Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE

GELORA SEPEDATiga Pilar "Gowes Bareng" Bersama Masyar.....
01/08/2015 | Joe R Manalu

KOPI - Cengkareng - Sabtu pagi (01/08) kegiatan tiga Pilar "Gowes bareng" bersama dengan masyarakat ± 200 yang di hadiri Kapten inf Ober Purba (Danramil 04/Ckr) beserta jajarannya , Kompol Aji Sutarj [ ... ]



POLLING WARGA
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Opini

OPINI

Penelitian Tindakan, Mengapa Begitu Penting?

 8 Cara yang digunakan untuk mengeksplorasi informasi untuk memperoleh variasi perbaikan alternatif atas dasar aspek praktis; dalam hal ini adalah memper…
 

Mewujudkan Kepesertaan JKN-KIS 100 Persen melalui Peran Strategis Pimpinan Desa dan FKTP

KOPI - Kita tentu sepakat untuk mengatakan kesehatan bagi masyarakat sangat penting sekali. Sehat merupakan kondisi yang maksimal baik dari segi fisik, mental dan sosial hingga bisa melakukan suatu aktivitas dengan menghasilkan sesuatu. Begitu pentingnya kesehatan ini hampir semua kepala daerah, mulai dari Calon Gubernur, Bupati/dan Walikota bahkan Kepala Desa dalam kampaye politik mereka, selalu mencantupkan visi dan misi mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera. Tidak sampai disitu saja, indikator sebagai daerah maju dan sejahtera, acap kali juga dilihat pada indikator kesehatan warganya. Karena itu, keberadaan dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah berusaha mewujudkan itu.

Baca selengkapnya...

 

Waspadai Penipuan Kemiripan Raut Wajah

KOPI, Pekanbaru – Ada kisah nyata, istrinya kembaran. Saat saya mengantarkan foto wisuda ke kerumahnya. Pak istri bapak ini kembaran ya. Yang mana adi…

Baca selengkapnya...

 

Membangun Karakter Bangsa yang Istimewa, Sebuah harapan pada Pendidikan dan Kebudayaan di Sekolah

Bangsa yang besar, tentu membutuhkan karakter bangsa yang istimewa. Pembangunan karakter bangsa merupakan gagasan besar yang sejak awal telah dicetuskan oleh para pendiri bangsa ini. Hal tersebut didasari atas fakta, bahwa sebagai bangsa Indonesia terdiri atas beragam suku, ras, bahasa, agama, kepercayaan, dan budaya yang beragam. Keberagaman ini, membutuhkan kesamaan pandangan tentang budaya, dan karakter yang holistik sebagai bangsa. Hal ini penting, karena keragaman bisa menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, dapat menjadi sebuah kekuatan yang maha dahsyat jika dikelola dengan baik, dan di sisi lain, berpotensi menjadi pemicu terjadinya konflik, bahkan perang, dan pembunuhan jika keragaman yang ada tidak dikelola dengan baik.

Keragaman (kebhinekaan) yang dapat dikelola dengan baik diantara kita, dapat dianalogikan laksana sebuah bangunan, rumah, atau gedung. Ia dapat berdiri kokoh justru karena dibangun dari beragam unsur yang berbeda. Coba kita cermati gedung yang kita tinggali saat ini. Ia dapat berdiri kokoh justru karena dibangun dari macam-macam bahan bangunan, ada besi, pasir, kayu, semen, dan sebagainya. Apa yang bisa kita bayangkan jika gedung ini hanya dibangun dari satu unsur saja misalnya. Maka ia tak akan pernah bisa berdiri kokoh, ia akan mudah goyah dihempas oleh hembusan angin yang bertiup, bahkan tumbang jika diterpa badai topan. Oleh karena itu, kebhinekaan yang kita miliki sejak Tanah Air kita ini belum merdeka, harus kita syukuri, kita jaga, kita apresiasi, kita nikmati, dan kita rawat, agar tetap mendatangkan sebuah kekuatan yang maha dahsyat untuk mewujudkan sebuang bangsa yang berkarakter; bangsa yang memiliki kepribadian kuat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dan filosofi dalam berbangsa dan bernegara.

Membangun Karakter Bangsa melalui Pendidikan dan Kebudayaan

Konflik yang terjadi akhir-akhir ini, menjadi isu yang hangat diberitakan. Perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA), menjadi alat untuk saling menyerang satu sama lainnya. Hal ini, mungkin sebagai reaksi dari ketidaksiapan kita dengan konsep multikultural di negara kita sendiri. Kesadaran tentang multikultural yang mengakui keberagaman atau kebhinekaan, sebenarnya telah muncul sejak lama, dan untuk menghindari problem besar dari konflik SARA tersebut, maka perlu kiranya dibangun kesadaran tentang multikultural pada masayarakat kita kembali, agar tidak mudah terpecah belah akibat perbedaan yang ada.

Ideologi multikultural perlu ditanamkan sejak dini pada anak-anak kita, sehingga karakter kebangsaan yang dimiliki oleh generasi penerus tersebut kuat, dan terhindar dari perpecahan bangsa. Bila kita melihat indikator akan terjadinya perpecahan pada bangsa kita, menurut Lickona (1992), ada sepuluh tanda-tanda tersebut, yaitu: 1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, 2) ketidakjujuran yang membudaya, 3) semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orangtua, guru, dan pemimpin, 4) pengaruh peergroup terhadap tindak kekerasan, 5) meningkatnya kecurigaan, dan kebencian, 6) penggunaan bahasa yang memburuk, 7) penurunan etos kerja, 8) menurunnya rasa tanggung jawab sosial individu dan warga negara, 9) meningginya perilaku merusak diri, 10) semakin hilangnya pedoman moral. Dan ironisnya hampir semua dari sepuluh indikator tersebut telah terjadi di Indonesia, mulai dari kenakalan remaja, geng motor, korupsi, pembunuhan, rendahnya etika dan moral kita.

Pentingnya kesadaran multikultural yang telah diuraikan sebelumnya, diharapkan mampu mengurangi konflik-konflik, dan tanda-tanda kehancuran bangsa ini. Akan tetapi, untuk membangun kesadaran tentang multikultural bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan kerja keras, dan tekad yang kuat untuk mampu mewujudkannya. Salah satu solusinya adalah dengan menghadirkan multikulturalisme di sekolah melalui pendidikan multikultural. Dengan pendidikan multikultural di sekolah, diharapkan karakter kebangsaan siswa/siswi (pelajar) bisa terbangun sejak dini.

