Tentang Sekolah… Tentang Jakarta

0
37

Pewarta-Indonesia, Siang hari, kawan. Kurang lebih seperti itu. Tapi, ah tidak !, tidak !, tidak seperti itu. Justru tepat. Ya !, jelas ini siang hari, tak lebih tak kurang. Matahari telah meninggi tepat di atas ubun-ubun, udara semakin terasa sesak, pengap, pedih menusuk rongga dada yang kembang-kempis tertekan bengisnya zaman. Panas, ya !…itu, panas. Siang hari bukan ?. Paling tidak menurut pengalamanku saja, kawan. Pengalaman turun-temurun. Buyutku bilang begitu, dilanjut ke kakek, ayah, kakak dan akhirnya meresap ke lumbung ingatanku. Aneh memang, tapi ya…sudahlah.

Harap dimaklum, kawan. Tak tahu aku itu soal putaran jam. Soal huruf, soal angka, ah !…misteri. Tak ada itu !, tak pernah sekalipun Bapak cerita soal itu. Kami tak ambil peduli, dingin. Biarlah alam bicara apa adanya. Siang itu berarti panas, terang benderang…dan beberapa hal yang kuketahui pasti ; guyuran keringat, pegal di tangan dan kaki akibat seharian mengolah sawah milik juragan Tommy yang konon tinggal di Jakarta—negeri yang kata Bapak gemerlapan, meriah sejadi-jadinya. Itu !, sebatas itu saja pengetahuanku kawan soal siang hari.

Dan, ah !…ya !…satu lagi ; soal malam hari, kawan !. Perkara itu aku tahu. Jelas Bapak yang cerita…bukan mantri, lurah apalagi Pak guru yang sampai saat ini hanya kukenal dari obrolan warung kopi anak-anak sekolah Inpres. Lagi-lagi, pengalaman saja yang membuatku paham tentang apa itu sesuatu yang disebut malam hari. Sederhana, kawan. Begini, begadang semalaman di gubuk dekat sawah juragan Tommy bersama hawa dingin dan pekatnya malam yang kadang bikin bulu kuduk merinding, berjaga-jaga khawatir ada orang yang nekad memutar jalur air irigasi yang membasahi sawah juragan. Itu !, itulah malam hari. Sudah kubilang dari tadi bukan ?! sederhana !.

Anak-anak Inpres seringkali cekikikan tiap kali kubuka persoalan siang dan malam itu tadi. Tolol mereka bilang, telunjuk mengarah angkuh tepat ke mukaku. Setelah itu biasanya bergantian mereka melemparkan ejekan demi ejekan. Kurasa-rasa, temponya teratur, tak jauh berbeda seperti embikan kambing. Buta huruf !…tak lama…Kampungan !. Kemudian suasana mendadak riuh layaknya pesta-pesta Jakarta yang Bapak ceritakan kepadaku. Entah kenapa mereka tertawa, terus terang aku tak tahu. Manusia terbelakang!… tak beradab ! Tertawa lagi…heran lagi aku dibuatnya.

Pacul masih tergenggam kuat di tangan. Sembari menyeka keringat yang mengalir begitu deras, aku merenung, mencari serpihan hikmah dari hidup yang kujalani. Tolol, buta huruf, kampungan, manusia terbelakang, tak beradab…suara-suara sumbang anak-anak Inpres. Disela-sela tarikan nafas yang terasa berat, kucoba berani menyimpulkan sesuatu yang bahkan tak kumengerti sama sekali ; itukah arti sekolah ?!

***

Bapak diam saja sedari tadi, tanpa kata atau bahkan sekadar sapa kecil Bapak kepada anaknya. Hening, bisu, itu saja. Tak seperti biasanya, entah apa yang sedang dipikirkan Bapak. Cicit centil suara burung yang lalu lalang, semilir angin panas yang tak tahu diri…berlalu, mondar-mandir seperti arus lalu lintas yang sempat kulihat dengan penuh ketakjuban sewaktu menikmati tontonan manusia aneh yang bergerak-gerak persis di layar. Misbar, Gerimis Bubar, kira-kira seperti itulah namanya. Sapaan akrab untuk hal yang demikian itu. Intinya seperti itulah, aku tak mau bertele-tele. “Biar anak-anak Inpres yang pusing memikirkan tetek bengek penjelasan ini-itunya”, bisik suara batin yang tak jelas apakah lirih ikhlas nrimo atau malah tak percaya diri.

