WARUNG TENDA : Pilihan Hidup nan Menghidupi

0
30

Pewarta-Indonesia, Satu malam di medio Juni 2009, penulis “ngenggar-enggar penggalih” sembari refreshing. Kebetulan sekali tempat tinggal penulis tidak begitu jauh dengan alun-alun sehingga kawasan ini, yang setiap malam hampir tidak pernah tidur dari keramaian, tidaklah asing lagi dengan melajukan sepeda motor di seputaran alun-alun Kutoarjo.

Wajah malam Kutoarjo memiliki nuansa lain dengan bertenggernya puluhan warung tenda yang nyaris tidak pernah sepi. Kalau boleh Penulis sebut, di pojok timur selatan alun-alun ada penjual jagung bakar dengan variasi rasa relatif lengkap, hampir tiap malam menjadi sasaran anak-anak muda bahkan juga orang tua. Seorang Bapak dengan cekatan dan penuh keramahan melayani permintaan pembeli akan jagung bakar.

Rasa saus sambal, strawberry, bumbu kacang, manis dan gurih menjadi pilihan favorit bagi pelanggan. Tempat ini pula yang kadang menjadi singgahan Penulis untuk melewatkan malam walaupun hanya sekedar ‘ngobrol’ dengan sang penjual atau sengaja menikmati kembali jagung bakar. Di sisi barat alun-alun ada juga tungku arang yang membara di depan sebuah warung tenda spesialis sate madura, ikut menyemarakkan wajah malam Kutoarjo.

Orang mengenalnya dengan sebutan Sate Mbak Ana yang memang asli madura. Sepertinya belum lengkap kalau nuansa malam alun-alun Kutoarjo tidak dihadiri oleh warung tenda khusus gorengan lengkap dengan wedang jahe, kopi ataupun minuman penghangat tubuh lainnya. Di sini pula kemudian orang-orang berinteraksi mulai dari sekedar obrolan gosip hingga obrolan politik seputar Pemilu Capres 2009 yang sekarang ini sedang marak. Dari sekedar ketemu teman lama hingga ketemu dengan relasi bisnis. Tidak jarang akhirnya negosiasi bisnis walaupun secara umum masih taraf lokal juga terjadi di sini. Semua bercampur baur dengan berbagai menu dari sekian warung tenda yang ada dan siap menggelitik lidah dan perut pembeli.

Dari sekian banyak warung tenda di alun-alun Kutoarjo, ternyata itu hanya sebagian kecil dari fenomena ‘warung tenda’ di wilayah Purworejo yang sempat disebut sebagai Kota Pensiun. Walau orang boleh pensiun, tetapi sepertinya warung tenda tidak akan pernah pensiun sebagai arena interaksi masyarakat, khususnya di waktu malam. Kehadiran warung tenda dengan berbagai fenomenanya, semakin menguatkan alun-alun dan kawasan sekitarnya sebagai ruang publik milik masyarakat. Mulai orang berjalan kaki hingga bermobil bisa duduk bersama di sini untuk yang namanya kebersamaan dan kesetaraan.

Di sisi lain tak dapat dipungkiri bahwa warung tenda juga hadir sebagai salah satu bentuk ‘kehidupan’ ekonomi kerakyatan. Hal ini sudah terlihat dari perkembangan warung tenda di beberapa kawasan di Purworejo yang kian waktu kian bertambah. Sebagaimana yang terjadi di seputaran alun-alun Kutoarjo sampai radius 1 Km, saat sudah semakin mudah ditemukan berbagai warung tenda, mulai dari gorengan, mie ayam, hingga lesehan sekelas ayam goreng.

Kemudian di alun-alun Kemiri, bahkan di Alun-alun Kota Purworejo pastilah tidak terelakkan dari pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru dalam bentuk warung tenda. Dari yang sekedar iseng untuk sambilan hingga yang benar-benar menumpukan kehidupannya dari sektor tersebut. Ini menunjukkan bahwa warung tenda ternyata menjadi satu pilihan produktif bagi pelakunya untuk menjadi sumber penghasilan. Satu bentuk kemandirian ekonomi di tengah pergulatan Otonomi Daerah telah tumbuh di sini, dari warung tenda merah, kuning, biru, coklat dan atau apapun namanya.

Partai pilihan boleh kalah, tapi orang tak boleh kalah untuk tetap berjuang dalam hidup ini. Mungkin slogan tersebut cocok untuk para pelaku bisnis warung tenda yang notabene di tengah terpaan kondisi ekonomi regional maupun nasional, mereka tetap eksis menjadi bagian dari dinamisasi perekonomian daerah, khususnya di wilayah Purworejo. Pilihan untuk tetap bertahan bagi pelaku warung tenda, tentunya memberikan ruang yang lebih luas bagi Pemerintah Daerah untuk bersama-sama melakukan penguatan pondasi perekonomian di tingkatan Purworejo. Penguatan perekonomian tidaklah harus selalu dilakukan dalam ‘mains stream’ (aras utama) yang luas, melainkan juga dapat dilakukan dalam lingkup lokal penguatan basis ekonomi kerakyatan seperti usaha warung tenda ini. Dari sinilah lahir fundamen-fundamen ekonomi yang berlatar belakang kemandirian untuk tetap bertahan dan berjuang.

Warung tenda bukanlah sekedar warung tenda. Di tengah kompleksitas tuntutan kehidupan sekarang ini, mereka memberikan pilihan alternatif untuk melewatkan ‘perjalanan’ dengan susuatu yang lebih berarti. Walau bukan pelaku pertama yang mampu bertahan, mereka bukanlah orang terakhir yang menentukan pilihan di bisnis ini. Ada apa dengan mereka? Tentunya bukanlah sekedar persoalan ‘dapur harus ngebul’ (baca : ekonomi), melainkan juga persoalan kepuasan atas perjuangannya. Patut pula kiranya mereka juga mendapat julukan Entrepreuner sejati, dari diri ,untuk diri dan masyarakat. Kita tak pernah menghitung berapa omset dalam semalam dari sekian warung tenda di Purworejo misalnya.

Kemudian berapa orang yang terentaskan dari status menganggur karena keberadaan warung tenda. Berapa orang yang mampu menyekolahkan anak-anak mereka dari usaha warung tenda, bahkan hingga pendidikan tinggi. Berapa orang tua yang mampu mengukir anaknya menjadi sarjana, guru, perawat, dan lainnya dari warung yang satu ini. Berapa orang pula yang mampu memiliki rumah dari sebelumnya mengontrak, dari memiliki sepeda onthel menjadi sepeda motor dari warung ini. Tentu jawabannya adalah: tidaklah sedikit. Yang jelas semuanya butuh perjuangan dan keuletan.

Inilah kehidupan. Untuk menguaknya tidaklah cukup hanya sekedar dengan rasio. Ada Kuasa-Nya yang merengkuh setiap sudut kehidupan manusia. Termasuk di dalamnya menyangkut jalan rejeki tiap-tiap orang. Inilah kehidupan diantara pilihan untuk hidup yang menghidupi. Semuanya harus tetap berjuang karena hidup ini sendiri adalah sebuah pilihan.(**)

Purworejo, Juni 2009

*) Agus Fitri Yanto – Kaprodi Administrasi Bisnis Politeknik Sawunggalih Aji Purworejo, Anggota PPWI ID No. : 09-03-00272 dan Pengelola SIGNED Solusindo – Advertising & Promotion Medias.