Dialog Imaginer Bersama Cak Nur Tentang Prinsip-prinsip Pluralisme

0
82
Pewarta-Indonesia, Mencoba menjawab pertanyaan Imam Subari “Mungkin akan lebih produktif kalo kita coba sisihkan (simpan) dulu terminologi pluralisme dan kita coba petakan prinsip-prisip dasar yang dapat dijadikan pegangan umat Islam ketika berhubungan dengan umat beragama lain. Bukankah memahami pluralisme arahnya agar bermuara pada terwujudnya perdamaian dan hubungan yang harmonis antar umat beragama?” tulisnya

Tanpa sengaja aku nemenukannya  “Dialog Imaginer bersama Cak Nur tentang Prinsif-prinsif Pluralisme” dalam dokumen. Meski karya ini telah usang. Semoga mengobati kerinduan untuk membangun hubungan antarumat beragama yang damai, toleran, harmonis dan menghargai perbedaan. Inilah dialog imaginernya;

Faktor apa yang menyebabkan umat Islam sering kisruh antar kelompok satu dengan yang lainya?

Salah satu pangkal persoalnaya, karena umat silam kurang memahami agamanya sebagai pesan dan nasihat Ketuhanan (al-Din Nashihah).

Maksud Anda?

Kita ketahui bersama bahwa rujukan umat Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunah. Bagi saya sambil menegaskan Al-Quran merupakan pesan dan nasihat Tuhan.

Membicarakan soal pesan Tuhan, maka selayaknya kita juga mengenal dan berupaya mengimani Kitab-kitab suci sebelumnya, seperti Zabur, Taurat, dan Injil yang diturunkan Sang Khalik kepada Anbiya.

Nah, pesan ketuhanan yang menjadi titik temu (common platform) dalam perjalanan panjang agama-agama itu akan bermuara pada Kesadaran Ketuhanan (Takwa) sekaligu keharusan berkeyakinan hanya ada satu Tuhan Yang Esa (tawhid) dalam diri umat beragama.

Tak hanya itu, The Ten Commandementnya Nabi Musa dan Injilnya Nabi Isa, kita akan menemukan pesan yang sama. Yakni hanya menyembah Tuhan Yang Esa (tawhid); tidak menyekutukan-Nya dalam bentuk apapun; tidak boleh membunuh; berzinah; mencuri; memfitnah; tidak bersaksi palsu dan dusta; jangan menginginkan harta; istri orang lain dan keharusan berbuat kebaikan.

Pada titik Inilah kita temukan kalimatun sawa antarkeyakinan yang dikenal oleh manusia dan orang-orang Islam diperintahkan sebagai landasan hidup bersama. [QS. al-Imran/3:64 dan QS. al-Syura/42:13]

Berangkat dari kerangka ini pesan suci yang bersifat universal sekaligus menjadi inti dan kesamaan pada semua agama yang benar.

Dalam bahasa yang lain, pesan dasar ini dikenal dengan sebutan ’perjanjian primordial’ kita untuk mengakui hanya ada Satu Tuhan (tawhid).

Selain itu, model keberagamaan mana yang menyebabkan konflik kian tak kunjung selesai itu?

Ada tiga model dalam keimanan; Pertama, Sikap Ekslusif. Sikap keberagamaan yang tertutup dan memandang keselamatan hanya ada pada agama dan teologinya semata.

Kita ambil contoh, dalam umat Kristiani dikenal selogan Extra Ecclesiam nulla salus, etraecclesiam nullus proheta (keselamatan hanya ada dalam gereja dan tidak ada nabi di luar gereja) pra-Konsili Vatikan II.

Umat Muhamad pula memiliki potensi yang serupa. Pandangan ini termaktub dalam QS.al-Maidah/5:3, al-Imran/3:85 dan 19.

Kedua, Sikap Inklusif. Tipe keberagamaan yang membedakan antara kehadiran penyelamatan dan aktifitas Tuhan dalam ajaran agama lain. Juru selamat beserta aktifitas Tuhannya hanya ada pada satu agama (Kristen).

