Menyingkap Kiamat 2012

0
24

Pewarta-Indonesia, JAKARTA – Lapisan bumi retak. Tanah merekah dan amblas di mana-mana. Tidak sekadar menciptakan efek gempa maksimal berskala 13 richter, melainkan juga benar-benar menjungkirbalikkan dan menelan apa pun yang ada di muka bumi. Gedung-gedung bertumbangan, memperlihatkan efek domino yang tragis. Jalan-jalan beton patah dan amblas, melumat setiap mobil yang ada di atasnya.

Sejurus kemudian, hujan meteor berdiameter 3-6 meter jatuh dari balik awan yang bergelantungan di langit biru. Hantamannya menimbulkan getaran. Semuanya menghunjam bumi, menimbulkan lubang-lubang yang membara. Seiring dengan itu, permukaan laut naik, menimbulkan gelombang setinggi ribuan meter. Dahsyat, hingga puncak Himalaya pun tak luput dari empasannya.

Kemana pun makhluk hidup menghindar, mereka seperti dikejar malaikat maut. Sebuah gambaran kiamat yang sempurna. Itulah trailer film 2012 karya Roland Emmerich, yang Agustus nanti bisa ditonton publik. Sebelumnya, Emmerich menggarap sejumlah film penuh efek, seperti Independence Day, The Day After Tomorrow, dan 10.000 B.C. Cuplikan kiamat 2012 yang bisa diunduh melalui internet itu demikian banal dan verbal.

Tidak demikian dengan Knowing, film thriller garapan sutradara asal Mesir, Alex Proyas (The Crow, Dark City, dan I, Robot), bernuansa supranatural ini berkisah tentang penyelamatan segelintir manusia pilihan dari bencana kehancuran bumi. Pada menit-menit akhir film, penonton disuguhi bencana superekstrem. Detik-detik ketika radiasi panas matahari menjilat permukaan bumi. Dorongannya mengempaskan dan membakar apa saja yang dilewati. Tak satu pun bisa selamat. Bahkan mereka yang menghindar dan bersembunyi di perut bumi sekalipun.

Kiamat sebenarnya bukan monopoli telaah ilmuwan. Sejumlah agama dan keyakinan tradisional bahkan memuat nubuat akhir zaman itu. Gambaran kemusnahan dunia yang tak disangka menjelang penghakiman terakhir, digambarkan dengan cara apokaliptis. Momen sakral itu tidak saja diyakini secara harafiah, bahkan –oleh para penganut tiga agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam)– dipahami dengan kacamata iman.

Belakangan, demam 2012 melanda publik. Diawali dengan munculnya puluhan buku tentang penyingkapan tahun 2012. Antara lain: 2012: Mayan Year of Destiny, Beyond 2012: Catastrophe or Awakening?, 2012: Science or Superstition, The Mystery of 2012: Prediction, Prophecies, and Possibilities, How To Survive 2012, Unlocking the Secrets of 2012, dan Fractal Time: The Secret of 2012 and a New World Age.

Sejumlah penulis mengungkap bakal terjadinya kiamat pada 2012. Bencana itu bisa terjadi karena berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Pemicunya: perubahan drastis yang terjadi di muka bumi karena pemanasan global, erupsi supervulkanik, pergeseran medan magnet bumi, koyaknya perisai magnet bumi, radiasi panas matahari, tubrukan antarplanet, hingga efek badai awan antarbintang.

Dari sejumlah karya, buku Apocalypse 2012: An Investigation into Civilization’s End tulisan Lawrence E. Joseph –yang telah diterjemahkan dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama– bisa menjawab keingintahuan mengenai kiamat 2012. Penulis tidak saja menyuguhkan cerita Harmagedon dari aspek ramalan bangsa Maya, melainkan juga mengajak pembaca berkelana memasuki rahasia bumi, matahari, tata surya, kosmis, galaksi, dan luar angkasa.

