Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta
            Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

Pewarta Online

Komentar Warga

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Remaja Kuningan Gagas Gerakan Gemar Bers.....
22/02/2013 | Andri Ana

KOPI, Kuningan – Untuk mengurangi kenakalan remaja di jalanan, memang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan olahraga bersepeda. Hal tersebutlah yang dirintis oleh beberap [ ... ]



  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
  • Tabloid Explore Indonesia
Statistik
Anggota : 6152
Isi : 8579
Content View Hits : 2810320
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini4872
mod_vvisit_counterPengunjung Kemarin6232

Warga Online : 98
IP Kamu : 54.234.180.187
Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Hiburan & Seleb "Bangkutaman", Band Indie Asal Yogyakarta Gapai Sukses di Jakarta

"Bangkutaman", Band Indie Asal Yogyakarta Gapai Sukses di Jakarta

KOPI, Berawal pada pertengahan 1999, Irwin dan Bayu yang kebetulan kuliah satu kampus di Yogyakarta ingin membuat band untuk mengisi waktu luang. Dua personil pertama ini, rupanya memiliki genre yang sama dalam hal musik, yaitu Brit-Pop/Indie-Pop. Pada awalnya, mereka kesulitan sekali untuk mencari personil lain yang sealiran di Kota Gudeg tersebut, lantaran memang indie pop sangat langka di Yogyakarta. Tapi berkat kesabaran dan kerja kerasnya, rupanya membuahkan hasil.

Akhir tahun 1999, mereka berdua berkenalan dengan Acum (Wahyu) yang ternyata memiliki kiblat musik yang sama. Untuk bisa tampil di atas panggung dengan mengusung indie pop menjadi impian mereka, maka Bayu memutuskan untuk mengajak Nanang, teman baiknya untuk mengisi posisi drummer sebagai additional player. Formasi awal ini bernama The Garage Flower, nama itu mereka dapat dari judul album pertama band asal Manchester (Inggris), The Stone Roses. Pada masa itu, mereka masih terlalu berkiblat kepada The Stone Roses. Personil pada formasi awal ini terdiri: Acum (vokal), Irwin (gitar), Bayu (Bass), dan Nanang (drum).

Seleksi pertama lewat pentas perdananya di kampus UPN Yogyakarta dengan membawakan "I Wanna Be Adored"-nya The Stones Roses dan hasilnya kurang begitu menggembirakan. Seiring berjalannya waktu, Nanang tidak bisa lagi membantu The Garage Flower, lantaran padatnya kesibukan tampil dengan bandnya, Teknoshit. The Garage Flower akhirnya, vakum untuk beberapa saat, namun selang waktu 3 bulan kemudian, salah seorang teman tongkrongan kampus, Ade mengajak temannya, Dimas untuk bermain bass dan Bayu pada drum. Formasi kedua ini, berubah menjadi: Acum (guitar, rhytm dan vokal), Irwin (lead guitar), Bayu (drum), dan Dimas (bass).

Ternyata, formasi ini pun tidak dapat bertahan lama pula. Dimas rupanya, harus cabut, karena ia harus konsentrasi dengan urusan kuliahnya. Sekali lagi, The Garage Flower mengalami kevakuman. Hingga September 2000, masuklah Denny, hasil perkenalan lewat chatting. Denny masuk sebagai drummer untuk menggantikan Bayu, sehingga Bayu kembali memegang bass lagi. Dengan masuknya Denny, nama band mulai berubah menjadi bangkutaman. Dengan bergantinya nama band, keempat personil mulai benar-benar serius bermusik lewat jalur band.

Nama bangkutaman dipilih lantaran seringnya Irwin dan Bayu beserta teman-teman lainnya duduk sambil bersenda gurau di bangku-bangku yang ada di pinggir taman di dalam Kampus Sanata Dharma, Yogyakarta. Dengan bergantinya nama menjadi bangkutaman, barulah mulai terlihat titik terang dalam bermusik. bangkutaman sendiri manggung pertama kali di Yogyakarta dalam acara "ngamen" di kantin Kampus Sanata Dharma. Dengan bermodalkan semangat idealis, bangkutaman membawakan warna-warna lagu indie pop. Secara jujur dapat dikatakan, bahwa kehadiran mereka masih terlalu asing.

