Angkringan Lik Man

0
43

Pewarta-Indonesia, Santai, nyaman, penuh dengan keakraban, tradisionil tetapi memiliki nuansa yang berbeda dengan tempat makan lainnya. Itulah sedikit gambaran tentang sebuah tempat di Yogyakarta. Angkringan Lik Man lah yang kami maksud, tempat para muda-mudi menghabiskan waktu malam dengan teman maupun keluarga. Tempat yang begitu banyak diperbincangkan oleh banyak orang. Tidak sedikit orang yang memilih warung Angkringan Lik Man sebagai tempat favorit, mulai dari yang muda sampai yang tua, mahasiswa, budayawan, turis, tukang becak, wartawan dan warga sekitar. Walaupun tempatnya yang sederhana, tetapi mempunyai kharismatik dan keunikan tersendiri.


Kali ini “Explore Indonesia” mengajak anda untuk menikmati nuansa Angkringan Lik Man, seperti apa yang telah diceritakan banyak orang. Tempatnya pun tidak terlalu sulit untuk ditemukan. Angkringan tersebut terletak di Jl. P. Mangkubumi tepatnya mengarah ke utara dari Malioboro atau bisa juga dari stasiun tugu hingga menemukan jalan kecil kearah barat, kemudian berbelok, tak jauh dari situ kita sudah dapat melihat suasana yang penuh dengan keakraban yang berbeda dari tempat-tempat yg biasa kita jumpai. Warung yang berada disebelah kanan jalan ini mempunyai ciri-ciri yg menonjol ada dua buah bakul yang dihubungkan dengan sebuah bambu, anglo dan arang yang membara, serta sederetan gelas yang tertata dengan rapih yang siap di isi dengan berbagai macam minuman pesanan para pengunjung.

Kami pun tiba ditempat tujuan sekitar pukul 19.30 WIB, sambutan ramah penuh keakraban pun kami terima dari salah seorang pegawai warung, sekaligus menawarkan hidangan-hidangan khas warung angkringan. Pertama kali yang kami lihat di Angkringan Lik Man, banyaknya pengunjung dari berbagai kalangan. Ada yang tertawa-tawa, bernyanyi, bersendagurau dan beberapa pengunjung yg sedang asyik berdiskusi. “Bagi saya, angkringan adalah rumah kedua, disini saya bisa melepaskan segala kepenatan dan beban kerja seharian” ucap, salah satu pengunjung. Warung Angkringan Lik Man adalah tempat yg tidak hanya di gemari kalangan menengah ke bawah, tetapi kalangan atas sampai eksekutif muda tidak malu untuk menghabiskan malam di tempat ini, terlihat berbagai jenis mobil parkir didepan angkringan. Seniman-seniman terkenal pun menjadikan warung Angkringan Lik Man sebagai tempat mencari dan menuangkan ide-ide mereka. Walaupun anda diberi kebebasan untuk berbicara apapun dan tak ada larangan formal, namun semua itu tetap menjaga budaya angkringan, yaitu tepo seliro (toleransi), kemauan untuk berbagi dan iso rumongso (menjaga perasaan orang lain). Bisa diartikan tak perlu berebut tempat dan menghargai orang lain yang duduk.

Asal Mula Angkringan Lik Man

Angkringan Lik Man berawal dari sosok Mbah Pairo. Lelaki asal Klaten ini mengusung dua pikulan ting-ting hik dan menggelar dagangannya di emplasemen Stasiun Tugu Jogjakarta sekitar tahun 1950-an. “Iyek..!!”, Seperti itulah teriakan Mbah Pairo saat berdagang, yang dianggap sebagai generasi pertama penjaja angkringan di Jogja. Sekitar tahun 1969 Mbah Pairo mewariskan angkringan kepada putranya, Siswo Raharjo. Setelah satu tahun kemudian, Siswo Raharjo yang biasa dipanggil Lik Man, memindahkan dagangannya ke depan stasiun, dan lima tahun kemudian pindah lagi ke Jalan Bumijo, persis di sebelah utara Stasiun Tugu. Di tangan Lik Man inilah angkringan mencapai kesuburannya, dan menjadi bagian dari legenda Kota Yogyakarta. Hingga sekarang.warung berkonsep angkringan pada masa dulu disebut dengan ‘ting ting hik’. Mbah Pairo yang diwariskan kepada putranya, bermunculan angkringan-angkringan yang lain.

