Suatu Senja di Bilik Kamarku

0
31

Pewarta-Indonesia, Adzan telah dikumandangkan mu’azin masjid. Mengisi persendian seantero kampung halamanku yang memang tidak begitu luas. Langit menyiratkan rona keemasan di ufuk barat dan burung gagak mengepakkan sayap menuju sarangnya, membelah perluasan desa dan anak-anak berteriak lari menuju serambi rumah mereka yang terbuat dari bilik.

Aku menatap mereka dari kejauhan, mengintip di balik jendela rumahku. Sembari tersenyum dan kemudian terkekeh tatkala seorang anak menghampiri ibunya, sang ibu segera menegurnya mungkin menyuruhnya menyusul si bapak ke sungai. Anak itu lincah, ia mampu menghindari sabetan tangan ibunya, kemudian ia teriak mengolok sang ibu yang nampak tengah mengandung.

Anak itu berlari, membuntuti seorang pria paruh baya. Ia terkadang mendahuluinya kemudian berhenti tatkala bayang si pria tak nampak di pandang mata. Kemudian ia bergelayut di tubuh pria itu, dan tetap begitu sampai hilang di sudut mataku.

Pintu kamarku di ketuk.

Aku melangkah ke pintu kamarku. Sembari membenarkan kerudung putih yang aku kenakan dan sedikit menata busanaku. Kemudian menarik kunci pintu kamar yang berkarat. Aku tersenyum.

“Din, kamu di panggil Bapak.” Pria itu seraya tersenyum padaku. Senyuman yang telah aku kenal lima tahun yang lalu. Senyuman yang telah menghiasi hari-hariku, membuatnya menjadi berwarna.

Aku tak berani menatapnya lebih dalam. Anggukan kecil mengiringi apa yang ia katakan. Aku tetap begitu, berdiri kaku tanpa suara. Aku tak mau menatap kedua bola matanya. Entahlah ia seakan memiliki panah yang siap menghujam persendianku. Jika aku tak hati-hati, mungkin aku akan jadi tumbal perselingkuhan antara desakan nafsu yang mencari pembenaran akan birahi, sejak dulu.

Pria itu masih berdiri dihadapanku. Tanpa kata dan gumam, ia tetap menatapku. Membuatku seakan ditelajangi oleh kedua matanya, mengelupaskan persendian kulitku yang rapuh akan desiran dan lusuh dalam gerangan.

Aku memegang erat kedua tanganku. Meremasnya. Sesekali aku menghentakkan desisku. Mengayun kepalaku, mencari jawab, mencari kata, mencari waktu, dan menghitung detak jantung. Berharap akan ada bisikan jibril, menghujani hatiku yang bergelora atas kibaran api yang bergemuruh dalam ufuk kekeringan.

Ia mendekatkan jemarinya ke lenganku dengan senyum manisnya. Aku sedetik tak mampu berkata, ternga-nga. Kemudian aku memejamkan mataku. Sejenak jemarinya terasa asing di lenganku. Ia seakan benda asing yang selama ini aku harapkan untuk singgap di tempat ini.

Aku tak pernah merasakan pria ini begitu hangat. Kehangatan ini yang tidak sewajarnya aku rasakan sebelum semua peresmian itu terjadi. Aku beranikan untuk menatapnya lekat. Ia pun begitu dalam, menghujam peredaran darahku, memusatkannya pada kemelut kenistaan yang menjijikan.

Ia beranjak dari hadapanku, tanpa saura dan kata penutup. Ia pergi begitu saja. Meningggalkan aku yang kini bergemuruh, bergetar hebat dalam nafas yang hendak berlari dari persinggahannya.

“Sampaikan pada Bapak aku akan menemuinya nanti.” Aku ragu jika ia masih mendengar apa yang aku katakan.

Tanpa persetujuan hati, aku masuk dan mengunci pintu kamarku. Membenamkan kepalaku dalam buncahan rasa yang membingungkan di bilik yang tak begitu kokoh.

Aku memejamkan mata, membayangkan atas apa yang baru saja ku lakukan pada pria tadi. Sekali lagi menarik nafas dalam, berharap nafas hawa meretas dalam jiwaku, membenamkan persendian Adam dalam pergulatanku.

Aku duduk di ranjang yang berlapakkan putih yang kini berona kekuning-kuningan. Aku duduk disana dengan memaki diriku. Entahlah aku ragu atas apa yang barusan terjadi. aku tak pernah merasa begitu hidup dalam kehidupan yang selama ini mengerangkengkan aku dalam jeruji asrama putri, di sekolahku.

Aku ingat betul, betapa sulitnya aku memiliki momen untuk bertatap muka dengan seorang pria, betapa ketatnya peraturan asrama, hingga aku sendiri tak pernah mengenakan tank top layaknya perkembangan trend anak muda saat ini.

Aku selalu ditutupi dengan kerudung putih dan pakaian yang selalu merengkuh pergelangan tanganku dan selalu diakhiri dengan stoking coklat di ujung pergelangan kakiku.

Air mata mengalir dari ufuk mataku, mataku yang selama ini kerontang akan lembaban kesejukkan akan sebuah rasa yang menghimpitnya. Sejenak aku melupakan ayat-ayat yang selama ini aku lafalkan, sedetik aku menghanyutkan pikirku dalam sebuah ruang yang aku ingini.

Pikirku melayang, melayangkan sebuah angan dimana aku tak ingin mengenal agamaku. Sejenak aku ingin melepaskan jeruji yang selama ini mengikatku. Sejenak aku ingin menendangkan lagu kebebasan tanpa aturan. Hingga aku bisa memeluknya tanpa ada rasa bersalah dan malu.