Masing-masing personil pun mengerti bahwa di Yogyakarta, musik Brit-Pop/Indie-Pop adalah underground among undergrounds. Sebagai puncaknya, mereka berhasil membuat single demo live berisi 4 lagu ciptaan sendiri yang dipromosikan saat mereka manggung dalam acara "Proud To Be Indonesian" di GM2000 Cafe di Jakarta pada bulan Mei 2001 lalu. Dan saat bersamaan pula, Bayu resmi meninggalkan bangkutaman dan berkonsentrasi pada proyek pribadinya. Bayu terlihat sepanggung dengan bangkutaman untuk terakhir kalinya pada 22 Juli 2001 di New Java Cafe. bangkutaman rupanya, masih memiliki sound yang definit meskipun tampil bertiga, ini ditambah pula dengan additional player pada bass, Donald, yang pernah membantu bangkutaman.

Setelah itu semua, masih di tahun 2001 juga, semua menjadi lebih baik bagi bangkutaman. Hal ini diawali dengan munculnya komunitas indie-pop yang bernama "Common People". Komunitas ini dimotori oleh band bernama Parachute yang salah satu personilnya adalah Dedyk. Dari saat itu pula, bangkutaman mendapatkan manajer dan drummer baru yang definit dan berkarakter. Dengan adanya Nuki Dajjal sebagai manajer dan Dedyk sebagai drummer bangkutaman yang tetap, bangkutaman memulai semua hal dengan lebih profesional, namun tetap mempertahankan idealisme dan etos "Do It Yourself". Hingga saat ini, personil bangkutaman adalah Acum, Irwin, Dedyk dengan manajer Nuki Dajjal.

Sejak tahun 2003, bangkutaman mulai memasukkan sound keyboard dalam setiap konsep live-performance. Pemain keyboard bangkutaman pada awalnya adalah Topan; yang mana sebelumnya merupakan drummer band bernama The Monophones. Tetapi lantaran kesibukan dengan bandnya, Topan tidak terlalu lama mengiringi karir bermusik bareng bangkutaman. Sejak adanya Topan, bangkutaman mulai terdengar avantgarde dan psychadelic. Tidak bisa dipungkiri, unsur warna musik dari The Stone Roses, sedikit demi sedikit mulai pudar. bangkutaman tetap mencari sound yang definit, karena mereka ingin terdengar, seperti bangkutaman sendiri dan bukan seperti band-band luar yang menjadi influence mereka. Sepanjang tahun 2004, bangkutaman sibuk dengan pembuatan EP "Garage of The Soul" mereka.

Proses produksinya memakan waktu cukup lama, karena masing-masing personil merasa selalu kurang dalam pembuatannya. Proses mixing dilakukan di tiga studio musik, yang mana ada beberapa hasil mixing-nya tidak dipakai lantaran mereka anggap kurang bagus. Desember 2004, "Garage of The Soul" dinyatakan selesai dan di-launching di Jakarta, pada April 2005 kemarin. Di tahun 2004 dan 2005, bangkutaman memperkuat kembali ciri khas mereka. Mereka mulai berani mengeksplore sound organ (Satelit dari "Garage of The Soul" EP) dan menggabungkan dengan permainan gitar yang berbasis skill.

Permainan pada live-performance juga sudah menunjukkan perubahan. Dalam eksplorasi permainan dan sound gitar, bangkutaman mulai menggabungkan avantgarde, psychadelic, dan blues. Tidak ketinggalan pula, permainan gitar dengan menggunakan effect 12 strings untuk mengeluarkan nuansa 60's-nya. Bass pun mulai dimainkan secara monoton dengan nuansa avantgarde-nya juga. Mungkin, masih agak kental dengan nuansa Manchester dari bangkutaman adalah permainan drumnya. Meski sampai detik ini pun, bangkutaman tetap membiarkan The Stone Roses hidup di hati mereka.(*)

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."


Artikel Lainnya: