Suara-suara Kehidupan

0
33

Pewarta-Indonesia, Ngiiiiiiiiiingggg…nguuuuuuuuuunggg… Jerit speaker mesjid itu nyaring dan mengerikan, bukti kongkrit kalau gharinnya masih amatiran. Seketika itu juga Kartini, untuk beberapa saat, merasakan pening di kepalanya. Meski begitu dia tetap melorot turun dari dipan beralas karpet tipis yang telah sepuluh tahun belakangan menjadi pembaringannya. Hati-hati dia menyalakan lampu minyak agar suaminya tidak terjaga. Listrik rumah kontraknya sudah dicabut sejak Manto dipecat tanpa pesangon, tepat enam bulan lalu. Untuk menyambung hidup, mantan buruh pabrik seng itu hanya bisa mengumpulkan gelas-gelas plastik dari tempat-tempat sampah dan menjualnya kepada juragan pengumpul.

Kartini mengangkat lampu minyak itu setinggi ketiak. Dia hendak ke belakang, tetapi berhenti mendadak ketika cahaya lampu minyak itu, tanpa sengaja, menyinari kepala suaminya. Lambat-lambat dia bergerak, memastikan kalau matanya belum lamur.

“Ya, Tuhan. Betapa cepatnya lelaki itu menua,” desah Kartini sedih. Marto tengah tertidur nyenyak, mungkin keletihan, sambil mendukung puluhan uban di bagian atas telinganya. Lekuk yang dalam kini menggaris di sepasang mata suaminya itu.

Dengan menggotong sekuintal resah di dada, Kartini melilitkan handuk di lehernya untuk menangkal angin subuh yang acap mencuri kecup di kulitnya. Tangannya menjinjing ember plastik kecil berisi odol dan sabun ketengan. Dia menyusuri jajaran rumah tripleks yang berhimpitan -lorong sempit yang menjadi habitat nyaman bagi tikus, anjing buduk, nyamuk, kecoa dan kumpulan orang-orang terbuang.

Nyaris tak ada yang memiliki kakus di sana. Panggilan alam itu mesti dilampiaskan pada salah satu dari dua pintu MCK yang baru-baru ini saja dibangun pemerintah. Kartini mesti berangkat kerja lebih pagi hari ini, nanti siang ada agenda penting. Bukannya dia yakin untuk ikut, hanya sekedar berjaga-jaga kalau-kalau perasaan sebagai seorang kakaknya mendadak memuncak untuk bergerak ke sana.

Ketika Kartini tiba di sana, orang-orang sudah pada mengantri dengan mata mengantuk dan pipi bengkak. Sekali-sekali mereka meludah ketika angin subuh membawa bau solokan mampet atau aroma brankas tinja yang bocor mampir ke lubang hidung. Untuk yang dikejar waktu, sebenarnya, bisa saja menyeberangi rel kereta api dan jongkok di atas got. Tak akan ada seorang pun peduli, tapi bahkan di pemukiman kumuh ini pun kehormatan perempuan tetap di junjung tinggi.

“Tolong cepetan, Pak! Pagi ini saya ada wawancara kerja di Bekasi,” teriak Marni, yang berada di urutan hampir buncit, ketika Kusno mendapatkan gilirannya.

Muka Kusno memerah, seperti baru menenggak miras cap tikus. Lelaki itu memanggil Marni dengan lambaian tangan, memberikan gilirannya, dan kembali mengantri di urutan paling belakang.

***

Nguuuuuuuuuunggg… jejesjejes…

Suara itu lagi, tepat pukul sebelas siang. Mengaung panjang dan menghilang seperti jerit kerikil yang dijatuhkan ke dalam sumur kering. Seketika, untuk beberapa saat, dua tukang ojek dan seorang buruh pabrik tekstil, yang tengah menunggu shift-nya, kesusu menggenggam gelas kopinya masing-masing -kuatir kalau gempa-gempa kecil itu berbanding lurus dan kewajiban mengganti perabotan pecah belah yang jatuh ke lantai.

Mardiati hafal sekali lenguhan ular naga bersisik baja itu, sehafal dia akan kondisi warung kelontongnya yang sepi sebulan belakangan ini. Tepat di depannya kini sudah tegak sebuah mini market. Warung kelontongnya dihantam oleh harga murah dan ruangan sejuk ber-AC. Karena itulah dia nekad membuka warung kopi, peluang usaha itu ditangkapnya ketika melihat barisan tukang ojek yang jenuh menunggu para buruh pulang kerja. Dan karena kekurangan modal, maka Mardiati pun mengantangkan perkakas warungnya itu kepada kemurahan hati seorang tukang kredit.

“Kopi setengah, Mbak!” Seorang pelanggan membuyarkan lamunannya.

Ketika tengah menyeduh racikan gula dan kopi di dalam gelas, Mardiati melihat seorang perempuan dengan kedua tangan menjinjing dua kantung plastik besar mendekat. Sesekali, perempuan itu meletakkan bawaannya di tanah, untuk mengusap peluh di keningnya yang tembaga. Mardiati mendesah, dia juga sudah hafal sekali maksud kedatangan Kartini ke warungnya ini.

“Tidak, Kartini. Jangan hari ini,” ketus Mardiati dengan sikap pura-pura sibuk.

“Tolonglah, Mbak. Si kecil kepingin banget makan sarden kaleng. Nanti saya bayar, kalau cucian ini sudah dibayar Bu Susi,” rajuk Kartini mengiba.

“Ya, ampun! Apa kamu tidak bisa berhitung?“ serapah Mardiati, sesaat ingin mengebrak meja untuk melampiaskan amarahnya. “Hutang kamu itu sudah buanyak. Sepuluh kali upah cucian macam ini pun belum bisa bikin lunas.”

Muka Kartini semerah udang rebus. Dia kesusu menumpukan tangan kirinya pada papan penutup warung kelontong itu. Kepalanya mendadak pusing. Dia tahu kalau dia tengah keletihan, karena sejak dari jam lima pagi berkeliling kompleks real estate di seberang pabrik tekstil itu, berharap ada pembantu orang kaya yang kerepotan lantas memintanya untuk menseterikakan pakaian yang akan dikenakan majikan mereka ke kantor pagi tadi.

Meski begitu, Kartini sadar sepenuhnya. Kemiskinan tak mengizinkannya untuk menyerah pada gugatan biologis. Dia kemudian menguatkan sepasang kakinya, mendorong badan ringkihnya untuk tegak berdiri. Tapi mendadak ada sepasang tangan yang menariknya untuk duduk di bangku panjang. Sebentar kemudian, sudah ada segelas teh manis terhidang di atas meja.

Kartini tengadah. Mardiati memberikannya tatapan masam.

“Minumlah! Dan ingat, ini yang terakhir. Benar-benar yang terakhir!” dengus Mardiati sambil memasukkan dua sarden kaleng ukuran sedang ke dalam salah satu kantung plastik yang tadi dijinjing Kartini.

***

Ngoooooooooonggg… Ngoooooooooonggg…

Seperti lolongan anjing jalanan yang kabarkan kalau malam sudah di pertengahan, seperti itu pula jerit peluit pergantian shift kerja pabrik tekstil itu. Lolongan yang panjang, tajam dan memekakkan telinga. Spontan tiga tukang ojek itu ligat bergerak. Dua orang bergegas menutup gelasnya dengan piring tadah, sementara yang seorang, yang cangkirnya sudah kosong, hanya sempat meneriakkan kalimat yang membuat Mardiati mengurut dada.

“Hutang dulu, Mbak!”

Dalam hitungan detik, lalu lintas di depan gerbang pabrik itu langsung kacau balau. Para buruh seperti rombongan yang menerjunkan diri ke sungai untuk melarikan diri dari terkaman singa, tetapi mendapatkan diri dikepung gerombolan buaya. Badan bis yang ngetem sembarangan, angkuh mencegat perjalanan mereka. Selanjutnya, puluhan tukang ojek berlomba-lomba mengejar mereka, mengepung dari depan-belakang, kiri dan kanan.

“Minggir!” teriak seorang satpam, sambil mengacungkan pentungannya ke arah sebuah mikrolet yang ngetem tepat di depan gerbang. Supir itu tersinggung, kemudian turun dari mikrolet dan menghujani satpam itu dengan sumpah serapah. Cekcok mulut pun terjadi. Dan di tengah kekacauan itu, emosi pun acap menabrak ke luar kotak.

“Mampus lu, satpam brengsek! Makan tuh sok jagoan!” ejek si supir setelah upper cut-nya telak menghantam rahang lawannya.

Mardiati bergegas keluar, dia wajib mengetahui detail pertikaian tersebut. Gosip renyah adalah penikmat rasa minum kopi, salah satu layanan istimewa di warungnya. Tetapi baru tiga tapak dia melangkah, mendadak sebilah tangan yang kukuh mencengkramnya.

“Jangan usil! Sudah, urus saja urusanmu sendiri,“ bentak Markonah, perempuan gemuk dengan sepasang pipi penuh liang bekas cacar. Tangan kanannya kemudian langsung tenggadah, “mana uang sewa warungmu?”

“Tak bisakah ditunda, Bu? Warung saya sedang sepi-sepinya,” jawab Mardiati dengan mimik mengiba, “saya janji awal bulan nanti pasti saya lunasi semuanya.”

Markonah mendengus jengkel, “itu yang kau katakan tepat enam bulan yang lalu. Jangan suka membohongi orang tua. Nanti kualat, baru tahu rasa!”

“Tapi, Bu…”

“Ini hari aku enggak mau denger kata ‘tapi’. Ngerrrrrrrrti?”

Mardiati pucat pasi. Dia sadar kalau keinginan Markonah sudah tak mungkin ditawar-tawar lagi. Dengan mata sembab, seperti kucing kelaparan, dia memutari meja dan membuka laci kasnya.

“Tolong Dji Sam Soe setengah, Bu!”