Tampak seperti ramai memang, tapi tidak. Jelas-jelas aku menunggu, menanti sesuatu yang tak pasti juga apa gerangan itu. Tak pasti…ya !, namun kutahu itu lebih menggelegar dari segala keramaian. Suara bapak…cerita bapak tentang apapun yang dia ketahui dan lantas dibaginya khusus untukku. Potongan-potongan kisah yang selalu punya arti tersendiri, meski bagi anak-anak Inpres itu sepele.

Kutatap wajah Bapak, terlihat murung kehilangan gairah. Sorot matanya kosong. Berkedip sekali-kali, namun berat. Jauh dari kelincahan yang ditampilkannya sehari-hari. Seperti mencari sesuatu, dipandangnya apapun di arah kiri dan kanannya. Liar, bingung. Padahal sawah, hanya sawah tempat bergantungnya nasib kami dari masa ke masa.

“Nak…”, mulai Bapak bicara. Kutangkap jeli getaran simfoni dukanya.

“Parmin, anak si Sadli…dia pergi ke Jakarta besok. Kerja katanya…”, deras kata-kata Bapak tiba-tiba terhenti. Terganjal. Sejenak ditariknya nafas dalam-dalam, sekadar melepaskan secuil beban perasaannya mungkin.

“…lepas dari Sekolah Inpres, Sadli bilang…Parmin dicarikan kerja oleh pamannya. Bayar tukang catut pabrik, Parmin diterima. Urusan mesin begitulah katanya, Nak. Upahnya besar, lebih dari lima ratus ribu. Hebat itu si Sadli…” , lagi-lagi tuturan curahan hatinya terpenggal di tengah jalan.

Sebatang rokok diambil Bapak dari kantong celananya. Kepulan asap putih yang serta-merta bergabung bersama angin seakan menjadi saksi kepedihan yang sedang ditanggungnya. Mengapung tinggi, semakin tinggi. Sontak hilang, sirna seakan menandai pupusnya harapan seorang Bapak.

Masih saja aku terpaku, berpikir keras mencerap segala hal yang dibicarakan Bapak. Tak berani aku menjawab, lebih baik membisu.

“…maafkan Bapakmu ini, Nak. Tak mampu Bapak menyekolahkanmu…ke sekolah Inpres seperti anak-anak yang lain. Seperti si Parmin…bekerja…ke Jakarta…dapat upah !”, luapan emosi campur aduk dalam kata-kata yang meluncur dari mulut Bapak. Pecah, membludak begitu saja penuh tekanan. Tidak lagi putus-putus seperti sebelumnya, kali ini benar-benar berbeda. Tegas, namun miris. Hentakan suaranya lebih mirip pernyataan keputusasaan daripada kehilangan. “Ah…Bapak”, jerit batinku yang tanggap menyelami samudera derita Bapak.

Sempat kulihat tetes air mata Bapak dalam langkahnya kembali ke sawah. Tak sanggup rupanya dia menahan sesak di hatinya. Lelaki tua yang sedang kucermati ini…dia menangis. Tangis kekalahan manusia di tengah arena pertandingan yang disebut kehidupan.

Sendiri. Kuteruskan perbincangan ini bersama alam. Berdialog, membuka makna sekolah. Setelah celaan yang tempo hari dilontarkan anak-anak Inpres kepadaku, sekarang Bapak yang dirundung malang. Gara-gara sekolah, kemudian kerja, terus upah…Bapak terluka.

***

Musim panen tiba, kebahagiaan bersemi tanpa perlu dipinta. Seantero kampung bergembira, wajah sumringah para buruh penggarap sawah menguap tanpa ampun. Disana-sini, meriah sekali.

Selalu ada cerita yang mengisi hiruk-pikuk kehidupan kampungku. Selain kisah sehari-hari tentang buruh penggarap, para juragan dan sawahnya tentu saja… silih berganti cerita demi cerita datang dan pergi. Ramai Parmin jadi buah bibir kemarin, semua tahu dari ujung ke ujung. Tentang kepergiannya ke Jakarta, siapa yang tidak menyempatkan diri untuk turut serta berwacana ?