Sebagaimana yang di kemukakan oleh Mahfud (2009) bahwa: “Wacana pendidikan multikultural tersebut dimaksudkan untuk merespons fenomena konflik etnis, sosial, budaya yang kerap muncul di tengah-tengah masyarakat yang berwajah multikultural. Wajah multikultural di negeri ini hingga kini ibarat api dalam sekam, yang suatu saat bisa muncul akibat suhu politik, agama, sosial budaya yang memanas, yang memungkinkan konflik tersebut muncul kembali. Tentu penyebab konflik banyak sekali tetapi kebanyakan disebabkan oleh perbedaan politik, suku, agama, ras, etnis dan budaya. Beberapa kasus yang pernah terjadi di tanah air yang melibatkan kelompok masyarakat, mahasiswa bahkan pelajar karena perbedaan pandangan sosial politik atau perbedaan SARA tersebut”

Kita harus mampu menjadikan sekolah sebagai pusat sosialisasi, dan pembudayaan nilai-nilai multikulturalis. Melalui pendekatan inilah, diharapkan bangsa Indonesia akan berhasil membentuk karakter generasi mudanya. Selanjutnya, agar peserta didik memiliki kepekaan dalam menghadapi gejala-gejala, dan masalah-masalah sosial yang berakar pada perbedaan suku, ras, agama dan tata nilai yang terjadi pada lingkungan masyarakatnya. Hal ini dapat diimplementasi baik pada substansi, maupun model pembelajaran yang mengakui dan menghormati keanekaragaman budaya.

Implementasi Pendidikan Bernilai Multikulturalisme di Sekolah

Pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan mengenal, menerima, menghargai, dan merayakan keragaman kultural. Secara spesifik, Banks (1993) menyatakan bahwa pendidikan multikultural dapat dikonsepsikan atas lima dimensi, yaitu: pertama, dimensi integrasi isi/materi (content integration). Dimensi ini berkaitan dengan upaya untuk menghadirkan aspek kultur yang ada ke ruang-ruang kelas. Kedua, dimensi konstuksi pengetahuan (knowledge construction). Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk memahami, dan merekonstruksi berbagai kultur yang ada. Ketiga, dimensi pendidikan yang sama/adil (an equity paedagogy). Dimensi ini menyesuaikan metode pengajaran dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya (culture) ataupun sosial (social). Keempat, dimensi pengurangan prasangka (prejudice reduction). Dan kelima, dimensi pemberdayaan budaya sekolah, dan stuktur sosial (Empowering school culture and social stucture). Dimensi ini merupakan tahap dilakukannya rekonstruksi, baik struktur sekolah, maupun kultur sekolah.

Pendidikan multikultural dalam proses implementasi di sekolah memiliki dua masalah yang paling mendasar yaitu: pertama, problem kemasyarakatan dan kedua, problem pembelajaran pendidikan mutikultural. Untuk itu, dalam proses pengimplementasian pembelajarannya, sangat perlu mengetahui dimensi-dimensi pendidikan berbasis multikulturalnya terlebih dahulu. Banks (1993) mengemukakan ada empat pendekatan yang mengintegrasikan materi pendidikan multikultural ke dalam kurikulum maupun pembelajaran di sekolah, dan bila dicermati relevan untuk diimplementasikan di Indonesia.

Pertama, pendekatan kontribusi (the contributions approach). Pendekatan ini cirinya adalah dengan memasukkan pahlawan/pahlawan dari suku bangsa/etnis, dan benda-benda budaya ke dalam pelajaran yang sesuai. Kedua, pendekatan aditif (aditif approach). Pada tahap ini dilakukan penambahan materi, konsep, tema, perspektif. Diharapkan dengan wawasan yang lebih luas tentang keragaman budaya, kehidupan, persahabatan, pengetahuan, siswa akan tumbuh menjadi orang yang inklusif, mudah menerima yang berbeda, toleran, dan menghargai orang lain.

Ketiga, pendekatan transformasi (the transformation approach). Pendekatan ini mengubah asumsi dasar kurikulum, dan menumbuhkan kompetensi dasar siswa dalam melihat konsep, isu, tema, dan problem dari beberapa perspektif, dan sudut pandang etnis. Dan keempat, pendekatan aksi sosial (the sosial action approach). Pendekatan ini mencakup semua elemen dari pendekatan transformasi, ditambah lagi komponen yang mempersyaratkan siswa membuat aksi. Tidak ketinggalan juga, kemampuan dan peran guru di dalam membawa nilai-nilai multikultural di sekolah merupakan hal yang sangat penting.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa pendidikan, dan kebudayaan yang ada di sekolah harus bisa memfasilitasi proses belajar mengajar yang dapat mengubah perspektif monokultural yang esensial, penuh prasangka, dan diskriminatif, menuju kepada perspektif multikulturalis yang menghargai keragaman, dan perbedaan, toleran, dan sikap terbuka, yang pada akhirnya akan melahirkan karakter bangsa yang istimewa. Semoga…

 

 

Orang Tua sebagai Api Potensi Anak

KOPI - Seringkali kita mendengar mengenai keluarga sebagai tempat pendidikan pertama anak sebelum mereka mengenal dunia luar. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa karakter dari seorang anak sangat berpengaruh dari apa yang ia terima dan juga lihat di rumah. Mayoritas orang meyakini bahwa pendidikan anak yang baik itu juga berdasarkan kontribusi keluarganya. Dan oleh sebab itu, sangat diyakini bahwa upaya tepat yang keluarga perjuangkan kepada anak-anaknya akan membantu anak-anaknya sukses dalam pendidikan dan masa depan.

Menurut Dewey, pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan yang fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia. Dengan mempercayai sistem yang sudah berjalan sejak lama, tidak sedikit orang tua melepas anaknya secara penuh kepada institusi pendidikan yang menaungi anaknya. Sebuah institusi yang dipercaya memberikan pendidikan ini lantas tidak sepenuhnya berkontribusi bagi kepribadian dan juga intelektual anak. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pendidikan bukan saja masalah intelektual, namun juga emosional yang justru tidak diketahui oleh banyak orang.

Sekolah yang memberikan pendidikan bagi anak tidak memiliki wewenang sebebas dan sebesar itu dalam perkembangan anak. Dapat dilihat, masih banyak orang tua yang mendaftarkan anak-anaknya ke bimbingan belajar ataupun tempat les karena anaknya belum dapat belajar secara maksimal di sekolah. Dari hal semudah ini saja kita dapat melihat bahwa perhatian yang diberikan oleh guru yang mengajar tidak dapat tersalurkan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan setiap anak, terlebih lagi masalah perkembangan emosionalnya.

Seorang ahli psikologi, Kartono, menjelaskan bahwa kenakalan pada anak terjadi karena adanya pengabaian sosial. Banyak orang tua yang meremehkan masalah ini dan sekedar menarik kesimpulan bahwa anak-anak seusia itu memang nakal. Namun orang tua juga harus cermat, apakah kenakalan yang dilakukan anaknya itu berdampak sesuatu yang positif atau justru negatif. Contohnya adalah merokok. Tentunya ini bukan tergolong kenakalan, justru merupakan masalah jika semua anak remaja merokok karena orang tua berasumsi masa itu merupakan masa nakal anak. Kenakalan ini juga akan berakibat fatal bagi pendidikan. Kenakalan yang bersumber dari pengabaian sosial ini akan membuat pendidikan anak semakin terbelakang karena mereka belum sadar pentingnya pendidikan dan orangtua tidak sadar kondisi anak yang butuh dukungan. Efek lebih lanjutnya adalah pendidikan dirasa semakin susah oleh anak dan mereka jadi malas sekolah.

