Kekerasan terhadap Perempuan Bukanlah Ajaran Islam

0
23

Oleh: Naazish YarKhan*)

Pewarta-Indonesia, Glendale Heights, Illinois – Suatu hari saya terkejut mendengar radio Laporan Komisi Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mengenai meluasnya tindakan perkosaan di Afghanistan. Sebagai seorang Muslim yang tahu bahwa keadilan dan belas kasih adalah inti agama Islam, saya bertanya pada diri sendiri mengapa para pelaku tindakan tersebut telah jauh melenceng dari akidah dan nilai-nilai dasar perikemanusiaan.

Ajaran tentang kasih sayang, belas kasih dan keadilan, yang merupakan inti ajaran Islam, termasuk bagaimana perempuan diperlakukan, telah terlampau sering dilupakan saat ini. Yang lebih ironis, ayat-ayat al-Qur’an tertentu telah disalahtafsirkan untuk membenarkan kontrol-atau bahkan tindak kekerasan-terhadap perempuan.

Al-Qur’an secara jelas menerangkan bagaimana lelaki dan perempuan semestinya saling mendukung, “Orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong, pendukung, teman, atau pelindung bagi sebagian yang lain” (Qur’an: 9:71). Namun, ada ayat-ayat tertentu yang terus saja disalahgunakan untuk membenarkan perlakuan tak setara terhadap perempuan, seperti ayat: “Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja, atau dengan cara bagaimana saja, yang kamu suka” (Qur’an 2:223). Ayat ini disalahtafsirkan oleh sebagian orang sebagai dalil sahnya kontrol laki-laki terhadap tubuh perempuan.

Untuk memahami apa sebetulnya inti ayat tersebut, saya berdiskusi dengan Dr. Maher Hathout, Penasihat Senior di Dewan Pengurus Masyarakat Muslim yang juga seorang pakar tentang Islam. “Sungguh hal yang memalukan dan melecehkan ketika ayat ini ditafsirkan dan digunakan bertolak belakang dengan tujuan sesungguhnya,” ujarnya ke saya. “Ayat itu sebenarnya menegaskan bahwa hubungan intim dengan pasangan kita haruslah atas dasar suka sama suka dan menghasilkan hal-hal yang baik-entah itu keturunan ataupun kedekatan emosional.”

Lalu mengapa ada perbedaan tafsir mengenai makna ayat ini dan juga ayat-ayat serupa yang lain? Dr. Hathout menerangkan: “Faktor-faktor sosial ikut memengaruhi penafsiran ayat-ayat itu. Ini tentang bagaimana kita memilih satu tafsir dari suatu kalimat yang punya berlapis-lapis makna. Dalam masyarakat yang terbiasa memperlakukan perempuan dengan buruk, pemaknaan yang sesuai dengan kebiasaan dan kepentingan mereka lah yang mereka pakai, tanpa mempedulikan kemungkinan tafsir yang lain. [Namun, saat ini] kita harus mencari makna yang lain dan memahami teks tersebut secara berbeda.”

Saat menemui ayat-ayat menyangkut perlakuan pada perempuan yang disalahtafsirkan, “Kkita harus memahami al-Qur’an dengan melihat perbuatan Nabi Muhammad sebagai konteksnya. Dan kita harus ingat bahwa beliau tak pernah menggunakan kekerasan kepada siapapun, apalagi pada istrinya,” ujar Dr. Hathout.

Kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dalam rumahtangga dan masyarakat Muslim disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang ajaran agama atau pengabaian yang memang disengaja terhadap ajaran-ajaran Islam-penghormatan dan belas kasih, keadilan dan kasih sayang. Yang harus kita lakukan adalah melihat kembali ajaran-ajaran inti ini dan menyadari bahwa prinsip-prinsip tersebut berlaku setara pada perempuan dan laki-laki.

Setiap harinya, umat Muslim kebanyakan berjuang melawan stereotip dan mispersepsi terhadap Islam, khususnya yang diakibatkan oleh segelintir ekstremis yang telah memutarbalikan aspek-aspek ajaran agama untuk kepentingan mereka sendiri-entah mereka itu para pengebom yang menyerang warga sipil tak bersalah atau anggota keluarga yang menggunakan kekerasan terhadap orang lain dalam rumahtangga mereka.

Meskipun demikian, perubahan total cara berpikir sering kali bermula dari hanya satu seruan yang kuat. Lebih bagus lagi jika seruan ini bersifat lokal. Organisasi perempuan lokal seperti Persatuan Perempuan Revolusioner Afghanistan, adalah salah satunya. Para pemimpinnya setiap hari mempertaruhkan nyawa mereka untuk mendorong para perempuan Afghanistan menyuarakan perlawanan terhadap kekerasan dalam rumah tangga.

Semakin banyak umat Muslim, laki-laki maupun perempuan, bersuara melawan kekerasan terhadap perempuan dan mengingatkan orang-orang bahwa Islam dan al-Qur’an mengajarkan keadilan dan kasih sayang, semakin cepat kita bisa mengoreksi penafsiran-penafsiran keliru atas kitab suci kita.

Dunia selalu berubah dengan cepat. Era informasi telah membuat perbuatan-perbuatan tidak manusiawi tak lagi dapat disembunyikan dan memberi mereka yang bersuara panggung yang lebih luas untuk bisa didengar. Walau perjuangan ini panjang dan perlu kerja keras, Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menggantungkan harapan.

*) Naazish YarKhan adalah penulis, editor, juru bicara, dan komentator NPR (jaringan radio komunitas di Amerika).

Sumber : Kantor Berita Common Ground; image: google.co.uk

BAGIKAN
Berita sebelumyaSaat Aku
Berita berikutnyaMenodai Hijriah
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.