Senyum untuk Raya

0
17

Langit kampus yang memerah tak juga membuatku beranjak dari ruang PKM kampus yang mulai sepi karena anak-anak mulai ambil wudhu untuk shalat maghrib. Aku menatap kesibukan itu. Menikmatinya malah. Hanya saat-saat seperti ini kita benar-benar melihat ketakwaan teman-temanku. Sebejat-bejatnya mereka, saat maghrib tiba, mereka akan mengambil wudhu dan bersiap untuk bersujud di hadapan pencipta yang mereka percayai.

Beberapa orang menyapaku atau hanya sekedar bercanda menitipkan ruang PKM. Tak berapa lama, ruangan itu sepi, nyenyat. Karena yang non muslim di kampus negeri seperti kampusku memang tak banyak. Dan lebih sedikit lagi yang ikut organisasi kampus.

Sejurus kulihat sosok tegak dengan tubuh kurus tapi berdada lebar menghampiriku. Wajahnya tertutup senja yang beranjak malam. Tanpa ba-bi-bu, sosok itu mengambil tempat di sampingku di teras PKM.

”Gak sholat Ray?” tanyaku.

”Mens,” jawabnya seenak perut.

”Dasar!” runtukku, dan kami diam.

Tapi begitulah Raya. Anugrah Raya Samudra, namanya. Anak seorang pelaut dan seorang ibu rumah tangga biasa. Kakak dari seorang gadis kecil yang baru beranjak remaja. Pria yang tumbuh dengan caranya sendiri. Pria yang tak pernah peduli apa kata orang. Pria yang tak peduli dengan aturan apapun kecuali aturannya sendiri termasuk dalam hal beribadah. Dari yang aku tahu, Raya hanya memasuki pintu masjid saat dia bahagia. Lain tidak.

Pria di sampingku itu mengeluarkan sebatang Amild dari saku kemejanya. Suara gesekan zippo membuat aku sedikit beringsut menjauh. Dan, pria itu tersenyum. Senyum yang jarang terlihat.

”Vi………” panggilnya pelan.

”Hmmm?” sahutku.

”Kamu jarang tersenyum akhir-akhir ini,” katanya, ”Kenapa?”

”Lagi sedih,” jawabku sekenaku.

“Kenapa?” tuntutnya lagi.

“Orang yang aku suka gak peduli ma aku. Jadi ngapain aku tersenyum saat aku lagi bete, dia malah deket ma cewe lain,” jawabku acuh.

“Laki-laki bodoh,” katanya, “Dia gak tau apa yang dia lewatkan.”

“Hmm…”

“Siapa sih laki-laki itu, Vi?” tanyanya penasaran.

”Ada..lah”

”Aku kenal?”

”Kalau kenal, mau apa?”

“Akan kubuat dia menyadari betapa beruntungnya memiliki kamu dan mendapatkan hati kamu.”

“Gitu ya?” Ada nada sinis yang kutahan dalam suaraku.

“Iya!” tegasnya, “Sementara itu, tetaplah tersenyum, ya Vi?” pintanya.

“Untuk apa? Untuk siapa?”

“Setidaknya untukku, senyummu bikin aku merasa ringan.” Lelaki itu menatapku. Lekat. Tak seperti biasanya. Ada pedih di sana, tapi juga ada harap yg berbeda. Aku jengah, dan memutuskan untuk beranjak apalagi anak-anak yang shalat sudah kembali dari masjid.

“Ray, sadarkan dulu diri kamu sendiri betapa beruntungnya mendapatkan aku, setelah itu aku akan terus tersenyum untuk kamu, bahkan tanpa kamu meminta,” kataku.

Ada ekspresi terkejut di wajah Ray yang biasanya dingin. Ada bayangku di matanya yang hitam. Ada rasa tak percaya di wajahnya. Dan satu genggaman erat mengejutkan pergelangan tangan kananku.

“Kamu pacarku sejak detik ini…!” katanya tegas. Ketegasan yang khas. Ketegasan yang membuat aku tersenyum kembali. tersenyum untuknya. Hanya untuknya. (Semarang, 2009)

 

Image: allposter.co.uk