Motor Lupa Diri

0
22

Pewarta-Indonesia, Lepas sepekan lebaran berlalu, lalu lintas Jakarta mulai kembali seperti khasnya Jakarta. Apa itu, macet, semrawut, berasap, tak sabar antri. Suasana seperti itu justru banyak dirasakan di daerah bukan jalan protokol (suburb). Angkutan kota misalnya, yang sampai hari ini masih merasa bahwa jalan ini “milik nenek moyangnya”, sehingga kadang berhenti di tempat sembarangan dan ngetem selama ia mau.

Belum lagi jumlah motor yang terasa benar meningkat berlalu lalang di jalan-jalan di Jakarta. Sebagai alternatif mengatasi waktu tempuh yang panjang bila menggunakan mobil, motor memang jawabannya. Faktanya, mengendarai motor relatif dapat mempersingkat waktu tempuh. Lantas, faktor apa sebetulnya yang bisa mempersingkat waktu tempuh itu? Ternyata kemampuan motor memanfaatkan space jalan yang ada, mengingat body-nya yang ramping-kecil sehingga tak harus ikut antri dalam kemacetan. Namun apakah benar, jawaban itu yang tepat? Mari kita simak sedikit rangkuman keluhan beberapa pengendara mobil yang seringkali terganggu oleh ulah motor di jalan.

Setiap pagi, beberapa teman bersyukur karena menempuh jalur “lawan arus”. Artinya, bukan dari jalur area perumahan menuju jalur area perkantoran, tapi sebaliknya. Intinya seharusnya jalur yang ditempuh adalah jalur kosong, lengang. Memang betul, jalur itu setiap hari kerja relatif lebih kosong. Tapi…. lebih berbahaya dan menyulut emosi setiap pagi. Karena jalur ini hanya dilintasi 20-40 mobil per menit, maka motor-motor dari arah berlawanan secara brutal melintasi jalur ini (motor melaju di ruas kanan, jauh melampaui batas garis pemisah jalur). Kadang tak ada space sama sekali bagi mobil yang melalui jalur itu. Ini terjadi di daerah RS Fatmawati hingga Pondok Labu, Lebak Bulus ke arah Karang Tengah, dan Gedung Hijau ke arah Pondok Pinang.

Setiap kali mobil-mobil, bus, truk dan kendaraan roda empat lainnya melintas di daerah tersebut, harus bersitegang dengan aliran dan laju motor yang tak tau diri melintas dijalur lawan, seolah siap mati diterjang setiap kendaraan yang melintas. Kondisi ini berlangsung setiap hari. Padahal, baru tahun lalu, 2008, aturan lalu lintas bagi pengendara motor diterapkan. Motor harus melintas di sisi kiri jalan, dengan menyalakan lampu (baik pagi maupun malam). Apakah peraturan ini menjadi lenyap menguap? Polisi yang bertugas di area-area tersebut pun seolah tutup mata, tak mau mengingatkan lagi motor-motor untuk beralih ke sisi kiri jalan.

Tak sedikit masyarakat yang rutin melintasi jalan ini menjadi marah, keserempet motor, dan terpaksa berhenti lama karena tak ada ruang, tak ada jalan. Yang terlihat di muka kendaraannya hanyalah kerumunan motor yang lupa diri, bahwa mereka sedang merampas hak orang lain untuk melintas di ruas kanan. Mulailah dari hal kecil, dari diri sendiri untuk berdisiplin terhadap apapun, sehingga kota kita, negara kita menjadi lebih baik. Semoga himbauan ini dapat tersampaikan dengan tepat, hingga tak ada lagi motor yang lupa diri. (*)