Kini tak ada lagi. Tergusur. Parmin tak lagi terangkat namanya sebagai bahan pembicaraan orang sekampung. Musim panen membawa ceritanya sendiri. Dari tahun ke tahun…sama saja, selalu itu. Juragan Tommy, melulu beliau yang hadir dalam setiap obrolan. Dari kelurahan sampai ke warung kopi, Juragan Tommy lagi…Juragan Tommy lagi.

Bagaimana tidak ?, juragan Tommy yang baik hati itu…dibagi-baginya berlembar-lembar uang kepada seluruh buruh penggarap yang bekerja di sawahnya. Tiap kali musim panen, sungguh beliau orang yang murah hati. Berkah musim panen, kata beliau, “harus dibagi…biar semua senang”. Kami bersyukur, sesekali melontarkan kekaguman yang tak terkira untuk beliau.

Juragan Tommy…orang Jakarta. Baik hati dia itu. Ingin aku pergi ke Jakarta…jadi orang Jakarta seperti Bapak bilang. Menyusul Parmin, menguji peruntungan di tanah harapan. Kalau juragan Tommy saja baik hati begitu, artinya orang Jakarta memang baik semua. Kubagi-bagikan nanti uang untuk orang sekampung setelah jadi orang Jakarta. Mungkin…suatu saat nanti…entah…

***

Juragan Tommy tidak datang sendiri. Musim panen ini turut serta pula saudara kandungnya, juragan Bambang. Gagah dan berwibawa, seperti itulah gambaran sekilas sosok juragan Bambang yang setengah malu-malu kutengok dari kejauhan. Sulit untuk melihat mereka berdua, orang sekampung berjejal-jejal ingin menyaksikan tokoh yang telah memberikan kesempatan untuk merasakan nikmatnya makan tiap hari walau serba seadanya.

Kehadiran juragan Bambang…dalam sikap, lirikan mata hingga ke langkah kaki yang dipertontonkan ke khalayak ramai menambah sedikit perbendaharaan kesanku tentang orang Jakarta. Hebat, luar biasa. Ditambah mobil mewah dan puspa ragam peralatan yang disandangnya…ah !, otakku semakin menggila memikirkan alam raya yang disebut Jakarta. Parmin jelas tahu itu, Jakarta…dia tahu. “Punya kesempatan jadi orang hebat si Parmin itu”, bunyi suara hatiku yang terdengar seperti meronta-ronta. Esok atau lusa, bulan depan, tahun depan…kampung ini mungkin punya juragan baru, juragan Parmin.

Balai desa ramai dipadati orang sekampung. Pak Lurah memberikan perintah kemarin, orang sekampung harus hadir ke balai desa untuk kepentingan silaturahmi dengan juragan Tommy dan saudara kandungnya. Dialog, seperti itulah istilah yang sampai dari mulut ke mulut. Apapula itu dialog, aku tak tahu. Hanya manggut-manggut saja aku ketika Bapak menyampaikan perihal itu selesai membenahi peralatan kerja sawah kami kemarin sore.

Acara resmi dibuka oleh juragan Tommy. Setelah sambutan Pak Lurah yang begitu hangat, sepatah dua patah kata Pak camat yang alamak begitu panjang hingga pantat terasa beku, juragan Tommy angkat bicara. Tak banyak apa dan apa, itu yang kusuka. Singkat saja waktu bicara yang dipakai juragan Tommy. Selesai mengucapkan salam, masih kuingat beliau bilang begini, “mari kita buka acara ini dengan mengucapkan basmallah”. Luar biasa !. Tak seperti Pak Camat yang terlihat makin pikun dan mengerikan itu, lama dia bertutur kata. Tak sampai pula di otakku apa yang dia maksud ; ekstensifikasi pertanian-lah, modernisasi, etos kerja, kemandirian komunal. Sulit dimengerti, paling tidak olehku. Bapak tak pernah cerita masalah itu. Namun begitu, hal itu tak menghalangi niatku untuk turut serta bertepuk tangan untuk beliau setelah rampung pidatonya. Meski banyak sesal membuncah-membuncah di dalam hati, meski terjal kerikil perasaan mengganjal di benak serta otakku. “tak paham aku itu, Pak…apa maksud bela negara, sedang negara pun tak pernah kusadari bagaimana rupanya”.

Juragan Tommy menyapa para buruh penggarap sawahnya. Berbincang-bincang santai. Tanpa prasangka, lurus-lurus saja. Pak Sadli ditanyanya, bagaimana perkembangan keluarganya sebagai salah seorang mandor buruh tani kepercayaannya. Seperti baru saja mendapatkan utangan, Pak Sadli semangat mengisahkan segala hal yang berkenaan dengan pertanyaan itu, “Anakku, juragan… Si Parmin…telah lulus sekolahnya. Di sekolah Impres, juragan…Impres begitulah kata si Parmin. Dia bekerja, juragan…di jjjjj…Jakarta. Jakarta, juragan”. Si penanya diam saja, tak bergeming dengan kilatan sejuta cahaya kegirangan yang meluncur dari mulut Pak Sadli. Turun naik kepalanya, mengikuti setiap petak cerita yang dirangkai Pak Sadli. “Ya…Ya !. Terus cerita, Sadli…terus…”, mungkin demikianlah pesan yang bisa kutangkap dari gerakan kepala juragan Tommy yang kurekam.

“Inpres Sadli !…Inpres !…bukan Impres !. Tapi, ya…sudahlah. Mulia kau itu bisa menyekolahkan anakmu. Apalagi sampai lulus, sampai kerja…di Jakarta !. Bravo !. Hebat kau, Sadli”, hadirin terhenyak dari lamunannya. Suara juragan Tommy memecahkan kebuntuan suasana di ruangan ini.

Ada yang memulai tepuk tangan. Satu orang, dua orang, sampai Bapak dan akhirnya aku. Semua hadirin tepuk tangan, suka ria. “Hidup Sadli, Hidup Parmin !”, melintas suara bising dari arah belakangku. “Sekolah !…sekolah !…Kerja !…Jakarta !”, balas teriak orang lain dari arah yang tak jelas. Juragan Tommy tersenyum puas kini. Bangga boleh jadi, karena ada anak mandornya yang bisa lulus sekolah dan akhirnya bekerja di Jakarta. Beliau ikut tepuk tangan, mengamini dan larut dalam suka cita bersama.

“Dan…ah !…kau !…ya !…kau…siapa namamu ?”, juragan Tommy kembali mencoba membuka perbincangan. Riuh tawa yang tadi sempat bergelombang di Balai Desa, tergerus makin tipis kini. Lama-lama sepi, tak lagi bising. Tak lagi ada yang berani berbicara apalagi menjerit keras seperti tadi. Tak ada. Tinggal juragan Tommy dan yang ditanya, pusat perhatian semua orang.

Mencekam. “ya !…kau !…siapa namamu pak tua ?”, tandas juragan Tommy kembali. “Sapardi…Juragan”, lemah suaranya, tak seperti letusan suara juragan Tommy yang penuh rasa percaya diri.

Pak tua yang dimaksudkan juragan Tommy ternyata adalah bapak, lelaki tua yang semakin kurus saja. Wajahnya mendadak pucat. Bibirnya kaku, semu beku. Tegang dia memandang juragan Tommy.

“Kau punya anak Pak tua ?!”, tanya juragan Tommy.

“Ppp…punya, juragan. Satu saja. Suhadma namanya”, jawab Bapak.

“Sekolah dia ?”, layaknya hakim agung, juragan Tommy menyarangkan pertanyaan khusus untuk sang tertuduh…Bapak.

“……….”, tak menjawab apa-apa Bapak. Hanya diam, murung sembari menggulung punggungnya hingga nyaris seperti kura-kura.

Dunia boleh saja iri dengan apa yang terjadi di ruangan ini. Seakan tinggal dua manusia saja yang kebetulan hinggap di bumi. Juragan Tommy, Bapak…sebuah klise tragis yang masih tetap saja ada, walaupun ada sosok lain yang konon lebih arogan. Kutahu itu dari Pak Camat…negara.