Orang tua yang tidak mengawasi dan memperhatikan anaknya sejak ini akan beresiko lebih susah mengatur anaknya kelak saat beranjak. Pembentukan karakter terbaik adalah sejak dini, dan aksi yang sebaiknya dilakukan adalah antisipasi, bukan kuratif. Semakin besar anak, mereka akan semakin susah diatur, justru mereka akan memberontak. Oleh sebab itu, alangkah baiknya orang tua berperan dalam proses pertumbuhan dan pendidikan anak sejak dini.

Terdapat empat hal yang dapat dilakukan orang tua dalam membantu pendidikan anak, yaitu bertanya, mendengar, memberitahu, dan memfasilitasi. Yang pertama adalah bertanya. Sesederhana orang tua bertanya bagaimana kabar anak, bagaimana sekolah anak, bagaimana teman-teman anak, ini akan menjadi salah satu celah orang tua lebih mengenal anaknya dan anaknya akan lebih terbuka kepada orang tuanya. Kegiatan bertanya ini menjadi penting karena belum tentu semua anak mau bercerita kepada orang tuanya, bahkan ada anak yang harus dipaksa dulu baru mau bercerita kepada orang tuanya. Biasakan bertanya pada anak hingga mereka terbiasa untuk bercerita, barulah orang tua menjalankan peran mendengar. Belajar mendengar cerita anak, belajar memahami pola pikir anak. Dari kegiatan ini, orang tua akan lebih mengenal karakter anaknya dan lebih mudah untuk membenarkan karakter yang dirasa kurang baik melalui fase memberitahu. Mayoritas orang salah kaprah dalam fase memberitahu ini, dan justru yang ada adalah larangan dan hukuman. Mungkin larangan dan hukuman merupakan cara yang paling efektif untuk membuat anak jera dalam jangka pendek, tetapi tidak dalam jangka panjang. Apabila mereka sudah terlepas dari pengawasan orang tua, mereka berpotensi untuk mencoba semua larangan dan mencari kebebasan dari keterkekangan selama ini. Memberitahu lebih ke arah memberikan pemahaman akan setiap hal yang berkaitan dengan anak. Titik susahnya adalah tidak mudah memberikan pemahaman bagi anak. Apabila orang tua sudah kehabisan akal, biarkan anak mencoba dan merasakan efek negatifnya. Namun ini masih dalam bimbingan orang tua, barulah pada akhirnya orang tua mengingatkan lagi mengenai pemahaman yang semula telah dipaparkan. Yang terakhir adalah memfasilitasi. Bagian ini juga semakin banyak disalah artikan dan justru membuat anak menjadi manja. Contohnya adalah tidak bisa fokus belajar di sekolah dan tidak bisa pelajaran. Akhirnya anak meminta les tambahan dan selamanya ia tidak akan mencoba merefleksikan diri untuk fokus pada apa yang ada di depan mata. Kebanyakan orang tua justru memanjakan anaknya di tahap memfasilitasi dengan memberikan segala keinginan anak yang justru membuat mereka menjadi anak yang lemah. Orang tua yang cerdas adalah orang tua yang membatasi fasilitas yang diberikan untuk anak agar mereka belajar mengenai perjuangan dan juga pantang menyerah. Apabila di tahap mendengar mereka mengeluhkan susah belajar, orang tua dapat terus bertanya hingga ditemukan akar permasalahannya, lalu memberitahu anak bagaimana solusi terbaik untuk anak. Semuanya tidak selalu dipenuhi dengan fasilitas. Kemudian, setelah anak mulai beranjak dewasa, intensitas tahapan ini harus semakin dikurangi agar anak tidak terlalu bergantung pada orang tua dan tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. Orang tua harus mampu mengembalikan semua pertanyaan kepada anak sehingga mereka belajar menemukan solusi mereka sendiri. Dengan demikian anak akan belajar untuk mandiri ketika emosional dan intelektual mereka sudah mulai matang.

 

 

Diharapkan orang tua dapat memberikan dukungan kepada anak sehingga dapat membantu mereka dalam pendidikannya, baik intelektual dan emosional. Anak yang dibimbing oleh orang tuanya secara tepat akan memiliki kestabilan emosional yang membuat kemampuan intelektual mereka terasah. Mereka yang stabil secara emosional tidak akan merasa kekurangan perhatian ataupun kasih sayang sehingga dapat menyerap ilmu di sekolah dengan baik. Efek kedepannya adalah mereka akan tumbuh menjadi anak yang memiliki kepribadian yang baik dan juga sukses dalam pendidikan, serta mampu menentukan masa depan. Dan yang paling penting adalah mereka juga akan berusaha berdampak bagi orang sekitar, seperti bagaimana keluarga memberikan dampak positif bagi dia. Sehingga orang tua memegang peran penting bagi masa depan anak, sebagai api yang membuka potensi pada anak.

Baca selengkapnya...

 

Penyandang Disabilitas Adalah Kita (Upaya Peningkatan Partisipasi Politik Penyandang Disabilitas)

Semenjak bergulirnya reformasi, Indonesia telah melaksanakan pemilihan umum (Pemilu) sebanyak empat kali, yaitu: 1999, 2004, 2009 dan 2014. Bila melihat pelaksanaan beberapa Pemilu sebelumnya, maka Pemilu di Indonesia mungkin dapat disebut sebagai kegiatan kepemiluan paling kompleks di dunia. Terdapat empat juta petugas di 550.000 TPS, yang tersebar di berbagai penjuru negara yang terdiri atas 17.000 pulau. Mereka bertugas mengelola 700 juta surat suara dengan 2.450 desain yang berbeda untuk memfasilitasi pemilihan sekitar 19.700 kandidat dalam satu pemilu presiden dan 532 dewan perwakilan di tingkat nasional dan daerah. Sejauh ini, pemilu-pemilu tersebut dapat berlangsung dengan relatif bebas dan damai. (Gambaran Singkat Pemilihan Umum 2014 di Indonesia,” Rumah Pemilu, diakses 30 Mei 2015, http://www.rumahpemilu.org/in/read/3366/Brief-Overview-of-the-2014-Elections-in-Indonesia.html).

Partisipasi Politik Para Penyandang Disibilitas

Berdasarkan prestasi Indonesia dalam menyelenggarakan pemilu tersebut, tak mengherankan bila Indonesia saat ini disebut sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan India. Namun, kesuksesan tersebut dinilai masih belum memuaskan bila pendapat pemilih penyandang disabilitas (difabel) turut diperdengarkan. Jika diperkirakan jumlah penyandang disabilitas mencapai lebih dari 10 persen dari total penduduk Indonesia maka secara gambaran kasarnya berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang berjumlah 185.822.507 pada pemilu 2014 yang lalu. Dari perbandingan itu, maka kisaran jumlah pemilih penyandang disabilitas adalah sekitar 18 juta lebih pemilih. Dari segi kuantitas partisipasi politik penyandang disabilitas, tentu bukanlah jumlah yang sedikit.

Partisipasi politik sendiri merupakan salah satu aspek penting dari sebuah demokrasi. Partisipasi politik merupakan taraf partisipasi politik dari warga masyakarat tak terkecuali kalangan penyandang disabilitas dalam kegiatan-kegiatan politik baik yang bersifat aktif maupun pasif, bersifat langsung maupun tidak langsung, guna mempengaruhi kebijakan pemerintah. Namun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa saat ini penyandang disabilitas masih menghadapi sejumlah hambatan untuk menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu, maupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Padahal, hak penyandang disabilitas dalam berpolitik sebenarnya telah dijamin oleh undang-undang, bahkan secara normatif jaminan hak mereka telah dilindungi berbagai instrumen hukum internasional seperti CRPD (Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas).

