Salat Ashar Menyelamatkannya dari Maut

0
71

Pengalaman pribadi Ir Yosmeri, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar

Pewarta-Indonesia, Rezeki, maut, pertemuan, jodoh, semuanya sudah diatur oleh Allah SWT. Jika Allah  berkehendak tidak ada satupun yang bisa menghalangi. Begitu juga yang alami oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Ir Yosmeri, ia terselamatkan dari maut dari dua tempat karena ingin melaksanakan salat Ashar. Dimana satu jam sebelum kejadian gempa berkekuatan 7,9 SR pada 30 September 2009 itu, ia sempat berada di Hotel Ambacang dan kantor DKP Sumbar. Dimana kedua tempat tersebut sekarang telah hancur porak poranda.

Bersyukur, terharu dan merasa kerdil dihadapan Allah SWT, inilah yang dirasakan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar Ir. Yosmeri karena terselamatkan dari amukan gempa berkekuatan 7,9 SR 30 September 2009 lalu. Tanpa kehendak Allah SWT mungkin kini ia tidak bisa lagi menghirup udara bebas dan meninggalkan dunia yang fana ini bersama 18 peserta diklat pengelolaan hasil perikanan se Sumatera Barat yang diadakan di Hotel Ambacang 30 September lalu. Akan tetapi Allah berkata lain, ketika ia hendak menghadap-Nya untuk menunaikan salat Ashar pukul 16.10 Wib, ia keluar dari Hotel Ambacang, dimana tempat berlangsungnya acara diklat pengelolaan hasil perikanan se-Sumatera Barat yang dibukanya secara resmi pada pukul 14.15 WIB. Acara tersebut diikuti oleh 30 nelayan yang berasal dari kabupaten/kota se-Sumatera Barat dengan menghadirkan nara sumber dari DKP Pusat Azrina Khaidir, SPI. MSi dan dari Bank Nagari Budi Setiawan.

Saat ia hendak salat Ashar di musala hotel tersebut, ia mendapati musala itu ramai oleh ibu-ibu yang tengah menunaikan kewajibannya. Selain itu musala tersebut juga dalam tahap renovasi, makanya Yosmeri berputar haluan dan menuju kantornya di Jalan Koto Tinggi Padang untuk menunaikan salat Ashar. Setiba di kantor, sebelum memasuki ruang kerjanya di lantai 2, ia dihadang oleh anggotanya Irwadi untuk menandatangi surat-surat dinas.

Suasana di kator waktu itu sudah sepi, karyawan sudah banyak yang pulang, makanya ketika hendak berwuduk tiba-tiba saja perasaan malas menyelinap dalam hatinya. Apalagi Irwadi yang diharapkan akan menunggunya sampai ia selesai menunaikan salat, juga sudah pulang sehabis meminta tanda tangan.

Makanya tanpa pikir panjang lagi Yosmeri meninggalkan kantornya dan pulang ke rumah dinas yang berlokasi di Jalan Tamsis No. 8 Padang. Sesampai di rumah Yosmeri langsung menunaikan salat Ashar. Tidak cukup lima menit setelah salat, terjadilah gempa berkekuatan 7,9 SR dan memporakporandakan Kota Padang dan sekitarnya, bahkan belakangan gempa ini dikategorikan bencana nasional.

Dalam keadaan demikian Yosmeri, berusaha menyelamatkan keluarganya yang alhamdulillah mereka semua selamat. Keesokan harinya Yomeri dengan mengendarai sepeda motor, ia pergi ke kantor dan mendapati kantornya sudah amblas. Kantor yang sebelumnya terdiri dari dua lantai itu, sekarang hanya tersisa satu lantai saja, semuanya hancur berantakan. Selanjutnya ia pergi ke Hotel Ambacang untuk mengetahui keadaan staf dan peserta yang sedang mengikuti diklat di hotel tersebut.

Namun di lokasi, yang ia dapati hanyalah reruntuhan dan tim relawan yang tengah mengevakuasi para korban yang terbanyak dari peserta diklat. Hancur, luluh dan prihatin itulah yang ia rasakan ketika itu, tapi apa boleh buat ini mungkin sudah menjadi takdir dari yang Maha Kuasa. Tanpa dikomando ia langsung membantu tim evakuasi. Hingga satu minggu kedepan, tepatnya hari Kamis depannya, ia tidak pernah meninggalkan hotel Ambacang dan tetap berharap anggotanya keluar dalam keadaan selamat. Akan tetapi harapan hanyalah tinggal harapan, 18 dari 30 peserta diklat telah menjadi jenazah, termasuk satu pegawai dari bank nagari, satu pegawai DPK Sumbar dan satu nara sumber DKP pusat. Sementara korban selamat dan sakit parah yang masih dirawat di RSU M.Djamil Padang, saat ini hanya tinggal satu orang yakni Friska dan sekarang kondisinya sudah agak membaik.

