Apakah dengan Kekerasan Bisa Membela Islam?

0
25

Oleh: Mustafa Akyo*)

Pewarta-Indonesia, Istanbul, Turki – Sayang sekali, ini terjadi lagi. Seorang Muslim ekstremis menyerang seorang pria kulit putih karena dianggap menghina Islam. Kali ini, korbannya adalah kartunis Denmark, Kurt Westergaard, yang karikatur kontroversialnya tentang Nabi Muhammad menyulut protes di seluruh dunia lima tahun lalu. Pria 28 tahun asal Somalia mendobrak rumah kartunis itu beberapa minggu lalu sambil mengacungkan kapak dan pisau.

“Kami akan membalaskan dendam kami!” teriaknya, sebelum akhirnya ditembak oleh polisi dan ditahan.

Westergaard, untungnya selamat karena segera lari ke “ruang panic” (semacam ruang yang diperuntukkan khusus untuk menyelamatkan diri) di rumahnya. Dan saya berharap ia tidak mengalami hal seperti ini lagi. Sebagai Muslim saya juga menganggap karikaturnya yang menggambarkan Nabi Muhammad mengenakan turban berbentuk bom dengan sumbu menyala sebagai penghinaan.

Tapi saya juga percaya bahwa penghinaan oleh seseorang tidak boleh menjadi alasan bagi kita menyerang orang tersebut.

Namun, ada kelompok minoritas dalam masyarakat Muslim yang berpikir berbeda. Setelah penerbitan karikatur Westergaard di koran Denmark Jyllands-Posten pada September 2005 dan juga di 11 media lainnya, reaksi sebagian Muslim ternyata sangat militan. Kantor Kedutaan Denmark di Damaskus, Beirut dan Tehran dibakar oleh para demonstran. Demonstran lainnya di London berarak sambil membawa poster bertuliskan “Bantai mereka yang mengolok-olok Islam” atau “Bunuh mereka yang menghina Islam”.

Ironis bukan? Pertama, ada non-Muslim yang menggambarkan Islam sebagai agama kekerasan. Kemudian beberapa Muslim yang marah menggunakan kekerasan untuk memprotesnya. Padahal aksi mereka justru membuktikan kebenaran kritik yang diarahkan pada mereka.

Karena itu, penting bagi kita untuk menyelesaikan masalah ini tidak hanya demi keselamatan orang seperti Westergaard, tapi juga demi kehormatan Islam. Oleh karenanya, saya ingin menawarkan beberapa ide.

Pertama, ada pertanyaan: Kenapa orang-orang Muslim yang marah dan ingin “membantai mereka yang mengolok-olok Islam” itu begitu terobsesi dengan penghinaan terhadap Nabi Muhammad, tapi tidak pada nabi-nabi lain (seperti Nabi Ibrahim atau Nabi Musa) atau lebih penting lagi, penghinaan pada Tuhan?

Padahal, budaya Barat modern, sayangnya, penuh dengan tema yang mempermainkan Tuhan dan nabi-nabi dalam tradisi Yahudi-Kristen yang sebetulnya juga suci dalam pandangan Islam. Dari sudut pandang teologis yang sempit, penghinaan yang harusnya paling membuat Muslim marah adalah penghinaan terhadap Tuhan. Dan tentang nabi-nabi lain, mereka juga harus dihormati dengan setara karena al-Qur’an menyatakan, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka” (4: 152).

Saya bukan ingin mengatakan bahwa olok-olok terhadap Tuhan dan para nabinya harus dibalas dengan militansi sedemikian rupa. Saya hanya ingin tahu apakah semangat di balik fokus yang eksklusif kepada Nabi Muhammad itu benar-benar muncul dari semangat keimanan. Bagi saya, tampaknya justru muncul dari sesuatu yang bisa kita sebut nasionalisme Muslim-mempertahankan “kita” dan “agama kita’ dari “mereka”.

Kedua, saya ingin mempertanyakan: Sejauh mana Muslim militan yang ingin “membunuh mereka yang menghina Nabi” tahu bahwa tindakan tersebut adalah tindakan Islami?

Jawaban yang biasa dikemukakan untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan mengutip beberapa kisah dari kehidupan Nabi Muhammad yang meriwayatkan kejadian-kejadian seperti eksekusi terhadap dua tawanan perang yang berprofesi sebagai penyair satire setelah perang melawan para penyembah berhala. Tapi ada juga cerita-cerita lain tentang Nabi yang mengampuni propagandis anti-Islam pada masa itu.

