Pemberdayaan Masyarakat sebagai Pewarta Independent

0
26

Pewarta-Indonesia, Untuk menembus keterbatasan akses informasi di Kabupaten Sitaro (Propinsi Sulawesi Utara), saya mempunyai gagasan memberdayakan masyarakat setempat sebagai agen pengambil sekaligus penyampai informasi. Dalam konsep ini, agen tersebut punya kewajiban menyampaikan dinamika masyarakat disekitarnya. Sekaligus ia bertindak sebagai penutur dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat disekitarnya. Seorang agen harus siap sedia, menyalurkan apa yang terjadi dalam lingkungannya sebagai sebuah produk informasi untuk diketahui orang lain. Demikian pula, agen tersebut secara berkala, mengambil informasi dari luar dan meneruskannya ke lingkungannya sebagai sebuah komoditas berita.

Konsep ini memerlukan sebuah pusat lalu lintas informasi. Yang mengatur input informasi dan menentukan rule output informasi. Sebab, tidak semua informasi yang masuk berguna bagi masyarakat. Jelas disini diperlukan regulator. Karena lalu lintas informasi juga memerlukan etika, terlebih melibatkan masyarakat yang awalnya tidak berkecimpung dalam lingkup pemberitaan.

Idealnya, siapa saja bisa menyampaikan dan mengambil informasi dari pusat lalu lintas tersebut. Sehingga masyarakat mempunyai kebebasan berinformasi. Namun, hal itu akan menjadi pekerjaan yang besar dan memerlukan sumber daya yang besar pula. Ide saya sederhana.

Telepon Seluler

Konsep pemberdayaan masyarakat ini dimulai dengan memanfaatkan telepon selular yang kini sudah menjadi salah satu “barang wajib” di daerah ber-signal. Katakanlah, di setiap Kampung kita memberdayakan satu orang yang punya telepon genggam sebagai Agen Pewarta. (dalam konsep Telecenter agen ini sering disebut dengan istilah Infomobiliser). Agen pewarta ini punya kewajiban secara berkala menyampaikan informasi dinamika yang terjadi di kampungnya secara berkala ke Pusat Informasi. Demikian pula, secara berkala Pusat Informasi mengirimkan informasi ke Agen Pewarta ini apa yang perlu masyarakat di kampungnya ketahui.

Pusat Informasi itu dapat berupa sebuah server SMS Gateway yang dikelola oleh sebuah Yayasan Pewarta Independent. Nantinya, SMS Gateway ini akan terhubung dengan sebuah website yang akan mengonlinekan informasinya secara global. Siapa saja dapat mengaksesnya. Tentunya jika terdapat akses internet. Nah, untuk masyarakat yang terbatas akses informasinya, Agen Pewarta itulah yang menjadi mediatornya. Konsep ini akan menjadikan yang sifatnya lokal menjadi global dan membawa yang global sampai ke lokal.

Pelatihan

Ejahwantah dari konsep ini jelas memerlukan kesiapan yang matang. Terutama, pelatihan bagi Agen Pewarta Kampung. Mereka harus dilatih etika berinformasi. Harus diberi pencerahan soal rambu-rambu apa yang bisa dan yang tidak bisa dijadikan komoditas informasi umum. Bagaimana mengelola sebuah informasi menjadi berita yang layak dikonsumsi umum. Bagaimana merumuskan bahasa yang dapat dimengerti oleh banyak orang. Agen Pewarta harus dapat memobilisasi orang kampung agar peduli terhadap informasi. Dan mereka juga harus punya komitmen independent dalam meneruskan informasi yang mereka terima dari Pusat Informasi ke masyarakat kampung.

Untuk kampung yang tidak terjangkau signal, Agen Pewartanya dapat bekerja sama dengan kampung terdekat yang terjangkau signal. Ia bertindak sebagai penerus informasi. Dapat kita bayangkan, jika konsep ini dapat diwujudkan. Kesenjangan informasi dapat diatasi dengan biaya yang relatif murah. Sebab, kita memberdayakan masyarakat yang sudah memiliki HP sebagai Agen Pewarta. Biaya yang dikeluarkan hanya berupa tarif SMS yang sekarang semakin murah.

