Berita tentang Islam di Media Harus Diluruskan

0
52

Oleh : Hind Al-Subai Al-Idrisi*)

Pewarta-Indonesia, Rabat, Mengingat banyaknya kekerasan dan ketakstabilan di negara-negara mayoritas Muslim, seperti Irak dan Afghanistan, sebagian orang secara keliru berasumsi bahwa kekerasan berasal dari ajaran-ajaran Islam, padahal sebetulnya Islam tidak mendukung aksi-aksi demikian. Media bukannya membantu mengatasi masalah ini, malah sering fokus pada kegiatan para teroris yang mengklaim Muslim, alih-alih mengidentifikasi mereka sebagai para penjahat, dan menyampaikan inti Islam yang sesungguhnya.

Media menayangkan para teroris Muslim melakukan salat sambil menyandang senjata tapi jarang mengaitkan istilah-istilah seperti teroris, orang fanatik dan fundamentalis dengan kelompok agama lain. Misalnya, istilah “Hindu fanatik” atau “teroris Yahudi” jarang digunakan meskipun pada masing-masing agama pasti ada orang-orang yang tidak mewakili sebagian besar kelompoknya.

Sebagian besar Muslim mencintai perdamaian dan hidup berdampingan secara harmonis dengan orang-orang di sekeliling mereka; mereka akan mengatakan bahwa inti Islam adalah toleransi, koeksistensi dan penghormatan terhadap semua agama. Bahkan, Nabi Muhammad dikenal dengan akhlaknya yang luhur, sikap murah hati dan toleran kepada semua orang, apa pun ras atau agama mereka.

Islam adalah agama universal, untuk semua zaman dan semua tempat. Islam mendorong toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Ketika dunia kita menjadi sebuah kampung global, dan teknologi menghubungkan berbagai budaya, serta interaksi antar peradaban meningkat, kita harus menganut toleransi agama sebagai salah satu prinsip utama dalam masyarakat demokratis yang sedang tumbuh.

Ada banyak ayat al-Qur’an yang mendukung pesan koeksistensi damai dan harmoni ini. Di antara ajaran dasar Islam adalah kebebasan beragama dan tak adanya pemaksaan: “Tidak ada paksaan dalam hal agama” (QS Al Baqarah: 256) dan “Jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kaum hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?” (QS Yunus: 99).

Ketika Nabi Muhammad membangun komunitas Muslim pertama di Mekah, beliau menjamin kebebasan beragama, kesucian nyawa manusia, dan hak atas rasa aman bagi non-Muslim, termasuk orang Kristen dan Yahudi- yang dirujuk dalam al-Qur’an sebagai “Ahli Kitab”. Mereka punya hak dan kewajiban yang sama seperti kaum Muslim, dan mereka dilindungi dari ancaman pihak luar.

Selain mengakui hak kebebasan beragama bagi non-Muslim, Islam menyerukan untuk menghormati orang Yahudi dan Kristen serta agama mereka, dengan menyebut bahwa agama adalah urusan pribadi antara seseorang dan Tuhannya.

Sebagian besar Muslim menghargai ide kebebasan beragama yang dibangun dalam al-Qur’an. Saya menyaksikan bagaimana ide ini hidup di negara saya sendiri, Maroko, negara dengan mayoritas Muslim di mana orang-orang Yahudi telah tinggal selama berabad-abad dan mengamalkan agama mereka secara bebas. Masyarakat Yahudi Maroko punya hakim khusus untuk hukum keluarga, yang meliputi persoalan seperti warisan, pernikahan dan perceraian. Ini memperlihatkan satu cara bagaimana toleransi agama bisa diwujudkan.

Nabi dengan senang hati menjalin hubungan berlandaskan penghormatan, kesetaraan dan keadilan dengan non-Muslim, dan menganjurkan agar mereka diperlakukan dengan baik. Dia mengatakan: “Siapa yang melukai (non-Muslim) adalah musuhku sampai hari kiamat” dan “Siapa membunuh seseorang yang dilindungi sebuah perjanjian tidak akan masuk surga.” Penghormatan ini juga ditegaskan dalam hadist yang diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdullah: “Suatu jenazah lewat, dan Nabi berdiri menghormati. Kami katakan kepadanya, ‘Itu jenazah orang Yahudi.’ Ia mengatakan: ‘Jika kamu lihat jenazah, kamu harus berdiri. Tidakkah ia mahluk juga?'”

Ajaran-ajaran Islam mendorong saling kenal dan komunikasi di antara orang-orang, juga pembauran dalam masyarakat: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS Al Hujurat: 13).

Sangatlah penting saat ini bagi setiap orang – khususnya media – untuk menghindari mendiskusikan Islam hanya dalam kaitan dengan terorisme, demi menyebarkan suatu pemahaman tentang Islam dalam segenap keragamannya.

*) Hind Al-Subai Al-Idrisi adalah seorang bloger dari Maroko (hindapress.canalblog.com) yang turut serta dalam sebuah lokakarya para bloger di Rabat yang diadakan oleh Search for Common Ground.

Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews), Sumber image di sini

BAGIKAN
Berita sebelumyaBumi adalah Masjid
Berita berikutnyaKonspirasi atau Obat Mujarab? Perspektif Islam tentang Dialog Lintas Agama
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.