Imunisasi Budaya Bangsa melalui Pengembangan Kampung Wisata Budaya

0
27

Pewarta-Indonesia, Persoalan identitas bangsa kerap kali mengisi ruang kecemasan manusia Indonesia. Makin bertambah usia, negeri ini seakan menjadi amnesia akan identitas dirinya sendiri. Manusia Indonesia kini lebih suka mengikuti gaya hidup global yang serba hedon dan materialistik. Dalam penuturannya Robins, mereka ini telah memproyeksikan dirinya sebagai kekuatan modernisasi yang transenden dan bersifat universal. Keluhuran budi manusia beradat Timur pun kini seakan hanya menjadi sebuah mitos.

 

Sebuah riset Reader Diggest, Amerika, Juli 2006, menyebutkan bahwa Indonesia sudah tidak termasuk apa yang disebut bangsa yang ramah-tamah. Fakta ini menegaskan bahwa identitas luhur bangsa Indonesia kini terancam pudar. Masalah identitas bangsa tidak akan terlepas dari bagaimana eksistensi kebudayaan lokal nusantara. Pasalnya, identitas nasional bangsa ini merupakan puncak-puncak dari kebudayaan lokal bangsa.

 

Adalah keliru, ketika ada yang menyebutkan bahwa penguatan eksistensi budaya lokal berarti mengabaikan identitas nasional bangsa. Justru penguatan terhadap budaya lokal ini bisa menjadi suplemen bagi kokohnya identitas nasional bangsa. Akan tetapi memang dibutuhkan lem perekat diantara kepingan puzzle kebudayaan lokal nusantara ini. Terlebih di era otonomi daerah, yang makin membebaskan masing-masing daerah untuk bereksistensi. Lem perekat itu tentunya adalah komitmen dan usaha pemerintah pusat dalam mensejahterakan kehidupan seluruh rakyat Indonesia.

 

Salah satu usaha potensial dalam perwujudan kesejahteraan rakyat ini adalah melalui pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dan kebudayaan. Satu diantaranya adalah pengembangan model perkampungan wisata budaya. Contoh inspiratif dari model ini adalah Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Perkampungan yang terletak di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan ini didirikan bertujuan sebagai kawasan konservasi budaya etnik lokal Betawi. Melalui kemasan wisata, perkampungan ini mampu memberi kesejukan alam dan kultural tamu wisatawannya.

 

Beragam pagelaran simbol budaya lokal etnik Betawi mampu menggugah rasa kecintaan wisatawan terhadap kekayaan lokal bangsa. Inilah yang menurut Anthony D.Smith dikatakan bahwa simbol budaya sebagai penggerak utama dari sejarah manusia. Inspirasi Model Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Perkampungan Setu Babakan resmi menjadi kawasan cagar budaya pada tahun 2004. Proses pembentukannya berawal dari insiatif lokal masyarakat setempat bekerjasama dengan lembaga kebudayaan Betawi, kemudian bermitra dengan pemerintah daerah dan swasta.

 

Hal yang menarik di sini adalah terkait peran swasta, yang hanya dibatasi pada kerjasama di bidang promosi. Pengelola menolak peran swasta dalam hal pendanaan, sebagai bentuk antisipasi kepentingan swasta yang kapitalistik. Selanjutnya untuk mendukung perkampungan sebagai kawasan wisata, dibentuklah beberapa klaster kegiatan ekonomi masyarakat. Diantaranya adalah paket wisata agro, air dan budaya yang mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi, kultural dan ekologis masyarakat setempat. Selain tiga jenis paket wisata tadi, ada juga wisata kuliner. Terdapat deretan penjaja makanan di sepanjang areal Setu Babakan ini. Mereka menjajakan berbagai macam makanan khas Betawi, dari mulai soto betawi, kerak telor, serabi, gado-gado, hingga semur jengkol pun tersedia di sini. Disini juga tersedia fasilitas home stay bagi pengunjung yang disediakan di rumah-rumah penduduk.

 

Selain berbagai paket wisata unik dan seru di tempat ini, Setu Babakan juga memiliki aturan khusus yang masih berakar pada Budaya Betawi. Misalnya, pengunjung diharapkan sudah meninggalkan lokasi mulai pukul 18.00 WIB karena menurut pengelola jika pengunjung masih di sini di atas pukul tersebut, bisa jadi niatnya sudah bukan lagi sebagai tempat berekreasi namun lebih ke hal-hal negatif. Kemudian yang unik lagi semua kegiatan di tempat ini diusahakan berhenti ketika terdengar suara adzan. Dari beberapa kelebihan yang ada di Perkampungan Setu Babakan, seperti pola pembentukkan yang bersifat bottom-up, penampilan wisata yang memadukan unsur fisik dan non-fisik budaya, dan aturan pengelola yang menolak peran swasta dalam hal pendanaan bisa menjadi model prototype pengembangan kampung wisata budaya di daerah etnik lainnya di Indonesia.

 

Namun bukan berarti kawasan ini tanpa masalah, beberapa diantaranya yang menonjol adalah belum maksimalnya pengelolaan kawasan. Hal ini ditandai dengan belum adanya badan otorita yang menangani pengelolaan perkampungan budaya itu. Saat ini, pemeliharaan perkampungan budaya Setu Babakan ditangani oleh tim pengelola. Tetapi, tim itu hanya bertugas melakukan pemeliharaan harian, dan tidak berwenang menetapkan program. Padahal, dinas-dinas yang terkait dalam penetapan kebijakan pengembangan perkampungan budaya itu jumlahnya sangat banyak, lebih dari 20 unit kerja.

