Hari Anak dan “Kaulinan Baheula”

0
115
Pewarta-Indonesia, Harus diakui, keberadaan kaulinan barudak baheula hanya tinggal nama. Ini terlihat dari hasil penelitian Komunitas Hong (Pusat Kajian Mainan Rakyat Jabar) sebanyak 168 (70%) jenis mainan dan permainan tradisional anak-anak di Jabar dan Banten punah.   

Tak ada permainan (wayang dari batang singkong, teteot, celempung, kelom batok, rorodaan) dan aktivitas keseharian anak-anak menjelang sore hingga maghrib tiba (oorayan, hadang, hahayam,  jeung careuh, ucing sumput, sorodot gaplok, galah, pepepet jengkol, gatrik, galah asin, jajangkungan, congkak, engkle, hompimpah) di Tanah Pasunda.  

Tentu, semua kaulinan barudak Sunda ini hanya tinggal kenangan budak baheula kolot ayeuna.     

Kuatnya, arus modernitas dan globalisasi membuat permainan tradisional ini semakin terasing di tengah-tengah kehidupan masyarakat Parahyangan. Malahan, budak kiwari merasa bangga bila bisa sekaligus menamatkan permainan game watch, game boy, sega, playStation dan game online.  

Parahnya, sebagian penghuni bumi persada Paris Van Java ini ada yang beranggapan kaulinan barudak dapat dikategorikan sebagai permainan kelas bawah yang kotor, berbahaya, dan tidak berkualitas.  

Ketidakadan tempat khusus bermain yang disulap menjadi bangunan mal dan pusat perbelanjaan menjadikan permainan ini semakin terpinggirkan sekaligus terlupakan dibenak kita. ironis memang.  

Padahal permainan tradisional sangat cocok bagi media pembelajaran pendidikan anak usia dini. Pasalnya, kaulinan barudak mengandung banyak unsur manfaat dan persiapan bagi anak menjalani kehidupan bermasyarakat. Juga erat kaitanya dengan pengenalan diri, alam, dan Tuhan (Kompas, 15/12/2008)  

Mampukah kehadiran Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati tiap tanggal 23 Juli 2010 menjadi momentum awal menciptakan generasi unggul sekaligus ngamumule kaulinan barudak di Priangan ini sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 44/1984 tentang Hari Anak Nasional dan harus diselenggarakan setiap tahun dari 1986 sampai sekarang ini?  

“Kaulilan Barudak”

Dalam konteks Jawa Barat untuk menciptakan generasi unggul ini dengan melestarikan khazanah kesundaan. Salah satunya dengan ngamumule kaulinan barudak baheula. Apalagi bila membaca tujuan khusus peringatan HAN tahun 2010 pada point pertama, Menyedikan wahana bermain, unjuk prestasi, kreativitas dan karya inovatif anak.

Sungguh mulia apa yang dilakukan oleh Mohammad Zaini Alif dengan Komunitas Hong (Pusat Kajian Mainan Rakyat) Jln. Bukit Pakar Utara 35 Dago, Bandung  dan Showroom Jln. Merak 2, Bandung. Workshop: Kampung Kolecer, Kamp. Bolang desa Cibuluh Kec. Tanjungsiang Kab. Subang yang mencoba menghidupkan kembali kaulinan barudak.  

Menurut Saleh Danasamita (1986: 83, 107), permainan dan bermain merupakan dua hal yang tidak bisa di pisahkan dari lingkungan anak-anak dan kedudukan sangat penting di masyarakat Sunda. Pasalnya, segala kaulinan barudak terangkum dalam Naskah Siksa KandaNg Karesian.   

“……..Hayang nyaho di pamaceuh ma: ceta maceuh, ceta nirus, tatapukan, babarongan, babakutrakan, ubang-ubangan, neureuy panca, munikeun le(m)bur, ngadu lesung, asup kana lantar, ngadu nini; singsawatek (ka) ulinan mah empul tanya…..” (“….Bila ingin tahu permainan, seperti: ceta maceuh, ceta nirus, tatapukan, babarongan, babakutrakan, ubangubangan, neureuy panca, munikeun le(m)bur, ngadu lesung, asup kana lantar, ngadu nini: segala macam permainan, tanyalah empul…” )   

Kuatnya ikhtiar ngamumule kaulinan budak, Zaini pun meruju pada  naskah abad ke-15 Saweka Darma Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung yang menyebutkan tentang hempul.   