Pengarahan Menjadi Beban Mental

Bergelut dengan bahaya mungkin sudah menjadi teman bagi Yosmeri sebagai orang kelautan. Bahkan ia sering diterpa badai ketika tengah berada di laut. Suasana menegangkan tentunya sudah tidak asing lagi baginya. Seperti ketika tsunami di Aceh 26 Desember 2004 lalu, ia tengah memancing di laut bersama dengan Bupati Pesisir Selatan yang ketika itu dijabat oleh Dasrizal. Tiba-tiba saja kapal yang mereka tumpangi terkandas di sebuah pulau. Usaha mereka untuk menarik kembali kapal yang terkandas itu tidak membuahkan hasil, sedikitpun kapal tersebut tidak bergeming. Akhirnya setelah susah payah berusaha, mereka istirahat untuk melepas lelah, akan tetapi keajaiban terjadi, tiba-tiba saja kapal itu naik sendiri seiring naiknya air laut. Kala itu Yosmeri tidak menyadari bahwa keanehan tersebut disebabkan terjadinya tsunami di Aceh. Ia baru sadar peristiwa tersebut setelah kembali berada di darat.

Rintangan demi rintangan selalu ia hadapi, namun kali ini (pasca gempa) ada yang sangat menganjal dihatinya dan selalu menjadi beban mental baginya. Ia selalu trauma apabila ada orang yang bicara tentang gempa. Namun bukan berarti ia trauma dengan gempa, karena ia sangat menyadari bencana ini semua adalah kehendak Allah dan telah digariskan dalam kehidupan. Namun yang harus dilakukan menurutnya adalah selalu waspada dengan kemungkinan bencana.

Sudah menjadi kebiasaan setiap pagi Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar selalu mengadakan apel, tujuannya selain untuk kebersamaan juga untuk memberikan berbagai informasi. Dalam kesempatan itu Kepala Dinas yang bertindak sebagai instruktur memberikan pengarahan termasuk tentang mitigasi bencana gempa.

“Kita patut bersyukur menjadi orang Sumatera Barat sampai saat ini kita masih diberi karunia oleh Allah SWT. Padang masih diberi aman, sementara di Amerika saat ini dilanda gempa bahkan di sana terjadi juga tsunami,” ulas kepala DKP yang sukses dengan ikan tunanya ini.

Menurutnya pengarahan itu masih sempat ia sampaikan pada pembukaan acara diklat yang dimulai pada pukul 14.15 Wib di Hotel Ambacang. Usai memberikan pengarahan, sambil menunggu masuknya salat Ashar, Yosmeri melayani tamunya, nara sumber dari DKP pusat Azrina, yang semula jadwalnya malam. Sambil duduk dan menikmati snack dari panitia, Yosmeri dan Azrina menceritakan program dinas kelautan tentang kredit ketahanan pangan dari bank nagari yang mana sudah dicairkan satu milyar. Untuk kelanjutannya ia meminta Azrina menanyakan langsung kepada bank nagari.

Namun ditengah perjalanan jadwal dirubah, nara sumber dari bank nagari diundur dan dimajukan nara sumber dari DKP pusat. Makanya setelah acara dimulai, ia langsung ke musala hotel untuk memunaikan salat karena hari sudah menunjukan pukul 16.10 WIB. Namun karena  kehendak Allah akhirnya ia menunaikan salat Ashar di rumahnya. Iapun terselamatkan dari maut, sementara Azrina nara sumber dari DKP pusat yang jadwalnya dimajukan baru berhasil diidentifikasi,  satu minggu setelah dievakuasi. Sedangkan nara sumber dari Bank Nagari Budi Setiawan yang jadwalnya digeser ke malam selamat dari peristiwa tersebut.

Akibat gempa total kerugian yang dialami oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Sumbar mencapai 62 milyar lebih yakni sarana pemerintah 14 milyar, sarana masyarakat 3,4 milyar, rumah nelayan 42,7 milyar dan rumah staf 2,3 milyar.

Dengan peristiwa itu Yosmeri sadar betul, bahwa kita tidak ada apa-apanya dimata Allah. Makanya kita tidak perlu sombong, harta dan kekayaan hanyalah titipan, bahkan dengan sekejam mata apabila, Dia berkehendak semua akan luluh lantak. Maka dari itu Yosmeri berpesan agar kita selalu berusaha meningkatkan ibadah kepada-Nya. Semoga kita bisa selamat dunia dan akhirat. Amin. (ratna)