Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Opini Mengikis Narkoba dari Aceh, Mungkinkah?
Redaksi Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) bersama segenap pengurus dan anggota PPWI se-Indonesia menyampaikan Selamat & Sukses atas Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Presiden dan Wakil Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo dan Drs. H. Muh. Jusuf Kalla pada tanggal 20 Oktober 2014. Semoga di bawah kepemimpinan beliau berdua, bersama-sama seluruh komponen bangsa, percepatan pencapaian tujuan bernegara Indonesia akan segera dapat dilaksanakan dengan baik dan lebih nyata.

Mengikis Narkoba dari Aceh, Mungkinkah?

KOPI - Narkoba bukan lagi barang aneh di ‘Nanggroe Syariat’ Aceh.  Setiap tahun terjadi peningkatan kasus, tersangka dan barang bukti. Sepanjang tahun 2012, tercatat 999 kasus narkoba dengan 1.131 tersangka serta miliaran rupiah barang bukti.

 

Mengejutkan. Hampir setiap hari media di Aceh menyuguhi kita dengan berita tentang narkoba. Tidak nyaman memang, apalagi jika kita kaitkan dengan status Aceh yang terbalut bingkai syariat Islam.

Kasus penyalahgunaan narkoba di Aceh mengalami peningkatan yang signifikan sepanjang tahun 2012. Data dari Polda Aceh, dari 605 kasus pada 2011, meningkat menjadi 999 kasus pada 2012. Terjadi peningkatan 394 kasus atau 76 persen.

Kepolisian juga berhasil mengamankan 1.131 orang tersangka, dengan rincian 13 orang bandar, 85 pengedar dan 1.036 orang tersangka pengguna narkoba. Jumlah tersangka juga mengalami peningkatan dari 2011 yang berjumlah 864 orang.

Sedangkan barang bukti yang disita berupa ganja 5.931 kilogram dengan nilai Rp.4,7 miliar, sabu-sabu 3,57 kilogram senilai Rp.5,3 miliar, heroin 1,99 kilogram senilai Rp.1,59 miliar serta ekstasi dan putaw mencapai Rp.208,9 juta.

Tak hanya pengguna, Aceh belakangan juga dijadikan pintu masuk peredaran narkoba ke Indonesia. Berulangkali petugas Bea dan Cukai Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar berhasil menggagalkan penyeludupan sabu-sabu dari Malaysia dengan memanfaatkan jasa kurir, warga lokal.

Tak hanya itu, berita penemuan hektaran ladang ganja juga menjadi santapan harian warga Aceh, di samping tertangkapnya para kurir dengan berbagai jenis narkoba yang dibawa, termasuk status sosial mereka yang beragam.

Pertengahan tahun lalu Bireuen dan Aceh Utara sempat menjadi perhatian Badan Narkotika Nasional (BNN). Pasalnya puluhan hektare ladang ganja ditemukan di daerah pemekaran Kabupaten Aceh Utara ini. Belum lagi temuan narkotika jenis sabu-sabu di kabupaten yang sama.

Satu di antara sekian banyak news maker Bireuen dan Aceh Utara saat itu adalah M Nasir, 28 tahun, warga Dusun Lhok Drien, Desa Seumirah, Nisam, Aceh Utara. Polisi menemukan ladang ganja seluas 400 meter miliknya di desa tersebut, dengan 700 batang tanaman ganja siap untuk dipanen.

Temuan ini dilanjutkan dengan temuan berikutnya. Ahad (28/4), Tim gabungan Kepolisian Resort (Polres) Bireuen mencabut dan memusnahkan ganja di ladang seluas 1,5 hektare, di kawasan Krueng Meusagop, Kecamatan Simpang Mamplam, Bireuen. Sayang, tidak seorangpun pelaku yang berhasil diamankan.(prohaba/29/4/2012)

 

Kok mereka mau?