Joseph tidak saja menggali isi buku, jurnal ilmiah, hasil simposium, hingga ramalan dukun terkait 2012. Ia juga mencari pengetahuan pada sejumlah temuan misi luar angkasa NASA (badan antariksa Amerika Serikat) dan ESA (badan antariksa Eropa). Tak ketinggalan pula, ia berusaha menyingkap tabir rahasia 2012 dengan bertanya kepada para fisikawan dan ilmuwan luar angkasa yang tergila-gila pada prospek 2012.

Di dunia internet, ratusan situs meramaikan pro dan kontra soal ramalan bangsa Maya. Bahkan resep teknis dan spiritual dalam menghadapi kiamat pun tersajikan. Yang paling menarik adalah penjelajahan memasuki ranah astronomi. Bagaimana superorganisme seperti bumi mengalami evolusi dalam interaksi dengan matahari, planet lain, serta energi dan materi yang ada di ruang angkasa.

Mengapa 2012?
Angka 2012 mendadak menggetarkan banyak orang. Muncul karena bangsa Maya –berdasarkan sistem “perhitungan panjang”-nya– meramalkan bahwa pada 21 Desember 2012 (21/12/12) akan terjadi gangguan pada rotasi bumi. Pada waktu itu, tata surya, dengan matahari sebagai pusatnya, akan menutupi pemandangan pusat galaksi Bimasakti dari bumi. Ini terjadi setiap 26.000 tahun sekali.

Ketika itu terjadi, maka terputusnya pancaran dari pusat galaksi akan merusak mekanisme normal di bumi dan tata surya. Konsekuensi fenomena itu adalah bencana dan dislokasi dalam skala global karena pergeseran konfigurasi planet, sekecil apa pun. Tentu, sebagai sebuah ramalan, kebinasaan yang bakal terjadi pada 2012 adalah prospek. Bisa terjadi, tapi ada kemungkinan luput.

Bahkan, kalaupun bencana itu tiba, belum tentu seluruh permukaan bumi luluh lantak dan semua kehidupan musnah. Namun skenario terburuk telah menjadi pemikiran banyak ilmuwan dan astronom. Sebab kini tugas ilmu pengetahuan tidak sekadar membongkar rahasia alam semesta. Meramalkan, memprediksi, dan mencari alternatif keluarnya secara ilmiah adalah sebagian dari tanggung jawab para ilmuwan.

Kini para ilmuwan terus sibuk mencari korelasi bintik matahari dan ledakan-ledakan surya yang lain dengan fenomena di muka bumi, seperti badai, topan, letusan vulkanik, dan berbagai gempa besar. Lebih dari 10 satelit penelitian matahari diluncurkan sejak Helios I dan II mengangkasa pada pertengahan 1970. Mayoritas satelit dikirim NASA dan ESA. Pada 1980, misalnya, misi Maksimum Matahari dikirim guna mengamati aktivitas surya pada puncak daur bintik matahari.

Lalu, pada 1990, satelit Ulysses diluncurkan dengan tujuan khusus pada bagian tertentu spektrum matahari, seperti sinar-X, ultraviolet, dan angin surya. Satelit yang disponsori NASA dan ESA itu, menurut kantor berita Reuters, 30 Juni lalu, akan segera mengakhiri tugasnya. Misi tersebut berumur empat kali lebih lama dari prediksi semula. Satelit sebesar mobil VW itu, dengan kecepatan 56.000 kilometer per jam, telah menempuh perjalanan hampir 8,85 milyar kilometer atau sepadan dengan tiga kali putaran orbit matahari.

Diperkirakan, ketika jarak Ulysses dengan matahari sekitar 705 juta kilometer, transmisi kontak wahana tak berawak dengan bumi itu akan mati. Ed Smith, peneliti di laboratorium pendorong jet NASA, Pasadena, California, menyatakan bahwa data yang diperoleh selama misi memperlihatkan gambaran yang belum pernah ada mengenai siklus aktivitas matahari dan tata surya serta konsekuensinya. “Hal itu akan menjadi bahan riset para peneliti untuk beberapa tahun mendatang,” katanya, seperti dikutip Reuters.

