Selamat Jalan Guru Kebebasan Beragama

0
33

Pewarta-Indonesia, Kematian mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Rabu (30/12) pukul 18.45, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta menyimpan duka yang mendalam bagi keluarga, kerabat, koleg, kawan, pejabat, tokoh lintas iman. Pasalnya, Gus Dur merupakan lokomotim kebebasan beragama di Bumi Pertiwi ini.

Dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95 oleh Presiden Abdurrahman Wahid merupakan pilar menjamin kebebasan beragama bagi komunitas Tionghoa.

Betapa tidak, setelah hampir 32 tahun silam golongan non-pribumi ini tak bisa hidup bebas di Bumi Pertiwi. Kini, geliat kebangkitan masyarakat keturunan China pun mulai kelihatan lagi. Maraknya perayaan kalender China, mulai dari Imlek, pergelaran barongsay di halayak banyak, hingga  Peringatan 600 Tahun Pelayaran Cheng Ho Ke Semarang, Mengenang Sang Raja Laut tahun 2005, penayangan film Cheng Ho.

Kecintaanya dalam memperjuangkan segala bentuk ketidakadilan, kekerasan atas nama agama sekaligus memperjuangkan demokrasi membuat Gus Dur diakui melampui batas Agama, Suku, Etis, Antargolongan.

Pelbagai penghargaan pun disandangnya;

Pertama
, Pada tahun 1993, Gus Dur menerima Ramon Magsaysay Award, sebuah penghargaan yang cukup prestisius untuk kategori Community Leadership.

Kedua, Wahid ditahbiskan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pecinan pada tanggal 10 Maret 2004.

Ketiga
, Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006.[68] Penghargaan ini diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Gus Dur dan Gadis dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia. Gus Dur dan Gadis dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari budayawan Butet Kertaradjasa, pemimpin redaksi The Jakarta Post Endy Bayuni, dan Ketua Komisi Nasional Perempuan Chandra Kirana. Mereka berhasil menyisihkan 23 kandidat lain. Penghargaan Tasrif Award bagi Gus Dur menuai protes dari para wartawan yang hadir dalam acara jumpa pers itu.

Seorang wartawan mengatakan bahwa hanya karena upaya Gus Dur menentang RUU Anti Pornoaksi dan Pornografi, ia menerima penghargaan tersebut. Sementara wartawan lain seperti Ati Nurbaiti, mantan Ketua Umum AJI Indonesia dan wartawan The Jakarta Post membantah dan mempertanyakan hubungan perjuangan Wahid menentang RUU APP dengan kebebasan pers.

Keempat
, Ia mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan Hak Asasi Manusia. Wahid mendapat penghargaan tersebut karena menurut mereka ia merupakan salah satu tokoh yang peduli terhadap persoalan HAM.

Kelima, Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena Wahid dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas, salah satunya dalam membela umat beragama Konghucu di Indonesia dalam memperoleh hak-haknya yang sempat terpasung selama era orde baru.

Keenam
, Wahid juga memperoleh penghargaan dari Universitas Temple. Namanya diabadikan sebagai nama kelompok studi Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study.

Pun Doktor Kehormatan, diantaranya;

Pertama
, Doktor Kehormatan bidang Filsafat Hukum dari Universitas Thammasat, Bangkok, Thailand (2000)

Kedua, Doktor Kehormatan dari Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand (2000)

Ketiga
, Doktor Kehormatan bidang Ilmu Hukum dan Politik, Ilmu Ekonomi dan Manajemen, dan Ilmu Humaniora dari Pantheon Universitas Sorbonne, Paris, Prancis (2000)

Keempat
, Doktor Kehormatan dari Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand (2000)

Kelima
, Doktor Kehormatan dari Universitas Twente, Belanda (2000)

Keenam, Doktor Kehormatan dari Universitas Jawaharlal Nehru, India (2000)

Ketujuh, Doktor Kehormatan dari Universitas Soka Gakkai, Tokyo, Jepang (2002)

Kedelapan, Doktor Kehormatan bidang Kemanusiaan dari Universitas Netanya, Israel (2003)

Kesembilan, Doktor Kehormatan bidang Hukum dari Universitas Konkuk, Seoul, Korea Selatan (2003)

Kesepuluh, Doktor Kehormatan dari Universitas Sun Moon, Seoul, Korea Selatan (2003) (www.wikipedia.org)

Tuhan ternyata punya rencana lain. Sebuah penghargaan kemanusiaan seharusnya akan diterima Gus Dur pada Januari 2010. Rupanya, sebelum penghargaan diterima, Gus Dur sudah lebih dulu menghadap-Nya.

“Rencananya, Januari 2010, Gus Dur akan berangkat ke Vemont, Amerika Serikat, untuk menerima penghargaan kemanusiaan,” kata Hermawi Taslim orang dekat Gus Dur.

Ia mengungkapkan, penghargaan kemanusiaan diberikan kepada Gus Dur karena dikenal sebagai tokoh antidiskriminasi dan tokoh Islam yang moderat. Selama menjabat sebagai Presiden, Gus Dur dikenal membuka keran kekakuan kebijakan yang diterapkan bagi kaum minoritas. Salah satunya memberikan kebebasan pada masyarakat Tionghoa dan menjadikan hari raya Imlek sebagai hari libur nasional. (Kompas, 30/12)

Selamat jalan Guru Kebebasan Beragama. Semoga amal ibadahnya diterima Tuhan. Amien. [Ibn Ghifarie]