Lagipula, kisah-kisah tentang hidup Nabi Muhammad itu, yang mula-mula ditulis satu setengah abad setelah beliau meninggal, penuh dengan teka-teki, kontradiksi dan mitos, dan kadang sulit untuk ditempatkan dalam konteks yang benar. Apa makna cerita-cerita itu dalam konteks dunia modern juga merupakan tantangan yang lain. (Bagaimanapun juga, Nabi Muhammad adalah manusia zamannya).

Di sisi lain, ada al-Qur’an, satu-satunya rujukan yang semua Muslim tak terbantah, dan al-Qur’an tidak mengatakan apa-apa soal hukuman di dunia bagi mereka yang memperolok Islam. Lagipula, ada satu ayat menarik dalam al-Qur’an yang memerintahkan Muslim: “Apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya [kalau kamu berbuat demikian], tentulah kamu serupa dengan mereka.” (4:140).

Saya melihat cara yang beradab untuk mengungkapkan ketidaksetujuan di sini: Muslim tidak boleh menjadi bagian dari wacana yang mempermainkan Islam. Apa yang harus mereka lakukan adalah menghindarinya. Dan itupun, hanya hingga wacana itu berubah. Bila olok-olok dan hinaan berhenti, dialog bisa dimulai. (Ayat yang saya kutip tersebut adalah bagian dari salah satu surah Madaniah. Dengan kata lain, ayat itu turun pada fase ketika Muslim sudah memiliki kekuatan militer)

Jika kita menerapkan prinsip ini pada dunia modern, kita bisa menganjurkan agar Muslim memboikot retorika anti-Islam dengan menolak bergabung dalam perbincangan, membeli koran, atau menonton film atau drama yang mengolok-olok nilai-nilai keimanan mereka.

Cukup itu saja. Tidak menyetujui dan memboikot adalah hal Islami yang bisa dilakukan, sementara kekerasan dan ancaman tidaklah Islami.

Sebetulnya, mayoritas Muslim sudah mengambil jalan damai ini. Masalahnya adalah ada minoritas Muslim esktremis yang percaya bahwa mengagungkan Islam bisa dilakukan dengan kekerasan. Mereka tak menyadari bahwa militansi mereka yang gegabah itu yang justru mengolok-olok iman kita lebih dari yang bisa dilakukan oleh kartunis mana pun.

 

*) Mustafa Akyol adalah penulis dan kolumnis yang tinggal di Istanbul

Sumber: Kantor Berita Common Ground

Pewarta-Indonesia, Adshit Al Qusayr – Kompleksitas situasi dan kondisi di daerah konflik maupun paska konflik merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh peacekeeper (pasukan pemelihara perdamaian), termasuk kemungkinan adanya penyakit menular dan belum ditemukan obatnya yang disebabkan oleh HIV/AIDS. Demikian dikatakan Dr. Basu Bharaty (India), seorang konsuler spesialis dari Organisasi Anti HIV/AIDS yang berada di Markas Besar UNIFIL, Naqoura, dalam rangka kegiatan pembekalan HIV/AIDS bagi seluruh personel Satgas Yonif Mekanis TNI Konga XXIII-D/UNIFIL. Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari berturut-turut (27 s.d 28 Januari 2010) terbagi di 4 tempat, meliputi UN POSN 7-1 Adshit Al Qusayr (Mayon, Kompi Bantuan, Kompi D dan E), UN POSN 9-2 Az Ziqqiyah (Kompi C), UN POSN 8-33 Markaba (Kompi B) dan UN POSN 9-63 El Aadeisse (Kompi A). Pembekalan dihadiri oleh Dansatgas Konga XXIII-D, Letkol Inf Andi Perdana Kahar didampingi Wadansatgas Letkol Mar Guslin beserta staf dan seluruh anggota yang tidak sedang melaksanakan tugas khusus.

Materi ceramah meliputi pengenalan tentang HIV/AIDS, cara penularan, pencegahan, perlakuan terhadap penderita dan perkembangan HIV/AIDS itu sendiri. Pembekalan HIV/AIDS ini merupakan bagian dari pengenalan dan pelatihan yang wajib diikuti oleh seluruh peacekeeper, serta bertujuan untuk menerapkan mandat Dewan Keamanan PBB nomor 1308 tentang HIV/AIDS dan Direktif Panglima UNIFIL tentang kegiatan memerangi penyakit HIV/AIDS di kalangan personel PBB, baik sipil maupun militer yang bertugas di wilayah Lebanon Selatan.

