Malaysia, The Trully Maling Asia?

0
28

Oleh: Veldy Umbas*)

Pewarta-Indonesia, Gempa berkekuatan besar kembali mengguncang bumi Indonesia, lebih khusus daerah Jawa. Sejenak melupakan goncangan budaya ketika Malaysia mengklem segala-galanya tetang seni, budaya, ekonomi bahkan kedigdayaan kedaulatan negeri ini.

Di hampir semua status FB, bahkan tak ketinggalan banyak orang meng “comment” semua kejadian minor yang membuat kita geram, gemas bilapun ganas. Ganyang Malaysia!, dulu begitu kata Bung Karno, ketika melancarkan konfrontasi dengan Malaysia di awal-awal tahun 1960an. Ganyang Malaysia seakan menjadi relevan puluhan tahun sesudahnya. Di era Suharto, kita hampir lupa bahwa kita pernah tidak harmonis dan saling kecam. Sekarang, kita pun mulai menggugat kalimat negeri serumpun yang menggugah itu.

Malaysia memang bukan cuma dikaitkan dengan pencurian pulau, pencurian seni, tradisi dan kebudayaan, atau penyiksaan TKW seperti Nirmala Bonat Cs, atau untuk kasus Manoharo yang menggelitik itu, tetapi Malaysia juga secara tidak terang-terangan, terkoneksi dengan terorisme. Paling tidak sejumlah teroris pelaku bom di Indonesia sangat terkait dengan orang per orang yang berwarga negara Malaysia. Dalih teroris Indonesia tempat yang praktis untuk melawan Amerika dan sekutu sebenarnya salah kaprah untuk dihubung-hubungkan mengingat, Malaysia yang federalis juga menggunakan bahasa Inggris sebagai second language dan lagi cukup liberal dan terbuka secara ekonomi baik dengan Inggris, Eropa, juga Amerika. Mahatir perdana menteri terlama Malaysia malah sangat dekat dengan Amerika yang ikut berkelompot dengan Amerika memboikot Olimpiade di Rusia dengan tidak mengirim tim Sepak Bolanya, walaupun belakangan berseteru dengan George Soros yang ikon Amerika itu. Laporan terakhir, Hillary Rodham Clinton malah bertemu dengan Menlu Malaysia Anifah Aman yang berbincang soal hubungan dagang kedua negara yang kini mencapai US$49 triliun, terakhir Najib Tun Razak lewat perbincangan telpon telah mengundang Presiden Barack Obama mengunjungi negeri yang memiliki Genting Highland yang menjadi surga para penjudi. Maka, sejatinya aksi terorisme yang paling patut menurut jihad Alkaeda dan penganut Nurdin Top harus dilakukan di Malaysia.

Kembali ke masalah mengapa kita gemas dengan Malaysia. Adalah tari Pendet yang belakangan membuat Jero Wacik semi selebriti yang melakukan safari talkshow di media-media massa, yang sewot, kebakaran jenggot dan agak provokatif. Benar kita sepakat untuk marah bahwa budaya Indonesia sedang digerogoti sedikit demi sedikit. Hanya kita juga bertanya nakal, kenapa ya, Malaysia selalu keduluan mempromosikan asset-aset budaya kita. Kenapa kementerian kebudayaan sepanjang massa (dengan nama departemen yang berganti-ganti) tidak membuat perencanaan yang komprehensif tentang format budaya nasional lalu disealed atau dilabel dengan merek versi Indonesia. Atau jangan-jangan kita lupa bahwa liberalisasi ekonomi dunia juga telah ikut meliberalisasi atribut-atribut kebudayan sehingga klaim budaya, seni dan tradisi kemudian bukan lagi soal nilai sejarah, norma dan keimanan, tetapi soal administratif semata tergantung siapa yang lebih dulu mematenkan. Beberapa merek kopi tersohor dunia misalnya banyak menggunakan nama kopi Indonesia sebagai trade mark resmi, meski isinya adalah kopi dari negara lain.

Dalam kasus tari pendet, memang kita menyesali sangat dan bahkan marah. Tapi, Malaysia sebagai negara yang sedang gencar melakukan promosi pariwisata jelas ingin terdepan. Boleh Pendet lahir dan menjadi magis di Bali. Tapi, tidak tabuh bagi orang Malaysia menarikannya di depan para turis yang berkunjung ke Malaysia. Boleh Reok lahir dan menjadi kebanggaan Ponorogo, tetapi tidak membuat orang Malaysia kurang bangga dan malah senang mementaskannya di Malaysia.

Di dunia seperti ini, terjadi pertukaran hebat seperti dalil-dalil neo kapitalisme dan neo liberalisme. Siapa yang melarang? Apakah karena Malaysia menari, mementaskan bahkan mengklaim, lalu kita mulai membidikan meriam sembari teriaak, bunuhhhh…

Atau kita mengutuk mereka, seperti di salah satu group FaceBook yang membuka account; Malaysia, The Truly Maling Asia yang dipelesetkan dari taglinenya, The truly Asia. Oke, kita kutuk saja, tapi nanti setelah itu tari Cakalele, Maengket, Masemper pun jadi iklan pariwisata Malaysia, dan kembali kita marah-marah.

Padahal kita yang punya, walau kita sendiri sudah malas bahkan bosan menonton pertunjukan-pertunjukan seni tradisi, kecuali panggilan formalitas penjemput tamu atau peresmian gedung baru.

Tidakkah patut kita kembali merenung. Seberapa bangsa ini mencintai seni tradisinya sehingga menjadi barang rongsokan yang tidak lagi mengisi ruang kesadaran kebudyaan Indonesia, kecuali sekadar mengiasi setiap ritual-ritual kehidupan social, ekonomi maupun politik. Bangsa ini masih sibuk dengan urusan gugat-menggugat klaim keadilan sembari membiarkan persoalan rakyat banyak seperti pengangguran, kemiskinan, dan kebodohan berserakan di halaman depan republik kita.

Malah jutru naïf disaat tarian-tarian seperti ini dengan lenggak-lenggok yang indah disertai pakaian tradisional nan menawan lalu dilakoni dengan penuh aura (bukan aurat), sungguhlah telah dilarang oleh negara melalui undang-undang Pornografi yang disetujui oleh partai-partai melalui fraksi-fraksinya di DPR. Masih ingat betapa rakyat di mana tarian Pendet berpendar, melakukan protes keras. Rakyat negeri dewata itu meringis. Tak tega kearifan lokal warisan leluhur dituduh pornografi atau pornoaksi oleh negara yang lazimnya melindungi kebudayaan para sanaknya I Ketut Puja, Ratulangi, Sukarno, Maramis Cs,. yang kala itu menolak Syariat Islam berlaku di negeri Bhineka Tunggal Ika.

Mari kita lupakan sejenak kasus pendet, reok, batik, keris, dll, dan biarlah dimainkan saja atau dipakai di hampir seluruh penjuru dunia sembari kita memperkuat citra negeri berbudaya dengan kembali memberi tempat pada kearifan budaya dan seni tradisi yang terus pojokan.

Malaysia memang gencar berpromosi tentang menjadikannya sebagai pusat wisata budaya Asia. Paling tidak, beberapa laporan menyebutkan bahwa pariwisata merupakan bisnis paling besar yang menyedot transaksi dolar paling besar di seluruh dunia. Karena itu, negara-negara yang sumber daya alamnya relatif kurang mencoba memaksimalkan potensi wisatanya untuk bisa meraup fulus yang banyak.

Di dunia pelancongan, Bali konon justru lebih dikenal ketimbang Indonesia. Dan Malaysia punya niat untuk memperkuat rekognisi bahwa Malaysialah the most popular destination di Asia. Perebutan lahan bisnis wisata inilah yang membuat Malaysia makin greget. Sejak diluncurkan 2007 lalu, dengan tagline, The Truly Asia, Malaysia memang jor-joran untuk berpromosi.