Sebagai salah satu negara yang ikut meratifikasi CRPD, Indonesia tentunya memiliki komitmen dalam memberikan kemudahan bagi kalangan penyandang disabilitas, termasuk pemberian jaminan hak partisipasi dalam berpolitik (Adinda, 2010:77). Instrumen hukum terkait jaminan hak penyandang disabilitas telah diimplementasikan melalui regulasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Hanya saja regulasi ini terbatas mengatur akses kalangan penyandang disabilitas dalam pelayanan publik. Dan pemberian jaminan partisipasi kalangan penyandang disabilitas sifatnya masih spasial, sebatas pengaturan instrumen pelaksana teknis, seperti Peraturan KPU Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Pemungutan dan Penghitungan Suara di Tempat Pemungutan Suara dalam Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPR Provinsi dan Kabupaten/Kota; serta Peraturan KPU No. 29 Tahun 2009 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Pemungutan dan Penghitungan Suara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

Beberapa hal dipersoalkan terkait instrumen pelaksana teknis pemilihan seperti meja khusus dan pengaturan pintu masuk maupun keluar TPS bagi pemilih penyandang disabilitas yang menggunakan kursi roda, alat bantu tuna netra untuk memberikan suara, bantuan saksi terjamin, hingga kewajiban merahasiakan pilihan pemilih dengan penandatangan surat pernyataan pendamping pemilih (Masduqi, 2010:28). Meski peraturan tersebut dilaksanakan KPU dalam menjamin penyandang disabilitas dapat memberikan suara pada pemilu, kenyataannya hak politik mereka dinilai banyak kalangan masih disepelekan. Rendahnya kesadaran dan pengetahuan tentang sistem, tahapan maupun mekanisme pemilu mengakibatkan hak suara penyandang disabilitas rentan termanipulasi dan mengalami penurunan setiap periode penyelenggaraan pemilu. Menurunnya tingkat partisipasi ini tentunya kontraproduktif dengan jaminan pelaksanaan hak politik tanpa diskriminasi terutama pada kalangan penyandang disabilitas, dengan kata lain, partisipasi politik para penyandang disibilitas di negeri ini masih rendah.

Penyebab Rendahnya Partisipasi Politik Penyandang Disabilitas

Partisipasi setiap warga negara dalam pemilu merupakan hak asasi yang harus dijunjung tinggi. Setiap warga negara berhak terlibat dalam mengambil kebijakan politik dan negara wajib melindungi hak-hak tersebut (Soeradiredja, 2011). Ketentuan tentang partisipasi secara aktif dalam kehidupan berpolitik terkandung dalam pasal 21 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, pasal 25 Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, pasal 28D ayat (3), pasal 28H ayat 2 dan pasal 28I ayat (2) UUD 1945 setelah amandemen dan pasal 43 ayat (1) dan (2) UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia. Inti pasal-pasal tersebut antara lain setiap warga negara berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam pemerintahan, baik kesempatan untuk berpartisipasi dalam pemerintahan berupa dipilih dan memilih dalam pemilu maupun aksesibilitas untuk mendapatkan kesempatan tersebut tanpa diskriminasi. Landasan hukum tersebut berlaku pula bagi penyandang disabilitas dan diperkuat dengan Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat.

Masih rendahnya tingkat partisipasi penyandang disabilitas pada prinsipnya dilatar belakangi oleh banyak faktor, diantaranya adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini meliputi beberapa hal, yaitu: pertama, sikap apatis dari para penyandang disabilitas akibat dampak buruknya dari kinerja pemerintah kepada penyandang disabilitas (kepedulian kepada penyandang disabilitas); kedua, tingkat pendidikan dari para penyandang disabilitas; ketiga, masih banyak keluarga dari penyandang disabilitas yang malu memiliki anggota keluarga yang penyandang disabilitas, sehingga membuat para penyandang disabilitas sendiri enggan untuk datang ke tempat pemilihan dan menggunakan hak suaranya, keempat, masih rendahnya keterlibatan organisasi para penyandang disabilitas dalam pemilu dan pilkada.

Sementara itu, faktor eksternal melibuti beberapa hal, yaitu: pertama, situasi dimana petugas KPPS belum paham cara memperlakukan penyandang disabilitas; kedua, perlakuan petugas TPS yang berbeda antara para penyandang disabilitas yang tidak memiliki akses untuk memilih dilokasi TPS dengan para pasien (orang sakit) di rumah sakit (yang bisa menjemput pemilih atau mengantar surat suara); ketiga, tata ruang daerah-daerah di Indonesia terbatas; keempat, belum terakumulasi dan terdatanya secara baik penyandang disabilitas yang mempunyai hak pilih di Indonesia; kelima, masyarakat belum peka terhadap permasalahan-permasalahan terkait hak-hak penyandang disabilitas; keenam, belum terbukanya orang tua penyandang disabilitas, ketujuh, sosialisasi masih rendah belum maksimal, kedelapan kurang tersedianya media yang bisa membantu para penyandang disabilitas dalam memperoleh informasi tentang kandidat calon legislatif, partai politik hingga mekanisme pencoblosan pada tahapan pemungutan suara; dan kesembilan, belum maksimalnya pihak KPU dan pihak terkait melibatkan organisasi dari penyandang disabilitas dalam persoalan partisipasi politik para anggotanya.

Upaya-upaya Peningkatan Partisipasi Politik Penyandang Disabilitas

Banyaknya faktor yang menyebabkan partisipasi politik penyandang disabilitas masih rendah dan terkesan mengalami penurunan setiap tahunnya, tentu saja hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan KPU. Dari sekian banyak faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan partisipasi politik penyandang disabilitas tersebut, maka dapat dibagi menjadi tiga permasalahan pokok, yaitu: pertama, permasalahan database (basis data) penyandang disabilitas; Kedua, permasalahan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas; ketiga, permasalahan sosialisasi dan pemilihan media informasi.

Mencermati tiga permasalahan tersebut, maka harus segera diatasi dengan upaya-upaya yang sifatnya strategis dan tepat sasaran. Beberapa upaya (langkah strategis) yang dapat dilakukan yaitu: pertama, pendataan yang baik, akuran dan tepat, meliputi jumlah dan ragam penyandang disabilitas, mulai dari level/tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi maupun negara, dengan cara melakukan sensus penyandang disabilitas (ragam/jenis penyandang disabilitas). Pendataan ini nantinya akan melahirkan database (basis data) yang lengkap. Basis data penyandang disabilitas di Indonesia sangat penting dimiliki guna menemukan pendekatan terbaik (memperlakukan penyandang disabilitas) dalam mekanisme Pemilu dan Pilkada pada saatnya nanti. Hari ini seperti yang kita ketahui bersama, database penyandang disabilitas ini menjadi persoalan karena perbedaan pradigma dalam melihat penyandang disabilitas (dari sudut sosial atau dari sudut kesehatan), untuk itu maka penyelesaian basis data/pendataan ini menjadi sangat penting dan mendesak dilakukan. Terlalu dhoif (lemah) kalau bangsa ini terus setiap lima tahun sekali bermasalah dalam persoalan data penyandang disabilitas, sementara Pemilu dan Pilkada menjadi pekerjaan yang rutin dilakukan setiap lima tahun sekali.

