Air Mata Bunda Kandung

0
18

Pewarta-Indonesia, JAKARTA – HARI itu senja baru merayap. Jam baru menunjukkan pukul 17.16 waktu Indonesia Barat. Adzan maghrib belum lagi kumandang di surau-surau tempat para bocah mengaji. Tiba-tiba bumi berguncang, seluruh negeri seolah disergap hiruk pikuk.  Panik datang berkalang panik.

Air mata Bunda Kandung, Ranah Minang, menetes bersama derasnya hujannya di malam seusai gempa bumi berkekuatan 7,8 schala richter mengguncang. Bulir-bulir duka merayap, bahkan membasahi wajah bangsa. Esoknya, pukul 08.52 gempa terjadi lagi di kaki Kerinci, sehingga mengguncang Jambi.

Negeri tempat kearifan: ‘alam takambang jadi guru,’ itu seolah dirundung lara nan sansai. Dan ketika siaran televisi terus menerus mengabarkan berita duka, ditingkah irama saluang dan ekspresi randai yang ‘menyayat’, kita tiba-tiba tenggelam dalam haru biru derita. Seolah nyaris kehilangan daya.

Anak kemenakan yang menjadi korban gempa, terus menerus mengusik duka.  Seolah mereka sedang terputus hubungan dengan para ninik mamak yang seharusnya memberikan perlindungan kapan saja dan dalam keadaan bagaimanapun. Tapi, apa boleh buat, para ‘mamak’ tengah berada jauh di Jakarta, memburu ambisinya masing-masing. Boleh jadi, bertarung memburu ‘kemewahan’ dan kekuasaan.

Nun, Allah berfirman di dalam Al Qur’an, Surah 17:16, “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (sanksi Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu)”.

Pembelajaran Berharga

SENJA yang biasanya ceria, ketika itu pun datang mengantarkan pilu, bersama gempa susulan, (pukul 17.38) yang melantakkan banyak bangunan kemewahan. Peristiwa itu,  seolah sedang mengingatkan kita tentang beragam perbuatan buruk: syirk, durhaka kepada ibu, boros, mengabaikan kerabat dekat dan fakir miskin, kikir, aborsi, zina, zalim, ruswah, dan lainnya seperti yang Allah ingatkan di surah ini juga (ayat 22, 23, 26, 29, 31, 32, 33, 34, 36 dan 37), untuk menegaskan firman-Nya , ”Semua itu, kejahatan yang sangat dibenci di sisi Tuhan-mu” (QS 17:38).

Alam yang gelisah, dan kali ini menjadi penyebab air mata Bunda Kandung menetes, kembali mengingatkan kita tentang banyak hal. Memberikan pembelajaran tentang bagaimana mesti menjalani hidup dan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Menghemat usia, menabung kesabaran, melakukan investasi kebajikan bagi kehidupan kekal abadi kelak.

Rasa kemanusiaan kita pun diuji. Peristiwa bencana yang datang silih berganti atas negeri ini, merupakan pelajaran amat berharga untuk selalu melengkapi bilangan yang sempurna: lebih beri memberi, kurang tambah menambah. Selalu berusaha menguatkan kesadaran dan tanggung jawab kolektif, agar dalam hidup berkaum, bermasyarakat dan berbangsa, harus tolong menolong.

Alam dengan segenap fenomenanya, sedang mengajarkan kita untuk selalu “hinggap mencekam, terbang bersitumpu”. Selalu dan tak pernah henti mengembangkan kualitas diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berinteraksi dengan alam. Sekaligus menyadari, bahwa Allah memberikan keunggulan akal dan fikiran kepada manusia, agar manusia dengan ketaqwaan terhadap-Nya, selalu mampu bersinergi dengan alam.
Hukum alam atau natural law dengan segenap fenomenanya, termasuk pergerakan lapisan bumi yang menimbulkan gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan gunung meletus bisa menjadi dampak atas sanksi Allah kepada kaum yang bermewah-mewah. Semoga, semua fenomena alam ini semakin menyadarkan kita sebagai makhluk yang bertaqwa.  (Jurnalnasional/N. Syamsuddin CH. Haesy)