Mengakrabi Wisata Religius

0
52

 

Refleksi 40 Hari Pasca Agresi Israel ke Gaza

Pewarta-Indonesia, Momentum 40 hari (matang puluh) pasca konflik horizontal Israel-Palestina yang jatuh pada 05 Februari 2009 sejak 27 Desember 2008. Sejatinya, harus menjadi modal dasar kebangkitan keimanan sekaligus semangat kemanusiaan dan pencerahan bagi seluruh dialog antar-iman serta menemukan tujuan hidup di atas puing-puing reruntuhan akibat kebiadaban tangan manusia lalim. Matang puluh juga mesti dijadikan barometer sebagai wahana refleksi seberapa jauh kualitas kita dalam melakukan perjalanan spiritual untuk menemukan jati diri dan perubahan hidup yang lebih baik sejak kisrus berlangsung. Mampukah model wisata religius –dengan bertandang ke tempat ibadah (Tembok Ratapan, Gereja Makam Kristus, Mesjid Al-Aqso, Dome Of The Rock [Mesjid Kubah Batu], Via Dolorosa), dan ruang publik (kantor, rumah sakit, bandara) yang saat pertempuran semakin tak beradab selama 40 hari, 40 malam – melahirkan kesadaran kolektif guna membangun solidaritas antarumat beragama? Terwujudnya masyarakat yang adil, tenteram, damai, toleran, sejahtera dan harmonis pun menjadi cita-cita yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Kekuatan Angka 40

Konon sepanjang sejarah, angka 40 telah dikenal sebagai angka mistis sekaligus suci untuk praktek-praktek yang memberi makna perubahan secara positif. Menurut ilmu numenorologi, angka 40 melambangkan kematian diri seseorang dan kelahiran kembali secara spiritual. Menurut tulisan kabbalistik dalam kitab Zohar untuk sampai pada akhir sebuah lingkaran transformasi dibutuhkan 40 hari mulai dari penentuan tujuan, persiapan hingga pengujian tujuan.

Uniknya, bila bilangan 40 dilihat dari doktrin agama-agama. Ilene Segalove, seorang pendeta Yahudi (2006;3-5) menjelaskan angka 40 digambarkan dalam kitab Taurot sebagai hurup 13 (tiga belas) dalam Yahudi ‘mem’ dan kartu mati serta menandakan penyelesaian dari sebuah tahapan. Agama Yahudi mengajarkan bahwa Anda masuk embrio bayi pada usia 40 hari. Dogma Kristen melalui kitab Injil, angka 40 disebutkan sebanyak 120 kali, diantaranya; ketika orang-orang Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, mereka terlunta-lunta di padang pasir selama 40 hari. Waktu tersebut dianggap sebagai masa penyucian dan penyiapan untuk memasuki tanah yang dijanjikan (the promised land); Musa berusia 40 tahun saat Tuhan memanggilnya; Musa mendaki puncak bukit Sinai dan menghabisakan waktu di bukit itu selama 40 hari 40 malam. Ia menerima bagian pertama sepuluh perintah Tuhan. Pada saat orang-orang di sekitarnya membuat sesembahan palsu. Musa kembali ke bukit Sina dan tinggal selama 40 hari 40 malam yang kedua kalinya. Kemudian ia menerima wahyu bagian kedua dari sepuluh firman Tuhan sebagaimana yang kita kenal sekarang; Yesus menghabiskan waktu 40 hari 40 malam untuk menyepi, berdoa dan berpuasa di dalam hutan belantara Judean dalam rangka mempersiapkan diri melaksanakan perintah Tuhan.

Ajaran Islam; Muhammad saat menerima wahyu pertama surat Al-Alaq berumur 40 tahun; Jagat raya ini di 40 pilar yang disimbolkan oleh tiang penyokong Kubah Mesjid di Jerusalem. Dharma Budha, Sang Guru Agung Budha Gatama melakukan meditasi selama 40 hari di bawah pohon Bodhi. Selama waktu itu godaan dan bahaya dunia mengancam dirinya. Namun pada hari ke 40 ia memperoleh pencerahan. Jalan Yoga jenis Kundalini program fisik dan mistis untuk perubahan ke arah kebajikan. Katanya memerlukan waktu 40 hari untuk menghilangkan prilaku buruk dan 40 hari lainya untuk memperoleh perilaku positif.

Tak hanya itu, dalam legenda, cerita rakyat, kepercayaan suku ikut memberikan makna 40. Tengoklah, legenda di Jerusalem mengatakan bahwa jika Anda mengunjungi Western Wall selama 40 hari berturu-turut dan berdoa untuk satu keinginan khusus, maka keingian itu akan terkabul. Beberapa agama timur juga kepercayaan orang Mesir kuno 40 adalah jumlah hari yang penting bagi jiwa untuk bisa terlepas dari badan. Itulah mengapa terdapat upacara keagamaan guna menghormati dan memperingati orang yang sudah meninggal setelah 40 hari meninggal.