MA misalnya, warga Desa Tulang, Serbajadi, Aceh Timur ini mengaku terpaksa menjadi kurir ganja karena desakan ekonomi. Pria 24 tahun yang berprofesi sebagai petani ini, mengaku mendapat bayaran menggiurkan, Rp.500 ribu untuk tiap paket yang berhasil dibawanya. Sayangnya, belum tiba ditujuan, MA terjaring razia polisi di Simpang Desa Karang Inong, Ranto Peureulak, Selasa (4/9/2012) dinihari. Padahal Nopember dia akan menikah. (prohaba/5 September 2012)

Nasib yang sama juga dialami Hanum Farida. Upah Rp.500 ribu membuat wanita 30-an tahun ini nekad membawa enam kilogram ganja ke Jakata. Mengaku disuruh seorang wanita di Aceh, Hanum terpaksa menginap di sel Mapolres Binjai, setelah tertangkap razia di kawasan Binjai. Sumatera Utara.

Kabupaten Langkat memang jadi kawasan razia polisi, khususnya terhadap kendaran yang datang dari Aceh. Dan lagi-lagi razia yang dilakukan jajaran kepolisian setempat berhasil menggagalkan penyelundupan ganja ke luar Aceh.

 

Kali ini Nurpati pelakunya.

Wanita 31 tahun asal Aceh itu kedapatan membawa 10 kilogram ganja kering, Ahad (16/12/2012), saat menumpang minibus menuju Medan. Lagi-lagi tersangka mengaku hanya sebagai kurir. Janji bayaran yang menggiurkan, menjadi alasan utama mereka nekad membawa barang terlarang tersebut.(sumutpos/17/12/2012)

 

Alternative Development

Menilik alasan para tersangka, meski terdengar klise, rasanya kita perlu segera mengoreksi program pembangunan yang diusung Pemerintah Aceh. Alasan ekonomi yang digaungkan ini membuat kita urut dada. Pasalnya, daerah yang mendapat kucuran dana hingga Rp.11,7 triliun ini tak mampu menjauhkan rakyatnya dari keterlibatan dengan narkoba, baik sebagai pengguna, terlebih sebagai pengedar dan petani.

Jika pernyataan para tersangka ini jujur, kita patut bersedih. Begitu sulitkah mencari nafkah di negeri ini? Atau memang pemerintah kita yang tidak peduli? Atau memang rakyat kita yang selalu ingin menggunakan jalan pintas?

Mungkin kita harus mengakui, semua itu tidak benar. Dan Pemerintah Aceh memang harus segera bertindak menggagas program yang berbasis kerakyatan sebagai program alternative development untuk menangkal anggapan miring tersebut.

Minimnya industri di Aceh sama artinya minim lapangan kerja yang berakibat pada tidak tertampungnya tenaga kerja produktif. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi hal ini. Tapi pada umumnya tidak berbasis kerakyatan sehingga tidak memberikan hasil yang signifikan. Lagi-lagi, mereka yang butuh ‘makan’ mengambil jalan pintas.

 

Tapi benarkah ada petani ganja? Lalu mengapa mereka memilih menanam Ganja?

Ganja (Cannabis sativa) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena zat narkotika, Tetrahidrokanabinol (THCtetra-hydro-cannabinol) yang dikandungnya dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana.

Tanaman semusim ini tingginya dapat mencapai dua meter. Berdaun menjari dan hanya tumbuh di pegunungan tropis dengan ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini ditemukan hampir di setiap negara tropis. Bahkan beberapa negara beriklim dingin pun sudah mulai membudidayakannya dalam rumah kaca.

Di Indonesia, ganja dibudidayakan secara ilegal di Provinsi Aceh. Biasanya ganja ditanam pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya. Hasil panen ganja berupa daun beriut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil. Campuran daun, ranting, bunga, dan buah yang telah dikeringkan inilah yang biasa dilinting menjadi rokok mariyuana. Kalau bunga betinanya diekstrak, akan dihasilkan damar pekat yang disebut hasyis(http://id.wikipedia.org/wiki/Ganja)

Jauh sebelum ganja masuk dalam kategori narkotika, bagi masyarakat Aceh, tanaman ini merupakan bagian dari bumbu dapur. Khususnya bagi masakan daging. Selain menjadi penyedap rasa—yang digunakan umumnya bijinya— ganja juga menjadi bahan untuk melunakkan daging yang dimasak. Kuah beulangong,nama hidangan yang menjadi masakan wajib pada setiap acara kenduri di Aceh, umumnya menggunakan bumbu yang ditambah biji ganja.

Lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI/MPU) Aceh mengeluarkan fatwa yang mengharamkan ganja, tahun 1982. Sejak itu, ganja bukan lagi bagian bumbu dapur. Haram, yang berarti tidak diizinkan dalam agama, menjadi alasan mengapa mereka meninggalkannya, di samping masuk dalam kategori narkotika dan terlarang dalam hukum negara.

Pilihan petani (jika boleh disebut demikian) untuk menanam ganja, sebenarnya tidak terlalu benar. Ganja umumnya tumbuh dengan sendirinya di Aceh, tanpa harus dibudidayakan. Meskipun ada sebagian yang membudidayakan tanaman ini. Sehingga sangat jarang pemilik ladang ganja yang berhasil diamankan aparat keamanan dalam setiap operasi pemusnahan. Bukan karena kebocoran informasi, tapi memang karena umumnya ladang ganja ini tanpa pemilik.

Logikanya begini. Dalam setiap operasi pemusnahan ladang ganja, aparat selalu melakukan pemusnahan dengan cara mencabut dan membakar tanaman haram tersebut di lokasi. Hanya beberapa batang yang dibawa ke markas sebagai barang bukti. Nah, saat dicabut, butiran biji ganja ini rontok dan menyebar di luasan areal ladang. Lalu tunggu empat sampai lima bulan ke depan, di areal yang sama akan ditemukan lagi tanaman ganja, siap panen.

Warga yang berdekatan dengan lokasi ini, yang kemudian disebut petani ganja, hapal betul dengan siklus tersebut. Tak harus merawat, yang nekad, kemudian mencoba memanen ‘anugerah alam’ Aceh. Kalau selamat, untung di depan mata. Kalau lagi sial, tertangkap saat memanen, ya bui tempatnya.


Lalu apa solusinya?

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengikis narkoba (ganja) dari bumi Aceh. Yang penting ada komitmen semua pihak di Aceh, dari Pemerintah Daerah, Kepolisian, hingga SKPA yang ada serta warga masyarakat Aceh sendiri.

Pertama, mengembangkan program alternative development. Mengganti tanaman ganja dengan tanaman produktif dan berusia muda, seperti kedelai, jagung, singkong, cabai, dan tanaman produktif lainnya, seperti buah naga dan rosella. Harapannya, para petani dan petani ganja kagetan ini beralih dari tanaman haram tersebut ke tanaman yang lebih produktif dan aman.

Namun pemerintah harus proaktif. Tidak sekedar memberi imbauan, apalagi ancaman. Sosialisasi, penyuluhan hingga penyediaan bantuan bibit, pupuk dan modal kerja serta dana untuk pengadaan pagar mutlak harus dilakukan. Yang terpenting, Pemerintah Aceh melalui SKPA yang ditunjuk terus-menerus melakukan pemantauan. Tidak sekedar melepaskan mereka tanpa memberi tanggungjawab apapun. Pemerintah Aceh juga harus menyediakan lembaga atau unit usaha yang siap menampung hasil panen mereka. Sehingga tidak terjadi permainan harga, apalagi sampai hasil panen membusuk, karena harga jual yang anjlok.

Kedua, dengan menempatkan warga transmigrasi asal luar Aceh di lahan eks ladang ganja. Pemahaman akan bentuk tanaman canabis sativa (ganja) yang masih minim bahkan cenderung nol ini akan dapat membantu mengikis habis tanaman haram tersebut dari bumi Aceh. Para transmigran yang umumnya petani murni ini tentu tidak akan membiarkan adanya tanaman liar yang tumbuh di sela-sela tanaman pertanian mereka.

Dengan semakin seringnya tanaman baru ganja ini dicabut, maka akan semakin cepat tanaman yang menyebabkan aparat keamanan repot dan generasi muda kita hancur, hilang dari Bumi Iskandar Muda ini.

Bagaimana Pemerintah Aceh? Solusi mana yang akan diambil? Bisa satu diantaranya, bisa juga kedua-duanya. Hanya kemauan kita semua yang menentukan apakah ini akan berhasil atau tidak.

Semoga harapan kita untuk mengikis narkoba dari Aceh bisa tercapai.

*****

 

M Arief Rahman

Wartawan Warta Aceh

Sekretaris SIWO PWI Aceh 2010-2015


 

 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.