Ber-pikir Bodoh-Bodoh

0
26

Pewarta-Indonesia, Membaca judul tulisan di atas, tentu tak salah bila banyak pembaca  berpendapat: judul apaan ini? tak jelas atau tak ada artinya.

Memang sepintas seakan tak bermakna. Penulis teringat dengan kalimat yang digunakan sebagai judul tersebut ketika penulis masih duduk di bangku kuliah yang ketika itu salah seorang dosen selalu menggunakan kalimat “coba kita pikir bodoh-bodoh” untuk sebuah topik masalah yang sebetulnya tak serumit yang diperkirakan.

Berkaitan dengan hebohnya peristiwa penggerebekan sejumlah teroris di Jati Asih Bekasi dengan 500 Kg bahan peledak yang konon dimaksudkan untuk meledakan kediaman Presiden SBY di Cikeas, juga penggerebekan sebuah rumah di desa Beji Kabupaten Temanggung Jawa Tengah selama 17 jam oleh Densus 88 yang diperkirakan dihuni oleh gembong teroris Noordin M Top yang berakhir tewas, penulis mencoba mengajak pembaca untuk ber-pikir bodoh-bodoh masalah teror-meneror yang selama beberapa tahun belakangan ini mengguncang keamanan negara kita.


Terus terang, penulis bukanlah seorang ahli dalam masalah teror; juga bukanlah seorang pengamat politik handal yang mampu menelaah dan mengupas dari berbagai sisi penyebab terjadinya terorisme ini. Penulis hanya mencoba berpikir dengan alur pola pikir sederhana atau ber-pikir bodoh-bodoh berdasarkan fakta yang ada di lapangan.

Saat pertama kali aksi terror tersebut merebak dengan proyek perdananya yaitu Bom Bali I yang dilanjut dengan Bom Bali II kemudian pengeboman Hotel JW Mariot dan Kedubes Australia di Jakarta, maka nama duet Maestro terror DR. Assahari dan Noordin M Top yang berkewarganegaraan Malaysiapun menjadi ngetop dan ditakuti. Apalagi kemudian kedua maestro itu ternyata telah berhasil merekrut banyak WNI untuk menjadi pengikutnya seperti trio bomber Bali Imam Samudra, Mukhlas dan Amrozi yang telah dieksekusi mati dan masih banyak bertebaran yang lainnya yang begitu militan seakan cara meledakan diri sebagai martir bom merupakan one way ticket menuju surga.

Dari situ kita kemudian menjadi tahu bahwa sasaran yang menjadi musuh mereka adalah bangsa Amerika, Australia dan bule-bule lainnya, pengetahuan kita tersebut kemudian dikuatkan oleh munculnya seseorang yang diperkirakan sebagai sang maestro terror Noordin M Top dalam sebuah video yang ditayangkan di beberapa stasiun TV, yang mana dengan gagahnya sang Maestro mengatakan “agar bangsa dan negara Australia, Amerika dan Italia berhati-hati, karena mereka adalah musuh besarnya dan akan selalu menjadi sasaran terror bom, disebabkan negara-negara tersebut selalu menzdolimi negara dan umat Muslim di dunia”.

Namun pengetahuan kita tersebut kemudian malah membuahkan petanyaan, karena ternyata para teroris itupun pernah mencoba untuk membunuh Megawati Sukarnoputri saat masih menjabat sebagai presiden dengan meledakan Atrium Plaza, namun apa daya bom keburu meledak sebelum saatnya tiba.

Kemudian yang masih hangat dan baru beberapa hari lalu terjadi, para teroris itupun bermaksud meledakan kediaman presiden SBY di Cikeas serta berusaha membunuh SBY saat peringatan Hari Kemerdekaan  17 Agustus yang akan datang dan niat ini secara simbolik tercuat dengan nomor kamar 1808 yang dipesan kaki tangan Noordin M Top di hotel JW Mariot yang kemudian menjadi korban peledakan.

Dengan kedua kejadian tersebut, maka alasan pertama aksi terror yang katanya untuk membela Negara Islam dan Umat Muslim dunia pun menjadi sangat relevan untuk diragukan.

Untuk itu marilah kita berpilir bodoh-bodoh:

Pertama: Bila Musuh para teroris itu sudah jelas seperti yang diungkapkan Noordin M Top dalam Videonya yaitu bangsa Australia, Amerika dan Italia. Lalu mengapa bukan di negara-negara yang disebut itu mereka menebar bom Jihad dan mengapa harus di Indonesia?

Kedua: Dua orang Maestro Teroris yaitu DR.Assahari dan Noordin M Top jelas-jelas adalah berkewarganegaraan Malaysia yang “datang” ke Indonesia untuk menebar aksi terror. Pertanyaannya: mengapa harus mencari bangsa Australia, Amerika dan Italia di Indonesia untuk jadi sasaran terror bomnya? Bukankah di Malaysia pun banyak bagsa-bangsa yang katanya musuh mereka itu?

Ketiga: dengan merebaknya aksi terror bom di Indonesia yang dilaksanakan oleh WNI pengikut dua orang WN Malaysia itu, jelas telah memporak porandakan keamanan negara Indonesia yang pasti akan berakibat terganggunya stabilitas perekonomian kita, Investor menjadi enggan datang bahkan kabur, pariwisata pun sepi karena turis  takut jadi sasaran bom sewaktu-waktu.

Stigma negative terhadap Islam pun sulit ter-elakan karena tingkah polah teroris itu.

Kesimpulannya;

“Pihak lain yang berpesta dan bangsa kita umumnya yang menangis”.

Karena akibat yang sangat merugikan tentunya bangsa kitalah yang harus memikulnya baik untuk perekonomian juga keamanan. “Indonesia negara Teroris”  telah menjadi stigma yang menyedihkan bagi negara kita, akibatnya antara lain  betapa sulit dan berlapis-lapisnya “Litsus” bagi calon TKI yang akan bekerja ke luar  negeri.

Lalu bagaimana dengan sang dalang terror ? Selain DR Assahari yang telah tewas di batu Malang, maka sang Noordin M Top masih diragukan “ketewasannya” dalam penggerebekan di desa Beji Kabupaten temanggung jawa Tengah. Bahkan bisa jadi dia telah raib entah kemana meyelamatkan diri alias “tinggal glanggang colong playu” dan yang tinggal kini hanya pengikutnya yang harus jadi buronan polisi plus penderitaan keluarganya dengan stigma “keluarga teroris”.

Dan untuk contoh ini, bisa kita saksikan di layar TV betapa ibu Endang pemilik rumah yang telah porak poranda akibat tembakan dan bom di desa Beji Kabupaten Temanggung Jawa Tengah begitu sedih melihat rumahnya yang telah porak poranda akibat penggerebekan seseorang yang diperkirakan Noordin M Top, suaminya pun yang telah cukup renta dibawa polisi, padahal mereka tak tahu menahu bahkan tahu pun tidak bahwa tamu yang dibawa oleh dua orang keponakannya  itu ternyata seorang buronan teroris.

Dan masih akan banyak ibu Endang ibu Endang lainnya yang akan menjadi korban dari ketidak tahuan dan ketidak mengertiannya.

Oleh karena itu, marilah kita Ber-pikir Bodoh-Bodoh agar bisa sedikit lebih cerdas!

Sumber image:google.co.uk