BENNY MAMOTO & LOST TREASURE OF MINAHASA: Galaunya Sang Pewaris Seni Budaya

0
140

Pewarta-Indonesia, Ada kegundahan nan makin menyesak. Itulah sekilas suasana bathin yang terekam jelas ketika berbincang dengan seorang Benny Mamoto, seorang perwira polisi asal  tanah Minahasa, Sulawesi Utara. Keresahan itu sebagai refleksi kegalauan hatinya dikala mengingat pesan atau ’wangsit’ yang diberikan orang tuanya (nenek moyangnya) yang mewajibkan Benny Mamoto untuk mengabdi pada tanah leluhur jikalau kelak ia sukses dalam meniti karier usahanya. Pesan sakral itu selalu dan akan selalu terngiang dalam kehidupannya kini, maupun nanti. ”Saya kok merasa semua pesan leluhur ini harus segera cepat ditindak lanjuti, kalau bukan sekarang kapan? Ini kan warisan yang hilang, sebisanya warisan-warisan ini harus segera di gali, bukan nanti. Kita sudah sangat terasa kehilangan jati diri warisan leluhur, sebagian besar anak-anak kita bahkan tidak tahu lagi yang namanya bahasa daerah, tarian maengket, tarian kabela, bermain musik kolintang dan masih banyak lagi warisan leluhur itu”.

Tidak heran jika meski dalam aktifitas yang teramat padat Komisaris Besar Polisi Benny Mamoto selalu menyempatkan diri memikirkan tentang apa yang harus dilakukan untuk tanah leluhur di ujung utara pulau Sulawesi itu. Lebih jauh, ia kini amat sibuk dengan program aksi yang akan dilakukan demi Sulut tercintanya. ”Salah satu yang bisa saya perbuat untuk tanah tercinta adalah melestarikan dan menggali kembali budaya leluhur yang hilang karena globalisasi dan modernisme yang terus dan terus menggusur seni budaya peninggalan leluhur,segera..”.Ujarnya berapi-api namun terkesan mendidik dan ramah kepada EI dan sejumlah warga yang mencoba sharing dengan beliau dikalah waktu luang saat kegiatan festival kolintang di Tomohon beberapa waktu lalu.

Perhatian besar yang ia curahkan beberapa tahun belakangan ini adalah pada bidang penyelamatan dan pelestarian budaya di Sulawesi Utara. Beberapa tahun lalu sebuah wadah seni-budaya dibentuk untuk menampung segalah potensi Nyiur Melambai, tempat para seniman, budayawan, pemerhati, akademisi menjadikan laboratorium sekaligus sebagai ‘sorga’ seni-budaya Sulawesi Utara. Namanya Institut Seni Budaya Sulawesi Utara (ISBSU) di bawah pimpinan Benny Mamoto.

ISBSU sangat konsern dan berusaha menggali berbagai bentuk aktivitas masyarakat ’Nyiur Melambai yang ada kaitannya dengan seni-budaya khusus asal Sulawesi Utara. Sejak 2006 berbagai kegiatan bekerja sama dengan pemda dan elemen masyarakat Sulut telah digelar antara lain seminar seni-budaya, symposium, workshop, penerbitan buku sejarah-budaya dan bahasa daerah, penataran pelatih seni, sejumlah lomba seni tingkat local dan nasional, festival kuliner, promo seni dan produk asli daerah. Juga diadakan  sejumlah kegiatan berbentuk festival-festival yang dikemas dengan nuansa modern namun tetap mempertahankan citra tradisional kebudayaan leluhur negeri ”Torang Samua Basudara” itu. ”Kitapun seharusnya mampu menjual potensi seni budaya ini keluar, dengan sedikit sentuhan modern saya yakin penikmat seni budaya mampu beli potensi yang ramah lingkungan ini, jika Malaysia bisa menjual seni budaya bahkan aslinya dari tanah air kenapa kita di Sulut tidak bisa?” ujar Benny sedikit berdiplomasi.