Mungkin Bapak sadar bahwa dirinya terhimpit, terdesak oleh sebuah pertanyaan yang mau tidak mau harus dijawabnya. Bapak sadar pula mungkin, semua orang menanti jawabannya. Bukan saja juragan Tommy, bukan saja Pak Sadli…kesaksiannya dinanti oleh semua orang di kampung ini yang sekarang menjejakkan kakinya di balai desa. Kesaksian orang kampung…kesaksian seorang manusia yang pengertiannya tentang dunia terkurung oleh suatu kenyataan bahwa yang ada di hadapannya adalah petakan tanah berhektar-hektar yang harus digarapnya demi sekadar bertahan hidup.

“Tidak, juragan….anakku tidak sekolah”, jawab Bapak setelah cukup lama dia membatu.

Juragan Tommy tersenyum kecut, sehingga kontan lebih mirip seringai serigala. Mimik muka yang sungguh aneh sebetulnya.

“Ah !…Sapardi. Manusia udik…Sapardi…ah !”, jawaban Bapak dibalas dengan letusan kata-kata yang cukup memekakkan telinga. Setengah melotot juragan Tommy di waktu melepaskan kata-kata itu.

Juragan Tommy tertawa. Keras…keras sekali. Disusul Pak Sadli, disusul pula oleh orang banyak di belakangku. Semua tertawa…terbahak-bahak.

Balai desa sepi. Tinggal aku dan Bapak yang masih belum beranjak dari tempat duduk. Malu Bapak…merasa ditelanjangi begitu rupa. Kini semua orang tahu…Sapardi, Bapakku… manusia udik. Kuulas kembali, manusia udik…karena tak mampu menyekolahkan anaknya.

***

Bapak belum lagi kuat kembali ke sawah. Beberapa hari ini dia sakit, terkapar dia di tempat tidurnya. Beberapa hari ini pula kugarap sawah juragan Tommy sendiri, tanpa Bapak.

Kasihan Bapak…terputus sejenak kesempatannya untuk bercerita tentang apa saja kepadaku. Lebih dari itu, kasihan juga Bapak…tak mampu dia berkumpul di balai desa hari ini. “Ada berita besar yang harus disampaikan ke semua orang kampung”, demikian kata Pak Lurah. Berita apa, aku tak tahu. Sejujurnya tak ada yang tahu. Tak ada desas-desus, kali ini berbeda. Berita itu akan disampaikan langsung oleh orang berseragam yang selama ini kukenal sebagai tuan Kapolsek. Lagi-lagi itu juga kata Pak Lurah yang kebetulan berpapasan denganku siang tadi.

Orang-orang sekampung pun berkumpul, sesuai dengan permintaan Pak Lurah dan tuan Kapolsek. Tanpa sambutan yang membuat badan pegal, acara langsung diawali dengan uraian dari tuan Kapolsek. “ada tembusan dari kepolisian Jakarta sana. Parmin…jadi buronan. Setelah mencuri barang di pabriknya, Parmin terlibat dalam tragedi pembunuhan bosnya. Kawan-kawannya sudah ditangkap, di penjara. Parmin belum. Jadi…kuharap bapak-bapak sekalian bisa bantu kepolisian. Lapor ke Polsek kalau-kalau Parmin datang ke kampung ini…”, tutur Kapolsek.

Tanpa tawa, tanpa tepuk tangan…acara pertemuan ini bubar begitu saja. Tersisa pertanyaan di benakku…tentang sekolah, tentang Jakarta. Tak berani aku bercerita ke Bapak ihwal kejadian ini. Biar Bapak saja yang ceritakan semuanya nanti.

Sore menyapa seisi kampung. Kulangkahkan kaki untuk pulang ke rumah bersama Pak Lurah. Melewati sawah yang biasa kugarap, kupaksakan niat untuk bertanya kepada Pak Lurah, “apa maksud papan yang menandai sawah juragan Tommy itu, Pak ?”

Enteng jawaban yang ditandaskan oleh Pak Lurah, “Oh…TANAH NEGARA, nak !”

Purwakarta, 24 Maret 2009

Lorong Sepi Proletariat – Purwakarta