Mewujudkan Kompetisi Sehat FTA ASEAN-China

0
20

Pewarta-Indonesia, Memasuki tahun 2010, Indonesia dihadapkan pada tantangan Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China. Yaitu, suatu perjanjian perdagangan bebas yang menolak adanya aturan proteksionisme negara, seperti pajak negara dan biaya barang ekspor impor. Tujuan dari perdagangan bebas ini adalah untuk memperluas ekspansi perusahaan dalam meningkatkan laba. Keberadaan FTA ASEAN-China ini, akan memperlancar lalu lintas perdagangan antarnegara ASEAN-China, karena tarif bea masuk diturunkan menjadi nol persen.

Penurunan tarif bea masuk ini menjadi persoalan yang dilematis bagi Indonesia. Pasalnya, beberapa industri domestik kita masih belum siap bersaing dengan produk impor yang lebih murah. Meskipun keberadaan FTA ASEAN-China ini dapat mendongkrak ekspor, tetapi jika industri domestik kita masih belum siap, maka dikhawatirkan rentan terjadi eksploitasi dan merusak industri domestik.

Menyikapi hal ini, Indonesia perlu berbenah diri untuk memperkuat industri domestiknya. Kekuatan perekonomian industri domestik ini, akan memacu sikap optimis kita menghadapi FTA ASEAN-China. Selain itu, sikap kritis terhadap realita FTA ASEAN-China juga patut dikedepankan. Hal ini bertujuan untuk menghindari dampak negatif dan mewujudkan kompetisi sehat perdagangan bebas ASEAN-China. Salah satu titik kritis FTA ASEAN-China yang patut disoroti adalah masalah kompetisi yang kurang sehat. Kondisi ini bisa dilihat dari lalu lintas perdagangan antara Indonesia dan China yang cenderung tidak simetris. Produk ekspor Indonesia ke China didominasi oleh komoditas primer (bahan baku), sedangkan ekspor China ke Indonesia didominasi oleh produk manufaktur (barang jadi) yang sangat beragam. Kenyataan ini dapat berdampak negatif, yaitu tereksploitasinya sumber daya primer dan mematikan industri domestik Indonesia.

Kondisi ini pernah terjadi di Philipina. Negara ini melakukan perdagangan bebas produk-produk kehutanannya. Mereka pada awalnya mengekspor kayu bulat dalam jumlah yang besar. Namun ternyata mereka menghabiskan sumber daya hutannya sendiri. Sehingga akhirnya mereka justru berbalik menjadi importir kayu bulat. Tentunya hal serupa, tidak ingin terjadi di negara kita.

Menyikapi permasalahan ini, maka diperlukan beberapa solusi untuk menyehatkan kompetisi perdagangan bebas ASEAN-China ini. Beberapa solusi itu diantaranya, pertama, penyeragaman struktur produk ekspor, misalnya sama-sama memperdagangkan barang jadi.

Kedua, terkait produk ekspor kehutanan atau pertanian, sebaiknya mendapat perlakuan yang khusus dan berbeda dari FTA ASEAN-China. Karena hal ini terkait persoalan yang lebih besar yaitu masalah global warming. Artinya, perdagangan produk kehutanan atau pertanian ini perlu ditekan, untuk menghindari kerusakan alam.

Ketiga, memperdagangkan produk barang jadi dari masing-masing negara. Hal ini tentunya akan mendorong produktivitas negara ASEAN-China untuk mengekspor produk barang jadi yang unggul dan khas sesuai potensi sumber daya primer yang dimiliki. Terkait kompetisi produk barang jadi ini, maka diperlukan upaya optimalisasi industri domestik Indonesia. Beberapa upaya optimalisasi itu diantaranya, menata ulang sentra-sentra industri agar terintegrasi dengan sumber bahan baku, pengembangan teknologi tepat guna, penambahan infrastruktur seperti ketersediaan energi listrik, kesiapan perbankan memberi pembiayaan yang murah, dan efisiensi regulasi pemerintah. Melalui optimalisasi ini, diharapkan industri domestik Indonesia dapat bersaing dalam kompetisi sehat perdagangan bebas ASEAN-China.

Suatu kompetisi yang tidak lagi ada unsur ekploitasi, tetapi lebih kepada semangat untuk saling bersaing menciptakan keunggulan produk demi penguatan perekonomian kawasan ASEAN-China.

Penulis : Reza Taofik adalah mahasiswa Pendidikan Ekonomi dan Aktivis LKM UNJ

Sumber image di sini