Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
Silahkan Login & Kirim Warta

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
Pewarta Online

 

Yang Terpinggirkan
Gaji Pensiun yang belum Terealisasi Juga.....
21/02/2013 | Husaeni Mabruri

KOPI - Mimpi manis untuk masa depan gaji pegawai pensiunan sipil hidupnya belum dirasakan oleh Bpk. [ ... ]


Gelora Sepeda
Fun Bike Meriahkan HUT Ke-69 TNI di Aceh.....
29/09/2014 | Syamsul Kamal
article thumbnail

KOPI, Aceh Jaya - Dalam rangka memperingati hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke 69, Komando Distrik Militer (Kodim) 0114 Aceh Jaya, mengegelar acara sepeda santai (fun Bike)  [ ... ]



Polling Warga
Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
 

Inspirasi Opini Masihkah Amerika Super Power?
DIRGAHAYU PERSATUAN PEWARTA WARGA INDONESIA (PPWI), 11 NOVEMBER 2007 - 11 NOVEMBER 2014, SENANTIASA TEKUN BELAJAR DAN BERKARYA BAGI PENCERDASAN BANGSA-BANGSA DI NUSANTARA DAN SEANTERO BUMI BRAVO PPWI... BRAVO INDONESIA... BRAVO PEWARTA WARGA...!!!

Masihkah Amerika Super Power?

Pewarta-Indonesia, Elba Damhuri, wartawan Republika, dalam analisa opininya di HU Republika 26/11/2008 melansir hasil riset Dewan Intelejen Nasional AS (NIC) belum lama ini tentang kepemimpinan global Amerika. Dinyatakan dalam perkiraan itu bahwa dominasi dan hegemoni kekuatan ekonomi, politik, dan militer AS akan merosot tajam pada 2025. Pada sisi lain dunia akan melihat kekuatan baru: China, Rusia, dan India.

Pada dasawarsa 1980 kalangan ilmuan dan peneliti internasional, seperti apa yang diungkapkan Damhuri, telah berdebat hebat tentang posisi AS. Jatuhnya sistem Bretton Woods dan dilepasnya dolar AS bukan sebagai “mata uang tunggal internasional,” mereka indikasikan sebagai tanda jatuhnya hegemoni AS dalam politik global. Apakah hegemoni dan superioritas AS akan benar benar limbung disaat krisis global kini?

Masih dalam analisa tersebut, Damhuri menggunakan sudut pandang yang menurutnya cukup komprehensif dalam melihat persoalan ini, yakni argumen pendekatan kekuasaan struktural ala Susan Strange, profesor politik ekonomi di London School of Economics. Kata Strange, untuk melihat kekuasaan global AS tidak lagi bisa dilihat dari pendekatan relational power.

Artinya, dominasi sebuah negara tidak lagi bisa dijamah dengan melihat perintah perintah. Sebagai contoh, sudah bukan zamannya lagi AS, misalnya, memaksa Iran atau Arab Saudi untuk menggunakan dolar AS sebagai mata uang perdagangan internasional.

Strange, tulis Damhuri, kemudian memperkenalkan suatu pendekatan baru yakni, pendekatan struktural (structural power) yang tidak bisa berdiri sendiri. Ada empat kekuatan struktural yang dapat dijadikan acuan untuk mengetahui apakah sebuah negara memiliki kekuasaan global atau tidak. Keempat kekuatan itu saling mendukung dan terintegrasi membentuk satu pengaruh yang melahirkan negara adikuasa dan hegemonif. Keempatnya adalah kekuasaan produksi, keuangan, militer, dan pengetahuan.

Saya tidak akan membahas satu persatu keempat pendekatan tersebut. Pada dasarnya dan ini menjadi kesimpulan dari keempat pendekatan tersebut, bahwa AS bisa dikatakan masih menjadi adikuasa dan hegemoni hingga hari ini.Damhuri meyakini, AS akan bisa tetap memegang kekuatan struktural untuk mendominasi dunia hingga 20 tahun kedepan. Strange juga percaya jika keempatnya masih dimiliki AS, meski saat ini krisis besar menghantam negara itu dan seluruh dunia terkena dampak tentunya.

AS adalah negara yang kerap mengalami situasi situasi buruk seperti saat ini. Sejak era 1970-an, AS mengalami defisit neraca pembayaran dan terus naik di era pemerintahan Ronald Reagan. AS pernah hancur dalam Perang Vietnam dan beberapa konflik internasional di Afrika dan Asia. Namun semua itu bisa diatasi dengan baik meski ada gejolak disana sini. Hal ini sama sekali tidak menghilangkan peran AS sebagai pusat kekuasaan dunia walaupun pada saat itu banyak kalangan menyatakan bahwa dunia telah memasuki era jatuhnya hegemoni AS.

Hampir semua negara terkena dampak krisis global ini, apalagi negara negara yang sudah sekian lama memiliki independensi produk atau impor ke negara Paman Sam. Indonesia dalam hal ini, tentu juga ikut merasakan kondisi yang sama. Menurut saya, pelaku pasar dan modal yang bermain di sektor internal atau yang lebih memfokuskan fragmentasi produk dan pasarnya kedalam negeri relatif akan berada pada comfort zone, dia tidak akan terkena dampak berarti dari krisis global ini.

Bahwa, pemain saham atau modal yang lebih dominan untuk berinvestasi diluar negeri, khususnya Amerika, pasti akan sangat terpukul dengan situasi ini. Kenapa? Jelas, perusahaan domestik yang selama ini menggantungkan impor dan sahamnya kepada AS tentu akan terkena imbas krisis yang bermula dari AS ini. Bangkrutnya Lehman Brother (LB), perusahaan asuransi terbesar keempat di AS, misalnya, akan berpengaruh signifikan terhadap jasa asuransi yang berada di Indonesia yang selama ini menjadikan LB sebagai andalan pasokan modal,dll.

Kembali ke awal. Apakah memang AS akan mengalami kemunduran total akibat dampak krisis ini? Ataukah mungkin kemudian AS akan tetap bertahan menjadi negara super power hingga 20 tahun mendatang seperti yang apa yang diestimasi oleh Damhuri ?. Ini saya pikir sangat menarik dan keterkaitan dengan pertanyaan pertanyaan itu, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Sekarang banyak orang yang berharap pada presiden terpilih AS, Barack Obama, untuk berkreasi menyelesaikan “kiamat dunia” ini. Atau apakah kemudian dunia akan benar benar akan mengalami Armageddonisasi? [Ainuddin, tulisan ini saya tulis pada 26/11/2008. Sudah pernah dimuat di laman SMA Hidayatullah Bontang]
 

Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.