Senja itu- Lornie

0
21

Pewarta-Indonesia, Langit nampak merona di ufuk barat. Warnanya merangkul bumi ini. Menjejalkan sinarnya yang keemasan pada mayapada. Menyemarakkan suasana sore ini. Menghiasi lautan dengan megahnya dan memperanggun daun nyiur disampingnya.

 

Kutapakkan kedua kakiku dengan bertelanjang digundukan pasir putih yang berona emas, menjilati kakiku yang mulai terasa dingin dengan ombak laut, terhempas kedaratan bedebah yang menelantarkan.

 

Kakiku masih berdiri kukuh diatas pasir ini. Membuatnya seakan tenggelam dalam kebisingan lautan, mataku tak menemukan dimana muara kumpulan air sungai ini. Membuatnya terus menjelajahi sesuatu yang tak berkepastian. Tenggelam, terkoyak, tercabik, terhempas kedalam karang yang berongga rapuh. Untungnya ia hanyalah sebuah likuid.

 

Kudukku berkidik, membayangkan jiwaku yang mungkin meronta selama ini. Rontaan yang butuh kelembutan, rontaan akan jeruji yang mengekang kedua mata dan kaki ini. Membuatnya tak melihat dan beranjak pergi demi jiwanya yang tak tentu inginnya.

 

Terpaan angin barat menyapu mukaku yag sedari tadi tak ada ekspresi, tak ada sunggingan kebahagiaan. Nampak tanpa asa, tak seperti muka para nelayan disini. Mereka pergi berlayar, berperahu mungil ke tengah laut yang sedari tadi kupandangi.

 

’herkm’ suara yang terdengar di kedua inderaku. Aku tak memalingkan muka hanya untuk sekedar mencari tahu siapa gerangan pemilik suara rapuh itu. Aku semakin kuat menggenggam kedua tanganku yang saling bertindih di dada yang aku sendiri tak merasa cukup indah.

 

Aku merasakan jiwaku seorang diri, tak ada yang menemani, tak ada yang aku kenali, semua baru, seakan bisu, tak mau bicara. Aku mau!! Mau membuyarkan rajutan kata-kata yang belum pernah terangkaikan menjadi serangkaian syair-syiar cinta milik Kahil Gibran.

 

Hatiku seakan terpekik, menjerit kalau mampu. Menjerit atas apa yang aku ingin buncahkan, layaknya merapi dengan lavanya. Menaburkan kehidupan baru yang diinginkan walau tidak semua orang merestuinya.

 

Terpaan angin makin dingin kurasakan. Kusapu kedua lenganku, terasa butiran-butiran garam menyesaki poriku. Menyadarkan aku dalam lamun. Membangunkan aku dari terlelap sesaat, menyadarkan aku atas pukulan tadi pagi. pukulan yang membuat aku terpaku dalam kediaman suara tanpa kedengaran.

 

Semerbak aroma makanan laut malam menusuk indera penciumanku sedari tadi. Aku seolah tak menyadarinya, tak ingin menyadarinya. Diiringi suara cacian perutku yang berontak akan perih yang menjeratnya dan teriakan ariku yang dingin akan deru ombak yang terkasihani oleh daratan yang tak bisa langgeng dalam kekerasan tanah yang kerontang hinggap ditubuhku yang mengaku.

 

Aku tetap tak menggubrisnya, lapar, dingin, dan penatku. Aku mau beranjak dari sini. Beranjak pergi dari tepian yang tak menyenangkan. Kesenangan yang mungkin berbaur keniscayaan yang tak beraturan. Aturan yang mengekang kehidupanku, tanpa jeruji, gembok dan pagar yang mengerangkengkanku layaknya hewan peliharaan yang patut dilindungi.

“Hey!!!! ?”

Aku membalikkan badan yang merapuh akan dinginnya laut yang merenggut hangat jiwaku, sore yang mulai beranjak lari, menemui kekasihnya di tempat lain dan bersiap untuk kembali lagi esoknya saat mata ini mulai lelah terjerat dalam gulita.

 

Aku mencoba menyunggingkan senyum pada pemilik suara yang seakan suara malaikat Jibril, membangunkan aku dari lamun yang tak berawal, bah datangnya rasa lapar yang sedang melilitku. di tengah deru sedan ombak yang kian dingin terasa.

 

“Iya?”

 

Hanya itu jawaban yang bisa aku berikan pada orang yang telah dengan ramahnya menyapa orang yang entah mau apa. Berdiam diri ditepian pantai yang kian lama berkejaran dengan gulita dan nyanyian bintang yang mulai renta.

 

Orang itu nampaknya penasaran denganku. Ia mendekat. Langkahnya kulihat cukup lebar. Nampak seperti orang yang bergegas, meminta sebuah pertanggungjawaban akan kekonyolan yang dilihatnya, mungkin?

Aku beranjak dari tepian itu. Sembari menyunggingkan senyum padanya, walau tertatih.

 

“Kamu,” itu kata yang berhasil meloncati pagar putih yang disunggingkannya yang tertangkap oleh kedua mataku,” orang yang di pasar tadi siang?” tanyanya yang lebih tepatnya meyakinkan dirinya akan orang yang mungkin telah dilihatnya.

 

Aku tertawa kecil. Kemudian sedikit mengangguk.

 

“kamu ngapain?” Tanyanya kemudian setelah keyakinan itu ia dapatkan, tentang seorang yang ia lihat tadi siang.

 

Aku menjawab. Mencari padanan kata yang mungkin dapat kurangkai dengan sedu-sedan. Mengekori permukaan yang menghantam tajam di ulu hati yang segera usang.

 

Tanpa ekspresi. Ia melihatku dengan tajam. Pandangan yang membuatku kaku, diam dalam muram. Tetap tak ada komentar.

 

Kembali aku lanjutkan syair kehidupan. “Pernahkah kau merasa kosong?” aku menatapnya, terlihat ia menendang pasir yang ada dikedua sisi kakinya. “Andai kita mampu memilih? Tentu akan indah hidup ini. Memilih warna yang kita ingini. Memilih jalan yang ingin kau tempuh. Mendaki gunung Everest tanpa beban.” Ia menimpaliku.

 

Namun sayang, kau hidup diantara kehidupan yang lebih seram dari pulau buru. Kita seakan hiduo di penjara guatanamo, tempat umat sebejatnya umat. Tanpa toleransi, tanpa pemberdayaan.

 

Aku tersenyum tipis. Kau dianggap sama. Karena berpakaian sama. Dikira kita mahluk mati yang tak beradab. Tak tahu diri. Padahal kita tahu jujur itu yang kita butuhkan.

 

Kami saling bertatapan. Lalu tertawa bersama. Dan beranjak dari angin barat yang mulai berhembus dalam beku ini dengan bergandeng tangan.

Sumber image: google.co.uk