SITI NURBAYA: Perintis di Lingkungan Baru

0
38

Judul asli: SITI NURBAYA: Pioneer in her new environment, oleh Ridwan Max Sijabat di The Jakarta Pos
Diterjemahkan oleh: Ruslan Andy Chandra, Dipl.PR

Pewarta-Indonesia, Sebagai wanita pertama yang memegang posisi Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah, Siti Nurbaya Bakar adalah pemain langka dalam politik Indonesia, menjadikannya contoh bagi perempuan di seluruh negeri.

Meskipun kemajuan karier politiknya belum sehebat tokoh-tokoh perempuan dunia seperti Presiden Argentina Evita Peron, mantan perdana menteri Inggris Margaret Thacher, atau almarhum mantan Perdana Menteri India, Indira Gandhi, dia bangga menjadi seorang perempuan Indonesia dan dari apa yang telah dicapai sepanjang tiga dekade karirnya sebagai pegawai negeri.

Dia juga bangga bahwa perempuan Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama, termasuk mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, untuk memainkan peran dalam politik, bahkan lebih daripada laki-laki mendominasi peta politik dibanding Amerika Serikat.

“Semakin banyak tokoh perempuan yang muncul untuk menunjukkan kapasitas mereka lebih dari sekedar sebagai manajer rumah tangga di hampir semua aspek kehidupan. Dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, Indonesia yang merupakan negara Muslim terbesar dunia telah melompat jauh maju dalam pengembangan kesetaraan jender. Kunci masalahnya adalah kesempatan yang sama. Setiap orang dapat mengembangkan dan mencapai prestasi yang spektakuler jika ia diberi kesempatan,” ujar Siti kepada The Jakarta Post.

Siti, 54, memulai karirnya sebagai spesialis kampanye pertanian di pemerintah Provinsi Lampung pada tahun 1979. Di sana ia mengembangkan kecintaan birokrasi melalui pengalaman unik yakni sebagai wanita pertama dalam lingkungan kerja barunya.

Seseorang mungkin pernah mengatakan bahwa penunjukan Siti untuk menduduki jabatan Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2004, ini adalah murni insidental dan oportunistik. Tapi sejarah menunjukkan bahwa dia memang berpengalaman dalam posisi kepemimpinan, Megawati yang telah mempercayakan dirinya memegang posisi nomor dua di Departemen Dalam Negeri tahun 2001-2004.

“Saya adalah pemegang master pertama di kalangan pegawai negeri pada tahun 1988 dan yang pertama pemegang PhD dalam birokrasi pada tahun 1998. Setelah itu, semakin banyak pegawai negeri sipil menerima beasiswa untuk menjalani program pascasarjana dan doktor di luar negeri dan di dalam negeri,” kata Siti yang mendapatkan gelar master di International Institute for Aerospace Survey and Earth Science di Belanda dan gelar PhD dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Siti menikmati tantangan yang telah dipercayakan kepadanya di sepanjang karirnya yang terus maju. Ia melihat tantangan-tantangan itu sebagai peluang untuk lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat.

“Saya telah belajar bahwa hidup adalah tantangan utnuk terus-menerus berinovasi dan kurikulum kehidupan adalah apakah target bisa tercapai atau tidak. Untuk menjadi yang pertama dari sesuatu, maka harus ada hasil karya yang mengesankan,” ujarnya. Siti menjelaskan bahwa kesuksesannya meningkatkan kemampuan dan keinginannya untuk mengambil resiko dan tidak takut salah dalam memperjuangkan inovasi-inovaasi yang ia ingin terapkan.

Dia juga mengatakan pernah dinominasikan untuk jabatan Menteri Dalam Negeri pada tahun 2000 dan 2004 tetapi menolaknya demi tetap bagian dari birokrasi negara.

“Ada dua menteri pada November lalu menawarkan posisi sebagai asisten khusus tetapi saya tidak tertarik pada tawaran itu, karena DPD RI masih menginginkan saya untuk membangun kapasitas lembaga legislatif yang baru,” katanya, sambil menambahkan bahwa itu adalah saat yang tepat untuk bekerja di kabinet dengan iklim politik yang tak terduga.