Jika setiap hari Agen Pewarta mengirimkan 3 informasi ke Server Gateway, dengan asumsi memakai Kartu AS Telkomsel (misalnya), berarti dalam seminggu dia hanya perlu mengeluarkan Rp. 1848. Dengan total 84 kampung yang ada di Kab. Kepl. Sitaro berarti dalam sebulan seluruh Agen Pewarta hanya perlu mengeluarkan Rp. 665.280 (Rp. 7920 sebulan untuk satu Agen Pewarta). Biaya yang sama, dikeluarkan oleh Yayasan Pengelola sebagai biaya untuk mengirimkan informasi ke seluruh Agen Pewarta dalam sebulan dengan intensitas 3 kali sehari. Ditambah dengan biaya perawatan dan jasa administrasi, mungkin hanya diperlukan sekitar Rp. 2,5 juta sebulan, dan konsep ini sudah bisa dijadikan terobosan mengatasi isolasi akses informasi. Bandingkan dengan asumsi langganan koran di lingkup Pemkab Sitaro. Jika satu edisi koran lokal bernilai Rp. 4000, dan ada 50 pejabat yang wajib berlangganan, berati Pemkab harus mengeluarkan Rp. 6 juta sebulan untuk langganan satu koran. Sementara, dalam pengamatan kami, di lingkup Pemkab Sitaro paling tidak ada 3 koran lokal yang dilanggani. Dengan biaya yang sebesar itu, hanya pejabat saja yang bisa membacanya.

Pemberdayaan Masyarakat

Kedepan, Server SMS Gateway dapat menerima permintaan request dari masyarakat dengan telepon gengam. Demikian juga masyarakat dapat melakukan subscriber untuk berlangganan informasi. Tentu hal ini harus dikenakan tarif berlangganan atau tarif request. Kerjanya seperti SMS Premium itu, tapi berorientasi terhadap penyediaan informasi bagi masyarakat. Jelas harus dengan tarif yang dapat dijangkau. Kalau perlu tarifnya sama dengan tarif yang dikenakan operator. Karena konsep ini harus berjalan pada semangat nirlaba.

Lewat http://www.sitaro.wordpress.com saya berkeinginan untuk mewujudkan konsep Pemberdayaan Masyarakat sebagai Pewarta Independent ini. Nantinya, Blog Sitaro akan menjadi Pusat Informasi Pewarta Warga. SMS Gateway yang diperlukan sebagai server lalu lintas SMS, untuk sementara ditangani secara manual. Cukup dengan menghubungkan telepon genggam saya ke komputer, (agar jempol tidak jadi kapalan) dan menginstal software manajemen SMS.

Kesiapan ke arah itu telah saya mulai dengan melakukan pendekatan ke beberapa anggota masyarakat yang bisa dijadikan contoh awal sebagai Agen Pewarta. Mereka, secara perlahan saya perkenalkan pentingnya berbagi informasi. Mengajak mereka belajar untuk tahu etika pemberitaan. Menyusun kalimat yang singkat terhadap intisari informasi. 1 SMS = 1 berita. Hasilnya, memang belum saya onlinekan. Semuanya masih dalam taraf uji coba. Beberapa bulan kedepan, menjadi target saya menjangkau 10 kampung untuk dilibatkan dalam konsep ini. Sambil menunggu pengadaan SMS Gateway (yang entah akan dapat donasi darimana), saya akan mencoba menjadikan Agen Pewarta sebagai Pewarta Utama di http://www.sitaro.wordpress.com yang independent. Sehingga pengunjung Blog itu akan menikmati sajian berita secara langsung dari masyarakat.

Ada yang mendukung?. Saya nantikan diskusi anda mengenai konsep ini.

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di [email protected]