Layaknya di masyarakat Sunda, upacara matang pula kerap terjadi. Masyarakat adat (suku kono) tertentu, setelah disunat laik-laki harus mengasingkan diri dalam semak-semak belukar untuk menyepi selama 40 hari. Pada hari ke 40 baru bisa pulang ke rumahnya. Pembabakan sejarah, kala Renaisan 40 hari dianggap sebagai periode yang sempurna untuk menyelesaikan pekerjaan yang penting. Pun keahlian medis ikut menyuarakan bahwa sela dalam aliran darah manusia memperbaharui dirinya selama 40 hari sekali.

Pentingnya Arti Kehidupan

Di tengah ketidakpastian hidup dan peperangan yang tak kunjung selesai. Pasalnya, agresi israel ke Gaza telah merusak sekaligus melumpuhkan infrastruktur dan akan melahirkan ektrimis-ektrimis anti Yudaisme. Sampai hari ini tercatat lebih dari 1.100 orang korban tewas dan lebih dari 5000 orang terluka. Jumlah tewas anak-anak pun telah melebihi angka 350 jiwa. Peristiwa naas ini telah meluluh lantahkan 4.000 bangunan rumah dan 17.000 ringan dan parah. Kendati pihak Israel bersikeras mengatakan pasukan Israel telah berusaha semaksimal mungkin menghindari korban warga sipil di daerah yang padat penduduk. Israel justru balik menuding Hamas sengaja bersembunyi di balik warag sipil dan memasang warga sipil sebagai tameng hidup. Hal ini diungkapkan oleh Richard Falk, Pakar hak asasi manusia untuk isu HAM di Tepi Barat dan Jalur Gaza, sebenarnya, bukti bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang saat menyerang Gaza selama 23 hari sudah jelas.

Namun, untuk membuktikan Israel melanggar aturan hukum internasional dan melakukan kejahatan perang, diperlukan penyelidikan independen dan mendalam. Apalagi melihat fakta, Israel tidak berusaha memperbolehkan penduduk sipil menghindari serangannya. Israel justru mengunci warga sipil dalam zona perang. ”Itu jelas lebih parah dibandingkan dengan yang pernah dialami kaum Yahudi yang dibiarkan kelaparan dan dibunuh Nazi pada Perang Dunia II,” kata Falk. Seharusnya, lanjut Falk, Israel memberikan kesempatan kepada anak-anak, orang cacat, atau warga yang sakit untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman di luar Gaza atau di Israel selatan. ”Semua penduduk di Gaza yang terperangkap di dalam zona perang tanpa diberikan kesempatan untuk mengungsi akan mengalami gangguan mental sepanjang hidupnya,” ujarnya (Kompas, 24/01).

Menilik angka kematian yang tak sedikit itu, membuat kita resah, miris, iba dan menggedor arti pentingnya sebuah kehidupan. Rupaya, ajaran Konfusius (suasana dan semangat Imlek 2560) memberikan petuah kepada kita ”Perjalanan ribuan kilometer dimulai dengan langkah pertama” ungkap Lau Tzu (500 SM). ”Apa sebenarnya tujuan hidup mausia?” Ia menjawab ”Belajar dan terus menerus belajar seumur hidup untuk menjadi manusia.” Caranya bagaimana? “Kalau pisau harus diasah dengan batu supaya berguna, maka manusia harus diasah dengan manusia.” Karena itu hurup kanji pintar/chung-ming dimulai dengan hurup kuping (untuk mendengar) lalu mata (untuk melihat) diikuti mulut supaya dimasukan ke hati. Juga ditambah matahari dan bulan untuk dikerjakan siang malam sepanjang hari.

Dalam kontek traumatik dan depresi akut pasca agresi Israel ke Gaza. Hidup ini memang harus dijalani dan penting usaha untuk menamukan sekaligus menjadi diri kita sendiri ditengah masyarakat yang terus berkembang dan tidak terjebak dalam perjuangan sekedar untuk mendapatkan spiritualitas dalam diri ini. Dengan demikian, memaknai hidup tidak hanya berputar pada urusan apa yang boleh dan dilarang dikerjakan supaya terhindar dari hukuman dan memperoleh kebahagiana akhirat. Namun, kebermanfaatan bagi diri, orang lain (bangsa dan agama) menjadi sebuah keharusan. Inilah pentingnya makna hidup yang diinginkan oleh Jusuf Sutanto, pemerhati kearifan kuno saat berziarah ke tempat-tempat ibadah. Semoga.

Penulis adalah Pegiat Studi Agama-agama dan Pemerhati Kebebasan Beragama
Sumber image: misticmindpower.com

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]