Parlok, Wajah Baru dan Test Perdana

0
70

Pewarta-Indonesia, Aceh datang dengan wajah baru untuk menghiasi warna politik bagi Indonesia. Demokrasi di Aceh mulai tumbuh seiring lahirnya Partai Lokal (Parlok) pertama kali dalam sejarah bangsa Aceh. Rakyat Aceh sangat gembira menyambut partai lokal Aceh yang konon baru pertama kali terjadi dalam sejarah perpolitikan di Indonesia. Aceh lewat partai lokalnya akan memperebutkan kursi parlemen Daerah dalam pemilu April 2009.


Enam parlok dan 39 parnas (Partai Nasional berpusat di Jakarta – red) akan bertanding untuk menarik suara rakyat. Lebih kurang 45 partai politik peseta pemilu yang akan bergelut di arena piasan raya, tentu membuat kalang kabut para pemilih harus mencoblos yang mana. Namun bagi rakyat Aceh tidaklah panik dalam memberikan suara politiknya di hari “H” pemilu pada 9 April mendatang.

Rakyat Aceh sudah dewasa untuk menentukan arah politiknya dan menginginkan adanya suasana baru yang bisa menghantarkan Aceh ke depan ke arah yang lebih baik dan bermartabat. Seyogianya masyarakat suka dan menginginkan kepada sesuatu yang baru, apalagi parlok ini menjadi lebih dekat dan bersahabat ketimbang partai politik lain yang berbasis Nasional.

Kehadiran enam partai lokal Aceh membuat pertandingan melawan puluhan partai nasional semakin seru. Parlok Aceh yakin akan mengantongi lebih banyak suara ketimbang parnas. Kemungkinan besar parnas di Aceh akan masuk kandang alias pesimis memperoleh respon massa. Penampilan parlok menjadi bumerang bagi parnas. Gelanggang perpolitikan Indonesia menjelang dan saat hari”H” pemilu berubah dengan hadirnya partai lokal Aceh yang tampil beda dibandingkan sebelumnya.

Parlok Aceh tampil memukau lewat perkenalan politik barunya. Enam parlok yang semenjak awal dinyatakan lulus verivikasi oleh Badan Hukum dan HAM Aceh, kini masing-masing mulai menuai harapan dan visi-misinya kepada masyarakat. Kesemua parlok memiliki kemiripan dalam menyampaikan pandangan atau misinya kepublik. Kesemua parlok itu menyuguhkan harapan politiknya, antara lain di bidang pendidikan, hukum, kesehatan dan perubahan ekonomi bagi masyarakat. Namun sejauh ini belum terlihat adanya sebuah misi alternatif ketimbang misi lama yang sudah baku dan kerap disampaikan saat kampanye menjelang pemilu tahun-tahun sebelumnya.

Khusus satu-satunya partai politik yang sangat diperhitungkan, yaitu Partai Aceh(PA) mencoba bawa aspirasi perjuangan politiknya dari eksklusif menjadi inklusif dan memperjuangkan missi MoU, serta memberikan pendidikan politik kepada rakyat Aceh, seperti pernah disampaikan juru bicara Adnan Beuransah. Jubir itu juga yakin akan memperoleh 80-90 persen suara di kursi parlemen nanti. Peluang PA untuk meraup suara manyoriti relatif besar, dan hal itu amat meyakinkan kalau kita melihat persentase poling public di siaran online Radio-Antero Banda Aceh. Partai Aceh menduduki peringkat paling atas yang disusuli dengan parti PAAS.

Parlok Aceh menjadi motor pembangunan kembali Aceh pasca konflik yang berkepanjangan dan tsunami. Partai Lokal kiranya benar-benar mengusung aspirasi masyarakat dan ini merupakan percobaan (test) perdana. Karena itu kemungkinan besar masyarakat sangat menaruh harapan pada parlok. Sebab di forum legislatif nanti pasti didominasi oleh caleg dari parlok. Analisa masyarakat masa depan Aceh akan lebih cerah dan maju.

Oleh karena itu perubahan-perubahan nyata (demokrasi) harus diwujudkan terutama kinerja birokrasi yang bobrok dan penghilangan KKN. Jika ini tidak dapat dilakukan, maka masyarakat akan menilai parlok sebagai kegagalan dalam uji coba selaku wakil rakyat dan dengan sendirinya masyarakat akan berpaling nanti dalam pemilu periode 2014.

Aceh kini menjadi perhatian khusus dunia internasional setelah perundingan Helsinki dilakukan tahun 2005 lalu. Jadi parlok Aceh punya hubungan dengan panggung politik internasional. Berhasil tidaknya parlok memainkan kiprahnya dalam gelanggang perpolitikan baik tingkat lokal maupun nasional, maka tolok ukur masa depan kemajuan Aceh ke depan sangat menentukan. Saya memprediksikan bahwa parlok menjadi partai unggul terutama Partai Aceh dapat diandalkan untuk membawa arus perubahan Aceh kedepan. Untuk mencapai seperti yang diharapkan, maka parlok diharapkan betul-betul mampu menguasai konsep politik atau menjadi konseptor dan orator dalam membangun Aceh.

Partai lokal Aceh merupakan wadah pemersatu rakyat pasca perang melawan Jakarta. Terlebih partai Aceh (PA) yang tumbuh subur dari sosok Gerakan Aceh Merdeka GAM yang rela menanggalkan perjuangan bersenjata menjadi perjuangan politik sipil secara demokrasi. Tak hanya Partai Aceh (PA), parlok lainnya pun diharapkan betul-betul menjadi roda demokrasi dan menstransformasikan Aceh kedepan yang lebih dewasa dan damai. Apalagi partai lokal Aceh yang tampil perdana dalam sejarah barunya Aceh, menjadi dekorasi dalam berdemokrasi sekaligus mewujudkan implementasi dari hasil kesepakatan Perjanjian MoU Helsinki di Nanggroe Aceh.

Selaku rakyat, kita mendukung penuh kehadiran parlok Aceh akan membawa semangat baru, wajah baru, pemikiran baru dan semua baru demi kepentingan rakyat dan Nanggroe Aceh. Karena itupula bahwa, kita juga menaruh harapan agar terwujudnya sebuah jembatan via parlok untuk menuju Aceh yang “Baldatun thaiyibun warabbun ghafur”. Rakyat Aceh percaya dan menyerahkan semua persoalan politik kepada parlok selaku calon wakil rakyat ke depan yang penuh amanah dan punya kredibilitas tinggi. Terutama partai Aceh, yang sampai saat ini masih merupakan harapan besar rakyat untuk mengurus, menjaga dan melaksanakan cita-cita masyarakat Aceh serta membawa semangat MoU untuk menuju masa depan kemuliaan Aceh yang sempurna. Kami rakyat berada di belakang dan mendukung parlok, terutama Partai Aceh (PA). Semoga berhasil dan berjaya.

Penulis adalah Junaidi Beuransah, Aktifis World Acehnese Association(WAA) sekarang menetap di Denmark.

 

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]