Kedua, upaya kedua yang dilakukan adalah pelaksanaan aksesibilitas yang sesuai dengan ragam dan kebutuhan dari penyandang disabilitas dalam rangkaian pelaksanaan pemilu maupun pilkada. Namun, sebagai catatan penting terkait dengan aksesibilitas penyandang disabilitas adalah aksesibilitas tersebut akan mustahil dapat tercipta/terwujud, apabila KPU beserta penyelenggara Pemilu dan Pilkada pada tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan negara tidak memiliki data yang akurat baik itu dari jumlah penyandang disabilitas maupun ragam penyandang disabilitas. Untuk itu, kepemilikan database ini menjadi sangat penting (poin pertama), guna mempermudah pelaksanaan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas itu sendiri.

Selanjutnya, apabila database sudah ada (lengkap) dan baik, maka aksesibilitas TPS dapat dilakukan sesuai dengan ragam dari penyandang disabilitas. Seperti yang kita ketahui bahwa ragam dari penyandang disabilitas itu, meliputi: penyandang disabilitas fisik (tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, tuna netra), penyandang disabilitas intelektual; penyandang disabilitas mental; dan penyandang disabilitas sensorik. (pasal 4 ayat 1 RUU Penyandang Disabilitas). Disinilah nanti pentingnya peran dari petugas KPPS, apakah mereka datang kerumah (menjemput bola) atau tidak, maka semua tindakan KPPS itu disesuaikan dengan ragam dari penyandang disabilitas tersebut. Demikian juga, dalam hal teknis pemilihan dan penataan kebutuhan TPS (meja dll) serta pemilihan lokasi TPS, tentu harus ramah terhadap penyandang disabilitas.

Ketiga, upaya ketiga adalah sosialisasi dan pemilihan media yang bisa membantu para penyandang disabilitas dalam memperoleh informasi. Sosialisasi dan pemilihan media yang tepat bagi penyandang disabilitas menjadi sangat penting dilakukan. Tentunya, keterbatasan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas pada saat tertentu akah melahirkan (membutuhkan) model sosialisasi dan media yang khusus dan khas, yang berbeda dengan masyarakat umum lainnya. Karena itu, mulai dari sekarang KPU harus memikirkan model-model sosialisasi yang tepat, sesuai dengan ragam penyandang disabilitas, demikian juga, terkait dengan pemilihan media informasi yang dibutuhkan penyandang disabilitas.

Terakhir…ketiga upaya (langkah strategis) tersebut pada dasarnya memiliki keterkaitan yang erat satu sama lainnya, oleh sebab itu, poin-poin tersebut harus dilakukan secara bertahap dan dilaksanakan secara keseluruhan. Pemerintah, KPU dan kita semua harus memiliki komitmen yang tinggi untuk meningkatkan partisipasi politik penyandang disabilitas. Upaya-upaya peningkatan partisipasi politik penyandang disabilitas di negeri ini harus terus dilakukan, karena mereka adalah kita, saudara kita sebangsa dan setanah air.

Penulis adalah Anggota PPWI-Aceh, email: This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it

 

 

Saat Kesibukan Orang Tua Memakan Korban

KOPI, Semarang – Di era ini, terkadang orang tua sibuk dengan urusan mereka sendiri. Mereka lupa sebenarnya apa yang mereka upayakan di luar, adalah untuk mereka yang di rumah. Coba bayangkan, jika sukses di luar namun keluarga hancur berantakan. Persoalan terbesar adalah saat anak menjadi korban dari sibuknya orang tua.

Anak yang kurang perhatian dari orang tua, biasanya akan mencari perhatian di luar rumah. Mereka akan mencari orang-orang yang mereka anggap peduli dengan dirinya. Mereka akan mencari sosok lain pengganti orang tua, yang sebenarnya belum tentu baik bagi diri mereka. Banyak sekali berita-berita tentang kenakalan dan kejahatan yang pelakunya adalah anak, disebabkan oleh orang tua yang tidak memperhatikan perkembangan mereka.

Sebut saja kasus balapan liar yang sering terjadi di jalur lingkar Kendal, Patebon. Berdasarkan penulusuran yang kami lakukan, para pelaku adalah anak-anak yang bertaraf ekonomi keluarga menengah ke atas. Memang ada beberapa yang dari golongan ekonomi bawah. Namun, dari semua kelompok balapan liar ini, ada beberapa kesamaan alasan. Mereka melakukan balapan ini untuk senang-senang. Mereka merasa diri mereka asing saat berada di rumah.

Pada kasus balapan liar ini, dapat dijadikan sebuah analogi kejiwaan. Saat anak merasa keberadaannya tidak diakui di sebuah komunitas (kelompok), maka mereka akan mencari sosok komunitas lain yang dapat menerima mereka. Seorang remaja yang enggan disebut namanya, panggil saja AD, adalah seorang joki balapan liar. Dirinya mengaku sudah 3 tahun menjalani hobinya sebagai joki balapan liar. AD menjadi joki balapan liar sudah sejak dirinya kelas 2 SMA. Dirinya menyukai hobinya itu, karena komunitas tersebut mengakui dirinya sebagai joki handal. Banyak pujian dan sanjungan dari teman sekomunitasnya bahkan tidak sedikit dari mereka yang memberikan bonus uang saat dirinya memenangkan pertandingan ilegal itu.

AD berasal dari keluarga yang cukup berada. Bapaknya seorang pengusaha di bidang ketenagakerjaan dan mempunyai sebuah PT. Sebenarnya AD tidak pernah mengeluh mengenai kebutuhan finansialnya. Dirinya mengaku cukup dalam satu hal itu. Namun ketercukupan finansial yang selama ini dirasakan AD rupanya tidak membuatnya meninggalkan hobi yang berbahaya ini. AD melakukan ini untuk sebuah pengakuan yang selama ini tidak ia temukan di rumah. Ayahnya selalu sibuk dengan urusannya, sedang ibunya sudah tidak serumah karena perceraian.

Berbeda dengan AD, sebut saja AR, seorang remaja putri yang berkenan berbagi ceritanya. AR lebih senang saat dia bersama teman-temannya dibanding saat dirinya di rumah. Baginya rumah itu membosankan. Saat dirinya di rumah, orang tuanya terkesan cuek. “Setiap kali pulang sekolah atau di saat mau ujian, orang tuaku ngga pernah menanyakan apa atau bagaimana. Dipikirnya kita ini ngga butuh perhatian?” demikian ucapnya dengan nada sedikit tinggi. AR yang masih duduk di bangku SMA ini lebih nyaman dengan teman sejawat atau pacarnya. Baginya teman adalah tempat yang dirinya dapat menumpahkan segala keluh kesah. Menurut AR, Handphone-nya lebih sering berdering dari teman atau pacarnya.