“Arang Panas di Dalam Kopi”

Setelah puas dengan informasi yang didapat, kami mulai mencari tempat. Karena tempat yang kami inginkan sudah diisi orang tepatnya, di dekat bakul atau anglo Lik Man selain bisa bertanya-tanya dengan Lik Man dan juga memudahkan untuk menambah makanan. Akhirnya, kami duduk lesehan ditikar yang digelar hampir 100 meter memanjang pada trotoar. Kami memesan salah satu minuman yang konon katanya paling terkenal disini “Kopi joss”, selain kerdengarannya sangat asing cara penyajiannya pun cukup unik. Dalam penyajiannya, kopi kental ini ditambah arang ‘mowo’ alias membara tentu bukan layaknya kopi yang biasa kita jumpai di tempat lain. Setelah dirasakan, kopi joss ini sangat nikmat sekaligus sebagai teman baru bagi tim “Explore Indonesia” dimalam itu.

Walaupun, bagaimanapun dan seperti apa pun cara penyajiannya, hitung-hitung cari pengalaman untuk kami ceritakan kepada teman-teman, saudara sampai anak cucu di rumah. Tapi, semua ini tidak perlu ada yang ditakutkan bahwa arang panas yang dicampur kedalam kopi tersebut berguna sebagai penetralisir kafein yang ada didalam kopi, jadi bisa disimpulkan bahwa kopi joss rendah akan kandungan kafein. Sebab, kopi joss lahir dari penelitian mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang kebetulan sering menghabiskan waktu di warung Angkringan Lik Man tersebut. Adapun menu-menu minuman lain yang ditawarkan Angkringan Lik Man, seperti: wedang jahe, teh panas atau warga sekitar menyebut dengan nasgital (panas, legit, kental) dan air jeruk hangat yang menjadi minuman nikmat khas merakyat.

“Sego Kucing”

Tak terasa berjalanya waktu, sambil menikmati kopi joss. Kami juga memesan menu-menu yang cukup menggugah selera dan legendaris, adalah Sego Kucing. Nasi yang dibungkus daun pisang dalam keadaan hangat dan didalamnya terdapat orak-arik tempe dan sambal teri, bila kita menginginkan lauk yang lain, Angkringan Lik Man juga menyediakan lauk tambahan seperti tempe mendoan, tempe bacem, tahu susur, sate telur, endas (kepala ayam) dan jadah (makanan dari ketan yang dipadatkan berasa gurih). Bila makanan sudah dalam keadaan dingin, jangan segan-segan untuk meminta dihangatkan kembali, proses penghangatannya pun sangat unik, dengan cara dibakar, makanan pun terasa lebih enak setelah dibakar. Pada saat anda memesan sego kucing, kita tidak diberikan piring, jika tidak merasa nyaman makan dengan bungkus nasi saja, bisa meminta piring kepada penjual.

Waktu yang Pas Buat ke Angkringan Lik Man

Setelah kami perhatikan, jika mau mampir di Angkringan Lik Man sekitar pukul 16.30-17.30an. Sebab kalau malam hari, bisa dijamin akan sedikit kesulitan untuk menemukan tempat duduk yang nyaman. Memang warung ini bebas memilih tempat duduk yang kita suka bisa dikursi atau lesehan. Bagi pengunjung yang memilih lesehan harus sedikit bersabar. Karena tidak sedikit dari mereka memilih untuk duduk ditikar yang digelar hampir 100 meter ini. Kemungkinan pesanan lebih lama untuk dilayani dan ada kemungkinan pula pesanan salah tempat. Maklum, disini belum dilengkapi sistem layanan canggih seperti di tempat-tempat yang pelayannya menggunakan bluetooth, namanya juga tempat nongkrong tradisional yang pasti tempat ini tidak kalah asyik dengan yang lain. Dan juga, jika datang malam hari jangan lupa siapkan uang receh karena disini akan dihibur dengan diiringi grup band jalanan yang cukup kocak dan “komunikatif”, maklum anda makan, mereka cari makan. Yang pasti, kalau diceritakan tidak akan ada putusnya dijamin asyik, santai dan terhibur, lebih baik langsung saja datang ke Angkringan Lik Man. Harganya pun terjangkau tanpa merogoh kocek dalam-dalam dengan sajian minuman dan makanan yang menggiurkan.

Kini, angkringan telah menyebar luas di Jogjakarta dan daerah-daerah sekitarnya. Hampir di tiap-tiap sudut kota terdapat angkringan. Saat ini, diperkirakan terdapat 1.000 buah angkringan sekitar 1.200 pedagang serta lebih dari 30.000 warga kampung penyuplai makanan. Tempat angkringan-angkringan lainnya di Yogya, seperti di Kampung Blimbingsari, Demangan, Sosromenduran, Banguntapan, Demakan Baru, dan Kampung Patangpuluhan. Bahkan, sejumlah kalangan seniman di Yogya menilai, jika Yogyakarta adalah Indonesia mini yang plural, maka angkringan adalah Yogya mini.

Sumber: www.explore-indo.com

BAGIKAN
Berita sebelumyaSebuah “Hadiah” Berharga dari Explore Indonesia
Berita berikutnyaAneka Kuliner di Benhil
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.