ABDOEL AZIS RIAMBO: Sultan Anakia Mokole Bunduwula XII Kerajaan Padangguni

0
282

Pewarta-Indonesia, Bung Riambo, demikian para sahabat dan kolega memanggilnya, dilahirkan di Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 17 Juli 1955. Pria dengan postur tubuh ukuran rata-rata orang Indonesia itu adalah salah satu tokoh masyarakat Tolaki (salah satu suku bangsa terbesar di Sulawesi Tenggara) yang dalam sepuluh tahun terakhir ini gigih berjuang untuk perbaikan nasib masyarakat adatnya itu. Kondisi ekonomi, sosial budaya, dan pendidikan umumnya rakyat di wilayah Sulawesi Tenggara bagian daratan memang kurang menguntungkan dibandingkan dengan keadaan masyarakat di bagian perairan, yakni masyarakat Buton. Keterbelakangan masyarakat Tolaki di hampir semua sektor tersebut menjadi keprihatinan lelaki yang murah senyum ini.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar di Kendari (1967) dan Sekolah Menengah Pertama (1970), tokoh yang bernama lengkap Abdoel Azis Riambo ini melanjutkan sekolahnya di Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Yogyakarta dan lulus tahun 1973. Keberadaan Riambo di Yogyakarta sebenarnya bukan semata-mata untuk melanjutkan studi, namun lebih karena “diasingkan” oleh orang tuanya akibat pergolakan di daerah Sulawesi Tenggara saat itu. Konsekwensinya, Riambo muda lebih banyak bersentuhan dengan situasi dan kondisi lingkungan pergaulan Jawa dan ikut dalam riak-riak perjuangan pemuda di kota-kota besar di Jawa, termasuk Jakarta, tempat ia dan keluarganya saat ini bertempat tinggal.

Sejak muda, bapak 9 orang anak ini, dikenal luas sebagai pejuang buruh. Hampir sepanjang hidupnya hingga saat ini dibaktikan untuk memperjuangkan nasib buruh dengan segala macam problematikanya. Saat ini, Abdoel Azis Riambo didaulat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Federasi Serikat Buruh Demokrasi Seluruh Indonesia (DPP-FSBDSI), yang berkantor pusat di Jl. Musyawarah No. 35/62, Kompleks DPR-RI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kiprahnya dalam membela kepentingan kaum buruh tidak diragukan lagi. Hal itu ditunjang oleh latar belakang pengalaman pendidikan saat ia menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Ibnu Chaldum, Jakarta, yang diselesaikannya pada tahun 1997.

Pewaris Mokole Bunduwula

Satu hal yang tak banyak diketahui publik adalah bahwa tokoh buruh nasional ini adalah pewaris tahta kerajaan di Sulawesi Tenggara. Ia adalah anak dari almarhum Tariambo, Raja Padangguni XI yang bergelar Mokole Bunduwula XI Inea Sinumo Wuta Mbinotiso (1959-1978). “Jangankan masyarakat umum, saya sendiri juga tidak tahu pada mulanya bahwa saya ini adalah keturunan raja. Tiba-tiba saja, saya dijemput oleh tokoh adat dan masyarakat Tolaki dari Sulawesi Tenggara, dan membawa saya ke Kendari. Di sana sudah disiapkan acara upacara penobatan saya sebagai sultan atau raja. Dalam kebingungan saya ikut saja dan membiarkan apa yang terjadi terhadap diri saya melalui upacara itu,” cerita suami dari Wati Mongou yang telah dianugrahi beberapa gelar honoris causa dari perguruan tinggi luar negeri itu.

Menurut sumber informasi sejarah kerajaan Padangguni menurut catatan dalam kitab Ilagaligo, Kitab filsafat Taenago dan Kitab Bunduwula, kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Dinasti Raja Larumbesi Tanggolowuta I yang berdiri pada abad ke-2 Masehi. Namun, belum ditemukan catatan sejarah yang menjelaskan proses peralihan antar Dinasti Tanggolowuta ke Dinasti Mokole Bunduwula I, yang baru muncul pada abad ke-16, yakni Sangia Wonua Sorume Mokole Padangguni Inea Sinumo Wuta Mbinosito (Daerah Istimewa) Totongano Wonua (Raja Pusat Negeri) Lembui Lenggobaho (Sulawesi Tenggara) tahun 1574-1649. Singkat cerita, Dinasti Mokole Bunduwula bertahan hingga kepada Raja Padangguni XI bernama Tariambo, yang mewarisi tahta dari ayahnya Raja Sandima dengan Gelar Mokole Bunduwula XI Inea Sinumo Wuta Mbinotiso (1959-1978).

