Tangisku Habis Terjual

0
33

Bising suara mesin mobil peka-kan telinga, asap yang menghitam keluar dari kenalpot mobil bus antar kota, udara panas menyengat kulit yang membungkus tulang dan daging yang sedikit. Jerit suara kondektur berebut penumpang, jari-jari mereka kaku teracung ke udara. Para pejalan kaki lusuh, lelah. Anak kecil menangis, dibiarkan terseok di atas trotoar jalan. Didepannya mangkuk kecil berisi lempengan logam ratusan rupiah. Wajah polos yang kusam, legam bercampur keringat terbungkus debu jalanan. Kemarau semakin menggila, ketika haus terasa mencekek tenggorokan. Air langka, penyakit merajalela. Di sini aku memulai dari sebuah terminal kotor, di negeri yang kaya raya.

Aku teringat Ibu, yang membiarkan aku tersentuh debu. Di sini aku dijual, air mataku dihargai seratus perak. Tapi bukan Ibuku, yang menjual tangisanku. Ibuku entah siapa, tapi aku rindu dan ingin merasakan kasihnya. Di atas trotoar ini, aku berteriak memanggil Ibu, namun yang menghampiri aku orang-orang yang menjatuhkan koin-koin ke dalam mangkuk di depanku. Mangkuk telah berisi penuh, seorang wanita tua yang lusuh membungkuk didepanku menuangkan isi mangkuk itu kedalam kantong plastiknya, lalu ia pergi lagi, membiarkan aku menjerit memanggil Ibu.

Dari darah kotorkah aku ? sehingga debu-debu hinggap menempel ditubuhku. Lengket dan amis. Ibu ku yang hilang atau aku yang terbuang. Setiap pagi hingga petang, aku dipaksa menangis. Aku lelah ingin tertidur malam ini. Namun perutku mendadak berbunyi, wanita tua itu menghampiri aku ia membawa sebotol susu, dan diberikan padaku. Dengan lahap aku hisap puting dot yang kusam dan berdebu.

Senyum sinis, bengis terlampir pada bibir orang-orang kumal disekelilingku. Ludah-ludah keluar seolah aku ini najis binatang. Mereka tidak pernah mau tahu rengek kan ku, mereka tidak tersadar dengan tangisanku. Aku butuh Ibu……!.

Itu adalah latar belakangku. Setiap sudut kota telah aku singgahi. Namun, wajah ibu tidak juga aku temui. Seperti apakah ibuku sebenarnya, yang membuang aku kedalam tong sampah. Hinggga aku hanya bisa bersahabat dengan lalat dan kecoak, aku bayangkan wajah ibu seperti bidadari yang bertaring tajam, dengan gadah besi ditangannya.

Aku hidup di sekumpulan orang-orang yang resah, orang-orang yang selalu panik ketika trantib menggelar razia, aku hidup terobang-ambing di gendongan wanita tua, yang berlari kalang kabut mencari tempat sembuyi. Aku menangis, rengekan seorang balita yang belum tahu apa-apa.

Di gerbong tua, wanita tua itu meninggalkan aku, ia berlari entah kemana. Aku menangis dan terus menangis, memanggil ibu, dan entah siapa ibuku. Tak seorangpun menghampiri, semua penghuni gerbong panik mengurusi diri masing-masing. Razia ini seolah momok yang menakutkan namun tak pernah membuat jera.

Siang, ditengah terik matahari aku merangkak di atas trotoar jalan, dengan debu dan linang airmata yang mengering. Aku mencari botol susuku yang hilang, dibawa oleh pemulung yang serakah. Aku mengejarnya hanya dengan merangkak. Bahasa bayiku tak dapat dimengerti oleh orang-orang dewasa yang melihatku. Mereka hanya bungkam dan heran, aku menangis mengharapkan batuan, namun mereka malah berlalu sambil menutup hidung-hidung mereka.

