan “clepak” tangannya menempel keras di pipi kiriku.

Aku maklum, ini ungkapan resahnya, marahnya dan kesalnya. Aku maklum ketidak-relaannya, ketidak-tulusannya dan ketidak-sabarannya yang membuat Lina seperti itu.

“Kamu tahu? Kenapa aku pilih gadis itu bukan kamu?” tanyaku. Lina hanya tersenyum.

“Dia lebih cantik bukan?” jawabnya.

“Bukan! Bukan karena itu aku memilihnya, namun karena aku tahu ia pemlik cinta sesungguhnya, ia tak pernah membenciku sedikitpun walau aku sudah sering menyakiti hatinya. Ia wanita yang tegar, sabar dan berani. Aku sayang padanya.” Lina tertunduk mendengar ocehanku.

“Kita kebanyakan munafik memang, sekarang jelas bukan? Kenapa aku memilih dia bukan kamu? Cinta sejati dan tulus yang diberikan padaku telah terbalas dan berhasil memiliki jiwa dan ragaku.” Lina tesedu. Dan entah apa yang sedang ia pikirkan. Aku yakin dia mengutukku, memaki dan menyumpahi aku. Hati siapa yang tak luka dan tidak merasakan kecewa jika sesorang yang ia inginkan dan ia sayang pergi tanpa merasa bersalah dan berdosa.

Aku mengaku, jika aku memang salah. Salah pada Lina, pada calon istriku dan pada diriku sendiri. Dan terlebih lagi pada Tuhan, karena rasa yang diberikan olehNya sangatlah suci namun aku kotori dengan menyakiti hati orang-orang yang mencintai aku.

“Maafkan aku Lin..” hanya kata itu yang dapat aku ucapkan dengan ketulusan dari dalam hatiku. Aku rasa, sakit hati adalah resiko yang harus diambil jika menjalin hubungan hati dengan cinta yang bukan sebenarnya.

“Mengapa harus aku yang kamu sakiti bukan dia!?” bantah Lina di sela tangis.

“Karena dia sudah aku sakiti sebelum kamu,” jawabku singkat. Kami terdiam, hanyut dalam kenangan silam. Aku memang merasakan keindahan atas kisah cinta yang terjalin dengan Lina. Aku merasa memang Lina tempat keindahan itu, namun aku juga merasa jika Lina bukan tempat bahagiaku.

Sejujurnya aku ingin menyesali karena mengenalnya dan membiarkan hatiku liar mencintainya. Dan kenapa aku harus menyesal? Rasa ini anugrahNya, apakah pantas disesali yang seharusnya disyukuri? “Tidak”, aku tidak menyesalinya, semua ini takdir bahwa Lina bukan jodohku.

Please honey, fahamilah, mengertilah, tetapkanlah pada hatimu, pada rasa yang saat ini sedang engkau buang.”

Angin laut berhembus semakin dingin, debur ombak tak terlihat lagi, lentera badai berayun di atas perahu, seperti keadaan Lina yang melangkah lunglai di sampingku, sambil mendekap pinggangku, masih dengan tangis. Lalu kami berhenti di persimpangan dia memelukku. “Terima kasih bajingan!” bisiknya di telingahku. Aku tersenyum dan mengecup keningnya. “Maaf,” ucapku.

 

Rania

Palapa, Januari 2010

Sumber image: google.co.uk