Sejak menjabat Sekretaris Jenderal, Siti telah merintis mempekerjakan lulusan baru dari universitas, bukannya mengimpor staf tua dari kementerian dan lembaga negara, untuk membantu memoles citra Dewan dan meningkatkan produktivitas. “Sekarang kita bergerak untuk membangun Dewan dengan kantor cabang di 33 provinsi. Sebuah proyek yang perlu diselesaikan pada tahun depan. Sejauh ini, segala sesuatu telah berkembang dengan lancar dan transparan serta tidak ada keluhan yang muncul,” katanya.

Siti datang dengan ide untuk memperkenalkan kuota minimal 30 persen bagi posisi perempuan dalam partai politik dan pemilu legislatif selama masa jabatannya di Departemen Dalam Negeri, pada tahun 2002. “Saya mendapatkan ide dari Undang-Undang politik Argentina berkat perjuangan panjang dari Partai Peronis. Sebagai hasilnya, kini kita punya lebih banyak perempuan di parlemen.

“Meskipun perempuan dan anak-anak belum memainkan peran penting dalam proses pembuatan Undang-Undang, pembuat Undang-Undang harus mengingat bahwa perempuan adalah yang paling rentan terhadap diskriminasi dalam hukum tersebut,” katanya.

Dia juga sangat prihatin atas dihentikannya program-program yang disponsori pemerintah, yang berbasis pada gerakan sosial di tataran akar rumput, seperti pos pelayanan terpadu (posyandu) dan program keluarga berencana, yang telah berkontribusi untuk menekan tingkat kematian bayi dan anak. “Kemiskinan yang melanda 39 juta orang juga harus diatasi dengan cepat untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk yang cepat dan menekan tingkat kematian ibu dan bayinya.”

Dia mengakui bahwa pengalaman politik membuatnya lebih matang dalam melaksanakan tugas-tugasnya dan meningkatkan tanggung jawabnya dalam birokrasi. Karena pekerjaannya sebagai pegawai negeri di Lampung, ia telah memainkan peran aktif dalam Partai Golkar yang berafiliasi di Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI) dan bahkan memimpin organisasi massa pada tahun 1993. “Birokrasi adalah tempat pelatihan untuk memenuhi syarat sebagai seorang politikus. Seorang birokrat diperlukan untuk dapat menjalankan fungsi administratif, perlu menyiapkan kebijakan, mengartikulasikan aspirasi masyarakat dan memelihara stabilitas politik.”

Ketika ditanya apa yang memotivasi dirinya untuk bekerja keras dalam mengembangkan kariernya, Siti mengatakan bahwa ia terobsesi untuk membuktikan bahwa pepatah yang dia dengar selama studi di Belanda benar-benar salah.

“Dikatakan bahwa apa pun yang dilakukan perempuan, mereka harus melakukannya dua kali lebih banyak, laki-laki melakukan setengahnya. Sekarang hal itu telah terbukti salah dengan banyaknya perempuan Indonesia,” katanya, mengutip bahwa bekerja selama 30 tahun di birokrasi, dia tidak pernah mengambil cuti, kecuali cuti melahirkan yakni untuk melahirkan kedua anaknya.

Siti telah mengkritik reformasi yang sedang berlangsung di negara birokrasi, yang katanya belum diproduksi birokrat progresif. “Reformasi seharusnya tidak hanya fokus pada merubah sistem tetapi juga internalisasi nilai-nilai untuk mengubah pola pikir birokrasi itu. Birokrasi adalah tulang punggung pemerintah dan pembangunan nasional oleh karenanya perlu pejabat dan stafnya bekerja secara kreatif dan inovatif untuk pelayanan publik yang lebih baik.”

Menurut Siti, PNS harus mampu menginternalisasi nilai-nilai luhur kehidupan masyarakat meninggalkan kepentingan diri sendiri di belakang dan memiliki integritas, objektivitas, akuntabilitas, keterbukaan, kejujuran dan kepemimpinan dalam pelayanan mereka kepada publik.

 

Ruslan Andy Chandra
081584021244
[email protected]

Sumber: http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/09/siti-nurbaya-pioneer-her-new-environment.html