Lebih dari 1.000 artikel ilmiah dan dua buku dihasilkan dari informasi yang diperoleh Ulysses. Selain mengungkap adanya angin surya dan faktor-faktor penyebabnya, Ulysses juga mendalami partikel-partikel yang dipancarkan matahari ke seluruh tata surya. Ternyata aliran kuat partikel-partikel sub-atom yang memancar dari surya hingga 1 juta mil per jam berkurang hingga level terendah dalam 50 tahun terakhir.

Data berharga lainnya adalah info mengenai kawasan kutub matahari, debu antariksa di tata surya, planet Jupiter, dan objek transitnya. Info baru yang bisa diketahui manusia, menurut Ed Smith dari NASA, adalah soal heliosfer. “Ulysses telah memformat ulang pengetahuan soal heliosfer dan menyuguhkan informasi tentang lingkungan sekitar tata surya yang belum banyak terungkap,” ujar Smith.

Heliosfer adalah selubung pelindung yang dihasilkan matahari melalui anginnya bagi bumi dan tujuh planet lain yang mengitarinya. Angin surya itu berperan menyapu radiasi dan sinar kosmik yang datang dari galaksi lain. Secara teori, heliosfer yang melemah akan membuat masuknya sinar kosmik ke tata surya makin besar. Radiasi sinar kosmik yang makin kuat tentu makin membahayakan para astronot ketika berada di luar angkasa.

Ancaman Bintik Surya
Selain Ulysses, generasi satelit terbaru yang memelototi aktivitas surya dalam relasinya dengan bumi adalah SOHO (Solar and Heliospheric Observatory –Pengamatan Surya dan Heliosfer) yang meluncur pada 2 Desember 1995. Tugas utamanya adalah mengidentifikasi lontaran CME (coronal mass ejections) atau ledakan bintik matahari, letupan surya, angin surya, dan semacamnya, yang menuju ke bumi. Info itu berguna bagi para ilmuwan untuk mengupayakan perlindungan terhadap satelit, pembangkit listrik surya, dan berbagai teknologi yang sensitif terhadap surya.

Faktanya, kini hanya sedikit satelit yang diberi perisai letupan surya dengan alasan mahal, tidak praktis, dan membatasi fungsi satelit. Bisa dibayangkan, jika serentetan badai surya massif terjadi sepanjang 2012, maka kelumpuhan telekomunikasi kamersial karena gangguan pada satelit-satelit akan terjadi. Kini SOHO terus memberikan informasi ke kontrol misi yang dikelola NASA di Goddard Space Flight Center di Maryland, tak jauh dari Washington.

CME adalah gas awan superpanas yang keluar dari surya dan melesat melalui ruang antarplanet. Ia menciptakan gelombang kejut yang meningkatkan kecepatan beragam partikel. Banyak proton di depannya terkena efek desakan dan menghasilkan badai proton. CME bergerak dengan kecepatan 1.000 sampai 2.000 kilometer per detik. Jika CME mengarah ke bumi, efeknya akan dirasakan satu atau dua hari kemudian.

Dua dasawarsa ini memang menjadi momen bagi para ilmuwan untuk mengerubuti matahari, pusat tata surya, yang ribuan tahun dimengerti manusia sebagai sumber stabilitas dan energi bagi kehidupan. Untuk menyelidiki struktur magnetik –termasuk bintik matahari yang muncul di permukaan surya– maka meluncurlah TRACE (Transition Region and Corona Explorer). Penjelajah Kawasan dan Korona Transisi ini akan melengkapi RHESSI (Reuven-Ramaty High Energy Solar Spectroscopic Imager –Pencitraan Spektroskopi Surya Kekuatan Tinggi Reuven-Ramaty), yang menyajikan citra sinar-X dan sinar gama letupan surya sejak 2002.

Bahkan, sejak 2003, University of Colorado, dengan Laser and Spectrum Physics Laboratory, mengoperasikan satelit SORCE (Solar Radiation and Climate Experiment) untuk menjawab rasa penasaran atas efek matahari terhadap atmosfer bumi. SORCE akan ditemani armada satelit STEREO yang diluncurkan NASA, satelit Yokoh B yang diluncurkan badan antariksa Jepang, dan Solar Dynamics Observatory (SDO) milik NASA.

