Mau Kemana Infotainment

0
26

Pewarta-Indonesia, Luna Maya, artis cantik menghentakkan jagat opini publik menjelang akhir tahun. Kalimat pendek dalam mini blog twitter yang  yang ditulisnya tentang infotainmen mengundang kegeraman para pekerja infotainment, bahkan menyeret Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) melalu cabang DKI Jaya, PWI Jaya memperkarakan tulisan pendek itu dengan tudingan melanggar Undang-undang tentang informasi dan teknologi, undang-undang yang dibuat tahun 2008 itu sebelumnya sudah menjerat Prita Mulyasari yang dilaporkan oleh sebuah rumah sakit.

Laporan PWI Jaya ke pihak kepolisian ternyata mendapat dukungan dari pengurus PWI pusat, tak kurang ketua PWI meradang dan menyebutkan untuk wartawan yang tak tersinggung dengan pernyataan Luna sebaiknya berhenti sebagai wartawan. Sementara laporan dan berbagai perkembangan tentang kasus Luna bergulir, pertanyaan tentang posisi pekerja infotaimen juga mendapatkan sorotan publik yang cukup gencar. Pertanyaan utramanya adalah apakah pekerja Infotainment adalah wartawan atau bukan.

Saya termasuk yang tidak sepakat dengan PWI yang telah mengakui pekerja infotainment sebagai bagian dari jurnalisme. Saya lebih berpendapat untuk membiarkan infortainmen di jalur hiburan. Kalaupun metodologi mereka menggunakan teknik jurnalisme dalam menggali informasi tentang selebritis, hal itu sah-sah saja. Karena apabila kita memasukan infotainmen dalam ranah jurnalisme, maka akan ada konsekwensi yang cukup berat baik untuk para pekerja infotainmen maupun subjek pemberitaanya, yakni para nara sumber. Di satu sisi para nara sumber terikat dengan kewajiban untuk membuka akses, untuk tidak menghalang-halangi kerja wartawan atas nama kemerdekaan pers. Di sisi lain para pekerja infotainmen sendiri akan terjerat kode etik jurnalis yang tidak mudah mereka penuhi.

Pemikiran ini tentu untuk kepentingan semua pihak, sehingga bagi pekerja infotainmen perlu merumuskan etika kerja mereka sesuai dengan lingkup kerja dan mekanisme teknis maupun yuridis sebagai konsekwensi sebuah profesi, yang saya pikir lebih mendekati profesi dunia hiburan. Hal ini juga akan memberikan pemahaman kepada publik bahwa acara yang dihasilkan adalah bagian dari hiburan, yang tentu saja tetap menjungjung tinggi kewajiban sebagai pendidikan masyarakat melalui hiburan yang sehat dan profesional.

Ada pula pemikiran kawan-kawan yang mengkhawatirkan jika pekerja infotaimen dilepaskan dari ranah jurnalisme akan menjadikan mereka terlepas dari kode etik, sehingga akan semakin memperburuk kinerja infotaiment dari sisi jurnalistik yang kewajiban utamanya adalah mengungkapkan kebenaran untuk kepentingan warga atau kepentingan publik, sebagaimana juga dianut di Amerika yang memasukan infotainment sebagai soft journalism. Justeru kita melepaskan dari ranah jurnalisme untuk memberikan ruang bagi infotainment sendiri, agar berkembang menjadi kerja dengan karya yang menghibur dan mendidik melalui hiburan, seperti diuraikan di atas.

Dengan memandirikan para pekerja infotainment sebagai pekerja hiburan, maka kita akan dapat memberikan ruang pengembangan profesi ini dengan filosofi, metodologi dan etika pekerjaanya secara utuh. Sehingga hal-hal yang kurang mengenakan, seperti tudingan sebagai jurnalisme yang lembek atau bahkan tidak baik tidak lagi bisa dilekatkan kepada mereka sepanjang mereka melakukan pekerjaanya secara profesional dan menjungjung etika profesi kerjanya. Dengan demikian kasus sejenis Luna Maya akan dapat dieleminir ke depan karena bisa dibicarakan oleh sesama pekerja hiburan.

Sebagai sebuah profesi, maka para pekerja infotainment juga bisa mendidirkan serikat kerja dan membuat batasan-batasan profesinya serta kode etik profesi secara mandiri pula. Inilah tantangan yang ada di depan mata para pekerja infotaiment maupun perangkat pendukungnya. Dengan demikian juga akan cukup dekat dengan subjek sumber-nya yakni para selebritis atau mereka yang layak panggung, yang juga sebagian besar berada di panggung hiburan.

Sumber image: Google.co.uk