Mengatasi Masalah Pangan dan Gizi adalah Tugas Bersama

0
43

Pewarta-Indonesia, KUPANG – Musim Kemarau sudah di depan mata, apakah akan berulang lagi permasalahan kerawanan pangan yang berdampak adanya anak-anak kurang gizi seperti tahun-tahun sebelumnya. Kurang gizi pada anak-anak terutama balita banyak dijumpai di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Menurut data Dinas Kesehatan NTT, sejak awal Januari sampai 13 Juni 2008 tercatat 23 anak balita di Nusa Tenggara Timur meninggal dunia karena gizi buruk. Secara keseluruhan, sejumlah 12.818 anak balita di NTT mengalami gizi buruk dan 72.067 balita menderita gizi kurang.

Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa kerawanan pangan bukan satu-satunya penyebab kekurangan gizi. Intervensi untuk mengatasi kurang gizi seringkali terbatas pada upaya-upaya kuratif jangka-pendek untuk mengatasi konsekuensi terburuk dari kekurangan gizi namun sedikit sekali membahas akar permasalahannya. Intervensi jangka pendek pada akhirnya akan memperburuk masalah karena sumber daya dipisahkan dari pendekatan jangka panjang yang lebih struktural.

Study yang dilakukan Universitas Indonesia 2006 dan Institut Pertanian Bogor 2007 di Kabupaten Sikka dan Lembata di beberapa lokasi di mana Plan Indonesia bekerja menunjukkan bahwa kurang gizi memiliki banyak penyebab yang mendasar namun di NTT sebagian akar permasalahan yang spesifik adalah: praktek pengasuhan yang buruk dalam keluarga, sangat terbatasnya keragaman pada makanan khususnya untuk balita, rendahnya kualitas pangan, frekuensi penyakit pada anak yang tinggi dengan khususnya diare dan malaria yang mempengaruhi asupan zat gizi, terbatasnya kapasitas produksi pangan yang dipengaruhi oleh hujan yang tidak menentu dan musim kering yang panjang, dan terbatasnya peluang mata pencaharian di luar bertani. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang gizi yang baik adalah faktor yang ikut memberi kontribusi terhadap sejumlah penyebab ini.

Menanggapi bukti empiris yang disebutkan di atas, Plan Indonesia salah satu International NGO yang bekerja di Propinsi Nusa Tengara Barat dan Nusa Tenggara Timur memprioritaskan pengembangan dan melaksanakan pendekatan program untuk mengatasi permasalahan pangan dan gizi dengan cara yang terpadu.

Mengapa pendekatan ini dikatakan terpadu? Mengacu pada model Unicef yang mengkategorikan masalah mendasar dari kekurangan gizi pada anak dalam aspek ketahanan pangan (akses, ketersediaan dan/atau pemanfaatan), pengasuhan anak dan kesehatan anak. Plan mencoba melakukan intervensi secara terpadu untuk mengatasi permasalahan yang mendasar tersebut. Pada saat ini sedang diimplementasikan di 21 desa dalam wilayah Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat, Kabupaten Sikka dan Kabupaten Lembata Nusa Tengara Timur hingga penghujung tahun 2010.

Komite Ketahanan Pangan dan Gizi Desa

Komite Ketahanan Pangan dan Gizi Desa dibentuk untuk menganalisa situasi pangan dan gizi dari Ibu, Balita dan Ibu hamil, merencanakan intervensi, mengimplementasikan dan memantau semua aktivitas serta capaiannya.

Komite ini di level masyarakat lebih dikenal sebagai Komite FNS Desa. FNS merupakan singkatan dari Food & Nutrition Security. Komite yang didirikan pada akhir 2007 ini beranggotakan warga desa, aparat desa, tokoh agama, kader posyandu, bidan desa, petugas gizi, PKK, kelompok tani dan kelompok masyarakat lainnya terutama keluarga yang mempunyai balita. Hingga saat ini sudah dibentuk dan diperkuat 10 Komite FNS Desa, dan 11 lagi dalam proses pembentukan dan penguatan.

Para anggota Komite FNS dibekali berbagai macam pengetahuan dan keterampilan mencakup tiga aspek yaitu pengembangan institusi/organisasi, pengembangan teknis dan pengembangan personal. Agar mereka mampu menjalankan organisasi sudah dilatih manajemen organisasi, administrasi, penyusunan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, sedangkan aspek-aspek berkaitan ketahanan pangan dan gizi diadakan pelatihan pengembangan usaha tani bekesinambungan dengan input luar rendah sampai ke pengolahan pangan yang berwawasan agribisnis. Peningkatan kapasitas masyarakat menghasilkan input pertanian sendiri tanpa tergantung dari sumber luar, seperti pembuatan pupuk organik & pestisida organik. Dampak yang sangat terasa adalah adanya kemampuan masyarakat petani untuk membuat pupuk dan pestisida organik. Kedua input pertanian ini sudah mereka terapkan di lahan-lahan pertanian mereka.

Sedangkan agar Komite FNS dapat menyebarluaskan apa yang didapat tersebut dibutuhkan kemampuan personal, untuk itu telah dilakukan pula peningkatan kapasitas memfasilitasi, membangun jejaring, bagaimana melakukan lobi dan advokasi.

Yang tidak kalah pentingnya Komite FNS juga menjadi teladan masyarakat dalam memanfaatkan pekarangan rumah sebagai kebun sayur mayur yang beraneka-ragam. Pemanfaatan pekarangan rumah ini disebar-luaskan ke masyarakat dimulai oleh anggota Komite FNS itu sendiri dan juga dibuatkan demplotnya agar lebih menyebar luas ditengah-tengah masyarakat. Kegiatan ini didukung secara teknis oleh petugas penyuluh pertanian lapangan setempat. Masyarakat diajarkan mengolah pekarangan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga.

Dengan hanya dimulai sedikit stimulan bibit sayur mayur seperti kangkung, sawi, mentimun, bayam, labu, pare, dan lain-lain. Saat ini sudah nampak peminatan masyarakat memanfaatkan pekarangan mereka menjadi kebun sayur mayur.

Mencari  Solusi dari Sekitar Masyarakat

Kader posyandu sebagai bagian dari Komite FNS setelah menerima beberapa jenis pelatihan. Mereka aktif terlibat menjalankan posyandu secara rutin. Untuk balita gizi kurang dan gizi buruk diadakan sesi Pos Gizi. Pos Gizi ini mengajarkan Ibu-Ibu yang punya balita bermasalah gizinya bagaimana melakukan pengasuhan yang baik dengan pendekatan Penyimpangan Positif (positive deviance). Inti dari pendekatan ini adalah mencari solusi untuk masalah gizi anak dengan menyebarluaskan perilaku baik yang sudah dipraktekkan beberapa keluarga, dan memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungan mereka sendiri. Keluarga-keluarga mempelajari perilaku positif ini dari tetangga-tetangga sekitar mereka yang memiliki tingkat ekonomi sama-sama tidak mampu tetapi memiliki anak –anak yang sehat dan status gizi baik.

Jadi kekuatan Penyimpangan Positif terletak pada mengoptimalkan solusi yang sebenarnya berada tepat di depan mata mereka. Di Pos Gizi juga ibu-ibu bersama-sama menyiapkan menu makanan lokal bergizi dibawah bimbingan Kader Posyandu dan Petugas Kesehatan Puskesmas setempat. Ibu-ibu membawa sendiri bahan-bahan untuk dimasak bersama, balita makan bersama, ibu melakukan active feeding. Sambil menerima pesan-pesan kesehatan, serta mempelajari pola pengasuhan yang terbaik buat balita mereka. Sesi ini dilanjutkan dengan kunjungan rumah untuk memastikan apakah sudah ada perubahan perilaku sebagai upaya meningkatkan status gizi balita.

Sebagai bagian dari analisa situasi, Komite FNS juga melakukan pemetaan status gizi balita secara berkala. Dibuat peta yang menjelaskan posisi dimana keluarga yang mempunyai gizi baik, gizi kurang dan gizi buruk. Sehingga intervensi pendekatan keluarga lebih mudah dilakukan, prioritas dilakukan untuk keluarga dengan balita gizi buruk dan kurang. Dan bila ditemukan balita gizi buruk walaupun sudah diikutkan di Pos Gizi beberapa sesi namun tidak meningkat statusnya, maka akan dirujuk ke Puskesmas atau Rumah Sakit untuk direhabilitasi. Dari hasil pelaksanaan di beberapa sesi Pos Gizi lebih 80 persen anak mengalami peningkatan status gizi balita.

Secara rutin Komite FNS melakukan pertemuan di seketariat umumnya masih di Posyandu atau Balai Desa. Pertemuan ini membahas permasalahan pangan dan gizi yang ada di desa, bagaimana memecahkannya, dan bagaimana upaya mendapatkan support pemerintah setempat sebagai upaya advokasi dan networking.

Intervensi Berdasarkan Konteks Lokal

Model intervensi yang dilakukan berdasarkan kebutuhan setempat atau konteks lokal, ada beberapa intervensi yang sama untuk semua lokasi seperti upaya penguatan Komite FNS, paket peningkatan kapasitas kader posyandu, dan intervensi gizi lainnya, namun untuk upaya ketahanan pangan berdasarkan kebutuhan setempat seperti dibeberapa lokasi membutuhkan intervensi pertanian dan nelayan tetapi di lokasi lain mungkin tidak karena potensinya berbeda.

Intervensi yang diberikan dalam program ini akan berkontribusi pada proses pembelajaran bersama bagi semua pihak yang terlibat, serta untuk tujuan perbaikan gizi terutama anak balita. Berkaitan dengan yang disebut belakangan, dampak langsung kepada kelompok sasaran adalah peningkatan akses anak kepada praktek pengasuhan yang lebih baik, makanan yang bergizi cukup dan kesehatan yang lebih baik yang dapat melindungi anak dari kekurangan gizi.

Keterlibatan Pemerintah, Mitra Lokal dan Kesinambungan Intervensi

Pemerintah setempat pun terlibat aktif dalam intervensi pangan dan gizi. Mengingat masalah pangan dan gizi menjangkau dimensi yang luas, penanganannya memerlukan keterpaduan lintas sektor termasuk Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian, Dinas Pertanian, Dinas Kesehatan, Puskesmas, Penyuluh Pertanian, Tenaga Kesehatan, Posyandu, LSM Lokal dan Perguruan Tinggi sebagai nara sumber dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat.

Program ini dirancang dari bawah (‘bottom up’) untuk kesinambungan, juga dengan melalui dukungan pemerintah dan pemangku kepentingan lain baik dalam rana regulasi maupun alokasi anggaran menjadi kunci berkesinambungan intervensi pangan dan gizi ini kedepan. (**)

*) Agusman Rizal, FNS Project Coordinator Plan Indonesia NT Area
Sumber image: agusrochdianto.wordpress.com