Satelit STEREO berfungsi bak sepasang mata yang menyediakan gambar tiga dimensi CME. Lalu Yokoh B akan menyediakan gambar-gambar resolusi sangat tinggi pada kejadian di matahari. Sedangkan SDO bertugas mengurai dampak kejadian di matahari terhadap bumi.

Belakangan, ada pemikiran yang didasarkan pada temuan ilmiah bahwa planet-planet, termasuk bumi, membantu timbulnya bintik matahari dan sekaligus dipengaruhi olehnya. Konfigurasi dan jajaran planet memberi pengaruh besar kepada matahari. Pengetahuan tentang konfigurasi planet dan efek energinya terhadap tata surya terus berkembang, tidak sekadar dalam tataran astrologi atau ilmu ramalan, melainka juga ranah ilmiah murni.

Tim inti ilmuwan angkasa mengemukakan bahwa planet bumi secara reguler memancarkan pengaruh elektromagnetik dan gravitasi yang signifikan terhadap matahari. Perlu dipahami bahwa surya berkarakter cair dan lembek, sehingga lebih rentan terhadap tarikan magnetik dan gravitasi. Empat planet dalam yang berada di sisi matahari seolah dibatasi asteroid yang memisahkan Mars dan Jupiter. Dari empat planet dalam, yakni Merkurius, Venus, bumi, dan Mars, ternyata bumi memiliki massa terbesar, medan gravitasi terkuat, dan medan magnet terbesar.

Dengan demikian, relasi matahari-bumi berjalan dua arah. Ada sistem umpan balik energik antara matahari dan bumi yang melahirkan berbagai fenomena menarik nan dahsyat. Topan, letusan vulkanis, gempa bumi, dan kejadian iklim/seismik lain pada saat sejumlah besar energi dilepaskan tak lain adalah efek hubungan bumi mempengaruhi dan dipengaruhi bintik matahari. Ada pergeseran pandangan bahwa tidak hanya matahari yang mempengaruhi bumi, melainkan ada hubungan energi dua arah, meskipun pengaruh matahari jelas lebih besar.

Nah, apa yang terjadi jika efek saling mempengaruhi medan magnet itu terjadi pada 11 planet, plus matahari. Matahari, 10 planet tata surya, termasuk planet X terbaru, dan bulan –satelit bumi– saling menarik. Pengaruh terbesar muncul jika gabungan planet berada dalam posisi segaris 0 derajat atau bisa saja membentuk bujur sangkar 90 derajat. Sejumlah konfigurasi mampu memicu keretakan lapisan luar matahari dan mengaduk-aduk isinya.

Richard Michael Pesichnyk dan ilmuwan angkasa lainnya memegang keyakinan bahwa sudut antarplanet menentukan pengaruh relatif planet-planet. Demikian pula, pusat massa tata surya tidak berada di inti matahari. Pusat massa itu selalu berubah, sebagai dampak pola orbit dan jajaran planet. Menurut Thomas Burgess, fisikawan kuantum benda-benda padat, jajaran planet dapat bergerak ke titik yang hanya berjarak 1 juta mil atau 1,6 juta kilometer dari matahari.

Jika hal itu terjadi, matahari akan mengembung ke arah pusat massa tata surya. Semakin besar daya tarik gravitasi terhadap matahari, semakin besar pula kemungkinan permukaan matahari merekah dan bocor, melepaskan apa yang disebut “radiasi terpenjara”, yang puluhan ribu tahun terperangkap dalam selubung luar matahari.

Pada kondisi normal, radiasi itu merambat dari matahari secara stabil dan hampir konstan. Namun, ketika permukaan matahari terkoyak, “radiasi terpenjara” itu akan meletup, menimbulkan ledakan besar. “Radiasi terpenjara dapat lolos dari matahari lewat robekan atau gelembung negatif,” kata Burgess, seperti dikutip Lawrence E. Joseph. Gelembung negatif itu berwujud cekungan di permukaan matahari. Kondisi ini membuat radiasi akan mudah menembus massa yang lebih sedikit.

