Guru, Kalangan Orang Terhormat yang Tidak Dihormati

0
38

Pewarta-Indonesia, Ketika saya duduk dibangku sekolah dasar (SD) s/d SMU saya dibimbing dan diajari oleh guru. Terkadang kalau saya salah dan tak dapat mengikuti pelajaran saya ditampar dan dipukul dengan rol meter sampai pemukul itu patah. Teman-teman yang lain juga mengalami hal yang demikian.

Dengan perlakukan guru saya yang seperti itu maka saya sangat takut untuk tidak belajar. Saya berusaha belajar setekun mungkin agar tidak dipukul oleh guru saya. Walaupun demikian hubungan kami dengan guru tetap harmonis, dan kami sangat segan dan hormat terhadap guru kami. Pada waktu itu (1985-1998) belum dikenal adanya aturan negara yang biasanya disebut dengan istilah undang-undang perlindungan anak.

Pada saat sekarang ini jaman semakin maju, perilaku dan tindakan siswa juga sudah sangat modern. Sekarang, tidak ada lagi siswa yang segan/hormat kepada gurunya. Bahkan pada saat berlangsungnya belajar-mengajar siswa tak segan-segan melawan gurunya. Dan kalau guru menegur dan memukulnya, maka siswa tersebut cepat-cepat melaporkannya kepada orang tua, bahkan ada yang melapor ke polisi. Anehnya, para orangtua cepat-cepat menanggapi laporan sianak dan melaporkannya kepada kepala sekolah.

Implikasinya, dengan adanya peristiwa seperti ini para guru jadi kebingungan dan takut untuk mendidik para siswa dengan baik dan benar karena takut dilaporkan ke polisi. Pada saat ini guru tidak lagi mendidik anak didiknya dengan baik dan benar. Guru hanya sekedar menyampaikan materi. Tugas dan kewajibannya sebagai guru dianggap selesai.

Bagaimana tidak, bahwa para siswa sekarang sudah tidak menghargai gurunya lagi karena kebanyakan para orang tua sekarang juga tidak terima kalau anaknya dipukul guru di sekolah. Padahal kita tahu bahwa guru pasti memberikan pendidikan yang terbaik walaupun terkadang dipukul.

Dengan adanya undang-undang perlindungan anak tentunya sangat mempengaruhi dunia pendidikan karena dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa anak tidak boleh dipukul dan disakiti. Terkadang kalau kita amati para siswa sekarang tidak segan-segan merokok di depan gurunya sendiri. Bahkan ada juga yang menggandeng pasangannya (cewek atau cowoknya) melewati gurunya tanpa merasa risih atau sungkan sama sekali. Gurupun tidak berani menegur. Hal yang tentunya sangat tidak terpuji dan memalukan.

Persoalan makin ruwet, karena undang-undang perlindungan anak banyak hal yang belum ada batasan-batasan yang memadai. Pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia, untuk mendewasakan manusia. Mendidik manusia dapat dikatakan mudah, tapi amat sering juga sangat sulit. Pendidikan perlu kelembutan, namun dalam banyak hal pendidikan perlu dengan pola yang keras dan tegas.

Semoga pemerintah yang akan datang dapat membuat undang-undang yang didasarkan pertimbangan dari  berbagai aspek, yang tidak merugikan banyak orang atau dengan kata lain tidak menimbulkan efek negatif di belakang harinya.

Image: google.co.uk