Hijrah dari Masyarakat Statis

0
25
Pewarta-Indonesia, Noordin M Top, pria paling misterius di Indonesia sepertinya cukup berhasil mendoktrin para “penganten” untuk melakukan aksi terornya. Dalam sejumlah video dan buku-buku kesaksian para pelaku tetor, terang benderang mengungkap betapa aksi ini dilakukan dengan sadar untuk memenuhi penyempurnaan iman kepada Tuhannya sehingga ahirnya bom bunuh diri menjadi high way (jalan tol) berpindah (hijrah) dari dunia (kini) menuju surga (akhirat). Cuma saja, aksi Noordin Cs., ini ternyata ditolak sejumlah orang dan malah menilai cara itu berlawanan dengan ajaran agama (untuk itu kita sepakat ulah Nurdin harus dikutuk).
Debat-debat seperti ini sejak lama berkeliaran di halaman depan memori kita. Di satu sisi, ada kelompok yang menganggap dirinya benar, sementara kelompok lain mengklaim pihaknya yang lebih benar. Dalam gejala apapun, menjadi lazim untuk didebat, sehingga sepertinya apapun ide/gagasan di planet ini akan terfragmentasi pada kutub-kutub yang bermagnet dengan masing-masing julukan ideologi yang beragam. Baik kapitalisme versus sosialisme. Konservatisme versus Liberalisme. Fasisme versus demokratisme. Modernisme versus tradisionalisme, dst, akan terus berdialektika sepanjang manusia masih memuja kebenaran subjektif dan menutup segala upaya objektivitas kebenaran yang universal.
Memang penyederhanaan pertentangan ideologi pada dua kutub seperti ini cukup serampangan, seperti simplifikasi ala class of civilizationnya Huntington. Bagaimanapun arus utama akan selalu menimbulkan pusaran aktraktif untuk menarik arus kecil dan sempalan pada polarisasi ideologi, hingga pada titik tertentu terjadilah tabrakan dasyat dalam pergulatan ideologi.
Maka ideologi pun secara perlahan membutuhkan korban yang akan ditelan demi menafkahi sebuah mazhab yang statik, frigid, dan fasis. Sejarah perjalanan peradaban telah memberi warna atas semua peristiwa kelam sejak Flinstone hingga dark of ages, perang salib hingga world war I&II, perang teluk, perang Gaza, perang Bosnia, perang Belfas. Kekejaman Hitler, kekejaman Polpot, kekejaman Musoleni, kekejaman Westerling, kekejaman Apharheid, kekejaman Sabam Husein, kekejaman agresi militer Amerika, hingga kekejaman Alkaeda internasional termasuk kelompok Jamaah Islamiah, Azahari dan Nurdin M. Top.
 