Kemunculan mendadak seorang pemuda gondrong dengan celana jeans, sepatu kets, dan tas sandang di bahunya, membuat Mardiati mendadak histeris. Pemuda itu kebingungan, tetapi karena tangis Mardiati tidak memperlihatkan tanda-tanda akan segera berakhir, dia memutuskan untuk mencari warung yang lain.

“Sudah berapa tahun?” bisik Markonah dengan nafas resah, seolah-olah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“Sudah empat kali ganti presiden, Bu. Tapi nasib puteraku itu belum juga jelas…,” jerit Mardiati sesungukan.

“Putera kita,” Markonah berbisik sendu, memotong. “Elang, anakku, juga kemungkinan besar jadi korban penculikan itu,” ucapan Markonah berhenti. Nafasnya mendadak sesak, dan matanya pun mulai berkaca, “ Akh -aku masih ingat sekali sore itu. Dia mencium tanganku. Katanya mau pergi berjuang membela negara. Sejak sore itu, dia tidak pernah kembali.”

“Salah – salah! Mereka bertiga adik saya juga. Mbak dan Ibu jangan lupakan Abduh!”

Mardiati dan Markonah, Ibu para putera yang hilang, menoleh serempak ke arah sumber suara. Kartini tampak tegak di sana, lengkap dengan daster lusuh, wajah pucat dan bacin keringat -penampilan yang benar-benar khas perempuan miskin. Tapi mata itu, di dalam sepasang mata itu, keduanya serasa dapat melihat ledakan-ledakan granat.

Markonah menatap perempuan itu, dengan matanya, dengan hatinya, dengan seluruh perasaannya. Dia kemudian melambaikan tangannya, mengundang Kartini untuk menyempurnakan segitiga kesedihan itu. Kemudian ketiga perempuan itu pun saling berdekapan, terisak bersama atas nama kegetiran hidup.

Mendadak kepala Mardiati terangkat. Matanya, meski sembab, kini kembali meledak-ledak.

“Sebentar, Mbakyu-Ibu. Rasanya kok tak enak menyerah begitu saja pada kezaliman ini.”

“Kau benar, Tini. Kau benar,” jawab Mardiati, masih kesulitan meredam isak tangisnya.

Markonah membisu. Perempuan gemuk itu kemudian menyeka air matanya dengan saputangan dekil. Dia menarik nafas panjang, sebelum memutuskan untuk berlari ke arah jalan raya.

***

Ngeeeeeeeeeeenggg… uhhhuk…uhhhuk.

Mesin bajaj itu batuk-batuk, menyadarkan ketiga perempuan itu kalau mereka pasti terlambat. Ancaman dari serudukan bis-bis Patas AC -para sopir gila yang seakan memiliki kepuasan sendiri dengan menteror bajaj, atau becak kalau ada- serupa banteng liar di tengah jerit klakson dan bising mesin, membuat mereka bersyukur kalau masih bisa mendengar pidato penutupan.

Ketika mereka tiba di Taman Suropati, arak-arakan protes massa sudah bergerak menuju Bundaran HI. Bajaj itu berhasil mencegat rombongan di Tugu Tani. Ketiga perempuan itu langsung bergabung, meski sempat kebingungan karena ini adalah yang pertama. Mereka menumpahkan kesedihan, kemarahan, harapan, dan rasa pasrah melalui slogan-slogan yang diteriakkan dengan jerit histeris.

“Kembalikan putera kami! Kembalikan adik kami! Kembalikan saudara kami!”

Arak-arakan sampai ke tempat tujuan. Seorang perempuan muda dengan ikat kepala merah darah beringsut ke tepi kolam, sehingga dapat lebih jelas dilihat massa. Dia berteriak, melalui megaphone, memanggil pengarah unjuk rasa -Suminten, SH.

Selusin perempuan kemudian membelah kerumunan, di tengah-tengahnya Suminten, SH bergerak lambat-lambat menuju panggung. Kartini tercenung, tidak menyangka kalau malaikatnya itu adalah perempuan berpostur pendek gemuk dengan balutan rok dan blazer serta rambut disanggul mewah -khas penampilan ibu-ibu PKK yang acap dia lihat muncul di teve tetangga.

Sambil melangkah, Suminten, SH tersenyum lebar dan melambaikan tangannya kepada orang-orang. Pergelangan tangan perempuan itu pun tersingkap. Mardiati terkesima, yakin sekali kalau tangan itu tidak sekedar dipenuhi perhiasan imitasi, melainkan rangkaian gelang emas dan dua cincin berlian, yang memendarkan sinar matahari ke segala penjuru.

Di samping Mardiati dan Kartini, ada Markonah yang tengah giat-giatnya meninju langit. Anehnya tangan Markonah itu tidak terkepal, malahan seakan tidak ada kebencian di sana -yang ada hanyalah rasa pasrah dan sejumput tanya :“Benarkah perempuan di atas panggung itu juga kehilangan seorang putera?”

Padang 1 Oktober 2006

dikutip dari www.kemudian.com