Bahkan, puluhan kegiatan seni budaya telah memecahkan rekor MURI, antara lain Festival Maengket, festival Tinutuan, pagelaran musik Kolintang terbanyak, rangkai buah nanas tertinggi, rangkai dodol replika pohon natal, bakar ikan masal, songara kacang terbanyak, tarian masal Mahamba Bantik, makan Brenebon terbanyak. Brenebon adalah sebutan untuk sop yang terbuat dari kacang merah. Kacang merah atau kacang brenebon ini merupakan salah satu hasil pertanian asal Minahasa sejak jaman Belanda. Brenebon sangat diminati para serdadu dan petinggi Belanda sewaktu menjajah tanah air. Diduga brenebon juga merupakan makanan kesukaan para Tonaas (Pemimpin) Minahasa sejak ratusan tahun silam.

ISBSU secara terus-menerus mengembangkan dan merancang berbagai kegiatan dan event yang kesemuannya untuk pengabdian pada tanah leluhur. Berbagai program juga dibuat antara lain seperti akan membangun Pusat Data dan Informasi Seni Budaya Sulawesi Utara, menerbitkan buku kamus-buku pelajaran bahasa daerah, menyelenggarakan sejumlah festival yang berbau budaya lokal, lomba musik Ma’akaruyen, musik bambu serta kemasan event untuk pemecahan rekor MURI. ”Pihak ISBSU dan pemda sedang merancang agenda festival Saguer di Minahasa Selatan dan mungkin festival Pala di Sitaro atau Minut dan  kedepan event-event semacam ini harus dikemas lebih profesional dan lebih menarik lagi agar dapat mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara lebih banyak lagi secara berkesinambungan,” ujarnya Benny Mamoto kepada Pewarta-Indonesia.

Di bidang seni tenunan nusantara, ISBSU kembali menorehkan catatan penting bahkan spektakuler. Sejarah telah tersambung dari hampir 3000 tahun lampau. Peninggalan nenek moyang bangsa Minahasa yang terpatri pada situs megalitik Watu Pinawetengan seakan mengembalikan harta yang hilang’ serta ’jati diri’ seni kain Minahasa yang konon hilang sejak 200 tahun lamanya. ISBSU, lewat sejumlah konseptor dan pelaku kain asal Minahasa seperti Thomas Sigar dan Iyarita W Mawardi mencoba mengembangkan seni kain Minahasa dengan corak berbagai potensi Nyiur Melambai tak terkecuali guratan simbol-simbol di Watu Pinawetengan. Akhirnya lahirlah sebuah produk kain print dan tenun bernuansa lokal asli Minahasa yang diberi nama Kain Pinawetengan.

Benny Mamoto dalam acara launcing Kain Pinawetengan beberapa waktu lalu mengisyaratkan bahwa membangun seni budaya berarti membangun masyarakat yang kreatif. Masyarakat yang kreatif akan mampu bersaing dan unggul dalam aspek kehidupan. Masyarakat yang kreatif akan sejahtera secara ekonomi dan hidup berbahagia. Pengembangan kesenian sebagai lokomotif kebudayaan akan melahirkan bangsa yang berbudaya, beretika dan sejahtera.

Semoga bola budaya dan seni yang digulirkan ISBSU dalam menggali beragam potensi Sulawesi Utara yang hilang akan lebih gencar dan produktif. Lebih daripada itu kiranya usaha yang dilakukan akan mendapat apresiasi dunia, terlebih masyarakat Sulawesi Utara sendiri, sebagai bagian dari sejarah masa lalu, peradaban luar biasa dari sebuah komunitas nenek moyang sebuah bangsa di Sulawesi Utara. Tanah Minahasa secara tak terbantahkan sungguh memiliki beragam kekayaan tradisi yang seakan telah hilang ditelan globalisasi, namun kini bangkit kembali mengikuti jejak-jejak Benny Mamoto.

Kini seorang Doktor Benny Josua Mamoto sudah seharusnya tidak perlu galau lagi memikirkan ’wangsit’ orang tuanya dan nenek moyangnya untuk ”mencari harta karun yang hilang” demi pengabdian yang dipersembahkan pada tanah leluhur” Nyiur Melambai”. Walau begitu, masih perlu dilahirkan ratusan bahkan ribuan Benny Mamoto lainnya agar kerja pengabdian kepada nenek moyang Sulut dapat berjalan lebih cepat, lebih lengkap, dan lebih sempurna. Dengan demikian The Lost Treasure of Minahasa tidak akan terus berlanjut. Semoga.