Hempul adalah orang yang mengetahui aturan memainkan, cara membuat, dan filosofi mainan atau permainan. Namun, kini hempul sudah punah. Tak ada masyarakat adat di Jabar yang memiliki hempul lagi.  

“Dulu, mainan sudah jadi hal yang amat penting sehingga ada ahlinya. Jadi mainan bagi manusia itu tidak sepele atau sekadar main-main, justru dari mainan orang belajar bersosialisasi, mengatasi kesepian, mengatur keseimbangan otak, bekerja sama, serta mengenal lingkungan,” katanya. (Kompas,09/03/2007)  

Disadari atau tidak naluri bermain merupakan salah satu unsur utama kebudayaan manusia-homo ludens atau manusia yang bermain, seperti dikatakan Johan Huizinga (1872-1945) bahasa sejarawan dan filsuf Belanda.  

Merangsang Kreativitas
Sejak berdiri tahun 2003 komunitas Hong mengkampayekan pentingnya kaulinan budak. Kata hong berawal dari kata yang diteriakkan anak-anak Sunda saat bertemu teman. “Hong juga berarti pertemuan dengan Yang Maha Kuasa,” ungkap Zaini.  

Dalam pemahamannya permainan rakyat memiliki kelebihan dibandingkan dengan permainan modern. Bila permainan modern hanya terbatas melatih saraf motorik, kreativitas, dan kecerdasan anak, maka kaulinan barudak selain merangsang kreativitas dan kecerdasan anak, permainan rakyat juga menjadi sarana pengenalan rasa si anak terhadap diri, alam, dan Tuhan.  

Tengok saja, permainan yang mengolah rasa seperti permainan jajangkung (egrang) untuk melatih keseimbangan dan keprak (batang bambu yang dibelah salah satu ujungnya menjadi lengkungan) yang biasa dimainkan untuk mengusir sepi.  

Permainan congklak juga memiliki makna perjuangan yang dilakukan seorang manusia tiap harinya. Tujuh lubang menandakan jumlah hari dan satu gunung menandakan lumbung. Jadi, setiap hari seseorang mengumpulkan satu batu hingga penuh. Setelah penuh, batu atau benda tersebut dipindahkan ke lumbung untuk ditabung atau dibagikan kepada yang membutuhkan.  

Penggunaan lumbung ini tercermin pada kehidupan masyarakat Sunda yang masih menggunakan lumbung untuk menyimpan hasil bumi. Sama halnya dengan permainan Engkle yang juga ada di berbagai daerah. “Permainan itu juga bermakna perjalanan hidup seseorang dari hari ke hari sampai menuju surga,” ungkapnya.  

Kotak-kotak menandakan hari yang harus dilalui manusia hingga mencapai sebuah lingkaran besar yang menandakan surga. Setelah sampai di surga, ia melemparkan batu ke belakang untuk memilih tempat miliknya yang tidak bisa ditempatkan orang lainnya.  

Kiranya, permainan Sunda itu sarat dengan nilai ketuhanan, seperti Hompimpa. Kalimat “Hompimpa Alaium Gambreng” itu bermakna “Dari tuhan kembali ke tuhan, mari kita bermain!” (Kompas, 21/5/2010)  

Mudah-mudahan dengan adanya Festival Kaulinan Barudak Baheula di Kota Baru Parahyangan (2008); Festival Kolecer Kampung Bolang Kabupaten Subang (2008); Kaulinan Barudak di Pesta Rakyat Hari Jadi Bogor (2010); Ujungberung Festival Ke-6 Kota Bandung (2010) adalah bentuk ngamumule khazanah kesundaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi.   

Meluncurnya film dokumenter yang berjudul ‘Hebatnya Indonesiaku’ berkat kerjasama penerbit buku Mizan, Nestle DANCOW dengan Garin Nugroho untuk mewarisi kebudayaan Indonesia yang beragam, toleransi dan kebanggaan nasional di kalangan anak-anak melalui ‘Dan kau Pun Anak Indonesia’.  

Inilah makna terdalam Hari Anak Nasional dalam menciptakan generasi unggul sekaligus melestarikan komunitas kaulinan barudak. Terwujudnya tempat (pusat kaulinan barudak) memadai menjadi cita-cita tertinggi masyarakat Sunda. Semoga.  

IBN GHIFARIE, Pengiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama