Kematian Yesus dan Naskah Sunda

0
24

Pewarta-Indonesia, Setuju atau tidak, keberadaan naskah kuno (Sunda) harus diselamatkan. Pasalnya, paririmbon buhun itu mengajarkan kita tentang arti pentingnya persaudaraan, persatuan, dan perdamaian yang mulai hilang di Tanah Pasundan ini.

Pun itu menjadi bacaan ringan sekaligus rasa reueus kawula muda terhadap segala petuah leluhur. Tentu, diperlukan penerjemah oleh peneliti dan pengkaji supaya tidak hanya terkubur di Perpustakaan Nasional, Museum Sri Baduga, Kabuyutan Ciburuy, milik pribadi (dari keturunan kerajaan), tetapi juga dibaca masyarakat luas Tatar Sunda.

Rachmat Taufiq Hidayat, Wakil Ketua Lembaga Basa jeung Sastra Sunda, mengakui, pemahaman jimat menjadi kendala terkumpulnya naskah kuno. “Masih banyak masyarakat yang enggan menyerahkan naskah kuno kepada Perpusnas karena mereka beranggapan, naskah yang dipegangnya itu adalah jimat.” Parahnya, di Jawa Barat sendiri, dari 1.000 naskah Sunda kuno yang ada, hanya 10 persen yang sudah diteliti.

Keberadaan Tim Penyelamat Naskah Nusantara dan UU No 43/2007 tentang perpustakaan, yang menyebutkan, Perpustakaan Nasional memiliki tugas menginventarisasi naskah-naskah kuno yang ada di dalam negeri dan di luar negeri hanya sebatas tulisan yang dimuat pada pasal-pasal undang-undang. (Kompas, 29 Mei 2009).

Mampukah kehadiran wafat Yesus Kristus yang jatuh pada 2 April 2010 tidak hanya merayakan Tri Hari Suci: Kamis Suci (perjamuan terakhir Yesus), Jumat Agung (kematian Yesus), dan Sabtu Suci (saat Yesus dikubur) tetapi dapat memberikan semangat (kebangkitan) atas penyelamatan naskah kuno di Priangan ini?

Semangat kematian

Momentum kematian Yesus merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Kristiani berbasis keimanan yang kukuh (penyayang, saling kasih, rela berkorban, dan mendidik). Penyaliban Mesias pun menjadi pertanda peradaban Juru Selamat untuk menegakkan keadilan dan kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Ingat, pengorbanan Yesus di tiang salib yang dikhianati umatnya (Yudas) harus menjadi tonggak keteladanan yang mesti diserap dalam kesadaran (kehidupan) umat Kristiani sekaligus umat beragama di tengah pudarnya naskah buhun.

Umat Kristiani meyakini, kematian dihayati Yesus sebagai ketaatan (Roma 5:18-19). Maka, kematian Yesus berubah menjadi kebangkitan dan keselamatan. Yang mampu menghayati ajal sebagai ketaatan (tindak kebenaran) hanya Yesus. Pasalnya, ia adalah putra yang diutus Bapa ke dalam situasi dosa (Roma 8: 3, 32; 2 Korintus 5: 21, 8: 9; Galatia 3: 26, 4: 4).

Menurut Tom Jacobs SJ dalam buku Siapa Yesus Menurut Perjanjian Baru (1981: 64-65), wafat dan kebangkitan merupakan dua fase dari penyelamatan Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari dan menata masa depan, ajaran Mesias menjadi gerbang utama pedoman praktis bagi manusia. Kata Gordon Thomas dalam buku Mempertanyakan Kematian Yesus (2009: 89), “Ajaran Yesus tentang masa depan-bukan hanya bagi para murid, melainkan juga bagi seluruh dunia-sangat berbeda dengan wahyu-wahyu ilahi sebelumnya. Ajaran Yesus merupakan sistem filosofis yang dinubuatkan dengan sangat hati-hati dan menjadi pedoman praktis bagi perilaku semua umat manusia di masa depan.”

Dengan demikian, kehadiran wafat Yesus menjadi modal utama membangkitkan dan menyelamatkan sosok Yesus dalam sanubari kita untuk memelihara sekaligus menyelamatkan khazanah naskah kuno Sunda.