Ada lagi yang ultra ekslusifer kelompok-kelompok kecil seperti David Koresh yang membakar diri dalam Armagedon ciptaannya sendiri, kelompok-kelompok ekstrim secara ideologi seperti Children of God, Saksi Yehova, Lia Eden, Mahdi, Herman Kemala, ataupun para hippies, underground, dan ekslusifers lain baik secara ideologi agama, hobbies, kultur, hingga tren mode, yang menemukan kebenaran versi mereka dengan lantang memproklamirkan diri melawan arus-arus besar mainstream, aliran ideologi, paham, doktrin yang mereka pandang lain, melenceng, dan murtad.
Belum termasuk dengan kejahatan-kejahatan kemanusian baik yang menggenosida maupun orang-per orang yang terinspirasi oleh pemaksaan kehendak satu pihak dari kekuatan bersar terorganisir seperti negera, terhadap yang lain, dan beberapa diantaranya lalu menjadi martir kemanusiaan semisal Munir, Soe Hok Gie, ataupun Udin.
Lalu kenapa para warior, perjuang, prajurit ataupun “penganten” dari sebuah ideologi tertentu mau dan tega menjadi eksekutor lapangan. Prof. Karl Manheim memang tergelitik lalu meneliti sosiologi pengetahuan terutama mengenai ideologi dan utopia yang menurutnya disalahkaprai oleh para pengikut masing-masing sebuah ajaran. Menurutnya ideologi oleh kelompok penganutnya adalah pengetahuan yang lebih sarat dengan keyakinan subjektif seseorang dari pada sarat empirik. Dalam pendapat-pendapat umum, ideologi menjadi rumah tahanan bagi mereka yang menganut gagasan/ide tertentu yang tertutup serta mengucilkan aspek universal apalagi terhadap kebenaran objektif, lalu menuduh gagasan di luar itu adalah “the other”, bahkan yang paling ekstrim dituduh sesat.
Dari sini, Manheim bergerak maju dan berkesimpulan bahwa orang atau kelompok penganut ideologi tertentu akan menyerang kelompok lain yang dalam pandangannya disebut utopis. Dalam pengertian umum, utopia adalah proyeksi kedepan tentang gagasan yang belum direalisasikan atau tidak sedang berlangsung. Dalam konsepsi ini misalnya, ideologi kapitalisme selamanya akan menganggap sosialisme sebagai gagasan utopis, karena sosialisme Marxisme dan Angels dianggap sebagai gagasan yang lain “the other”, tidak sedang berlangsung, serta tidak logis untuk mewujudkannya. (Pandangan ini harus dipisahkan dengan pengertian utopia Thomas More dan Robert Owen tentang masyarakat Ideal tanpa kelas).
Sehingga klaim terhadap kebenaran lalu menjadi subjektif menurut orang, kelompok dan organisasi yang menganut sebuah gagasan baik agama, ekonomi, politik, apa saja, dan kelompok yang lain dianggap utopis. Saling klaim seperti ini sebenarnya telah dianalisis oleh metode dialektika Fichte yang diadopsi Hegel, tentang metode menguji kebenaran (epistemologis) dengan struktur tesa, antitesa dan sintesa. Dalam tafsir Marxis, kebenaran yang hakiki diletakan pada materialisme sejarah (historical materialism). Atau membendakan sejarah, adalah metode ilmiah untuk mereduksi kebenaran ilmiah pada tataran yang lebih pragmatis (material) sehingga memberi ruang bagi koreksi ilmiah (antitesis) terhadap gagasan-gagasan evolutif menjadi perubahan yang cepat, radikal, menuju tatanan masyarakat yang bergerak progresif untuk mewujudkan sosialisme sebagai tatanan masyarakat impian.
Orang-orang seperti sealiran Azahari dan Nurdin dengan pandangan bidahnya pun menginginkan tatanan baru masyarakat yang anti Amerika, anti Barat, bahkan anti kafir. Orang-orang seperti Michael Jackson, John Lenon, dan Kurt Cobain pun memimpikan dunia tanpa kekerasan. Atau para pencinta lingkungan hidup seperti malta yang merindukan dunia yang hijau dan asri harus berbenturan dengan melunaknya penolakan Gubernur terhadap operasi tambang MSM. Kebenaran di mata mereka, menjadi vonis utopis di mata main stream. Tentu, pada konteksnya masing-masing kebenaran subjektif itu tumbuh menjadi tradisi, ritus, dan menjadi magis dalam kondisi batin penghayat ideologinya.
Memang, yang sedikit ini butuh masa uji untuk menjadi mashab. John Lenon, pernah menghipnotis dunia hingga model rambut ala The Beatles pun jadi tren global kalah itu. Jesus Kristus, dipandang bida’ah oleh Imam-imam Yahudi bahkan divonis kriminal oleh pengadilan Sanhendrin lalu dibunuh untuk akhirnya dimuliakan sebagai Tuhan yang sempurna pada 2/3 penghuni bumi ribuan tahun kemudian. Sama halnya nabi Muhammad, dan sejumlah nabi di masing-masing agama, lalu pun para martir seperti, Luther, Calvin. Para warior, Che Guevarra hingga Bunda Teresa. Yang semuanya merindukan tatanan masyarakat yang kreatif, cerdas, yang bergerak maju progresif, cinta pada kemanusiaan dan cinta pada sang Khalik.
Jawaban kenapa mereka semua melakukannya itu, ialah, karena mereka melihat sebuah tatanan masyarakat yang statis. Bangsa Yahudi kala itu menjadi durhaka, statis, dan memble. Nabi Muhammad ingin mengantar masyarakat yang statis pada masyarakat dinamis Madani. Bunda Teresa bergerak gesit ditengah pembiaran negara terhadap penderitaan rakyat kecil. Marthin Luther melihat gereja yang monoton dan lalim sehingga perlu Reformasi. Bahkan Hitler menjadi sangat benci pada Yahudi kaya yang melemahkan supremasi ras Arian yang uber ales sehingga memperalat Nazi. Marthin Luther King tidak rela kaumnya dianggap manusia kelas dua atau sedikit lebih baik dari binatang. Begitu juga Nelson Mandela, Gandhi, dan Che Guevara.
 
