#Flotilla: Informasi yang Mendorong Perubahan

0
27

Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4

Oleh: Aysha Alkusayer*)

Pewarta-Indonesia, Riyadh – Kapal-kapal bantuan menuju Gaza yang diduduki oleh angkatan bersenjata Israel menjadi tajuk utama berita dalam minggu-minggu terakhir ini. Kebanyakan liputan tersebut berfokus pada kapal-kapal bantuan yang gagal menyalurkan bantuan yang mereka bawa ke Gaza. Namun, sebenarnya masih ada #Flotilla – koleksi berbagai update dari Twitter yang sering dibaca dan dikirim oleh orang-orang yang mengikuti peristiwa seputar kapal bantuan-yang justru sukses mengantarkan “bantuan” ke Gaza, dalam bentuk informasi.

Twitter telah merevolusi aliran informasi mengenai peristiwa ini-dari pemerintah dan media arus utama ke cerita dari orang biasa di berbagai belahan dunia dengan perspektif dan pikiran yang berbeda mengenai situasi terkait peristiwa itu.

Melalui #Flotilla, klip-klip Youtube, pernyataan saksi mata dan wawancara dengan aktivis kapal bantuan yang dideportasi disampaikan kepada para pembaca dan pemirsa di seluruh dunia. Respon terhadap peristiwa kekerasan di laut ini ini semakin memperlihatkan adanya kebutuhan akan kebebasan berbagi informasi bagi orang-orang biasa yang memiliki perspektif yang berbeda, atau bahkan bertentangan, mengenai konflik Israel-Palestina.

Justru ketika informasi bagi masyarakat dunia mengalir dengan bebas, ada potensi untuk mengubah kebijakan secara praktis dan nyata, tidak hanya dalam persoalan Gaza dan Israel-seperti yang terlihat dari perbincangan di dalam negeri Israel mengenai kemungkinan mengakhiri blokade-tetapi juga terhadap konflik dan krisis lain yang dihadapi dunia ini hampir setiap hari.

Dengan adanya teknologi baru, komunikasi telah mengglobal. Meskipun demikian, orang masih cenderung untuk terpaku pada sumber informasi di mana mereka biasa terhubung, yang diproduksi oleh anggota komunitas, partai politik, atau kelompok agama mereka. Kecenderungan ini membuat mereka mendapatkan fakta yang tak utuh dan hanya dari satu sisi, sehingga rentan menjadi bagian dari konflik, ketimbang menganjurkan resolusi.

Laporan yang datang dari pantai Gaza merupakan contoh terbaik “komunikasi global”. Tidak hanya sumber informasi mengenai “pertemuan” antara kapal-kapal bantuan dengan tentara Israel yang beragam, tetapi juga ditampilkannya sumber dengan pandangan yang berbeda mengenai konflik secara bersama-sama di Twitter, hingga memberikan cerita yang sangat koheren.

Banyak contoh di Timur Tengah dalam beberapa tahun belakangan ini yang menunjukkan dampak penyebaran informasi yang efektif terhadap kebijakan pemerintah. Contohnya, pada 2004, karena adanya perkumpulan sosial, forum web, dan media internasional, pemerintah Saudi memutuskan untuk membebaskan para cendekiawan yang ditahan karena menandatangani petisi untuk reformasi politik.

Jika bukan karena beragamnya orang yang terlibat dalam penandatanganan itu-mereka berasal dari kelompok ideologis, aliran dan politik yang berbeda-tentu mudah bagi kelompok kepentingan tertentu untuk membentuk opini publik dengan mengklaim bahwa tuntutan untuk reformasi ini merupakan upaya kelompok minoritas untuk mengganggu keamanan dan ketertiban negara dan untuk “membaratkan” Arab Saudi. Tetapi, karena penangkapan terhadap para cendekiawan ini dilaporkan di berbagai media yang memiliki kecenderungan politik dan ideologis yang berbeda, ia memperlihatkan betapa beragamnya kelompok yang menandatangani petisi tersebut dan menjangkau khalayak yang menjadi sasaran tuntutan reformasi seperti ini.

Sebaliknya, dalam kasus-kasus di mana informasi dikontrol dan tidak datang dari orang yang terlibat dalam cerita, informasi akan menghadirkan gambaran yang mungkin terdistorsi.

Misalnya, April lalu, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, memuji presiden Tunisia atas upayanya memajukan kebebasan di negaranya. Komentar Sarkozy justru disampaikan ketika redaktur dan redaktur pelaksana Al Mawqaf sedang melakukan mogok makan untuk memprotes apa yang mereka percaya sebagai kontrol pemerintah terhadap media. Wartawan Taoufik Ben Brik tengah menjalani bulan kelima hukumannya di penjara atas tuduhan bermotif politik pada saat itu, dan Amnesti Internasional menunjukkan bahwa korupsi dan represi politik terus berlanjut di Tunisia.

Tanpa adanya forum bagi warga Tunisia yang berbeda pandangan dengan Sarkozy, audiens akan cenderung menerima saja pernyataan presiden Perancis itu daripada mencari pandangan alternatif, maka banyak fakta yang akan tetap terkubur dan status quo pun berlanjut.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa wahana yang memfasilitasi berbagai perspektif mengenai konflik, seperti #Flotilla, yang menjangkau individu yang biasanya hanya mengonsumsi berita yang mendukung pandangan pribadinya, penting maknanya untuk memberdayakan publik. Dari sini, mereka kemudian bisa mengambil keputusan tepat dan mempengaruhi pengambil keputusan untuk menegakkan hak asasi manusia secara transparan bagi semua orang di dunia.

*) Aysha Alkusayer adalah penulis skenario dan bloger dari Arab Saudi

Sumber : Kantor Berita Common Ground (CGNews)

BAGIKAN
Berita sebelumyaWartawan Amplop
Berita berikutnyaMenulis Blog: dari Penonton menjadi Warga Dunia
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.