Mayoritas Rumah Sakit di DKI Mengutamakan Kepentingan Manajemen daripada Pelayanan Kesehatan
KOPI, JAKARTA - Di Tiap rumah sakit negeri ataupun swasta di daerah DKI Jakarta kurang memberikan pelayanan kesehatan yang utama, hampir tiap rumah sakit melayani masyarakat untuk kepentingan Management dari pada PELAYANAN KESEHATANNYA. Satu contoh, di RSUD TARAKAN yang terletak dikawasan Jl. Kiyai Caringin No. 7, Jakarta Pusat, saat para petugas melayani masyarakat yang datang untuk berobat atau pun masyarakat yang datang ketika memasuki IGD sulit mendapatkan sebuah ruangan kamar rawat inap.
Hal tersebut dialami oleh Bpk. Mis’at, 42 thn yang beralamat di Jl. Sawah Lio 1 Rt.09/01 Kel. Jembatan Lima Kec. Tambora – Jakarta barat. Menurut Bpk. Mis’at kepada pewarta-indonesia.com, pada tanggal 25/5 di ruang rawat inap lantai 8. “Pada tanggal (24/5) pukul 08.30 WIB saya datang untuk berobat di poli penyakit dalam, dokter memeriksa penyakit saya hingga keputusan terucap dari sang dokter" 'bapak harus dirawat karena penyakit yang bapak derita sangat mengawatirkan..!!' kata sang dokter yang menangani saya."
Dia kemudian melanjutkan, "Lalu kemudian saya menghubungi keluarga di rumah untuk datang ke rumah sakit agar membantu saya dalam penanganan perawatan saya. Sehubungan dengan datangnya keluarga saya, saya ditangani para suster, dibawa ke ruang IGD guna tindak lanjut proses rawat inap. Pada pukul 11.15 WIB datanglah istri saya ibu Mulyatun (36 thn) menemui saya dimana tempat saya di IGD dengan wajah penasaran, 'Bapak sakit apa? Kenapa sampai dirawat?' Kemudian istri saya langsung temui para suster dan petugas di IGD agar saya mendapatkan kamar rawat inap, namun saya heran dari jam 10.15 sampai jam 19.10 WIB saya masih saja di ruang IGD, dan saya tanyakan kembali istri saya: 'Kenapa saya belum dapatkan kamar rawat inap?' dan saya tanyakan berkali-kali hal itu ke istri saya, dan dia menjawab: 'kata para petugas, kamar rawat saat ini penuh, ditunggu saja nanti kalau sudah ada dikabari kembali..!' demikian laporan sang istri pada saya sambil menunggu petugas memberikan kabar baik."
"Dengan lelahnya saya sarankan istri saya agar memberikan uang muka untuk dapatkan sebuah kamar buat saya, kemudian istri saya mencoba menemui para petugas di IGD untuk menanyakan lebih lanjut, tiba-tiba istri saya bersama perawat datang dengan cepatnya saya dibawa oleh para perawat untuk ke ruangan IW lantai 1 yang tak jauh letaknya dari tempat saya di IGD, seiring dengan penangan saya proses pemindahan ruangan, saya tanyakan kembali sang istri: 'Bu, cepat sekali saya dipindahkan keruangan? Bukankah kamar rawat penuh…?' dan istri saya jawab: 'saya tidak tahu, mungkin pada saat saya bilang saya mau bayar uang muka untuk dapatkan kamar rawat inap, para petugas menunggu kita untuk membayar dulu..?' kata istri menjelaskan sambil kecewa."
Dari kejadian yang terjadi dengan bpk Mis’at di atas, tidak berlebihan jika muncul pertanyaan sinis, “Inikah yang dinamakan Rumah Sakit untuk pelayanan masyarakat, dan apa sebenarnya tujuan setiap Rumah Sakit..?”
Ketika saya mewawancarai Kepala Bidang Perawatan RSUD Tarakan, Zuraidah, Kamis, 26/5 mengatakan, ”Saya tidak tahu kalau para petugas melakukan hal seperti itu, tapi jika memang benar, maka saya akan memberikan sanksi kepada para petugas yang melakukan tugasnya dengan tidak baik,” ujarnya denga tegas.
Diwaktu yang bersamaan, saat pewarta-indonesia.com menanyakan melalui telepon pukul 10.22 WIB (26/5) hal tersebut kepada Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Dien Emmawati mengatakan, “Kalau memang rumah sakit tersebut melakukan hal negatif ataupun mempersulit tindakan proses pelayanan kesehatan maka Dinas Kesehatan akan menindaklanjuti pihak-pihak yang tekait, minimal teguran untuk rumah sakit tersebut,” ucapnya menegaskan.(lanna/pewarta-indonesia.com)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Pelayanan Dispenduk Capil Kota Surabaya Kurang Memadai
- Surat Terbuka untuk Presiden RI: Bupati Selayar Arogan dan Sewenang-wenang
- Buta Karena ASI
- TKW Terkapar Tak Berdaya, Perusahaan Tidak Peduli
- Surat dari Sumbawa untuk Presiden RI
- Basiba, Terasa Asing di Kampung Sendiri
- PKPU dan Sibuah Hati: Kapan Anakku Bisa Memanggil Aku Papa
- Kemana “sense of crisist” Para Pejabat ?
- Perda Kalsel Nomor 03 Tahun 2008 Sarat Kepentingan Politis dan Pribadi
- PLN Plus Sumpah Serapah dan Kutukan
- Ternyata Masih Ada Sumbangan Pihak Ketiga dari Sektor Tambang Batubara
- Konfirmasi Dianggap Fitnah
- Character Assasination, Pembunuhan Berencana
- Terima Kasih Guru, Guruku, Guru Kita Semua
- Pertambangan Batubara dan Jatah Preman


