Mereka tidak tega melihat masyarakat mainstream yang statis di mana segala bibit penyakit sosial bertumbuh alamiah, organis, dan evolutif, terkukung dalam tradisi yang mengikat (eksklusif), tahyul, penuh romantika dan memperlambat kesadaran sosial. Padahal, masyarakat kontekstual, adalah masyarakat yang berjalan pada gerbong ruang (space) yang tetap (statis) dalam waktu yang bergerak (dinamis). Benar, kita ingin agar kebudayaan dan nilai-nilai kearifannya tidak berubah (tidak terkontaminasi), tetapi tidak untuk tatanan sosialnya. Dalam konteks kapitalisme justru budaya konsumtif akan menarik gerbong-gerbong budaya lokal pada budaya global yang cepat atau lambat akan mereduksi konsepsi budaya lokal.
Pada titik ini, kita sepakat perlu rem untuk meredam laju perubahan budaya lokal. Tapi pada sisi lain, masyarakat perlu menjadi kreatif dan dinamis terhadap perubahan jaman. Artinya, ketika USS George Washington sebuah kapal induk digerakan oleh tenaga neuklir dengan masa aktif 20 tahun lamanya, tentu itu berfaeda pada sisi pemanfaatan tenaga (energi). Tapi, tidak bisa menafikan dampak buruk bahkan sangat berbahaya dari efek negatif penggunaan tenaga nuklir tersebut.
Sama dengan penolakan kita terhadap ulah neo liberalisme yang meliberalisasi hampir setiap aspek kehidupan dan menyisahkan limbah peradaban yang sukar direduksi oleh nilai-nilai moralitas lokal. Meski kita mengganderungi efek humanis (HAM), demokrasi, dan efisiensi yang dihasilkannya.
Memang dunia kita sedang bergerak, bukan hanya Amerika, Eropa, dan Jepang. India, China, Korea, Vietnam dan banyak lagi pun tengah bergegas. Sementara masyarakat kita menjadi statis dan memble. Korupsi dianggap wajar, money politik adalah keharusan, inkonsistensi adalah budaya, dan machiavelly menjadi rujukan politik elit-elit di negeri ini.
 
Barangkali, di sini semangat hijrah Nurdin untuk merubah dunia perlu diadopsi, dengan menanggalkan motif kriminalnya yang anti humanis, sembari bekerja setulus Bunda Teresa dengan inspirasi para orang-orang suci yang ingin agar kita bergerak maju, lebih cepat dan lebih baik.
Pada akhirnya kita ingin masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang bergerak dari dogmatik menjadi kausalistik, dari metafisik menjadi empirik, atau dari irasional menjadi rasional. Yakni sebuah tatanan masyarakat yang bergerak dari ideologi sempit pada masyarakat cerdas, produktif, progresif yang mana nilai-nilai budaya tinggal tetap di tengah perubahan peradaban yang melaju. Itulah masyarakat sosialis demokratis religius yang kita semua impikan. (*)
 
 
Sumber image: kimiadahsyat.blogspot.com