Adalah Ibn Taymiyah, pendobrak kejumudan sekaligus menjadi tokoh Inklusif dalam Islam. Pemahaman ini didasarkan pada Al_Qur’an; Al-Imran/3:64–yang berbicara tentang kalimatun sawa agama-agama; Al-Maidah/5:48–yang menjelaskan adanya syir’ah (jalan menuju kebenaran) dan minhaj (cara atau metode perjalanan menuju kebenaran).

Ketiga, Sikap Pluralisme. Model keberagamaan yang memandang bahwa keselamatan ada pada semua agama.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kuatnya arus modernitas sikap keberagamaan ini menyakini pada prinsifnya agama yang ada di dunia ini akan selamat dan mengajarkan hal-hal yang baik. Namun, ekspresinya berbeda-beda. Singkatnya, keimanan antara Islam dengan yahudi, Kristen, Budhisme, Shintoisme, Konfucuisme sekalipun keyakinan lokal tak ada bedaya bila mengajarkan keselamatan dan berbuat baik.

Namun, yang menjadi persoalan, manakala teologi Pluralisme diartikan salah kaprah. Hingga dengan seenaknya mengelurkan 11 Fatwa haram hukumnya umat islam mengikuti pemahaman Pluralisme sebagai contoh.

Lihatlah definisi Pluralisme oleh MUI, Pluralisme diharamkan karena menganut paham semua agama adalah sama dan bahwa agama bersifat relatif dan tidak ada yang boleh mengklaim agamanya adalah agama yang paling benar. Padahal seseorang beragama karena keyakinannya akan suatu kebenaran.

“Yang boleh adalah pluralitas bahwa kenyataan masyarakat memiliki agama yang berbeda-beda dan karenanya harus saling menghormati dan berdampingan dengan baik,” katanya. (Kompas, 28 juli 2005)

Lantas apa yang dimaksud dengan pemahaman pluralisme itu?

Kehadiran Suku, Agama dan Budaya yang berbeda-beda meniscayakan kita untuk menafikan sunatullah. Dengan demikian, pemahaman yang didasarkan kesadaran kemajemukan secara sosial-budaya-religi yang tidak mungkin ditolak inilah yang disebut sebagai pluralisme.

Satu sistem nilai yang memandang secara positif-optimis dan menerimanya sebagai pangkal tolak untk melakukan upaya konstruktif dalam bingkai karya-karya kemanusiaan yang membawa kebaikan dan kemaslahatan.(Islam, Doktrin dan Peradaban;1995)

Adakah ayat-ayat yang menjelaskan pluralisme?

Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh kita untuk menghargai perbedaan dan berlomba-lomba dalam kebaikan. Salah satunya Q.S Al-Hujurat/49:13 “….Bahwa Allah menciptakan umat manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal dan menghargai; QS. 30:22 “Perbedaan antara manusia dalam bahawa dan warna kulit merupakan pluralitas yang mesti diterima sebagai kenyataan yang positif dan merupakan salah satu kebesaran Allah.”; QS. 5:4 “Perbedaan pandangan hidup dan keyakinan, justru hendaknya menjadi penyemangat untuk saling berlomba menuju kebaikan. Kelak di akhirat, Tuhanlah yang akan menerangkan mengapa dirinya berkehendak seperti itu dan keputusan yang paling adil di tangan-Nya.”; Ar-Rum:22 dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah menciptakan bumi dan langit serta berlain-lain bahasamu, dan warna kulitmua; An-Naba 24-26; Katakanlah hai Muhammmad siapa yang membri rizki kepadamu dari langit dan dari bumi? Katakanlah Allah dan sesungguhnya kami atau kamu (non muslim) pasti berada dalam kebenaran atau kesesatan yang nyata, katakanlah kami (non muslim) tidak akan bertanggungjawab tentang dosa yang kami perbuat, dan kami tidak akan ditanya pula tentang apa yang kamu perbuat. Katakanlah tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian dia memberikan keputusan antara kita dengan benar dan dialah maha pemberi keputusan lagi maha mengetahui.

