"Teguran Berharga", Kisah Seorang Guru Asrama
KOPI, Menjadi seorang mahasisiwi yang mengambil kerja part time cukup menyibukkan. Sangat dituntut talenta dalam membagi waktu. Menjadi seorang guru asrama di sebuah pondok pesantren, butuh sebuah keterampilan yang handal dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Pribadi perfect berperan penting, karena guru asrama akan menjadi public figure anak-anak dalam berprilaku sehari-hari.
Aku mendapat job menjadi guru asrama tingkat kelas 1 SMP, lumayan ekstra juga untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang dibawanya dari rumah, ke dalam kehidupan berasrama. Mulai dari bangun tidur, hingga tidur kembali, harus dikontrol kegiatannya. Itulah peran guru asrama menjadi orang tua sementara bagi mereka.
Ummi itulah panggilan istimewa yang diberikan kepada setiap guru asrama, termasuk juga aku. Walau di usia masih cukup muda untuk panggilan tersebut, aku menjalaninya dengan enjoy. Pada awalnya sedikit agak canggung namun seiring berjalannya waktu, panggilan itu jadi biasa.
Setiap hari melihat aktifitas anak-anak rame rasanya seperti salah satu iklan permen, asam, asin, manis, pahit kombinasi. Kadang ada anak yang bikin ulah sampai kita jengkel, tak jarang juga memancing emosi kita ke tiga ratus enam puluh derjat celcius, kita harus bisa mengontrol emosi agar tidak meletus seperti gunung Merapi.
Namun disaat mengharukan mereka membuat surprice yang tak disangka-sangka, seperti menghias asrama mereka dengan indah layaknya kamar tuan putri, menyambut kita ketika baru pulang keasrama, bahkan ketika orang tua mereka datang kita dibanjiri ole-ole dari kampung mereka. Pokoknya sungguh membuat kehidupan berwarna.
Setiap pagi selesai shalat shubuh anak-anak diajar percakapan bahasa Arab, karena ada sebagian anak yang cuek bebek dan tidak mempraktekkan ilmu yang sudah diberikan, aku langsung membuat keputusan tegas, bagi siapa yang melanggar bahasa yang sudah diajarkan, akan mendapat sangsi didenda. Mendengar itu mereka takut dan mau menggunakan bahsa tersebut, melihat tingkah polah mereka aku tersenyum bangga dalam hati. “hhmm giliran dikasih hukuman baru takut” dalam hati kecilku.
Suatu siang sehabis shalat zuhur ada anak yang meletakkan sendalnya sembarangan, langsung saja aku berkata “ ayo, sandal siapa itu yang gak disusun?” ujarku sedikit emosi. Langsung anak-anak bilang “ummi kena dendaaa….” Teriak salah seorang anak, diiringi temannya yang lain. “kenapa ummi yang didenda?” jawabku sedikit heran “ummi gak pake bahasa arab” ujar mereka, aku lupa kalau tadi pagi baru mengajarkan mereka bahasa arab sendal.
Untung saja aku cepat menstabilkan emosi, dan tersenyum sambil berkata “oo, jadi ummi mau didenda juga?” tanyaku pura-pura tanpa merasa bersalah. Mereka cuma ketawa polos dan tersenyum malu-malu.
Aku memasuki kamarku, dalam hati ada rasa malu yang mendalam. Memang ini hal kecil, tapi kalau disepelekan akan berdampak luar biasa kelak jika aku sempat terjun dalam dunia kerja yang sesungguhnya. Kelalaian kecil itu harus diperhatikan dan butuh kehati-hatian, karena kita cenderung jatuh gara-gara batu kecil bukan karena batu besar. Semoga pangalaman ini menjadi pelajaran bagi kita bersama, terutama bagi diri saya sendiri.(Lelen)
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Penuturan H. Iin: Suamiku Berpindah ke Lain Hati
- Trend Beragama yang Aneh
- Program Layanan Kesehatan bagi Warga Miskin Kurang Disosialisasikan
- Aneh, Masuk Kawasan Industri Makassar Bayar
- Anak Keluaga Miskin Penderita Hernia Butuh Perhatian
- Illegal Logging Marak di Kuansing
- Iklan Menyesatkan Tentang Premium???
- Edi Yulisman, 14 Tahun Mengidap Penyakit Gula Basah
- Malam Keprihatinan dan Doa Bersama untuk Ruyati
- Salvana, Ibu Satu Anak Penderita Kanker Serviks
- Pelayanan ATM BRI Cabang Parepare Mengecewakan
- Mayoritas Rumah Sakit di DKI Mengutamakan Kepentingan Manajemen daripada Pelayanan Kesehatan
- Pelayanan Dispenduk Capil Kota Surabaya Kurang Memadai
- Surat Terbuka untuk Presiden RI: Bupati Selayar Arogan dan Sewenang-wenang
- Buta Karena ASI


