Dalam paparannya, Dr. Basu Bharaty menyampaikan bahwa penyebaran penyakit HIV/AIDS saat ini dirasakan cukup pesat, dimana berdasarkan hasil survey PBB terhadap jumlah penderita HIV/AIDS di dunia pada tahun 2008 telah mencapai 33,4 juta jiwa dan dari jumlah tersebut, 2 juta penderita telah meninggal dunia pada tahun yang sama. Dengan kondisi yang cukup memprihatinkan tersebut, PBB mengambil langkah-langkah preventif untuk mencegah bertambahnya jumlah penderita HIV/AIDS di kalangan peacekeeper. Langkah-langkah yang diambil antara lain berupa HIV/AIDS Induction Training (perkenalan dan pelatihan HIV/AIDS) serta konsultasi dan pemeriksaan secara gratis dan sukarela dalam rangka mengetahui secara langsung status positif/negatif seseorang terhadap HIV/AIDS.

Dokter asal India tersebut menyatakan bahwa penderita HIV/AIDS bukan orang yang harus dijauhi atau diisolasi, namun mereka masih dapat berinteraksi dengan masyarakat serta mendapatkan pekerjaan yang layak apabila seorang penderita dapat melakukan pengobatan secara dini dan mengerti tata cara perlakuan terhadap HIV/AIDS.   Keberhasilan upaya memerangi HIV/AIDS ini tentunya memerlukan dukungan dan komitmen bersama seluruh peacekeeper untuk menjaga kesetiaan diri dengan pasangan hidupnya masing-masing, menggunakan transfusi darah untuk kepentingan kesehatan secara steril serta melakukan pemeriksaan dini terhadap pasangan suami-istri yang berkeinginan untuk memiliki keturunan. Hal ini terkait dengan tiga cara yang memungkinkan penularan penyakit HIV/AIDS, yaitu melalui hubungan badan, transfusi darah dan secara langsung dari ibu kepada anak. Pada kesempatan tersebut, Dr. Basu juga menyampaikan perlunya kesadaran dari setiap personel peacekeeper untuk selalu memeriksakan status dirinya secara rutin terkait kemungkinan ada atau tidaknya HIV/AIDS di dalam tubuh yang bersangkutan.

Pembekalan masalah HIV/AIDS bagi prajurit TNI yang sedang bertugas sebagai peace keepers di Lebanon sangat penting mengingat mereka yang jauh dari keluarga, tidak menutup kemungkinan akan berbuat hal-hal yang dapat merusak diri dan keluarga mereka bahkan satuan dimana mereka bertugas. Dengan adanya pembekalan HIV/AIDS ini diharapkan prajurit TNI yang tergabung dalam Kontingen Garuda dapat terhindar dari bahaya HIV/AIDS yang dapat menyerang siapa saja dan dalam waktu kapan saja. Meskipun kampaye penanggulangan HIV/AIDS sering dilakukan, namun penyebaran dan jumlah penderita cenderung semakin bertambah. Untuk itu, Dr. Basu berpesan agar setiap orang dapat merubah perilaku hidup, yaitu hanya melakukan hubungan seks dengan pasangan tetap dan mempercayai satu sama lain. Hal ini sangat penting karena hanya dengan perilaku hidup yang benar dan saling mempercayai pasangan masing-masing, seseorang akan terhindar dari bahaya HIV/AIDS.

Mengakhiri sambutannya, Dr. Basu menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Komandan Satgas Yonif Mekanis TNI Konga XXIII-D/UNIFIL (Indobatt), Letkol Inf Andi Perdana Kahar beserta seluruh personel Indobatt yang telah memberikan kesempatan kepada dirinya berbagi ilmu pengetahuan tentang HIV/AIDS dan telah bersikap sangat antusias serta penuh perhatian dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan penyuluhan.

*) Mustafa Akyol adalah penulis dan kolumnis yang tinggal di Istanbul

Sumber: Kantor Berita Common Ground

BAGIKAN
Berita sebelumyaMasyarakat Miskin Lebanon Rayakan Ulangtahun Bersama Indobatt
Berita berikutnyaStop Politisasi Islam di Swiss
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.