Kekacauan yang terjadi akibat pemberotakan DI/Permesta beberapa dekade silam telah mempengaruhi proses peralihan kepemimpinan di Kerajaan Padangguni. Bahkan, istana kerajaan telah musnah dibakar oleh gerombolan pengacau keamanan karena pihak kerajaan teguh berpihak kepada Pemerintahan RI. Namun, sejarah belum usai. Pemegang tampuk kepemimpinan terakhir Kerajaan Padangguni, Raja Padangguni XI, Mokole Tariambo kemudian menitipkan Mahkota Kerajaan Padangguni kepada keponakannya Bunduwula Yusuf dengan amanat agar kelak diserahkan kepada Putra Mahkota Kerajaan Padangguni yaitu Abdoel Azis Riambo. Penobatan Abdul Azis Riambo dengan Gelar Sultan Anakia Mokole Bunduwula XII Inea Sinumo Wuta Mbinotiso telah dilangsungkan di hadapan masyarakat adat Tolaki Kerajaan Padangguni pada tanggal 20 Juni 2001.

Membangun Istana di Atas Reruntuhan Kerajaan Leluhur

Tertinggal satu hal yang menjadi impian Anakia Riambo saat ini, yakni mewujudkan eksistensi Kerajaan Padangguni melalui pembangunan kembali Istana Kerajaan Padangguni di tempat awal istana itu dahulunya berada. Keberadaan istana yang dibangun di atas reruntuhan kerajaan leluhurnya, Raja Bunduwula XI, secara langsung akan memberikan spirit baru bagi masyarakat adatnya dalam membangun komunitasnya menjadi lebih maju dan makmur di bawah panji-panji pemimpin adat dan budayanya sendiri.

Jalan ke arah pembangunan istana kerjaaan tersebut sebenarnya pernah terbuka lebar. Pemerintah pusat bahkan sudah memprogramkan pembangunannya melalui Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. Bahkan, peletakan batu pertama pembangunan istana kerjaan Padangguni sudah dilakukan pada 14 Juni 2004 oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Rencana pembangunanya akan dilaksanakan secara bersama antara Kesultanan Padangguni, Pemerintah Daerah, dan berbagai mitra kerja lainnya. Namun, hingga saat ini pembangunan istana tersebut urung berlanjut akibat berbagai kendala yang dialami, terutama dari sisi dana yang belum memcukupi.

Pembangunan kembali Istana Padangguni, sesungguhnya disamping menjadi kebanggaan masyarakat adat Tolaki dan rakyat di kerajaan itu, juga akan menjadi salah satu aset pariwisata bernilai jual tinggi di tanah air, khususnya bagi wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara. Istana itu akan menjadi simbol kebesaran bangsa-bangsa yang mendiami nusantara di masa ratusan bahkan ribuan tahun silam. Semangat yang lahir dari rasa percaya diri bangsa yang besar akan menjadi modal bagi pelaksanaan pembangunan di segala bidang.

Abdoel Azis Riambo, kiprah dan perjuangannya kiranya akan menginspirasi banyak orang untuk melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya tanpa harus mengedepankan pamrih yang akan diterima. Generasi muda memerlukan figur panutan yang senantiasa komit terhadap aspirasi masyarakatnya untuk maju dan hidup lebih baik. Selamat bekerja dan berjuang Sultan!***

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]

BAGIKAN
Berita sebelumyaParlok, Wajah Baru dan Test Perdana
Berita berikutnyaPAH III DPD: Menbudpar Dapat Dituntut Secara Hukum
I came from a poor family in Central Celebes, Indonesia. “Shony” - that’s what my family and friends call me. With help from IFP, I completed a master’s in Global Ethics from the University of Birmingham, England in 2006. My interest in this field of study was based on over 15 years’ worth of studying and teaching “Indonesian Moral Education”. I believe the moral ethics of a nation is influenced by the global hegemonic values that are adopted and developed by the nation itself. Writing is one of my favorite hobbies.