“Kabuyutan Ciburuy”

Salah satu naskah kuno yang perlu diselamatkan dan masih bertahan sampai sekarang, tetapi nasibnya sangat mengkhawatirkan adalah Kabuyutan Ciburuy yang berada di Kampung Ciburuy, Desa Pamalayan, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut. Pasalnya, Kabuyutan Ciburuy merupakan bukti nyata sakola Sunda.

Betapa tidak, momentum hari jadi ke-198 Garut yang diperingati setiap 17 Maret (14 Maulud) mengacu perhitungan waktu karya Roofer. Hasil konversi tanggal 14 Maulud 1228 Hijriyah itu adalah tanggal 17 Maret 1913 tak berarti bagi keberlangsungan Kabuyutan.

Kekhawatiran ini diungkapkan Undang Ahmad Darsa, dosen Filologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Peninggalan satu-satunya skriptorium Sunda kuno yang masih bertahan hingga sekarang ada di Kabuyutan Ciburuy.

Bila dibandingkan dengan naskah kuno yang berada di Perpustakaan Nasional, kondisi paririmbon di Ciburuy sangat mengkhawatirkan dari segi perawatannya.

Adalah KF Holle (Tuan Hola) tahun 1867 dan CM Pleyte yang menyebarluaskan keberadaan Kabuyutan Ciburuy yang berbahan lontar, daun nipah; ditulis menggunakan aksara, bahasa Sunda kuno; berisi aspek kehidupan para leluhurnya.

Konon, pada awalnya Kabuyutan Ciburuy sebagai sakola Ki Sunda sebelum menjamurnya pesantren di Garut. Hasil penelitian Undang Ahmad Darsa, Kabuyutan Ciburuy memiliki lima bangunan berdinding bilik bambu beratap hateup kiray; Patamon (bangunan berkolong sekitar 40 sentimeter yang berukuran 8 meter x 6 meter berserambi 8 meter x 4 meter dengan empat tiang utama berukuran sekitar 4 meter dan berlantaikan palupuh yang berfungsi sebagai tempat musyawarah adat dan menerima tamu).

Leuit (lumbung padi berkolong sekitar 1 meter yang berukuran 4 meter x 2 meter); Saunglisung (tempat menumbuk padi yang berukuran 9 meter x 3 meter, berdinding bilik bambu setengah terbuka tanpa daun pintu, berlantai tanah); Padaleman (lahan berpagar dinding anyaman bambu berukuran sekitar 10 meter x 50 meter, terbagi ke dalam tiga ruangan berundak sama besar yang disekat dengan dinding anyaman bambu dan setiap ruangan itu dihubungkan dengan pintu anyaman bambu); Panyarangan/pasigaran (bangunan berkolong sekitar 75 sentimeter yang berukuran 1,5 meter x 1,5 meter, berdinding palupuh bambu dan bagian mukanya ditutup daun enau bertangkai dijepit bilahan bambu).

Situs ini pernah dipugar dan selesai pada 21 Mei 1982 sekaligus diresmikan Haryati Soebadio, Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebagai upaya menghormati leluhur atas berkah yang diterimanya, dilakukan upacara seba yang jatuh setiap Rabu minggu ketiga Muharam. Praktiknya dilangsungkan pada malam Kamis (Rabu malam) setelah waktu shalat isya.

Seluruh 25 kropak dan 3 bundelan naskah dikeluarkan dari dalam peti penyimpanan guna merawat keutuhan naskah buhun ini. Dengan demikian, keselarasan semangat kematian dalam membangkitkan sekaligus menyelamatkan naskah kuno juga mewujud dalam diri Tuan Hola. Meski dianggap penjajah, ia menjunjung tinggi khazanah kesundaan melalui penerbitan buku-buku Sunda pertama.

Kiranya, kita harus melanjutkan estafet dan ikhtiar Holle yang berhasil mengumpulkan naskah-naskah Sunda (dua versi Sunda-Belanda), seperti yang disunting Edi S Ekadjati dan kawan-kawan dalam Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan (1988). Ia berhasil mengumpulkan 171 dari 404 naskah Sunda yang disimpan di Perpustakaan Nasional dan tiga naskah lagi tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

Inilah makna terdalam kematian Yesus bagi penyelamatan naskah kuno. Tuhan Memberkati. Semoga.

IBN GHIFARIE Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama