“Jarkom” Buat Tim Jadi Kompak
KOPI, Masih muda namun sudah punya bisnis? Tidak sekadar menjalankan bisnis saja, akan tetapi sudah mendatangkan pundi-pundi rupiah? Bahkan, sudah mampu menggaet tenaga-tenaga kerja yang sebelumnya menjadi penggangguran? Siapa yang tidak mau mendapat predikat ini. Masih muda, namun sudah punya penghasilan. Itulah keadaan yang sedang digandrungi oleh tim Sego Njamoer (baca: Sego Jamur), sebuah usaha kuliner yang dilakoni oleh sekelompok mahasiswa ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember). Kelompok kreatif tersebut terdiri dari Mahendra Ega, M. Baarik Khoiruman, Rizki Aris, Eka Riskiah, Ola Dwi dan Dega Pratama. Jangan berprasangka buruk terlebih dahulu ketika mendengar nama Sego Njamoer.
Usaha ini tidak menyuguhkan nasi yang sudah jamuran karena terlanjur basi. Sego Njamoer merupakan sebuah makanan yang terdiri dari nasi dengan lauk jamur yang dibentuk seapik mungkin. Nasi dan jamur? Apakah enak? Jangan salah kira lagi. Kekuatan kuliner ini justru terletak pada rasa dan teksturnya yang unik. Tidak heran, jika bisnis ini sudah mengantongi omzet yang lumayan besar dan telah membuka gerainya tidak hanya di kampus ITS.
Usaha tersebut bermula dari adanya sebuah ajang kompetisi karya tulis bergengsi bagi mahasiswa yang dikenal dengan nama PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional). Dan saat itu, tim Sego Njamoer mencoba peruntungannya untuk ikut berkompetisi lewat karya tulis yang berbasis kewirausahaan. Saat itu kalender masih berada di lembar tahun 2009. Syukur, karya tulis mereka berhasil didanai sebesar 5,8 juta. Akan tetapi, Dewi Fortuna tampaknya belum berpihak penuh pada kelompok ini. Tim Sego Njamoer belum berhasil maju ke tahap presentasi untuk memperebutkan medali. Walaupun begitu, tidak ada alasan bagi tim ini untuk tidak memulai bisnis.
Dari modal inilah, tim Sego Njamoer berusaha memulai bisnisnya dengan membeli bahan-bahan berupa beras, jamur tiram dan bumbu-bumbu masak. Karena semua personil merupakan laki-laki dan kurang beruntungnya tidak ada yang bisa memasak, mereka bereksperimen bersama bahan-bahan tersebut. Garam, merica bubuk, cabai, tak lupa jamur tiram dimasak berdasarkan intuisi. Jamur yang sudah matang tersebut, disusun di dalam gumpalan nasi yang dikepal membentuk segitiga. Mereka membentuk segitiga dengan menggunakan tangan yang dilapisi dengan plastik.
Namun, disini tak luput dari kendala. Tangan tiap personil ada yang besar dan ada juga yang kecil. Ini menyebabkan ukuran nasi menjadi tidak sama. Tidak apalah, masih dalam tahap percobaan. Alhasil, jadilah Sego Njamoer! Mereka menawarkan produk ini kepada teman-teman kampus untuk dicicipi. Respon positif berhasil digaet. Belum puas sampai disana, mereka melakukan evaluasi. Dirasa resep masih belum sreg, mereka memesan racikan bumbu ini kepada ahlinya. Dan resep inilah yang membuat Sego Njamoer mendapat tempat tersendiri di lidah konsumen.
Setelah mantap dengan urusan racik-meracik bumbu, maka inilah saatnya menjual. Mahasiswa ITS merupakan fokus mereka. Oleh karena itu, mereka aktif mencari informasi-informasi tentang event dan pameran penting di dalam lingkup kampus ITS. “Saya ingat sekali ketika pertama kali jualan. Untuk meja jualan, kami memakai rak sepatu, di sekelilingnya ditutup dengan spanduk acara jurusan yang sudah tidak terpakai. Kemasannya masih sederhana. Kami pakai kertas minyak yang distaples. Tapi, teman-teman suka sama produk kami!” ujar Dega, salah seorang personil tim ini saat ditemui di sela-sela kesibukannya menjalani rutinitas kuliah.
