Laga Klasik

0
22

Pewarta-Indonesia, Jamur-jamur kekerasan memang sudah menjangkiti bangsa ini. Berkembang biak dengan cepat di mana saja, tidak kenal tempat. Mulai dari gedung mewah di Senayan, stadion sepak bola, kampus, hingga jalan raya. Semua menjadi tempat bertarung para kelompok yang sudah gelap matanya.

Belum lama kita melihat bentrokan para fanatik sepak bola yang sok loyal pada klubnya. Kemudian layar kaca dihiasi teriakan caci maki para anggota dewan yang terhormat. Dan yang terbaru, laga klasik antara mahasiswa versus polisi.

Jalan raya selalu jadi tempat favorit laga klasik ini. Aksi lempar batu dan semprotan water canon seolah menjadi menu utama yang tak boleh terlewatkan. Mereka tidak akan berhenti sampai ada darah yang mengalir dari kulit kepala atau nyawa yang hilang.

Ironis memang, sebenarnya baik mahasiswa maupun polisi memiliki tugas dengan misi yang sama. Yaitu membawa bangsa ini menuju arah yang lebih baik. Polisi, secara garis besar memiliki tugas menciptakan situasi kondusif di lingkungan masyarakat. Membuat situasi yang aman demi mendukung kelangsungan kegiatan politik, ekonomi, dan segala hal yang menunjang proses kemajuan bangsa.

Dan mahasiswa dengan segala keintelektualan yang dimiliki sudah seharusnya menjadi pemikir-pemikir kritis yang melakukan kontrol sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Juga belajar bagaimana menciptakan Indonesia baru yang lebih bermoral.

Masalahnya, kedua kelompok ini sering kelewat batas dalam menjalankan tugasnya. Mahasiswa selalu melakukan kontrol terhadap apa yang dilakukan pemerintah melalui aksi-aksi jalanannya. Berharap pemerintah membuat keputusan yang berpihak pada rakyat. Bagus memang tapi tetap harus pada koridor hukum yang ada. Bukannya melakukan perbuatan anarkis yang malah merugikan banyak pihak.

Melihat situasi seperti ini polisi yang tugasnya menciptakan situasi kondusif akan turun tangan demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Nah, pada saat seperti itu lah potensi terjadinya baku hantam sangat besar.

Tak peduli siapa yang memulai, yang jelas pertarungan jalanan itu bukanlah cerminan kepribadian bangsa. Jika mereka mengaku mecintai bangsa ini dengan melakukan apa yang telah mereka perbuat, itu omong kosong besar. Karena semua kekerasan yang mereka lakukan berhasil membawa Indonesia mundur ribuan tahun ke belakang kembali pada jaman primitif di mana siapa yang kuat, dia yang menang.

Dan tentunya bangsa ini tidak butuh manusia yang jago lempar batu atau mahir menembakkan water canon untuk mengubah nasibnya. Tapi manusia dengan kualitas moral tinggi, yang mau lebih menggunakan otak ketimbang otot untuk menyelesaikan semua masalah.

Sumber image: google.co.uk