Pelayanan Publik Jangan Dicampuri Urusan Pribadi
KOPI - Bahaya laten korupsi sudah seharusnya diwaspadai,karena selain merugikan juga akan terus tumbuh dikalangan para pejabat yang bermental duit.
Berkaitan dengan itu kekecewaan yang saya alami meski hanya dilingkungan terkecil , tapi dampaknya sangat saya rasakan.Maksud hati saya ingin mengurus AJB-Akte Jual Beli, lewat prosedur yang saya ajukan kepada salah seorang pengurus warga yang saya percaya untuk mengurus kepemilikan tanah disalah satu lokasi, Bogor. Setelah berkonsultasi dengan pejabat warga setempat ia menyanggupi permohonan saya untuk mengurus akte jual beli tanah tersebut.
Semua proposal dan kelengkapnya sudah saya siapkan termasuk administrasi yang sudah disepakati oleh pengurus warga setempat dengan nilai Rp 3000 000,- untuk tiga lokasi yang berdekatan. Karena saling percaya akhirnya uang tersebut saya serahkan untuk keperluan mengurus AJB tersebut.
Selang tiga bulan,pejabat warga tersebut menelpon saya untuk konfirmasi bahwa ternyata uang tersebut kurang dengan dalih harga perlokasi menjadi Rp 1600 000,- dan ia menanyakan kekurangannya. Karena dana saya sudah dibajetkan sesuai dengan harga semula akhirnya saya menolak, tapi untuk menghilangkan kekecewaan saya menjawab untuk dibuatkan satu lokasi saja kalau memang harga tersebut berubah. Kesepakatanpun terjadi, hingga tiga hari kemudian saya ditelpon untuk segera datang untuk berunding.
Hasilnya, keterbukaanpun terjadi dan ternyata dana yang saya berikan untuk mengurus AJB tersebut terpakai untuk keperluan keluarga. Saya hanya tercengang dan harus menjawab apa?..Setelah panjang lebar kami berunding tentang AJB yang telah siap saya tanda tangani meskipun hanya jadi satu buah tapi ganjalan hati masih terus menyesali atas ketidak puasan saya terhadap layanan masyarakat tersebut. Ceritapun berlanjut akhirnya pejabat yang sudah saya percaya tersebut menawarkan dua opsi mengenai dana yang sudah terpakai tersebut yaitu apakah akan diambil dengan catatan ia berhutang karena belum ada dana untuk mengembalikan. Opsi kedua ia menawarkan untuk menyelesaikan AJB berikutnya dengan uang yang masih ia pinjam dengan catatan akan diurus kalau dananya sudah ada.
Walhasil, karena sudah terlanjur basah saya menerima opsi kedua.Yang saya sesalkan dan membuat saya tersinggung kenapa uang keperluan warga dipakai untuk keperluan pribadi?...seharusnya memang tidak seperti itu, lha kalau semua pejabat bermental seperti itu tentu saja sangat merugikan..bahaya laten tersebut benar-benar sudah mewabah meskipun dipelosok desa sekalipun dan ini harus diwaspadai dalam hal pelayanan publik.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Awas! Wartawan Gadungan Catut Tempo Interaktif !
- Kebudayaan Minangkabau Tinggal Nama
- Kembalikan Senyum Ica, Bocah Penderita Kanker Leukemia
- Benar, Polisi Suka Menyiksa Rakyat...!
- Chevron Pilih-pilih Kasih
- Aceh, Ayo Tinggalkan Kekerasan untuk Berangkat ke Era Kejayaan
- Sengkarut Tanah 'Negeri Junjungan'
- Kompasiana Sering Dicatut Wartawan Gadungan
- Curhat: K2i
- Kegelisahan Karyawan Migas di Duri
- Nama Kompasiana Kerap Dicatut oleh Wartawan Gadungan, Waspadalah!
- Tanah Milik Dasimun Dicaplok PT. Sarana Indah Perkasa Abadi
- Beruntungnya Ikut Pelatihan Santri
- SAVE WOMANS!!! Selamatkan Wanita dari Pelecehan Seksual
- Pagiku Bela Negara, Senja Tanah Airku Hilang


