 

Masalah lainnya adalah kurang tersajinya unsur esensial budaya etnik Betawi. Master plan perkampungan Setu Babakan yang telah disusun sejak tahun 2000 hingga kini belum berjalan optimal. Pembangunan atas dasar Master plan 2000-2010 ini cenderung lebih kepada pembangunan secara fisik, yaitu dengan membagi wilayah Setu Babakan ke dalam beberapa zona pengembangan. Sementara pembangunan secara esensi kebudayaan kurang begitu terasa. Keadaan ini mengakibatkan pergeseran tujuan awal perkampungan budaya Betawi Setu Babakan ini menjadi suatu objek wisata hiburan.

 

Rekomendasi Pengembangan Kampung Wisata Budaya Berangkat dari permasalahan Perkampungan Setu Babakan tersebut, penulis merekomendasikan beberapa solusi perbaikan. Yaitu pertama, dibentuknya badan otorita khusus pengelola kawasan yang keanggotaannya mensinergiskan unsur masyarakat lokal, pemerintah dan swasta. Sinergi ketiga stakeholder ini menjadi poin penting, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Kepariwisataan No.10 Tahun 2009, yang menekankan pentingnya keterlibatan antar stakeholder pariwisata dalam pengembangan dan promosi kepariwisataan. Melalui kerjasama dalam satu wadah badan otorita khusus ini, diharapkan mampu mengelola kawasan sebagai instrumen penguat etnisitas lokal bangsa. Perlu menjadi catatan disini adalah ruang lingkup peran swasta. Swasta hanya diperbolehkan terlibat dalam lingkup promosi wisata, bukan sebagai investor. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi ekspansi kepentingan swasta yang kapitalistik.

 

Kedua, memaksimalkan potensi atraksi wisata yang mengandung unsur esensial budaya. Diantaranya dengan memperketat social order masyarakat setempat terhadap wisatawan. Hal ini untuk menghindari pergeseran orientasi budaya akibat perilaku tidak etis wisatawan. Solusi lainnya yang terkait adalah pendirian study center yang berfungsi sebagai pusat penanaman nilai-nilai kearifan lokal kepada wisatawan. Fasilitas di dalam study center ini bisa berupa kumpulan dokumentasi sejarah budaya, baik melalui buku, photo, video, artefak dan lain-lain.

 

Selain itu diperlukan jasa pemandu seorang tokoh budaya setempat yang bisa menjelaskan sejarah, nilai-nilai kearifan lokal dan makna filosofis dari beragam unsur artifisial budaya. Pemahaman akan seputar identitas budaya lokal ini bisa menjadi modal penting dalam upaya memfilter ekspansi budaya asing di negeri kita. Urgensi akan hal ini diamini Piere Bourdieu yang mengatakan bahwa modal budaya menjadi modal terpenting dibandingkan modal ekonomi dan sosial, karena sifatnya mendarah daging dan sulit berubah-ubah.

 

Dari dua solusi perbaikan ini berikut kelebihan-kelebihan yang ada di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, penulis merekomendasikan model kampung wisata budaya ini diterapkan di kampung etnik lainnya di Indonesia. Melalui pembangunan kampung wisata budaya yang tumbuh secara masif di seluruh pelosok etnik nusantara, diharapkan menjadi tameng sekaligus senjata ampuh dalam menghadapi ekspansi budaya global yang bergerak secara masif pula. Output penguatan dan pelestarian etnisitas lokal yang dihasilkan dari kampung wisata budaya ini, menjadi kekuatan penting bagi keutuhan identitas bangsa ini.

 

Selain itu melalui pola bottom-up pengembangan kampung wisata budaya ini, diharapkan mampu mendongkrak kegiatan ekonomi rakyat yang berbasis budaya. Hal ini selaras dengan cita-cita ekonomi kreatif, yang berusaha mengunggulkan potensi keunikan lokal nusantara. Terlebih patut dicermati ramalan Alvin Toffler yang menyebutkan masa kreativitas sebagai gelombang peradaban dunia selanjutnya setelah era teknologi. Indonesia yang deposit akan keunikan budaya lokal seyogianya mampu menjawab tantangan masa kreativitas ini. Salah satu jawabannya bisa melalui kampung wisata budaya.

 

Dalam sorotan peluang, gagsan kampung wisata budaya ini memiliki prospek yang cukup potensial. Pasalnya, kecenderungan minat wisatawan saat ini mulai beralih ke nuansa alam dan etnik. Selain karena lebih refresh, peralihan ini terjadi sebagai upaya antisipasi teror bom yang kerap terjadi di wilayah perkotaan. Sehingga banyak wisatawan yang kini lebih memilih wilayah perkampungan sebagai destinasi wisatanya. Melalui peluang inilah gagasan kampung wisata budaya bisa dioptimalkan pengembangannya.

 

Berpacu pada peluang dan potensi yang dimiliki, maka kampung wisata budaya ini bisa berperan sebagai imunisasi bagi kebalnya budaya bangsa. Jika imunisasi dalam istilah tenarnya, merupakan proses pemberian vaksin kepada bayi untuk mencegah penyakit-penyakit berjangkit, maka kampung wisata budaya bisa berperan serupa. Yakni sebagai satu proses pemberian ”vaksin budaya” kepada manusia Indonesia untuk mencegah penyakit budaya global yang kian menjangkiti identitas bangsa kita.

 

Sumber image di sini