Jika memang ada pluralisme dalam Islam. Coba uraikan prinsif-prinsifnya?

Karena keragaman sebagai kehendak Tuhan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Sejatinya, pluralisme harus berlndaskan pada; Pertama, Prinsip Pluralitas Merupakan Takdir Tuhan (QS.2:213, QS;5;4), Kedua, Prinsip Pengakuan Hak Eksistensi Agama di luar Islam (QS.5:44-50, QS.22;38-40). Ketiga, Prinsip titik temu dan kontinuitas Agama-agama, Nabi dan Rasul (QS.2;136-165, QS. 2:285, QS.42:13, QS.4:163-165, QS.2:136, QS. 29:46 QS. 42:15, QS. 5:4). Keempat, Prinsip tidak ada paksaan dalam Agama (QS. 2:256, QS. 10:99, QS. 22:38-40). Kelima, 3 Prinsip Esensi Agama: Keimanan kepada Tuhan, Hari akhirat dan Berbuat Baik (QS. 2:62, QS. 5:26). Keenam, Prinsip Menjunjung Nilai-nilai Kemanusiaan (HAM) (QS. 5:32).

Nah, berkenaan dengan keragaman ini satu Ajaran (pemahaman) ini tidak perlu diartikan semua agama sama dalam bentuknya yang nyata sehari-hari akan tetapi ajaran kemajemukan keagamaan itu menandaskan pengertian dasar bahwa semua agama diberi kebebasan untuk hidup, dengan resiko yang akan ditanggung oleh para pengikut agama itu masing-masing, baik secara pribadi maupun secara kelompok” (Islam, Doktrin dan Peradaban, hal. 184).

Menyikap maraknya aksi kekerasan atasnama agama yang dilakukan oleh kelompok tertentu terhadap golongan yang dianggap ganjil, hingga meresahkan masyarakat dan dapat menisbikan Tuhan. Bagaimana tanggapan Anda?

Tentu pemerintah harus tegas menegakan hukum, bukan malah sebaliknya. Sudah jelas orang berbuat tindakan pengrusakan termasuk tindakan pidana.

Satu hal lagi yang harus kita ingatkan, Diakui atau tidak Indonesia memang bukan negara islam, tapi bukan juga negara sekuler, melainkan sebuah agama sebuah negara hukum yang percaya pada perlindungan HAM sebagaimana tertuang dalam deklarasi Universal HAM dan UUD 1945.
Sudah sepantasnya kita menjungjung tinggi sekaligus mengakan hukum dalam kehidupan sehari-hari.

Sedari awal saya menolak berdirinya negara Islam. Pasalnya, tak ada contoh dari Muhammadnya. Piagam Madinah bukan konsep berdirinya Negara Islam, tapi bagaimana cara kita menghargai keyakinan orang lain.

Pemahaman pluralisme, bukan hanya mengakui tapi membiarkan orang lain yang bebeda dengan kita untuk berkretifitas dengan bebas. dalam kontek ke kinian pluralisme tidak hanya kesadaran atau pemahaman adanya heterogentas, tapi harus juga terlibat secara pro aktif dalam mengejawatahkan nilai-nilainya. Keharusan pro aktif inilah yang tidak disentuh, selama ini. Apalagi digumulai oleh orang-orang yang selama ini mengaku memehami pluralisme.

Dus, dengan memahami dan ikut andil dalam mewujudkaan pemahman pluralisme ini merupakan satu langkah awal menuju pintu kebajikan dan pembebasan dalam memahari keragaman yang ada pada manusia.

Mudah-mudahal dalam waktu dekat ada versi Gus Durnya. [Ibn Ghifarie]

Sumber image: google.co.uk