Trend Beragama yang Aneh
KOPI, Aneh. Itu perasaan awal saat mengikuti perkembangan di kota saya. Bukan apa-apa. Sehari-hari, dari perkembangan kehidupan sosial masyarakat yang masih berjalan seperti biasa, muncul sebuah trend baru. Semua orang tergerak untuk berlomba-lomba mengikuti pengajian, majelis taklim, dan perkumpulan-perkumpulan dakwah.
Bila orang lain yang saya ajak bicara tentang keanehan ini tidak ikut mencermati, mungkin sayalah yang dianggap sudah gila dan anti Tuhan. Masa iya, orang pada mulai taat dan patuh pada Tuhannya dianggap aneh? Pasti begitu anggapan orang tentang saya.
Di kota yang terkenal dengan julukan Serambi Mekah, yang pada masa lalu didatangi banyak orang dari penjuru negeri di Nusantara ini, untuk menuntut ilmu agama, sekarang berubah, menjadi tempat berseliwerannya orang-orang berjubah, datang dan mengetuk pintu-pintu rumah, untuk mengajak orang menunaikan kewajiban shalat tepat waktu.
Kalau itu, masih saya setujui, karena sayapun dikenal seorang pendakwah. Tapi yang membuat saya bingung, atau mungkin bukan hanya saya saja yang seperti itu, ada pula istilah-istilah agama yang muncul di kalangan mereka, yang menurut sepengetahuan saya, dan sejauh saya belajar di bangku sekolah agama, tidak pernah ada. Saya tidak akan sebutkan istilah-istilah itu di sini. Karena menurut saya tak penting, tentunya. Yang lebih penting, mereka mulai mengajak orang-orang untuk ikut paham mereka. Dengan sejenis upaya cuci otak, katakanlah begitu, mereka mulai merangksek ke kantor-kantor, ke lembaga-lembaga pemerintah. Mengajak untuk sama seperti mereka. Mengajak untuk mulai mendakwahi orang-orang sekelilingnya.
Kalaupun itu yang saya anggap aneh, dan bagi orang lain menganggap saya anti dakwah, tentunya saya masih punya cerita lain. Beberapa hari lalu, sekumpulan orang-orang yang saya istilahkan gerakan aneh tadi, berkumpul di salah satu kantor pemerintah. Duduk, dan bercengkerama di ruangan salah satu kepala bagian, yang jelas saja tidak mengurusi hal-hal demikian. Tanpa malu, tanpa rasa menngganggu aktivitas si empunya kantor, mereka bertahan dan terus saja bercengkerama. Cengkerama yang menurut mereka akan membawa manusia ke syurga. Saya dengan seorang teman, ada urusan ke kantor itu, jadilah kami melongo saja di depan pintu ruangan si kepala kantor. Tak mungkin pula bagi kami yang tahu dengan etika, tahu dengan akhlak yang diajarkan agama kami, untuk langsung masuk dan mengabaikan kepentingan orang lain yang lebih dulu.
Akhirnya kami pergi, selang beberapa jam, saya dan teman saya kembali ke kantor itu, berharap bisa menyelesaikan urusan. Oya, urusan saya dan teman saya itu, juga urusan demi kepentingan orang banyak, kalau menurut ajaran dan pemahaman saya dan teman saya, kepentingan orang banyak bila diurus dengan ikhlas, juga ibadah di sisi Tuhan. Tapi apa nyana, orang-orang yang sama masih menguasai ruangan yang menjadi tujuan kami.
Patah semangat, tentu saja. Bahkan kawan saya nyeletuk, “bagusnya plank kantor ini diganti katanya,” seraya menyebutkan kalimat tertentu yang diusulnya sebagai nama baru. Wajar saja menurut saya bila teman saya berucap demikian, ia juga salah seorang tokoh muda, selain dibidang sosial, ia juga seorang tokoh agama di kota saya.
Bagi kami, yang selama ini juga menuntut ilmu agama, tak ada dalam ajaran yang dituntunkan agama, untuk berlaku seperti itu, bahkan menurut saya sudah sangat mengganggu aktivitas dan kepentingan pelayanan publik.
Apalagi mengenai pola dan sistim yang mereka gelar di tengah masyarakat, dakwah tanpa dasar, tanpa ilmu, tanpa sebuah pemahaman yang mendalam. Dan menurut saya, itu bukanlah sebuah kebenaran, karena kebenaran dakwah menurut pemahaman saya, dilakukan oleh orang-orang yang paham dan mendalami ilmu pendukungnya. Tapi bila ini dikatakan pada mereka, mereka pandai pula menjawab, bukankah salah satu perintah Nabi, mengatakan,
ﺑﳌﻏوٱﻋﻨﻰوﻟوٱﻳﺔ
"Sampaikan (dakwahkan) oleh kamu sekalian, walaupun hanya satu ayat"
Bukankah berdakwah menurut ucapan Nabi itu bermakna bahwa, setiap orang-orang yang telah diberi pemahaman tentang suatu ajaran kebenaran, maka orang-orang itu wajib pula menyampaikannya pada orang lain? Kata pemahaman di dalam makna kalimat Nabi itu, tentunya bukan sekedar mendengar cerita kebenaran dari seseorang, bahkan seseorang yang yang jelas-jelas tidak pula pernah belajar secara mendalam?
Ahhh.... Makin membingungkan dunia ini di akhir zaman...Wallahua'lam bishshawaab....
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Program Layanan Kesehatan bagi Warga Miskin Kurang Disosialisasikan
- Aneh, Masuk Kawasan Industri Makassar Bayar
- Anak Keluaga Miskin Penderita Hernia Butuh Perhatian
- Illegal Logging Marak di Kuansing
- Iklan Menyesatkan Tentang Premium???
- Edi Yulisman, 14 Tahun Mengidap Penyakit Gula Basah
- Malam Keprihatinan dan Doa Bersama untuk Ruyati
- Salvana, Ibu Satu Anak Penderita Kanker Serviks
- Pelayanan ATM BRI Cabang Parepare Mengecewakan
- Mayoritas Rumah Sakit di DKI Mengutamakan Kepentingan Manajemen daripada Pelayanan Kesehatan
- Pelayanan Dispenduk Capil Kota Surabaya Kurang Memadai
- Surat Terbuka untuk Presiden RI: Bupati Selayar Arogan dan Sewenang-wenang
- Buta Karena ASI
- TKW Terkapar Tak Berdaya, Perusahaan Tidak Peduli
- Surat dari Sumbawa untuk Presiden RI


