AR memang masih berusia belia. Belum lagi genap berusia 18 tahun, namun dirinya mengaku sudah pernah melakukan hubungan badan. Dia mengaku hal itu dilakukan karena cintanya pada sang pacar. Sosok yang perhatian dan selalu menanyakan kabar dirinya menjadi alasan AR jatuh cinta pada lelaki yang dia tidak mau menyebutkan namanya itu. Tugas orang tua memberikan perhatian dan dukungan terlihat sepele. Namun berakibat fatal saat anak sudah antipati terhadapt orang tua. Orang tua sudah seharusnya dapat menjadi sahabat, teman dan sebagai suri tauladan yang bagi bagi anak-anaknya. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Tegak dan runtuhnya bangsa Indonesia sangat bergantung dari orang tua mendidik anak-anak bangsa ini.

 

Pejabat Peneliti di Dunia Riset Kompak Melakukan Korupsi Berjamaah

KOPI - Bangsa Indonesia berduka hebat atas masih merebaknya korupsi berjamaah. Pelaku korupsi terus bertambah dan melibatkan pejabat pejabat berdasi yang rata rata adalah dilakukan orang Parpol (partai politik). Kalau mau tau nama nama koruptor dan parpol yang terlibat silahkan tanya mbah Google / Yahoo. Maka mata anda pun akan terbelalak menyaksikan lautan kasus korupsi lengkap dengan suguhan bodi bodi yang aduhai. Susu di Mangga Besar, bersih bersih busi di Puncak dan lain lain.

Baca selengkapnya...

 

Saat Lulusan Lembaga Pendidikan Masih Bermental Bobrok, Tanggungjawab Siapa?

KOPI - Pemandangan miris, bahkan menyakitkan hati masih terus terlihat saat pengumuman kelulusan peserta didik di negeri ini. Kelulusan yang mestinya dimaknai dengan segala ragam rencana untuk menuju masa depan yang dicita-citakan, malah diisi dengan perayaan memuakkan.

Aksi coret baju seragam, yang kadang diikuti dengan perilaku menyesatkan, menjadi tontonan masyarakat negeri ini. Bahkan kadang membuat sebagian masyarakat tersulut emosi ketika para siswa; yang sebentar lagi akan memasuki dunia perguruan tinggi, sepanjang jalan membuat keributan. Sungguh, ini adalah tanggungjawab bersama warga negeri ini untuk memperbaiki keadaan.

Baca selengkapnya...

 

Sadari Hal Ini Sebelum Anda Mendirikan Sebuah Startup

KOPI - Nama startup sering sekali kita dengar saat berselancar di internet. Startup merupakan sebuah perusahaan yang baru dirintis dan jenis usahanya condong kepada teknologi atau website. Seiring dengan berkembangnya teknologi, serta penggunaan teknologi online sebagai media komunikasi maupun berbisnis, kini startup adalah jenis bisnis yang sangat menarik bagi berbagai kalangan. Bahkan ojek pun sudah disulap menjadi sebuah perusahaan online.

Baca selengkapnya...

 

Membangun Startup Tidak Sulit

KOPI - Mudah bagi kita untuk merasa terinspirasi dari cerita sukses startup masa kini. Seperti Jack Ma pendiri Alibaba dari Cina atau Achmad Zaky dengan Bukalapak.com nya. Mereka berasal dari kalangan biasa, layaknya 74 juta masyarakat Indonesia saat ini. Terlebih lagi, di tahun 2015 bisnis e-commerce di Indonesia bernilai sekitar US$ 18 Milyar dan ditargetkan meningkat hingga US$ 130 Milyar pada tahun 2020. Selain Indonesia, startup sangat berpeluang untuk mengembangkan pasar ke Asia, salah contohnya adalah iprice, startup yang sukses mengembangkan bisnisnya di 7 negara Asia Tenggara.

Baca selengkapnya...

 

Lima Fokus Kegiatan Pemkab Nias Barat yang Wajib Diimplementasikan Pimpinan SKPD

KOPI - Dalam rangka menyongsong program 100 hari kerja, sebagai orang nomor 1 yang baru di jajaran Pemerintah Kabupaten Nias Barat, Bupati Nias Barat, Faduhusi Daely, S.Pd bersama wakilnya, Khenoki Waruwu menggelar Rapat Koordinasi Pemerintahan Baru pada tanggal 28 April 2016, bertempat di Tokosa Hall – Desa Onolimbu Lahomi, Nias Barat. Dalam pidato bimbingan dan arahannya yang berapi-api, memaparkan lima fokus kegiatan Pemerintah Kabupaten Nias Barat yang menjadi skala prioritas utama dalam pemerintahannya.

Baca selengkapnya...

 

Dr. H. Suhardi Duka, MM, Ketua DPD Partai Demokrat Sulbar Lakukan Konsolidasi Tiada Henti

Laporan dan Opini oleh OKT

KOPI - Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Sulawesi Barat DR. H. Suhardi Duka, MM  yang akrab disapa Pa SDK Oleh kolega dan masyarakat Provinsi yang terletak di jasirah Mandar ini sejak dilantik sebagai Ketua DPD Partai Demokrat di Provinsi ke 33 di Republik Indonesia pada tahun 2012 yang lalu sudah rajin turba ( turun ke Kabupaten yang terdapat di Sulbar ) tentu dalam rangka konsolidasi menyambut Pemilu 2014 dan Pilkada di dua Kabupaten Polman dan Mamasa.

Baca selengkapnya...

 

Ahok : Anggap Tuhan Ngawur

KOPI, Jakarta – Masih segar dalam ingatan kita, ketika Najwa Shihab mengundang Ahok sendirian dalam acaranya Mata Najwa beberapa saat lalu. Dalam aca…
 

YLKI: Hati-hati Beli Properti di Area Reklamasi

KOPI, Jakarta - Anda ingin investasi  beli properti seperti Apartemen, superblok, perumahaan di lahan Reklamasi. Tanyakan dulu izinnya apakah sudah le…

Baca selengkapnya...

 

Pengelolaan Kolaboratif yang Tidak Kooperatif Taman Wisata Alam Rimbo Panti

Oleh: Ricky Riswandi, S.H., M.Si, Staf Pengajar pada STIH Lubuk Sikaping

Latar Belakang

KOPI - Sumber Daya Alam Hayati (termasuk didalamnya ; sumber daya hutan) dengan segenap keanekaragamannya adalah kekayaan alam yang mengemban fungsi produksi/ ekonomi, sekaligus fungsi ekologi, perlindungan, sosial dan budaya yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa secara lestari. Keberadaan Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) harus dilestarikan agar fungsi, manfaat dan arti pentingnya dapat dirasakan semua pihak, terutama dalam mendukung hidup dan kehidupan masyarakat.

Baca selengkapnya...

 

Kabid Humas Polda Riau Menipu Wartawan TOP Saat Malam Kenal Pamit

KOPI, Pekanbaru - Polda Riau mengadakan kegiatan malam kenal pamit Kapolda Riau mengundang Artis papan atas yang yakni Tukul Arwana. Tarif untuk mena…

Baca selengkapnya...

