Israel Lagi, Israel Lagi

0
26

Pewarta-Indonesia, “GERAM”, kata ini kerap kali mencuat dalam pitam kita (manusia berperikemanusiaan), ketika mendengar/melihat/membaca kekejaman militer Israel mencipta neraka di bumi Palestina. Tidak hanya warga Palestina yang kini menjadi korban, ratusan relawan dari berbagai negara pun menjadi sasarannya. Adalah peristiwa ”pembajakan” kapal Mavi Marmada yang menjadi titik perhatiannya.

Atas nama kecurigaan terorisme, militer Israel meneror ratusan relawan Freedom Frotilla yang akan memberi bantuan kemanusiaan ke warga Gaza. Mereka (Israel) meyakini para relawan ini adalah sekutu Hamas yang akan menyuplai senjata ke jalur Gaza. Namun alibi Israel ini tidak terbukti, justru sebaliknya akibat alibi ini semakin jelas terbukti siapa sesungguhnya the real terorist.

Penyerangan militer Israel kali ini melibatkan warga Indonesia sebagai korban. Tercatat ada 2 korban terluka fisik dan 9 korban terluka psikis. Dari tayangan TV-One terungkap pengakuan beberapa relawan Indonesia yang menjadi korban. Berikut kurang lebih beberapa deskripsinya : ”Kami ditawan hampir sekitar 24 jam, ditempatkan di atas kapal yang panas dengan terik matahari, tidak dikasih makan, hanya dikasih satu gelas air minum, itupun untuk delapan orang. Ada diantara kami yang melawan, mereka (militer Israel) bereaksi dengan memukul, memberinya anjing helder hingga digigit, sampai ada yang menembakkan peluru. Semuanya diperiksa sangat ketat hingga secara psikis kami tertekan.”

Di tempat yang berbeda, tepatnya di ruang parlemen Israel, terjadi ”keganjilan kemanusiaan”. Seorang anggota parlemen Israel yang mengkritik tindakan ini, justru diusir keluar ruangan. Adalah Anastassia Michaell dari partai Yisrael Beteinu yang mengkritik bahwa tindakan ini salah dan akan berdampak kecaman keras dunia internasional. Tetapi mayoritas parlemen justru menganggap tindakan militer Israel ini benar demi keamanan di Gaza.

Dahsyatnya, pembenaran pemerintah Israel ini dibenarkan pula oleh sekutunya Amerika. Adalah wakil presiden Joe Biden yang mengkhawatirkan kapal relawan tersebut menyuplai senjata bagi kaum Hamas di Gaza. PBB pun kerap bersikap lunak dengan tidak menjatuhkan hukuman kepada Israel, sebagaimana disebut pada Bab VII Piagam PBB, bahwa sebenarnya PBB berhak menghukum pihak-pihak yang dianggap mengganggu keamanan dan perdamaian internasional.

Suara kecaman internasional semakin mengeras. Uni Eropa mulai memboikot ekonomi Israel, bahkan Belgia memutuskan kebijakan bagi siapa saja warga Israel yang datang ke negerinya, maka bisa dianggap kriminal, dan bisa dipenjara. Turki yang konon teman erat Israel kini mulai menjauh dan menjadi musuh, dia menarik diplomatnya dari negara Israel.

Lantas bagaimana sikap negara kita (Indonesia) selain hanya bisa mengecam? Sekilas penulis menyimpulkan bahwa negara kita masih belum bisa tegas setegas Bung Karno dulu melecehkan Amerika dan sekutunya, dengan pernyataan ”go to hell with your aid”.

Menarik persoalan ini ke ranah diri, maka sepatutnya kita merumuskan formulasi perlawanan yang tepat untuk memerangi Israel ini. Respon kita jangan sampai terjebak pada emosi aksi protes semata, tetapi diikuti juga dengan konsistensi diri untuk memerangi mereka. Penjajahan di tanah Palestina, sebenarnya berlaku juga di negara kita. Jika Palestina dijajah secara fisik, negeri kita dijajah secara non-fisik melalui invasi kultural dan ekonomi. Untuk itu hal terkecil yang bisa kita lakukan adalah bersikap teguh terhadap nilai moral dan agama kita, dan menghindari produk budaya asing (bersifat hedon) yang notabene hasil rekayasa Israel (bangsa Yahudi) untuk melemahkan keimanan dan daya nalar kita.

Untuk umat Palestina di Gaza, kita hanya berharap Tuhan sebagai penolongnya. Dan sebagai seorang Muslim, penulis berkeyakinan mereka yang terbunuh di jalan Allah itu tidaklah mati, mereka tetap hidup dengan mendapat rezeki Tuhan mereka (Ali Imran 169). Hikmah lainnya dari tindak kekejaman Israel ini adalah perlunya persatuan umat Islam secara politik untuk berani melawan secara lisan ataupun sampai level tindakan. Hal ini yang telah dilakukan Uni Eropa,sehingga mereka kini lebih berani mengecam Israel dengan kebijakannya seperti dijelaskan pada paragrap keempat.

Sumber image di sini