Menulis Pertanda Orang Beradab

0
37

Pewarta-Indonesia, Saat berkumpul bersama kawan-kawan Sunan Gunung Djati beberapa pekan lalu. Kala senja mulai tertutupi oleh awan dan munculnya warna merah di ufuk barat pertanda Sang Raja Siang ingin ‘berpamitan sejenak’ kepada kita dalam rutinitas kesehariannya. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan satu pertanyaan yang dilontarkan oleh temanku, ‘Kenapa banyak penulis brilian dari Sumatra, atau paling tidak ada keturunan Minangnya, daripada Jawa, termasuk Sunda? Seperti Buya Hamka, A Nafis, itu yang sudah meninggal atau Buya Syafie dan Azra yang masih hidup!”

Aku hanya bisa menjawab, “Sejak awal mereka tidak pernah mendapatkan larangan saat mengeluarkan pendapat sekalipun berbeda dengan orang tuanya. Coba lihat dalam obrolan Nenek kepada Cucunya saat bertamasya ke Kampung halamannya, saat ada yang bertanya Ari ujang kadieu sareng saha? [Bareng siapa kesini] Naek pasawat terbang [Naik pesawat terbang], jawabnya Aduh teu kenging nyarios kitu pamali. Pan ujang teh kadieu sareng Bapak naek mobil pan!! [Jangan bilang begitu. Kan cucu datang ke sini sama Bapak itu naik mobil bukan!], tegur Nenek. Disadari atau tidak, kata-kata pamali inilah yang membuat daya pikir masyarakat Sunda (maaf) sedikit tidak bebas. Imajinasi untuk menuliskan satu gagasan menjadi terganjal.

Berwatak Bebas, dan Tak Feodal

Deretan pertanyaan sahabatku, terus muncul sekaligus menuntut jawaban. Sampai-sampai, pertanyaan tersebut terbawa saat mengikuti acara Seminar di Universitas Kristen Maranatha (UKM), Bandung Jumat (29/02) bertema “Eksplorasi Potensi Mahasiswa melalui Media”.

Nah, saat jamuan makan siang pula, akhirnya pertanyaan serupa kulontarkan juga pada narasumber: Wilson Lalengke, Pimred HOKI, dan Andreas Hirata, penulis Tetralogi Laskar Pelangi. Tentang kebanyakan penulis berasal dari masyarakat sekaligus keturunan Minangkabau, Sumatra daripada Jawa atau Sunda Wilson Lalengke, Pimred HOKI menjelaskan, “Mungkin saja karena budaya Jawa itu terlalu feodal dan manggut-manggut terhadap orang tua atau yang kita tuakan, jelasnya berbeda dengan kami setiap anak saat saya masih kecil bebas untuk mengepresikan apa yang kita rasakan, alami dan lihat untuk ditulis,” tambahnya. “Selain itu, kebiasaan merantau ke daerah lain untuk laki-laki dan jangan harap kembali bila belum berhasil, baik dalam urusan materi maupun nonmateri,” ujarnya. “Faktor-faktor inilah yang memicu terlahirnya ribuan penulis. Kendati besarnya para penulis tidak di daerah asalnya. Melainkan setelah merantau ke Ibu Kota,” tegasnya.

Hal senada juga diamini oleh Andreas Hirata, penulis ‘Tertalogi Laskar Pelangi’ menuturkan liarnya imajinasi saat anak-anak menumbuhkembangkan gagasan yang brilian “Berbeda dengan kebiasaan masyarakat luar Sumatra, maaf, terlalu dikungkung oleh atauran-aturan yang kaku. Tradisi inilah yang terus memicu anak muda untuk terus berkarya sekecil apapun,” ungkapnya.

Baca, Diskusi dan Merenung, Modal Menulis

Kebiasaan tulis-menulis tak selamanya hadir tanpa sebab. Melainkan harus dibina secara terus-menerus supaya terlatih. Banyaknya bacaan, seringnya berdiskusi dan membiasakan diri untuk tetap menulis apa yang kita rasakan, alami, lihat, tentu akan membuahkan tulisan yang renyah dibaca. Adakah waktu tepat untuk menuliskan sesuatu?     

Menanggapi kehadiran ide-ide untuk membuat tulisan di malam hari saat orang lain tertidur lelap. Sukron Abdillah, tukang Bewara Sunan Gunung Djati menjelaskan, “Kalaulah tak segera dituangkan dalam sebuah tulisan, jiwa ini seakan terus-menerus mengidap penyakit insomnia di malam hari.” Bahkan ketika masalah tak pernah dituangkan dalam sebuah teks, malam serasa siang dan siang pun serasa malam sehingga hidup selalu dilingkari kegundahan. “Mungkin inilah yang disebut oleh Umberto Eco–menulis adalah sebuah kewajiban moral,” kilahnya.

Lebih berapi-api lagi ia menuturkan,”‘Tanpa adanya kesemangatan dalam diri, mungkin tulisan tidak akan pernah lahir, hingga pada akhirnya, aktivitas membaca pun hanya sesuatu yang absurd.”

Dari tesis inilah, mungkin bisa juga aku katakan bahwa ketika menangkap ide dan mengurungnya dalam sebuah tulisan, itu semua merupakan upaya dari proses meredakan kecemasan. Sama seperti ketika sahabatku merasa terganggu jiwanya ketika tidak menuangkan segala masalah hidupnya dalam sebuah tulisan di buku diary.

Memang menulis tidak muncul dalam kesendirian, tapi selalu terkait dengan budaya membaca, diskusi dan merenung. Sejatinya kebiasaan menulis tak perlu diembel-embeli dengan perasaan takut tak dibaca atau diterbitkan. Pramoedya Ananta Toer mempunyai strategi jitu dalam menepis anggapan ini, “Semua harus ditulis. Apapun jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna.”

Tentunya, menulis merupakan pertanda orang-orang beradab. Lihat saja jargon dalam dunia Antropolog (Belb, 1926;221-22) dan (Taringan, 1983;11) yang menyebutkan “Sebagaimana bahasa membedakan manusia dengan binatang. Begitu pula tulisan membedakan manusia beradab dari manusia biadab (as language distinguishes man from animal, so writing distinguishes civilized man from barbarian)”. Mencoba mengikuti orang-orang berakhlak mulia, maka tak ada cara lain selain menulis, menulis dan menulis. [Ibn Ghifarie]

Cag Rampes, Pojok Bumi Abdi, 1/03/08;00.34 WIB

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]