 

Generasi yang Berkarakter

KOPI - Sebuah hal yang mengkritik bangsa ini adalah lemahnya generasi di tengah status hidup yang modernis. Jika generasi ini dipertanyakan, tentu menjadi kegelisahan yang begitu penting untuk diperhatikan, bukan saja dalam dunia pendidikan formal, lebih dari itu pendidikan yang dimaksud berawal dari hal yang mendasar dalam kehidupan yang biasa dibentuk menjadi sebuah keperibadian. Begitupun hangatnya perbincangan seputar generasi yang berkarakter belakangan ini, namun demikian bukan hanya persoalan antara murid dan guru, lebih dari itu salah satu yang menjadi fondasi penting yang kita maksud adalah peranan keluarga yang subtansi dalam menentukan sebuah generasi yang berkarakter ditenggah bangsa yang konon kekurangan kader ini !

Baca selengkapnya...

 

Ketika Angkutan Umum Mogok demi Menuntut Penghentian Angkutan Berbasis Aplikasi Online

KOPI - Beberapa hari lalu angkutan umum di Jakarta diberitakan telah melakukan demo menolak kehadiran angkutan umum berbasis online. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organda DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan, mengatakan, "Tuntutan mereka itu yang saya tahu ada dua, yaitu tentang peraturan pemerintah yang berkaitan dengan aplikasi dan soal Perda Nomor 5 Tahun 2014 tentang Usia Kendaraan di Jakarta," ujar Shafruhan saat dihubungi Okezone, Senin (14/3/2016).

Baca selengkapnya...

 

Teknologi dari Kota Medan, Solusi Mengatasi Ketersediaan Hijauan

KOPI - Kota Medan (yang ditemukan oleh Guru Patimpus) adalah ibu kota dari Propinsi Sumatera Utara. Kota ini merupakan tempat muncratnya pertama kali…

Baca selengkapnya...

 

Aku Cinta Indonesia

KOPI - Indonesia Negara yang terkenal keaneka ragaman suku bahasa dan budaya. Bahkan Indonesia- lah Negara yang dulu pernah ada kerajaan-kerajaan ternama  mulai dengan adanya kerajaan  Kutai, Mataram, Singosari,Majapahit dan lainya. Dimana kerajaan-kerajaan tersebut telah melahirkan banyak karya seni serta budaya yang elok.

Baca selengkapnya...

 

Merantau Menjadikanmu Mandiri jadi Ayam Kampung

altKOPI- Merantau bisa membuka mata kita atas hal yang benar - benar ingin Anda lakukan dalam hidup. Di tempat asal, bisa jadi Anda sudah merasakan pangg…

Baca selengkapnya...

 

Pemimpin Baru Harapan Baru

Pemimpin BaruIbarat sebuah kompetisi atau pertandingan, pastinya mensyaratkan sebuah hasil yaitu ada yang kalah dan ada yang menang. Hal tersebut merupakan sesuatu…
 

Matikan TV-Mu!

altKOPI - Televisi merupakan media yang paling luas dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Dari kalangan orangtua, remaja, bahkan Anak-anak. Media ini ka…

Baca selengkapnya...

 

Mewaspadai Hoax (Berita Palsu)

KOPI - Babak kehidupan manusia tengah berada di era cyber, era internetisasi yang menjadikan makin tipisnya antara dunia maya dan dunia nyata dengan keberadaan teknologi internet yang semakin maju, menggunakan teknologi internet saat ini bukan hanya bisa lewat PC saja dengan kemajuan teknologi internet dapat diakses juga melalui telepon pintar (smart phone), Hal ini boleh jadi karena ponsel fungsinya kini tidak hanya untuk menelepon atau mengirim pesan singkat/SMS, tetapi pada ponsel-ponsel terutama yang berbasis android memiliki banyak aplikasi canggih sehingga semakin banyak hal bisa dilakukan. Semakin bertambah nilai dari ponsel tersebut, maka semakin efisien pula jalur informasi yang bisa didapatkan, sehingga baik itu untuk memperoleh informasi maupun beraktivitas media social begitu mudahnya dilakukan.

Baca selengkapnya...

 

Data Keanggotaan Organisasi Buruh Indonesia di Kemenaker RI Tidak Akurat

KOPI, Jakarta - Catatan Direktorat Kelembagaan dan Kerjasama Hubungan Industrial Kementerian Tenaga Kerja RI yang dirilis pada akhir tahun 2015 mengungkapkan adanya 6 (enam) organsasi buruh yang disebut Konfederasi, yaitu KASBI,KSBDSI, KSBSI dan KSN serta KSPI dan KSPSI. Riciannya KASBI hanya meliputi DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat dan sebagian lagi Jawa Tengah. KSBDSI meliputi 22 Provinsi dengan beragam federasi sebanyak 28 bentuk organisasi yang tersebar di berbagai daerah, terutama di wilayah Indonesia Timur.

Baca selengkapnya...

 
Artikel Lainnya...

Pansus I DPRD Padang Panjang Kulap ke PDAM
Minggu, 23 April 2017

KOPI, PADANG PANJANG - Meskipun pelanggan Perusahan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Padang Panjang 8000 pelanggan, namun PDAM masih tetap mengalami kerugian investasi. Hal ini dikatakan oleh Plt Direktur PDAM Padang Panjang, Jevie C Eka Putra. Menurutnya, kondisi ini terjadi dikarenakan terjadinya kebocoran pipa air yang sudah tidak layak pakai.   "Saat ini kita baru mampu mengganti pipa sepanjang 1,2 km dengan pipa paralon. Karena tahun 1989... Baca selengkapnya...

SDN 18 Sungai Pandahan Rehab Taman Kota
Jumat, 21 April 2017

KOPI, Pasaman - Yulinar, S.Pd kepala SDN 18 Sungai Pandahan Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman bersama majelis guru melaksanakan perehaban taman kota Lubuk Sikaping. Saat media ini turun ke lokasi kepala sekolah menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan atas anjuran dari pemerintah daerah, (20/04). "Pemerintah daerah menghimbau kepada seluruh instansi untuk membuat taman bunga masing-masing di wilayah Kecamatan Lubuk Sikaping," tutur... Baca selengkapnya...

Peringati HUT TMII, Bupati Pasaman Lepas Rombongan Seni Budaya ke Jakarta
Jumat, 21 April 2017

Bupati Yusuf Lubis saat menyalami rombongan menjelang keberangkatan ke Jakarta. KOPI,  Pasaman - Puluhan rombongan seni budaya dari Group Sanggar Pasaman Saiyo dilepas Bupati Pasaman Yusuf Lubis menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Kamis 20 April 2017. Pelapasan rombongan tersebut dalam rangka ulang tahun TMII di Jakarta. “Di samping HUT TMII, pihak panitia juga menggelar pegelaran budaya di Jakarta. Jadi, kesempatan kita dari... Baca selengkapnya...

Tim Persib Targetkan Jadi Juara Liga 1 2017
Jumat, 07 April 2017

KOPI, Bandung - Manajer Persib Umuh mengemukakan, Persib tidak akan bisa sebesar ini tanpa dukungan kuat Bobotoh, mereka di mana pun Persib bertanding selalu ada memberikan semangat dan energi untuk berjuang keras menghadapi lawan-lawannya.   “Oleh karena itu,  tidak ada harapan lain selain Persib harus berjuang dan mentargetkan jadi  juara Liga 1 2017 tahun ini, tanpa dukungan Bobotoh, Persib tidak akan seperti sekarang. Terimakasih,... Baca selengkapnya...