Tubuh kecil, semakin hitam. Aku masih merengek, tak jua botol susuku kembali. Aku lelah, batin kecilku menanyakan apakah aku hidup disekitar manusia?, namun tak kurasakan ada jiwa manusia di sini. Mereka acuh padaku, jangankan mereka ibuku sendiri kurasa bukan manusia.

Pernah, aku dibawa oleh orang yang membuat panik di kalanganku. Aku dibawa ke sebuah bangunan bagus, di sana aku bertemu dengan anak-anak sebayaku. Namun, semalam saja aku merasakan ketenangan, wanita tua menggendongku membawa aku keluar dari bangunan penampung anak-anak seusiaku.

Kembali aku dipaksa menangis. Tangisku yang terjual. Tangisku yang mengharap ketulusan jiwa dari manusia sesungguhnya. Namun, yang aku dapat hanyalah belas kasihan dengan koin lima ratus rupiah harganya. Setiap hari aku berganti pengasuh, hampir setiap gembel di kota ini pernah merasakan hasil dari tangisku.

Harapanku hanya satu, aku dapatkan kasih sayang dari seorang ibu, ibu yang mengadungku dan yang membuangku. Aku tak berharap bertemu ayah, sebab aku tahu aku terbuang pasti karena ayah yang tak mengendaki ibu mengandungku. Ayah yang aku anggap bukan manusia. Sebab aku merasa terlahir bukan dari rahim manusia.

Mengapa mereka tak kasihan padaku, apakah perasaan meraka jika melihatku telanjang, menangis di tengah terik matahari di trotoar jalan. Apa yang mereka rasakan ketika melihat tanganku menggapai-gapai udara mengharap seorang ibu mengampiri aku dan memelukku dengan tangisan haru. Aku tak mengerti, yang aku tahu tangisan dan harapanku menjadi tumpukan koin di depanku.

Rengekanku tak ada yang mendengar, hanya Tuhan yang menciptakan aku yang Maha tahu. Aku menangis pada tempat yang salah, ditempat yang bukan ditinggali oleh manusia. Aku dibuang ibu pada tempat yang menyiksaku. Mataku semakin sembab, seharian aku harus menagis, sebab jika aku tidak menagis maka jatah susuku nanti malam tidak akan ada. Aku tak dapat tidur jika aku tidak meminum sebotol susu.

Aku bayi yang malang, yang seharusnya ditimang, dibelai dan disayang. Aku merasakan dunia tak lagi ada, yang ada hanya tangisku yang membuat mereka tertawa. Dimana sebenarnya letak nurani itu, sebab jiwaku masih suci, yang aku tahu hanya menangis, karena itu bahasa sedihku satu-satunya. Namun, mengapa mereka tak pedulikan aku. Aku berharap ada seorang yang membawaku lari dari tempat ini. aku berharap masih ada manusia yang sesungguhnya.

Jika malam dan musim hujan tiba, dingin udara dalam gerbong menggigilkan tubuhku. Aku meratap ingin mendapat pelukan dari seorang ibu. Aku berharap ada kehangatan disisiku, namun yang aku temui hanya onggokan kardus dan rongsok disekitarku. Entah kemana orang-orang yang selalu memanfaatkan aku. Mereka sibuk dengan urusan manusia dewasa.

Aku dibiarkan merikuk, kedinginan di atas kardus yang lembab. Aku semakin mengigil, aku hanya dapat menyebut satu nama ”IBU”. Aku harap malam ini dapat bertemu ibu, aku harap malam ini akhir dari deritaku. Aku harap malam ini Tuhan memanggilku, karena hanya Dia yang peduli terhadapku.

Malam yang sepi, dingin, aku semakin mengigil. Di atas gerbong ini aku sendiri meratap tak lagi dapat menangis, tubuhku mengejang, mulutku terkatup, panas tinggi pada badanku tak ada yang tahu. Akhirnya aku tahu, belaian seorang malaikat menghantarkan aku dalam kedamaian tidurku. Aku terlelap dan lelap selamanya.

Gerbong,Januari 2010

Sumber image di sini