IDA AYU AGUNG MAS : Penggagas dan Penggiat Pariwisata Inti Rakyat

0
43

 

Pewarta-Indonesia, Dayu Mas, begitu sapaan akrab oleh kerabat, kolega, dan rekan-rekan sepermainan. Tokoh yang satu ini cukup populer di tanah kelahirannya, Pulau Bali. Gagasan-gagasan inovatif dan berbagai usaha yang dilakoninya berkaitan dengan pengembangan kepariwisataan di Bali dan di Tanah Air amatlah penting dan banyak diapresiasi oleh masyarakat, tidak hanya di dalam negeri bahkan oleh masyarakat internasional. Penghargaan “To Do ’95 for the First Socially Responsible Tourism” dari Pemerintah Jerman adalah salah satu bukti prestasi cemerlangan istri mendiang Ida Bagus Putra itu. Sisi perjuangan lainnya berkaitan dengan pemberdayaan kaum perempuan dan aktivitasnya sebagai dosen luar biasa di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, menambah panjang daftar kesibukannya, yang membuat nama wanita Bali ini perlu diperhitungkan dalam konstelasi perjuangan bangsa Indonesia ke masa depan.

Ida Ayu Agung Mas, demikianlah nama lengkapnya. Ibu satu putra (Ida Bagus Krisna) ini lahir di Gianyar, Bali, pada 1 April 1949. Saat ini, Dayu Mas adalah Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mewakili Propinsi Bali. Dalam kapasitasnya sebagai Anggota DPD, ia mengusung visi “tercapainya kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkeadilan dan berkesetaraan”. Untuk mewujudkan mimpinya itu, Dayu Mas telah melakukan banyak hal, baik melalui lembaga DPD maupun di luar kelembagaan itu. Keterlibatannya dalam Kaukus Perempuan DPD dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara merupakan aktifitasnya di bidang sosial-politik.

Sebagai orang Bali yang sejak awal hidup di masyarakat yang berkebudayaan tradisional yang kukuh dengan adat dan peraturan agama (Hindu), Dayu Mas memahami benar posisi manusia di alam semesta ini yang dipahami melalui keterkaitan yang erat antara masyarakat dengan lingkungan alam sekitarnya. Ditunjang oleh pendidikan dan pengalaman luar negeri-nya ketika mengambil kuliah Sastra Jerman di Universitas Hamburg – Jerman (1977-1979), ia mampu memprediksi kesulitan dan permasalahan besar yang bakal muncul sebagai reaksi dari alam akibat pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan lingkungan yang tidak memperhatikan keharmonisan ekosistem dan kelestariannya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, sejak awal pula Dayu Mas berjuang, baik melalui kajian-kajian pembangunan berbasis lingkungan maupun mengusulkan program-program yang selayaknya dijalankan Pemerintah Indonesia dan masyarakat.

Pariwisata Inti Rakyat dan Suabali

Sebagaimana halnya masyarakat Bali secara umum yang cinta terhadap keindahan, budaya, dan kegiatan kepariwisataan, Ida Ayu Agung Mas yang menyelesaikan studi SMP di Klaten dan SMA di Jogyakarta, menaruh minat dan perhatian yang amat besar di bidang pengembangan pariwisata nasional. Ketika dirinya kembali dari Jerman di awal tahun 1980-an, Dayu Mas amat prihatin dengan pengelolaan pariwisata di Bali yang menurutnya tidak memperhatikan lingkungan hidup dan budaya masyarakat di sana. “Pengelolaan pariwisata Bali tidak memperhatikan lingkungan alam, budaya, dan masyarakat sekitar. Pembangunan pariwisata itu untuk siapa?” katanya saat wawancara beberapa waktu lalu di kantornya, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.

Program kepariwisataan, menurut Dayu Mas harus society oriented, berorientasi kepada kesejahteraan masyarakat sekitarnya. “Masyarakat harus dilibatkan secara langsung sejak awal, dan terus-menerus orang sekitar harus menjadi subyek pelaksana dari program pariwisata yang diadakan. Jangan modal (capital) saja yang masuk ke Bali, dan masyarakat sekitar jadi penonton,” imbuh penerima penghargaan To Do ’95 for the First Socially Responsible Tourism dari Kementerian Lingkungan Hidup Jerman di tahun 1995 ini.