Dandim Aceh Selatan Terima Pasukan Satgas TMMD Ke 98
Selasa, 04 April 2017

KOPI, ACEH SELATAN – Komandan Kodim 0107/Aceh Selatan Letkol Kav Hary Mulyanto menerima Sebanyak 100 personel Batalyon Infanteri 115/Macan Lauser yang tergabung dalam Satgas TMMD Ke-98 tahun 2017 di Lapangan Makodim 0107/Aceh Selatan. Selasa (4/4/17).   Dandim 0107/Aceh Selatan Letkol Kav Hary Mulyanto mengatakan, Pasukan yang tergabung dalam Satgas TMMD ke 98 tersebut akan diterjunkan ke lokasi sasaran dan berbaur dengan kehidupan ... Baca selengkapnya...

Akting Ibu Negara Iriana Joko Widodo Berperan sebagai “Anak Paud”
Sabtu, 01 April 2017

KOPI, Pekanbaru - Kunjungan kerja ibuk negara Iriana Jokowi beserta Ibuk Mufidah Jusuf Kalla, ke Propinsi Riau, Rabu (29/3-17). Rombongan ini didampingi oleh kunjungan kerja istri-istri Menteri Kabinet Kerja yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE). Jadwal kunjugan kerja rombongan Istri Presiden Joko Widodo ke Riau mengunjungi sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), melakukann pemeriksaan kanker serviks leher rahim atau... Baca selengkapnya...

Persit Kodim Aceh Selatan Disambut Haru Nyak Siti Rohmat
Senin, 27 Maret 2017

KOPI, ACEH SELATAN - Kemiskinan yang dialami 'Nyak' Siti Rohmat, warga Desa Suak Bakong, Kecamatan Kluet Selatan, telah mengetuk rasa keprihatinan dan simpati Ketua Persit KCK Cabang XXIX Dim 0107/Asel, Ny. Hary Mulyanto dan pengurus Ranting 8 Koramil 07 Kluet Selatan. Selama ini, kondisi 'Nyak' Siti Rohmat memang serba kekurangan. Bukan hanya itu saja, bahkan kesehatannya pun menurun dan sering sakit. Sering kali tak memiliki makanan apalagi... Baca selengkapnya...

INTERNASIONALMenjijikkan, Ditemukan Kotoran Manusia d.....
30/03/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Lisburn – Di kutip dari The Guardian, ditemukan kotoran manusia dalam kaleng minuman berkarbonasi yakni Coca Cola. Kotoran manusia ditemukan  [ ... ]



NASIONALSudut Pandang PPWI Terhadap Jurnalisme.....
18/04/2017 | M. Dwi Richa JP
article thumbnail

KOPI, Solok - Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., MA., yang merupakan lulusan PPRA Lemhannas tahun 20 [ ... ]



DAERAHGebyar Dirgantara 2017, Lanud Iswahjudi .....
22/04/2017 | Iswahyudi

KOPI, Magetan – Ribuan pengunjung yang terdiri dari pelajar maupun masyarakat umum padati Lapangan Udara (Lanud) Iswahjudi guna menyaksikan dan meme [ ... ]



PENDIDIKANMawardi, S.Pd Kepala SDN 20 Kampung Pada.....
21/04/2017 | M. Dwi Richa JP
article thumbnail

KOPI, Pasaman - Kepala SDN 20 Kampung Padang, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman optimis membina sekolah yang beliau pimpin kearah yang leb [ ... ]



EKONOMIMother & Baby Fair 2017 Digelar 2 Kali d.....
27/04/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Menginjak tahun ke-10, untuk pertama kalinya Mother & Baby Fair Jakarta diselenggarakan 2 kali dalam setahun. Periode pertama digelar  [ ... ]



HANKAMBazar HUT Kostrad ke-56, Obral Sembako M.....
08/03/2017 | Yeni Herliani

KOPI, Jakarta - Dalam rangka memeriahkan HUT ke-56, Kostrad menyelenggarakan “Bazar Murah Prajurit Kostrad & Insan Media”, Rabu (8/03/2017) berte [ ... ]



POLITIKKades Pelalawan : "Kami Ucapkan Salam Te.....
14/04/2017 | Didi Ronaldo

KOPI, Pekanbaru – Kepala Desa (Kades) merupakan perpanjangan pemerintahan pusat ke daerah. Semasa pemerintah Gubernur Riau (Gubri) yang terdahulu y [ ... ]



OPINIPenelitian Tindakan, Mengapa Begitu Pent.....
11/04/2017 | Nova Indra

Cara yang digunakan untuk mengeksplorasi informasi untuk memperoleh variasi perbaikan alternatif atas dasar aspek praktis; dalam hal ini adalah memp [ ... ]



PROFILRekor Leprid : Peserta Terbanyak Bakar .....
14/05/2016 | Didi Ronaldo

KOPI, Pati- Indonesia negara Bahari atau kepulauan, hampir 2/3 luas wilayah Indonesia adalah wilayah laut. Ribuan pula terhampar dari Sabang hingga Pa [ ... ]



SOSIAL & BUDAYAKunjungan Sosial “Komunitas Merenung D.....
27/04/2017 | M. Anton Sipahutar

KOPI, Jakarta - Seiring dengan arus modernisasi dan globalisasi yang masuk dalam kehidupan kita saat ini, termasuk serangan pengaruh budaya barat yang [ ... ]



ROHANIShalat Pengisi Ruang Hati Dihadapan Alla.....
17/05/2016 | Rachmad Yuliadi Nasir

KOPI,Jakarta, Dalam sehari semalam kita diwajibkan untuk shalat sebanyak lima kali. Setelah itu juga dianjurkan memperbanyak shalat-shalat sunat lainn [ ... ]



RESENSIMARS, Film Kisah Perjuangan Meraih Mimpi.....
03/05/2016 | Zohiri Kadir
article thumbnail

KOPI, Jakarta - Bertempat di XXI, Palaza Senayan, Jakara, Senin 92/5/2016) dan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan 2 Mei 2016 , Multi Buana K [ ... ]



CERPEN & CERBUNGKetika Gunung Juga Punya Cara.....
22/03/2016 | Anjrah Lelono Broto

KOPI - Gunung memiliki cara sendiri untuk menunjukkan kediriannya. Gunung juga memiliki mulut dan lidah tersendiri untuk berbicara. Gunung adalah gunu [ ... ]



PUISIRinduku Terkubur di Kampung Lansek.....
21/02/2016 | Nova Indra

siang ini
riak Tabek Kaluai masih sama
saat hatiku bicara tentangmu
tentang cinta, tentang rindu kita

hingga kini
terngiang gelak tawa
dua pecinta ber [ ... ]



CURAHAN HATIWaspadalah… Modus Penipuan Menjual Nam.....
06/04/2017 | Didi Ronaldo
article thumbnail

KOPI, Siak Hulu, Waspadalah Gerombolan begal beraksi wilayah Siak Hulu, kabupaten Kampar, Propinsi Riau. Kami memantau gerak-gerik gerombolan Begal te [ ... ]



Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.