Ada Apa dengan Laut

0
23

Pewarta-Indonesia, Membentang di garis khatulistiwa, perairan laut nusantara menopang aneka kehidupan hayati. Lautan topis seluas 5,8 juta kilometer persegi menutupi hampir 70 persen dari sekitar 7,8 juta km2 wilayah Indonesia. Samudera raya itu bersentuhan langsung dengan 17.480 pulau dengan panjang garis pantainya mencapai 95.186 km, dan merupakan garis pantai terpanjang keempat di dunia setelah Kanada, Amerika Serikat, dan Rusia. Pada kedalamannya, laut Indonesia memendam hamparan terumbu karang yang ditempati lebih dari 500 spesies dari 70 genus terumbu karang.Taman air dangkal ini membentuk relung-relung ekologi yang didiami ratusan ikan karang, alga, crustacea, moluska, mamalia, dan reptilia laut. Komunitas biota laut dan terumbu karang ini berpadu membentuk surga bawah laut yang indah.

Indonesia berada pada peringkat kedua yang memiliki terumbu karang terluas di dunia setelah Australia dan merupakan pusat segitiga terumbu karang dunia yang dikenal dengan istilah “The Coral Triangle” yang merupakan kawasan dengan tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. The Coral Triangle tersebut meliputi enam negara yaitu Malaysia, Philipina, Timor Leste, Papua Nugini, Indonesia, dan Kepulauan Solomon. Posisi ini tentunya membuat terumbu karang Indonesia menjadi lebih penting, karena disamping menjadi sumber penghidupan masyarakat Indonesia juga bagi dunia. Sayangnya terumbu karang mulai terancam kelestariannya karena berbagai masalah pencemaran dan cara penangkapan ikan yang merusak terumbu karang. Kerusakan terumbu karang terbesar disebabkan oleh penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, bahan peledak 0,5 kilogram bila diledakkan pada dasar terumbu karang menyebabkan matinya ikan yang berada di dalamnya sampai radius 10 meter dari pusat ledakan.

Adapun terumbu karang yang hancur sama sekali sampai radius tiga meter dari pusat ledakan. Ledakan bom tersebut menyebabkan terjadinya degradasi ekosistem terumbu karang yang telah teridentifikasi sejak tahun 1990-an. Hasil penelitian Pusat Penelitian Oseanografi LIPI tahun 2006 menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang yang sangat baik hanya tinggal 5,23%, baik 24,26%, cukup 37,34% dan yang kurang baik atau rusak sebesar 33,17%. Kondisi yang lebih menghawatirkan dibandingkan data pada tahun 2005 dimana yang sangat baik masih tercatat sebesar 5,8%, baik 25,7% dan kurang baik atau rusak sebesar 31,9%. Kerusakan itu menghilangkan peluang ekonomi pariwisata senilai 3.000 hingga 500.000 dollar AS per kilometer persegi. Sebaliknya, jika terumbu karang rusak diperlukan dana  besar untuk pemulihannya dan memakan waktu yang lama hingga 50 tahun.

Salah satu usaha pengembangan wilayah pesisir yang asli bagi pariwisata dan rekreasi adalah pembentukan Taman Nasional Laut (TNL) dan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) yang memadukan usaha perlindungan dan pelestarian sumber daya alam dengan kepariwisataan. Saat ini Indonesia memiliki 7 Taman Nasional Laut dan 18 Taman Wisata Alam Laut (lihat Tabel 1 dan Tabel 2). Keberadaan TNL dan TWAL tersebut menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar, sehingga pendapatan dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Masyarakat dapat bekerja sebagai pemandu wisata, pedagang, dan pembuat cinderamata. Selain itu masyarakat juga dapat mendirikan fasilitas – fasilitas pendukung pariwisata, seperti cottage, gedung pertemuan, sarana transportasi, bar, bungalow, restoran, toko, tempat berkemah, hingga pengelolaan diving centre di kawasan TNL dan TWAL. Selain itu, dengan penetapan kawasan TNL nelayan berharap bisa dengan leluasa melakukan penangkapan, penangkaran ataupun budidaya ikan perairan laut. Karena salah satu zona dari tiga zona pembagian kawasan itu ditetapkan sebagai Zona Pemanfaatan Intensif (kawasan yang diperbolehkan untuk dimanfaatkan berbagai keperluan seperti pembangunan cottage, pariwisata, serta budidaya perikanan). Sedangkan, dua zona lainnya masing-masing ditetapkan sebagai Zona Inti (kawasan yang harus dilindungi dan diamankan kelestariannya untuk kepentingan penelitian) dan Zona Pemanfaatan Tradisional (kawasan yang diperbolehkan bagi nelayan lokal untuk memanfaatkan sumber daya alamnya seperti penangkapan ikan secara tradisional).

Tabel 1. Taman Nasional Laut (TNL)

No

Nama

Luas (Ha)

Provinsi

1.

Taman Nasional Laut Bunaken

89.065

Sulawesi Utara

2.

Taman Nasional Laut Taka Bonerate

530.765

Sulawesi Selatan

3.

Taman Nasional Laut Teluk Cendrawasih

1.453.500

Papua

4.

Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu

107.489

DKI Jakarta

5.

Taman Nasional Laut Wakatobi

1.390.000

Sulawesi Tenggara

6.

Taman Nasional Laut Karimun Jawa

111.625

Jawa Tengah

7.

Taman Nasional Laut Kepulauan Togean

362.605

Sulawesi Tengah

(Sumber: DKP, 2007)

Tabel 2. Taman Wisata Alam Laut

No

Nama

Luas (Ha)

Provinsi

1.

Pulau Kasa

1.100

Maluku Tengah

2.

Pulau Samama Sangalaki

280

Kalimantan Timur

3.

Pulau Weh Sabang

3.900

NAD

4.

Teluk Maumere

59.450

NTT

5.

Pulau Sangiang

1.228

Jawa Barat

6.

Teluk Kupang

50.000

NTT

7.

Gili Anyer, Gili Meno, Gili Trawangan

2.954

NTB

8.

Pulau Pombo

998

Maluku Tengah

9.

Tujuh Belas Pulau

9.900

NTT

10.

Kepulauan Banyak

227.500

NAD

11.

P. Moyo

6.000

NTB

12.

Pulau Padaido

183.000

Papua

13.

Pulau Satonda

2.600

NTB

14.

P. Marsegu

11.000

Maluku Tengah

15.

Teluk Lasolo

81.800

Sulawesi Tenggara

16.

Kapoposang

50.000

Sulawesi Tenggara

17.

Pulau Pieh

39.900

Sumatera Barat

18.

Kepulauan Padamarang

36.000

Sulawesi Tenggara

(Sumber: DKP, 2007)

Daftar Pustaka

1. 2007. Informasi Konservasi Kawasan Perairan di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

2. Mulyana dan Agus Dermawan. 2008. Konservasi Kawasan Perairan Indonesia Bagi Masa Depan Dunia. DKP. Jakarta.

3. Mukhtar. 2009. Garis Pantai Indonesia Terpanjang Keempat di Dunia www.dkp.go.id. Jakarta.

Sumber image: google.co.uk