Dayu Mas tidak hanya kritis dan bisa protes saja. Dia justru mengembangkan sebuah program kepariwisataan yang lebih dibutuhkan bangsa, yakni Pariwisata Inti Rakyat (PIR). Kepiawaiannya tidak hanya di tataran konsep, tapi juga langsung pada implementasi PIR. Sebagai percontohan kepariwisataan dengan pola PIR, ia menyulap lingkungan desa kediamanya menjadi obyek wisata PIR dengan nama Suabali. Kompleks ini telah dirintisnya sejak 20 tahun lalu, dan dinilai banyak pihak amat berhasil. Masyarakat sekitar menjadi maju dan merasa diuntungkan dari keberadaan Suabali, baik secara budaya, spiritual, lingkungan hidup nyaman lestari, maupun secara ekonomi.

PIR atau Pariwisata Inti Rakyat merupakan sebuah konsep pembangunan kepariwisataan dengan mengusung filosofi “memberikan layanan wisata sambil mengenal, merasakan dan bahkan melakoni kehidupan dan budaya masyarakat sekitar obyek wisata tersebut”. “Di Suabali, setiap pengunjung dikenalkan dengan budaya dan kehidupan masyarakat Bali agar mereka merasakan dan memahami Bali secara mendalam,” ungkap Dayu Mas. Program PIR, katanya lagi, intinya adalah membangun dunia pariwisata dengan basis utama masyarakat lokal. “Jadi, semua proses pelaksanaan program, mulai dari penyiapan lokasi, pembangunan sarana prasarana, menjalankan usaha wisata, dan lain-lain harus melibatkan penduduk sekitar,” imbunya lagi. Bahan dan material yang digunakan seharusnya juga dari lingkungan sekitar.

PIR juga menekankan pentingnya pelibatan secara aktif masyarakat lokal, karena setiap pengunjung akan diarahkan untuk mengenal masyarakat bersama pernak-pernik budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat. “Ada dua manfaat dari dua sisi yang didapat dari pola PIR. Pertama masyarakat diberdayakan secara sosial maupun ekonomi, dan di lain pihak para turis tidak hanya datang lihat-lihat pemandangan Bali yang indah, tapi juga dapat belajar dan merasakan indahnya tata hidup dan budaya masyarakat Bali yang sesungguhnya. Sistim ini akan membuat mereka lebih terkesan ketika pulang dari Bali, atau dari daerah mana saja yang memberikan pelayanan wisata pola PIR,” jelasnya dengan senyum membayangkan turis pulang dengan senang hati.

Kini, terpulang kepada para pengambil kebijakan di negeri ini, apakah negara harus meneruskan program pembangunan pariwisata berbasis modal yang nota benne umumnya dari asing, atau memilih memberdayakan rakyatnya sendiri sebagai pelaku utama pariwisata? Melihat berbagai kasus bencana yang muncul saat ini sebagai akibat pembangunan pariwisata tanpa memperhatikan lingkungan dan budaya setempat di Bali  seperti banjir di Denpasar dan kerusakan alam di Nusa Dua, kiranya apa yang diperjuangkan Ida Ayu Agung Mas adalah sebuah solusi yang mencerahkan. Semoga impian Dayu Mas melihat anak-anak negeri menjadi pelakon utama pariwisata di negerinya sendiri menjadi keniscayaan.***

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]

BAGIKAN
Berita sebelumyaHiduplah dengan Tujuanmu
Berita berikutnyaPemerintah Terlalu Bernafsu Memperluas Taman Nasional
I came from a poor family in Central Celebes, Indonesia. “Shony” - that’s what my family and friends call me. With help from IFP, I completed a master’s in Global Ethics from the University of Birmingham, England in 2006. My interest in this field of study was based on over 15 years’ worth of studying and teaching “Indonesian Moral Education”. I believe the moral ethics of a nation is influenced by the global hegemonic values that are adopted and developed by the nation itself. Writing is one of my favorite hobbies.