Walaupun dengan keterbatasan yang ada, mereka tidak pantang mundur begitu saja. Di tahun yang sama, mereka berhasil mendapat sokongan modal dari Pekan Mahasiswa Wirausaha, sebuah program yang berorientasi untuk mencetak wirausaha-wirausaha muda di ITS. Modal ini sifatnya pinjaman, jadi dalam jangka waktu tertentu mesti dikembalikan. Sebuah motivasi untuk segera mengembangkan bisnis. Mulai dari sanalah, Sego Njamoer perlahan membenahi sistem bisnisnya. Gerobak dagang dibeli dan didesian sesuai logo usaha. Gerobak ini ternyata lebih ampuh memantapkan pamor Sego Njamoer. Kemudian, wadah untuk Sego Njamoer yang dulu berupa kertas minyak, sekarang berubah menjadi kemasan yang eye catching dan aman bagi kesehatan.
Soal harga tidak menjadi masalah, sesuai dengan kantong mahasiswa. Dengan merogoh kocek Rp 3.000,00, sudah bisa menikmati satu porsi Sego Njamoer. Dega menambahkan bahwa bisnis ini tidak stagnan sampai disini, meski di ITS sendiri sudah terdapat lokasi penjualan di beberapa tempat. Untuk menambah pendapatan, Sego Njamoer membuka gerainya di sekitar kampus ITS, seperti: minimarket, kawasan padat anak kos, hingga meluas ke beberapa perguruan tinggi di Surabaya. Jika dihitung-hitung, totalnya mencapai 10 outlet.
Untuk omzet, kisarannya beragam tergantung pada lokasi penjualan. Namun, rata-rata dari tiap titik mampu menghasilkan sekitar Rp 700.000,00 sebulan. Omzet akan bertambah jika ada event dan pameran dimana bisa mengenjot angka penjualan. Berkat Sego Njamoer, mereka saat ini bisa menyerap tenaga kerja dan sudah bisa menggaji mereka. Inilah nilai lebihnya. Bermula dari kesederhanaan, boleh dikata dari kondisi yang susah, tim Sego Njamoer tetap solid hingga detik ini. Apalagi masing-masing anggota tim berasal dari jurusan yang berbeda, sehingga untuk menyatukan semuanya kadangkala terhambat oleh jadwal kuliah. Rahasianya? Tidak ada trik khusus. Mahendra Ega sebagai General Manager alias ketua rajin mengirim “jarkom” kepada anggota-anggotanya.
Jarkom –singkatan dari jaringan komunikasi-, merupakan usaha penyebaran informasi melalui perantara pesan singkat atau SMS (Short Message Service) di handphone. Apapun informasi yang terkait bisnis Sego Njamoer akan dikirim kepada masing-masing anggota, sehingga penyebaran informasi dapat merata. Terdengar simple, namun efeknya telah berhasil membuat tim ini menjadi kompak. *Penulis merupakan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
- Bisnis Makanan, Prospek Terbaik di Tahun Naga 2012
- Ayam Penyet Pak Ulis Buka di Pekanbaru
- "Pragede Angek" dari Padang Panjang
- Gurihnya Jagung Goreng Telah Sampai ke Makkah
- Bakso Urat Sebesar "Tinju" Telah Memikat Hati Pencandu Bakso
- Es Cendhol Pasar Kliwon Kudus, Rasanya Mak Nyus!
- WARUNG TENDA : Pilihan Hidup nan Menghidupi
- Aneka Kuliner di Benhil
- Angkringan Lik Man


