Runyamnya, menurut perhitungan Burgess, jumlah total terbesar daya tarik-menarik planet-planet terhadap matahari bakal terjadi pada akhir 2012. Bintik surya maksimum yang diperkirakan terjadi tahun itu akan makin memperburuk situasi karena bakal membantu desakan matahari dengan tekanan maksimum.

Di samping itu, kutub magnetik matahari yang berganti posisi setiap 22 tahun, pada puncak setiap daur kedua, diprediksi akan terjadi pada 2012. Hal ini bakal meningkatkan ancaman bahaya. Kemungkinan ledakan besar mematikan akan dialami bumi sejak kemunculan manusia.

Perisai Magnetik Bumi Terkoyak
Daya serangan radiasi matahari itu akan makin besar ketika medan magnet pelindung bumi ternyata juga terkoyak. Para ahli geofisika telah lama meneliti rekahan sebesar California yang muncul di medan magnet pelindung bumi dari Hermanus Magnetic Observatory, Tanjung Barat Daya, Afrika Selatan. Pieter Kotze, seorang ahli geofisika di Magnetic Observatory, telah mendokumentasikan penipisan medan magnet pelindung bumi.

Kotze mendapatkan data itu melalui komputer canggih yang dapat menganalisis data dari sensor elektromagnetik yang tertanam di bawah tanah. Medan magnet bumi berasal dari perputaran inti besi cair bumi. Memang hukum inersia dan hukum yang mengatur listrik serta magnetisme tidak bisa dianulir. Namun medan magnet pelindung yang membentengi permukaan bumi dari radiasi proton dan elektron yang berlebihan tidak bersifat abadi.

Berlimpahnya radiasi surya ternyata juga akan menghalangi sinar kosmis. Padahal, sinar kosmis berupa partikel dan gelombang luar angkasa yang sangat aktif berperan dalam sebagian besar formasi awan di sekitar bumi. Awan, terutama yang melayang rendah, membantu menghalangi radiasi inframerah panas dari matahari. Proses ini sangat membantu menjaga permukaan bumi tetap dingin.

Terkoyaknya medan magnet bumi atau magnetosfer adalah sebuah ancaman. Pasalnya, medan magnet bumi berfungsi memantulkan radiasi surya dan menyalurkannya ke sabuk yang mengelilingi atmosfer luar planet bumi. Magnetosfer ini berupa medan elektromagnetik raksasa yang menyembur dari kedua kutub, laiknya perilaku bijih besi di sekitar magnet batang dan mengembang jauh di atmosfer.

Menurut Kotze, medan magnet antarplanet (interplanetary magnetic field, yang pada intinya merupakan medan magnet yang memancar dari matahari, juga mempengaruhi ukuran dan bentuk magnetosfer. Ternyata medan magnet antarplanet bisa memperkuat magnetosfer dengan masukan energi surya. Pada waktu lain, medan magnet antarplanet menekan medan magnet bumi, membuat makin padat, membelokkannya, dan bisa mengoyaknya.

Perisai pelindung bumi itu secara elementer bertugas melindungi organisme hidup di permukaan bumi. Magnetosfer bumi menyalurkan radiasi surya ke dua sabuk, yang dikenal sebagai sabuk radiasi Van Allen. Sabuk yang ditemukan James A. Van Allen melalui Explorer I dan Explorer II pada 1958 itu terbentang pada ketinggian 10.000 hingga 65.000 kilometer.

Dalam pandangan Lawrence E. Joseph, banyak ilmuwan yang belum menemukan jawaban mengapa medan magnet mulai menipis. Perkiraan terbesar, karena adanya turbulensi di medan magnet antarplanet sampai kekacauan fluktuasi inti cair bumi. Fenomena penipisan itu mengundang spekulasi bertukarnya posisi kedua kutub planet bumi. Riset terhadap sampel inti es dan sedimen dari dasar laut mengindikasikan bahwa kutub magnetik pernah bertukar tempat. Terakhir kali terjadi kira-kira 780.000 tahun lalu.

Pergeseran kutub itu membawa konsekuensi dahsyat pada muka bumi. Geolog William Hutton menyatakan, pergeseran kutub tipe kemerosotan mantel bumi akan memicu pergeseran awal ekuator di atas permukaan bumi. Ketika ekuator bergerak memasuki daerah baru di permukaan bumi, kawasan itu akan mengalami perubahan daya sentrifugal dan ketinggian permukaan laut.

Gejala ini akan menyebabkan pembagian baru daratan dan laut serta akan terjadi gerakan tektonis di kerak bumi. Bencana seismik dan tektonis pun bakal sulit terhindarkan.

Meskipun pergeseran itu akan terjadi dalam waktu lama, yang pasti, memudarnya medan magnet bakal melemahkan efek perlindungannya. Permukaan bumi akan jauh lebih rentan terhadap radiasi, yang terus membombardir dari luar angkasa.

Kejadian alam yang mengagetkan para ilmuwan adalah retaknya perisai radiasi surya dan kosmis selama sembilan jam, sepanjang 160.000 kilometer, yang dikenal dengan sebutan anomali Atlantik Selatan. Menurut Kotze, penipisan medan magnet bumi kemungkinan memicu penipisan lapisan ozon. Ini terjadi, ketika radiasi proton matahari menembus perisai magnetik bumi, reaksi kimia di atmosfer terpengaruh. Suhu pun meningkat tajam dan tingkat ozon di stratosfer menurun drastis.

Penipisan ozon itu akan membuat atmosfer menjadi lebih mudah ditembus sinar ultraviolet matahari. Bencana lebih besar tak bisa diprediksi. Terutama ketika bumi menuju pergolakan abnormal solar maksimum, yang diproyeksikan terjadi pada 2012. Radiasi surya dan kosmis akan memicu berbagai persoalan kesehatan, jaringan listrik, iklim, dan lingkungan hidup.

Memasuki Badai Awan Energi
Pengetahuan manusia mengenai penciptaan terus berkembang. Ketika ilmu pengetahuan belum matang seperti saat ini, kisah penciptaan seperti pada Kitab Kejadian mendominasi hampir selama dua abad. Kini ledakan besar (big bang) diyakini sebagai awal alam semesta. Alam semesta pun mengembang secara merata ke segala penjuru. Tidak ada yang tetap diam di alam semesta ini, baik dari dimensi panjang, lebar, tinggi, maupun waktu.

Pada konteks alam semesta yang dinamis dan terus bergerak, menurut Dr. Alexey Dmitriev, ahli geofisika dari Russian Academy of Science, bumi pada saat ini tengah berada dalam zona bahaya galaksi. Dmitriev adalah geofisikawan yang memiliki 200 publikasi akademis, kebanyakan tentang geofisika dan meteorologi, baik tentang bumi maupun planet lainnya.

Pada saat mengorbit pusat galaksi, matahari dengan tata suryanya melewati berbagai area angkasa yang berbeda. Beberapa di antaranya memiliki energi lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Dmitriev mengingatkan, kini hujan badai antarbintang sedang dilewati tata surya. Bisa dipahami bahwa meningkatnya aktivitas surya adalah akibat langsung meningkatnya aliran materi dan energi ketika tata surya memasuki awan energi antarbintang.

Dmitriev mengemukakan tiga hal di alam semesta yang selama ini dikesampingkan para ilmuwan ortodoks. Tiga hal itu adalah kondisi dinamis dan tambahan media antarplanet, dampak energi dari konfigurasi planet-planet tata surya, serta adanya impuls dari pusat galaksi. Tiga hal itu begitu mempengaruhi bumi.

Bumi, selain berotasi sendiri dan mengelilingi matahari, juga bagian dari tata surya yang bergerak di orbit tak dikenal melalui galaksi Bima Sakti, yang juga berkelana di alam semesta. Ketika tata surya mengorbit dan ikut berkelana menumpang galaksi Bima Sakti, diyakini oleh sebagian fisikawan bahwa saat inilah tata surya memasuki awan energi.

Tata surya ibarat pesawat yang menjelajah dan mulai memasuki turbulensi antarbintang. Ini terjadi karena adanya ruang antarbintang yang sifatnya heterogen. Seperti objek yang melewati media lain, heliosfer (tata surya) yang masuk ke ruang antarbintang lain menciptakan gelombang kejut. Kekuatan gelombang akan bertambah besar ketika heliosfer memasuki kawasan angkasa yang lebih padat. Gerakan ini, menurut Dmitriev, bakal membentuk aliran materi dan energi dari ruang antarplanet ke tata surya.

Energi yang disuntikkan ke kawasan antarplanet bisa mengejutkan matahari secara inkonsisten, membebani medan magnet bumi, dan memperparah pemanasan global di bumi. Fenomena awan energi antarbintang ini juga menjadi kajian Vladimir B. Baranov. Ilmuwan Rusia ini mengembangkan model matematis heliosfer berdasarkan data dari Voyager.

Model Baranov itu, dari telaah para ilmuwan Rusia, Eropa, dan Amerika Serikat, mengindikasikan kaitan hingga 96% antara data Voyager, informasi NASA dan ESA, serta evaluasi dasar energi dan ruang yang dikerjakan Dmitriev. Isinya dugaan bahwa heliosfer akan berada dalam gelombang kejut selama 3.000 tahun selanjutnya. Sejumlah observasi pada planet-planet luar sejak 2006 memperlihatkan sejumlah anomali.

Uranus dan Neptunus mengalami pergeseran kutub magnetik. Jupiter memperlihatkan efek gelombang kejut dan melipatgandakan medan magnetnya hingga melebar sampai ke Saturnus. Bahkan, sejak Maret 2006, muncul bintik merah baru di Jupiter, seukuran bumi. Di lokasi bintik merah, yang disebut Oval BA, itu kini terjadi badai elektromagnetik tanpa henti.

Efek gelombang kejut itu juga dialami planet-planet dalam. Atmosfer Mars, misalnya, semakin padat. Komposisi kimia dan kualitas optikal atmosfer Venus berubah menjadi makin bercahaya. Juga matahari, yang berada di pusat heliosfer, karena susunan materinya menjadi lebih rentan terhadap efek energi dibandingkan dengan planet lain. Bumi sendiri –dan planet yang lain– berada dalam bahaya ganda sebagai dampak langsung gelombang kejut dan pergolakan yang muncul di matahari.

Menurut hipotesis Gaia Lovelock, yang dikemukakan Gaia James Lovelock, pada prinsipnya bumi berupa superorganisme. Ia bukan bongkahan batu dan air yang tak bernyawa. Esensi hipotesis itu adalah sistem umpan balik negatif, di mana biosfer menyesuaikan dan mengatur dirinya sebagai kompensasi atas gangguan eksternal.

Nah, mekanisme adaptif biosfer ketika memasuki badai awan energi itu bisa berupa apa saja. Jika tiba-tiba panas karena memasuki awan energi antarbintang, biosfer akan mencari jalan untuk mendinginkan tubuhnya. Salah satu jalan adalah dengan ledakan supervulkanik, yang bisa membawa bumi pada zaman es. Tantangan biosfer bakal makin besar karena awan energi antarbintang juga akan menyuntikkan kilat dan gelombang panas, cahaya, serta radiasi elektromagnetik ke sistem iklim bumi.

G.A. Guritno
[Ragam, Gatra Nomor 38 Beredar Kamis, 30 Juli 2009]

BAGIKAN
Berita sebelumyaIndonesia Tidak Punya Kebijakan Pemberantasan Terorisme
Berita berikutnyaPenyebaran A H1N1 Terus Meningkat
Koran Online Pewarta Indonesia atau disingkat KOPI adalah sebuah media massa nasional berbasis jurnalisme warga (pewarta warga) yang dibangun dan dikelola oleh Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI). Pimpinan redaksi KOPI adalah Wilson Lalengke, dibantu oleh ribuan penulis/pewarta lintas profesi, lintas agama, lintas strata sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan lain-lain dari seluruh nusantara dan luar negeri.