Aku melihat ke kaca riasku. Aku selalu mempertanyakan kenapa aku terlahir dalam lingkar keluarga yang selalu memaksaku untuk menjalankan apa yang mereka inginkan.aku ingin menjadi manusia yang mengenal rasa bukan paksa.

Aku menyalahkan ustadz-ustadz yang selalu menceramahi kami akan keputusan kami. Aku membenci mereka. Tidakkah mereka tahu bahwa direlung hati ini ada rasa untuk mencicipi permaduan yang disajikan dunia.

Terlintas dalam pikir jahatku, apakah mereka menginginkan keperawanan kami hanyut dan kering di asrama putri yang tak pernah melihat dan bicara dengan pria dengan begitu intim?

Hatiku menjerit dalam bisu. Aku tahu ada yang salah antara aku dan pria tadi. Aku menginginkannya. Aku ingin memeluknya erat. Aku ingin mencumbunya sampai ketulang-tulang keringnya. Kemudian diakhiri dengan peluh di sekujur tubuhku.

Aku menanggalkan kerudungku, memolesnya dengan maskara yang aku beli sebelum aku sampai kerumah, saat keluar asrama putri yang selalu mengikatku dalam aturan bakunya.

Aku tersenyum tatkala melihat mukaku merona akan make-up yang barusan aku poleskan. Sedikit aku mengernyitkan dahi dan mengangguk dalam bisu sembari aku berkata “kamu cantik Din, aku ingin memelukmu, bolehkah?”

Aku tertawa kecil mencubit pipiku, menyadarkan aku dalam dalam lamun, tapi seraya berkata, ”Pria itu tidak akan menyentuhmu, Ia tidak akan melampuai batas dari ajarannya. Ia itu orang yang alim.”

Aku menggelengkan kepalaku. Sembari menjauh dari kaca itu dan meneriakkan, “Kenapa kamu jahat padaku? Apa yang salah dalam diriku, aku cantik, kenapa kamu tidak mau menyentuhku, kenapa?”

Aku terduduk. Seraya meneteskan air mata. Mennyapukan kedua tanganku di permukaaan yang kini kecut akan rasa takut. Ketakutan yang tidak pernah beralasan.

Terbesit dalam pikirku. Aku hanya terlahir sebagai seorang yang selalu menunggu. Yah, setidaknya begitu yang dikatakan ustadzahku tiga bulan yang lalu, “Din, tidak baik seorang wanita menyatakan perasaanya pada seorang pria.” Begitulah yang ia ucapkan.

“Din, pacaran itu dilarang, haram bagimu memikirkannya, ia hanya mendekatkanmu pada kenistaan.” Aku mengulangi apa yang perempaun renta itu katakan padaku.

Aku ragu, sebegitu burukkah kata pacaran itu bagi perempuan malang sepertiku. Apakah aku hanya menunggu Adam? Sampai seorang pria tua datang menyatakan cintanya pada orangtuaku.

Hawa saja berjalan, mendaki, dan menuruni terjalnya bebatuan untuk menemukan tulang rusuk yang tidak utuh itu. Kenapa kau tidak bisa menyatakan cintaku pada pria tadi, tak ada yang tahu kalau aku rusuknya yang hilang.

Aku terisak dalam sedu sedan yang dalam. Mencerca, menyaci, dan menghina kelemahanku sebagai seorang perempuan yang terpandang. Lulusan pesantren terkenal di Jawa Timur, dan sedang akan berangkat ke al-Azhar di Kairo.

*****

Tanganku menggapai pergelangan tangan seorang pria. Aku menyunggingkan senyumanku dan menggenggam erat kedua tangannya. Lalu aku melesatkan bokongku di atas pahanya.

“Aku bisa mengerti betapa sakitnya semua itu. Din.” Suaranya memecahkan suasana senja itu setelah aku menceritakan senja yang mencekamku akan rasa yang kini tak perlua kau takuti lagi.

Ia membalas remasan tanganku dan menecup keningku. “Aku senang, kamu menceritakan semuanya padaku.” Ia melanjutkan rangkain kata yang sempat terputus.

Ia mengelus dahiku. “Din, aku juga tersiksa. Aku juga meragukan rasaku padaku dulu. Engkau perempuan yang indah yang pernah singgah dikalbuku.”

Aku memberikan ciuman pertama dibibirnya. Ia menatapku mesra sembari meng-switch off neon yang menerangi ruangan kamar ini. Kami larut dalam gelap, sembari kami melafalkan doa untuk tuhan semoga ini menjadi awal yang diberkati oleh-Nya.

Aku merasakan lekuk tubuh pria yang dari dulu aku mimpikan untuk singgah di dermaga gulatanku. Pria yang dulu haram bagiku, kini ia berbeda. Kami telah menyatukan dua hati di atas ikatan perjanjian yang diberkati tuhan.

Untuk itu, kami akan menghabiskan senja-senja berikutnya di bilik yang sama dengan keindahan yang menggelora di tiap sudutnya ruang di atas tetesan peluh, dan senandung surat yang kita nyanyikan bersama berbagi bahagia untuk dunia.

Aku tak sabar untuk meninabobokan anak-anakku yang lucu dan manis. Mengisi waktuku dan suami yang aku cintai. Berbagi kisah dan membesarkan mereka dengan cinta dan uluran tangan tuhan yang selalu melindungi keluarga kami yang bahagia.

Semua itu berawal dari suatu senja yang menguras peluh dan gelora asmara yang ditentukan tuhan untukku dan pria yang bersamaku di bilik ini.