Coba saja anda masukan key word wisata ke google, maka destinasi Malaysia akan muncul pada related result, di mana ini terjadi karena klien memesan hubungan langsung ini pada google, tentu dengan bayaran yang sangat mahal. Mari lihat anggaran promosi wisata Malaysia pada tahun 2008 yang mencapai 100 juta dollar AS. Sementara Indonesia untuk tahun 2008 hanya menganggarkan 15 juta dollar atau 80% lebih kecil dari Malaysia. Dan anggaran promosi wisata Malaysia yang besar itu, hanyalah bagian kecil dari paket anggaran 5 tahun sejak Promosi Visit Malaysia Year 2007 diluncurkan dengan total paket anggaran 500 juta dollar.

Dari sisi anggaran kita patut cemburu karena Malaysia yang bila ditakar teritorinya hanya sepersepuluh luas wilayah nusantara kita. 329.749 km2, dengan jumlah penduduk yang mencapai 40 juta jiwa. Sementara Indonesia memiliki luas wilayah 1,9 juta km2, dengan 7 ribu pulau di mana hanya 1000 lebih pulau yang ditinggali. Sisanya menjadi pulau tak berpenghuni. Tak heran, ribut-ribut soal pulau dijual barangkali buntut karena anggaran pariwisata tak berbanding lurus dengan potensi yang dimiliki bangsa ini.

Maling Asia?

Plesetan maling Asia menjadi pernyataan yang cukup menggelitik setelah apa yang telah dilakukan oleh Malaysia terhadap beberapa aset budaya Indonesia. Tapi barangkali kita perlu periksa lagi, kenapa Malaysia nekat mencatut ikon-ikon seni tradisi bangsa kita. Dalih mereka bahwa Malaysia adalah negara yang terdiri dari berbagai ragam suku seperti suku Melayu juga ada di Indonesia, suku Cina, India, dll, persis seperti yang juga struktur demografi Indonesia.

Bahwa, mereka lancang menyadur dan bahkan mengklaim seni tradisi Indonesia menjadi bagian mereka adalah satu hal. Tetapi, seni tradisi entnis yang gencar mereka promosikan nampaknya sedang menjadi primadona daya tarik wisata dunia. Para pelancong Eropa ingin bertandang ke Asia untuk melihat dan merasakan eksotisnya Asia. Makanya tagline, the truly Asia menjadi slogan jualan utama mereka. Bahwa potret Asia dapat dijumpai di Malaysia. Ya, seni tradisinya, ya alamnya, ya keramahannya, ya kenyamanannya, dan apapun mengenai Asia, tinggal berkunjung ke Malaysia. Dengan kata lain, mereka ingin menyuguhkan one stop travelling in Asia.

Untuk itu sekali lagi mari kita kutuk perbuatan tak pantas negeri serumpun itu. Tetapi, kita patut sadar dan berbenah. Indonesia punya unlimited diversity untuk semua manfaat pariwisata yang diinginkan para pelancong. Alam kita yang indah, penduduk kita yang ramah, keamanan (kecuali stigma terorisme dari para teroris asal Malaysia itu), seni tradisi yang luar biasa banyak dan beragam. Kecuali political will dari pemerintah untuk menempatkan pariwisata sebagai sektor unggulan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bila mengacu pada perbandingan anggaran promosi wisata paling tidak, negara harus mengeluarkan dana hingga 3 triliun untuk mengimbangi Malaysia. Dan itu belum termasuk dana perbaikan infrastruktur dasar, jalan, air bersih, fasilitas publik, dsb.

Memang semua masalah ini terkesan klise, namun bila kita ingin menjadi terdepan dalam industri wisata khususnya di Asia Tenggara, maka perlu keberpihakan anggaran sehingga pariwisata Indonesia dapat berjaya tanpa takut dicuri orang lain.

*) Penulis adalah Sekretaris Umum IMA Chapter SULUT

BAGIKAN
Berita sebelumyaYonif Mekanis 201/JY Latihan Pertempuran Kota
Berita berikutnyaPeringatan Nuzulul Qur’an di Mabes TNI
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.